Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

skripsi
Showing posts with label skripsi. Show all posts
Showing posts with label skripsi. Show all posts

07 July 2010

Karakteristik Rumah Kaca (Greenhouse) Anggrek

Esha Garden - Wednesday, July 07, 2010
greenhouse orchidsImage by smcgee via Flickr
RINGKASAN: Yosi Deriyana. Studi Karakteristik Rurnah Anggrek, di bawah bimibingan Ir. Edhi Sandra, Msi.

Rumah kaca merupakan bangunan tempat menumbuhkan tanaman yang selalu hijau. walaupun keadaan lingkungan di luar tidak menguntungkan, seperti musim panas dan musim dingin (awalnva rumah kaca berasal dan negara empat musim) Nelson (1981), dalam Silvana (1991). Rumah kaca adalah suatu bangunan yang memiliki struktur atap dan dinding bersifat tembus cahaya, sehingga cahaya yang dibutuhkan tanaman bisa masuk agar tanaman terhindar dari kondisi Iingkungan yang tidak menguntungkan antara lain curah hujan yang deras. tiupan angin yang kencang, keadaan suhu yang terlalu rendah/tinggi. intensitas matahari yang berlebihan sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman Widyastuti (1993). dalam Budiarti, Tri (1994).

Tujuan dibuat rumah kaca untuk menyesuaikan iklim mikro tanaman agar memperoleh hasil yang optimal dengan menciptakan suatu lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Rumah tanam yang berasal dan kaca ini merupakan bahan tembus cahaya yang dapat berpengaruh pada:
1. Peningkatan suhu udara di dalam rumah kaca
2. Melindungi tanaman dari siraman hujan secara langsung
3. Melindungi tanaman dari berbagai jenis hama serta pengaruh dari perubahan intensitas cahaya matahari yang mengenai tanaman.

Dengan demikian penggunanan green house sebagai pelindung tanaman memungkinkan tingkat mutu dan produksi tanaman lebih baik dan tanaman dapat ditanam di luar musimnnya. Manfaat dan keuntungan dan teknologi green house anitara lain kebersihan lebih mudah dijaga, tanaman dapat menghasilkan terus menerus tanpa tergantung. serangan hama dan penyakit cenderung jarang. Secara umum. keistimewaan tanaman yang dihasilkan oleh rumah kaca dengan sistem ini bila dibandingkan dengan budidaya secara tradisional adalah pertumbuhan tangkai bunganya lebih cepat dan relatif lebih seragam. Kecepatan bunga mekarnyapun seragam .

Selain itu. dengan penggunaan pendingin udara pada malam hari. tanaman dirangsang untuk membentuk kuncup bunga. Keseluruhannya tentu saja semakin menambah nilai estetis dan nilai ekonomis.

Pemilihan bentuk rumah kaca tergantung pada keadaan lingkungan dan jenis tanaman yang dibudidayakan. Widyastuti (1993). dalam Budiarti Tri (1994). di Indonesia rumah kaca bentuk rumah lebih banyak ditemukan, karena untuk pemakaian di negara Tropis, bentuk seperti inii memang lebih cocok. Pertimbanganya di daerah tropis penerimaan sinar matahari relatif banyak, sehingga bentuk ruang harus memungkinkan sirkulasi udara dapat berlangsung lebih lancar. Bentuk dan bahan rumah kaca yang paling efisien dan murah adalah berbentuk setengah lingkaran yang dimodifikasi dimana bagian atap rumah kaca berbentuk busur dengan konstruksi baja sebagai kuda-kuda dan rangka utama. Atap yang digunakan terbuat dari plastik polyetheylene dengan alasan sesuai untuk daerah tropis, mempunyai kemampuan transmisi cahaya tinggi harga murah dan ringan. Bola lampu yang dipakai adalah bola dimana selain cahaya yang dibutuhkan juga mengeluarkan panas yang menunjang pertumbuhan tanaman dilapangan terbuka. Lantai diberi plesteran agar mudah dibersihkan dan untuk perawatan.

Tujuan dan kegiatan tugas akhir mi diharapkan dapat: Mengetahui kelemahan dan kelebiban dari tiap tipe rumah kaca yang diamati. Mengetahui manfaat yang didapat dan teknik penanaman dengan rumah kaca. Mengevaluasi dan membandingkan tiap tipe rumah kaca untuk mendapatkan konsep yang ideal.


Tugas akhir dilaksanakan di Kebun Raya Bogor dan Taman Mini Indonesia Indah. Sedangkan waktu pelaksanaan kegiatan Tugas Akhir berlangsung selarna 1,5 bulan, yaitu dan bulan Juni—Juli 2003. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis-menulis, kamera dan perlengkapannya.

Metode yang dilakukan dengan observasi lapangan, yaitu mengamati dan mencatat secara langsung bentuk-bentuk rumth anggnek. Wawancara, yaitu mencatat semua hasil wawancara terhadap pengelola rumah anggrek. Studi Pustaka / Studi Literatur, yaitu membandingkan hasil data diperoleb langsung di lapangan dengan data yang diperoleh dan studi literatur. Data yang di peroleh dari pengamatan di lapangan dan hasil wawancara serta studi literatur di analisis secara deskriptif.

Rumah kaca yang dimiliki pembibitan anggek Kebun Raya Bogor dibagi menjadi enam ruangan. Luas total dari rumah kaca tersebut adalab 3000 m2. Pembagian ruang rumah kaca tensebut didasarkan pada fungsi, nama jenis anggrek dan tempat asal tanaman anggrek. Ruang A difungsikan untuk penempatan anggrek-anggrek yang sedang dipamerkan, ruangan B dan C berisi anggrek-anggrek yang tidak dipamerkan, diruangan ini anggrek anggrek disusun berdasarkan abjad nama ilmiahnya. Ruang D digunakan untuk menempatkan anggrek yang berasal dan pulau-pulau besar di Indonsia seperti Jawa, Irian Jaya, Sumatera dan Kalimantan.

Anggrek tersebut ditempatkan sesuai dengan tempat asalnya, hal demikian dimaksudkan untuk mengetahui anggrek-anggrek endemik pulau tersebut. Ruangan B tenpisah dengan ruang lainnya dan atapnya hanya dilapisi paranet 50%-70% yang berguna untuk menahan sinar matahari, ruangan tersebut digunakan untuk menempatkan anggrek yang nomor registrasinya tidak jelas. Ruangan F digunakan untuk menempatkan anggrek yang baru datang dari lapangan hasil eksplorasi. Pemeliharaan anggrek dewasa pada rumah kaca meliputi: Penyiraman, Pemupukan, Pengandalian Hama dan Penyakit.

Ruang Kultur Jaringan memiliki laboratorium seluas kurang lebih 200 m2. Dilengkapi dengan dua buah alat pendingin ruangan atau AC, jendela dan pintu dilapisi kaca film serta diterangi oleh lampu 40 watt yang menyala selama 24 jam dan beijarak 30 cm dan botol kultur. Rak-rak yang terdapat di ruangan tersebut benjumlah 12, masing-masing memiliki tiga tingkat dan ditata menjadi tiga blok, yaitu blok I, II dan blok III.
Selain digunakan untuk menyimpan bibit-bibit anggrek, rak-rak ini juga digunakan untuk menyimpan koleksi herbarium tanaman anggrek.

Rumah Display Anggrek mempunyai luas sekitar 1500 m2 Penataan ruang di bagian indoor dibagi menjadi tiga bagian yaitu sayap kiri merupakan tempat display anggrek spesies (75 jenis), sayap kanan untuk display anggrek silangan (30 jenis) dan hall bagian tengah untuk pameran tematik sesuai dengan even tertentu. Kedua sayap dilengkapi dengan sistem fogging untuk mengatur suhu rumah anggrek agar tetap berkisar antara 25-30°C. Fogging dinyalakan pada pukul 10.00 WIB-14.00 WIB.

Penataan outdoor tersedia coffee shop, souvenir shop dan kios anggrek Tujuan pembangunan rumah display ini untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat tentang informasi dan visualisasi keragaman anggrek serta rnenggambarkan kemajuan persilangan anggrek.
Taman anggrek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mempunyai luas 2 Hektar. Lebih dan 100 anggrek alam dan 50 anggrek silangan dapat dijumpai disini. sebagai pengembangan Taman Anggrek Taman Mini Indonesia Indah dibangunlah rumah kaca anggrek Bulan pertama di Indonesia.

Rumah Kaca Anggrek Bulan yang berada di Taman Anggrek merupakan sebuah Automatic Green House, yang berfungsi untuk memanipulasi unsur-unsur fisik lingkungan sehingga memungkinkan Anggrek Bulan dapat hidup dan berkembang dengan lebih baik. Tiga buah instrumen pengatur temperatur (fan exhausting) akan berputar untuk menjaga kestabilan temperatur agar tetap berada di sekitar 18°-29° C pada malam hari dan 25°-29° C di siang hari. Kelembaban lingkungan antara 75 % - 85 % dijaga dengan kerja sama antara fan dengan .jaringan air (cooling pad). Intensitas sinar diatur dengan menggunakan dua jenis net, yang prinsip kerjanya diatur secara otomatis dengan suatu alat pengatur waktu yang telah diprogram. Pada saat ini dalam bangunan kaca berukuran 36 X 9 meter, dan tinggi 5.6 meter, berjajar tiga jalur meja dengan ukuran setiap meja 28 meter X 1.8 meter. Masing-masing meja memiliki kapasitas sekitar 1.000 buah pot. Secara keseluruhan pot yang ada benjumlah 3.067 buah.
Enhanced by Zemanta

26 June 2010

Pengaruh Konsentrasi BAP (Benzylaminopurin) Terhadap pertumbuhan Mimba (Azadirachta indica A. Juss) Secara Kultur In Vitro

Esha Garden - Saturday, June 26, 2010
Azadirachta indica A.JussImage by lalithamba via Flickr
RINGKASAN: Eka Ariana. E. 03400015. Pengaruh Konsentrasi BAP (Benzylaminopurin) Terhadap pertumbuhan Mimba (Azadirachta indica A. Juss) Secara Kultur In Vitro, di Bawah Bimbingan Bapak Ir. Edhi Sandra, M.Si dan Bapak Ir. Agus Kardinan, M.Sc. APU.

Mimba (Azadirachta indica A. Juss) merupakan jenis pohon yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Mimba dapat dimanfaatkan sebagai obat anti hama atau bahan dasar pestisida nabati, menghasilkan minyak mimba, bahan pembuatan sabun, pasta gigi, tusuk gigi dan kosmetika, lilin, pupuk, dan bahan obat. Mimba banyak digunakan untuk kegiatan penghijauan terutama pada lahan yang kurang subur atau gersang.

Perbanyakan mimba saat mi dilakukan secara generatif dengan biji dan secara vegetatif dengan stek ranting. Pada perbanyakan generatif permasalahan yang dihadapi adalah dihasilkan sifat tanarnan yang tidak sania dengan pohon induk, masa produksi Iebih lama dan permasalahan ketersediaan biji yang terbatas. Perbanyakan secara vegetatif secara alami tidak dapat menghasilkan akar yang baik sehingga sifat tanaman mudah roboh karena tidak memiliki akar tunggang dan umur tanaman biasanya lebih pendek.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan perbanyakan mimba secara kultur jaringan dan sumber eksplan biji dan tunas pucuk serta mengetahui pengaruh konsentrasi BAP terhadap pertumbuhan plantlet dan biji dan tunas pucuk. Hasil yang dtharapkan adalah dapat memberikan informasi mengenai konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan mimba.

Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian inti. Penelitian pendahuluan dilakukan penanaman eksplan dan biji dan tunas pucuk. Parameter yang diamati adalah keberhasilan hidup masing-masing sumber eksplan, pengaruh waktu pada sumber eksplan biji dan keefektifan teknik Sterilisasi pada sumber eksplan dan pucuk. Penelitian pendahuluan tidak menggunakan rancangan percobaan. Penelitian inti dibagi menjadi dua tahap yaitu pra perlakuan dan perlakuan. Pada pra perlakuan eksplan dipindahkan ke media baru yang memiliki komposisi dasar yang sama dengan media saat penelitian pendahuluan kemudian dilihat persentase hidup masing-masing sumber eksplan. Pada perlakuan parameter yang diukur secara kuantitatif adalah jumlah tunas, jumlah daun, tinggi dan pertumbuhan akar, sedangkan parameter kualitatif yang diamati adalah perubahan warna daun dan pertumbuhan kalus.

Pada penelitian inti digunakan rancangan acak Iengkap satu faktor dengan ulangan tidak sama. Perlakuan yang diberikan adalah konsentrasi BAP baik untuk plantlet dan biji maupun pucuk. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dilakukan uji Duncan. Analisis data dilakuakan dengan menggunakan perangkat  lunak Statistical Analysis System (SAS).

Pada penelitian pendahuluan, penanaman bahan ekspian dan biji dilakukan dalam tiga tahap dengan waktu yang berbeda tetapi dengan teknik sterilisasi yang sama. Pada penanaman pertama saat biji berumur satu bulan, daya tumbuh biji mencapai 48.33% atau sebanyak 29 biji, sedangkan pada penanaman kedua saat biji berumur tiga bulan, persen tumbuhnya hanya 1,67% atau satu biji dan pada penanaman  ketiga persen tumbuhnya 0% karena tidak ada satu bijipun yang mengalami pertumbuhan. Berdasarkan persamaan  linier  y = -24.165x + 64.997 daya tumbuh biji mimba diduga dapat bertahan sekitar dua bulan, oleh karena itu biji mimba harus segera ditanam setelah panen.

Penanaman bahan eksplan dan pucuk dilakukan tiga kali dengan teknik sterilisasi yang berbeda. Pada penanaman dengan sterilisasi menggunakan baycline, permasalahan yang terjadi adalah terjadinya kontaminasi yang relatif cepat yaitu tiga hari setelah tanam dan setelah satu minggu semua eksplan mati.

Pada penanaman dengan sterilisasi kedua menggunakan alkohol, HgC12 dan baycline, permasalahan yang terjadi adalah pencoklatan atau browning pada eksplan yang terjadi hanya satu hari setelah penanaman. Pada penanaman ketiga dengan sterilisasi menggunakan Hg Cl2, baycline dan betadine, didapatkan pertumbuhan eksplan yang cukup baik. Penggunaan HgC12 dan baycline secara berurutan menghasilkan kondisi yang lebih menguntungkan karena kombinasi keduanya merupakan usaha sterilisasi berlapis baik dari bakteri, jamur maupun kotoran-kotoran lain yang menempel pada permukaan eksplan. Penggunaan HgCI2 dan baycline terbukti lebih efektif dalam sterilisasi eksplan mimba dibandingkan dengan baycline saja atau dengan alkohol, ini terbukti dengan tetap bertahan hidupnya eksplan.

Pada penelitian inti kegiatan pra perlakuan, eksplan yang berasal dari biji dan pucuk dipotong-potong dan ditanam kedalam media pra perlakuan baru yang memiliki komposisi dasar yang sama dengan media pada penelitian pendahuluan. Setelah satu bulan pengamatan ternyata persentase hidup eksplan yang berasal dari biji (89.65%) lebih tinggi jika dibandingkan eksplan yang berasal dan pucuk. Hal  ini diduga karena kondisi eksplan dan biji lebih steril sehingga tidak banyak mendapat gangguan jamur, bakteri dan kotoran.

Penambahan media Murashige dan Skoog dengan zat pengatur tumbuh BAP memberi pengaruh yang berbeda-beda terhadap parameter pertumbuhan plantlet yaitu jumlah tunas, jumlah daun, tinggi pada plantlet dan biji. Pengaruh konsentarasi BAP terhadap jumlah tunas berbeda pada tiap minggu pengamatan. Pada minggu pengamatan pertama, ketiga, keempat, kelima, kesembilan sampai dengan minggu ke-12 pengamatan didapatkan pengaruh konsentarasi BAP terhadap jumlah tunas yang tidak berbeda. Namun pada minggu kedua, keenam, ketujuh dan kedelapan didapatkan hasil yang berbeda. Perbedaan respon plantlet ini  dipengaruhi oleh faktor ketersediaan unsur hara dalam media, dan berhubungan erat dengan kemampuan multiplikasi tanaman yang berbeda-beda.

Pada parameter pertambahan jumlah daun, pada minggu kelima pengamatan perlakuan BAP terhadap jumlah daun memiliki pengaruh yang berbeda, sedangkan pada minggu lainnya konsentrasi BAP memberikan pengaruh yang sama Perlakuan BAP 2%  memiliki  tingkat pertumbuhan tunas yang lebih  baik dibandingkan perlakuan lainnya Hal ini  diduga karena BAP diserap oleh tanaman dengan baik sehingga pembelahan sel yang terjadi  lebih baik.

Pada parameter tinggi, pada minggu keempat sampai dengan minggu kedelapan memperlihatkan pengaruh yang berbeda, sedangkan pada minggu yang lain pengaruh konsentrasi terhadap tinggi terlihat sama. Perlakuan BAP 2% memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap tinggi plantlet. Perbedaan respon plantlet mi diduga karena adanya mekanisme penonaktifan zat pengatur tumbuh yang diberikan sehingga menghambat pertumbuhan plantlet.

Bookmark and Share
Enhanced by Zemanta

21 June 2010

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic acid) dan IBA (Indole Butryric acid) terhadap Perakaran Eksplan Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) dalam Kultur In Vitro serta Aklimatisasinya

Esha Garden - Monday, June 21, 2010
RINGKASAN: Ariani Dwi Astuti. E 34101020. 2005. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic acid) dan IBA (Indole Butryric acid) terhadap Perakaran Eksplan Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) dalam Kultur In Vitro serta Aklimatisasinya.

Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Ir. Edhi Sandra, M.Si, Pembimbing Anggota Ir. Ervizal A. M. Zuhud, MS.

Tumbuhan Gaharu (A. mulaccensis Lamk.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan tropis yang menghasilkan resin atau produk damar yang bernilai ekonomi tinggi. Eksplorasi atau pemungutan hasil Gaharu hingga saat ini masih dilakukan hanya berorientasi pada hasilnya saja tanpa memperhatikan kelestariannya yaitu dengan cara menebang pohon Gaharu yang tumbuh secara alami di hutan. Cara pemungutan seperti mi dapat mengancam kelestarian dan jenis tanaman gaharu tersebut sehingga diperlukan upaya pelestarian.

Dalam penelitian ini dicoba pendekatan lain sebagai upaya pelestarian dengan konservasi in -vitro. Produksi tanaman Gaharu dengan teknik kultur jaringan dalam pembudidayaan, diharapkan memiliki keberhasilan aklimatisasi yang tinggi. Salah satu keberhasilan aklimatisasi antara lain dipengaruhi oleh kondisi eksplan, salah satunya keberhasilan perakaran, sehingga diperlukan suatu penelitian mengenai perakaran Gaharu secara in vitro dengan menggunakan zat pengatur tumbuh antara lain NAA dan IBA dengan berbagai macam konsentrasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh NAA dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan Gaharu secara in vitro khususnya pembentukan perakaran dengan berbagai macam konsentrasi serta mengetahui persentase hidup eksplan Gaharu pada saat aklimatisasi, sehingga hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah diperoleh metode perakaran Gaharu secara in vitro dalam upaya pengembangan pengadaan bibit untuk budidaya serta pelestarian Gaharu.

Penelitian dilakukan di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Pengambilan data primer dilakukan selama 5 bulan dan bulan Februari 2005 sampai bulan Juni 2005.
Percobaan ini terdiri dari 2 faktor yaitu dengan penambahan NAA dan IBA pada media tanam MS 0. Bahan tanaman yang digunakan adalah Gaharu hasil sub kultur.

Peubah pertumbuhan yang diamati terbatas hanya pada pertumbuhan vegetatif yang meliputi pertumbuhan akar dengan melihat jumlah akar dan panjang akar yang tumbuh pada setiap eksplan, tinggi eksplan, jumlah tunas daun yang baru tumbuh dan jumlah daun yang tumbuh pada eksplan dengan kondisi yang sehat (tidak terinfeksi atau terserang penyakit). Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali sampai akhir pengamatan yaitu minggu ke-12 kecuali untuk panjang akar, jumlah akar dan tingi eksplan dilakukan pada saat penanaman dan akhir pengamatan.

Selama proses pertumbuhan secara in vitro, faktor zat pengatur turnbuh berperan penting dalam menunjang eksplan membentuk perakaran. Hasil dan semua faktor yang diuji menunjukkan bahwa pengaruh terhadap eksplaii Gaharu berbeda-beda.

Dan hasil percobaan di dapatkan hasil yang cukup baik dari dua perlakuan diantara perlakuan yang lainnya yaitu bahwa penambahan IBA I mg/i menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan panj ang akar tertinggi, pertambahan tunas tertinggi dan penambahan IBA 1,5 mg/I menunjukkan persentase berakar yang tertinggi, pertambahan daun yang tertinggi dibandingkan perlakuan yang lainnya.

Apabila eksplan mempunyai persentase berakar dan panjang akar yang tinggi maka eksplan dapat meyerap unsur hara mineral yang cukup, dan adanya tunas dan daun yang cukup banyak maka akan menghasil zat hijau daun yang tinggi sehingga akan menghasilkan karbohidrat yang cukup untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu dengan keseimbangan panj ang akar dan banyaknya tunas serta daun yang dihasilkan akan semakin meningkatkan keberhasilan aklimatisasi eksplan Gaharu.

Keberhasilan aklimatisasi eksplan Gaharu pada percobaan sebesar 26,92%. Hal ini selain dipengaruhi oleh kondisi eksplan hasil kultur jaringan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu kelembaban, suhu dan intensitas cahaya.

Bookmark and Share

18 June 2010

Pemanfaatan Sarang Semut (Myrmecodia pendans) oleh Masyarakat sekitar Taman Nasional Wasur

Esha Garden - Friday, June 18, 2010
RINGKASAN: Nur Fadhilah Syahrawi. E34104034. Studi Pemanfaatan Sarang Semut (Myrmecodia pendans) oleh Masyarakat sekitar Taman Nasional Wasur. Dibimbing oleh: Ir. Siswoyo, MSi dan Ir. Edhi Sandra, MSi.

Taman Nasional Wasur terletak di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, dengan luas kawasan seluas 413.810 ha. Keanekaragaman jenis tumbuhan yang terdapat di TN Wasur sebanyak 104 jenis dan 37 famili, 18 jenis diantaranya termasuk tumbuhan sarang semut. Tumbuhan sarang semut di kawasan tersebut dipanen dan dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya, namun data dan informasi tentang pemanfaatan tumbuhan sarang semut tersebut belum tersedia.

Berkaitan dengan hal tersebut dan guna memberikan masukan bagi pihak pengelola untuk melestarikan tumbuhan tersebut, maka penelitian ini perlu dilakukan.

Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengetahuan dan budaya masyarakat Suku Marind Sendawi Anim dalam memanfaatkan secara tradisional sumber daya hutan tumbuhan obat khususnya Sarang Semut (Myrmecodia pendans). Penelitian ini dilaksanakan di TN Wasur dengan waktu penelitian adalah bulan April-Mei 2008.

Penelitian ini dilakukan di enam (6) desa di sekitar TN Wasur, meliputi Kampung Wasur, Yanggandur, Rawa Biru, Sota, Kuler-Tomerau kondo (5 perkampungan kecil), dan Poo. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini, meliputi: orientasi lapangan, pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data.

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer (karakteristik masyarakat pemungut sarang semut, frekuensi pengambilan sarang semut, musim panen, lokasi pengambilan, cara pengambilan dan volume pemanfaatan, serta harga jual dan masyarakat sampai ke konsumen atau rantai konsumen) dan data sekunder (peta—peta, monograf desa, dan data umum lokasi). Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi literatur; sedangkan pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara (snowball).


Karakteristik pemungut/pengumpul sarang semut sebagian besar berumur 36-45 tahun (20.8%), pendapatan > Rp. 1.000.000 (37.50), mata pencaharian pokok adalah petani (34%), jumlah tanggungan keluarga> 3 orang (58.33%).


Sedangkan, Karakteristik pemakai sarang semut sebagian besar berumur 40—49 tahun (29%), tingkat pendidikan SD (90,7%), bermata pencaharian pokok petani (40%), dan jumlah tanggungan <3 orang (55,8%). Sarang semut digunakan oleh masyarakat di sekitar TN Wasur sebagai pakan ternak, tumbuhan obat, dan sumber pendapatan.

Pelaku ekonomi sarang semut terdiri dan pemungut, pemungut (pengolah), pengumpul (pengolah), pengumpul 2 (di luar desa), dan konsumen. Bentuk produk yang ditawarkan adalah bentuk irisan (Kampung Wasur, Rawa Biru, dan Yanggandur) dan bentuk serbuk (Ndalir dan Poo). Di kampung Wasur hanya terdapat pelaku ekonomi pemungut dan pemungut (pengolah). Harga produk pada pemungut yaitu Rp. 5000/ umbi dan Rp. 25.000 — Rp.60.000 per- Kg.

Daerah yang memiliki alur tata niaga yang panjang adalah daerah Rawa Biru, Yanggandur, dan Ndalir. Pasaran obat herbal dapat dikategorikan musiman, begitu juga dengan pasaran sarang semut (M. pendans) di Papua khususnya Merauke mengalami ketidakstabilan. Sebagian besar responden (pelaku ekonomi) menyatakan bahwa kendala yang mereka hadapi adalah minat pembeli yang fluktuatif. Kata kunci Myrmecodiapendans, pakan ternak, obat, dan pemasaran.


Bookmark and Share




01 June 2010

Desain Produk Wisata Aromaterapi Di Taman Bunga Nusantara Cipanas-Canjur

Esha Garden - Tuesday, June 01, 2010
ABSTRAK: Intan Mauhna (E 33202013). Desain Produk Wisata Aromaterapi Di Taman Bunga Nusantara Cipanas-Canjur. (dibawah bimbingan Edhi Sandra).

Era globalisasi merupakan suatu fenomena yang telah menjadi kenyataan dan harus di hadapi oleh setiap bangsa dan negara. Perubahan lingkungan perdagangan menghadapkan Indonesia pada suatu tantangan untuk dapat memanfaatkan peluang yang ada.

Beragam variasi produk wisata mulai banyak ditawarkan keadaan ini mendorong untuk menciptakan suatu inovasi baru atau menata kembali suatu produk yang telah ada menjadi bertambah nilai dan untuk mempertahankan daya tarik pasar dalam kondisi persaingan yang semakin kompetitif. Berdasarkan informasi lapangan yang diperoleh, jumlah kunjungan ke Taman Bunga Nusantara setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Peningkatan jumlah kunjungan ke lokasi Taman Bunga Nusantara tersebut bukan berarti tingkat kepuasan pengunjung sampai pada titik yang sama pada saat bertambahnya kunjungan, akan tetapi sebaliknya. Selama ini wisatawan mengetahui tentang produk pariwisata yaitu Taman Bunga Nusantara itu hanya citranya saja. Mereka membeli harapan bahwa di lokasi Taman Bunga Nusantara mereka akan dapat menikmati hal- hal seperti yang tergambar dalam citra Taman Bunga Nusantara.

Menyiasati hal-hal tersebut, maka diperlukan inovasi-inovasi baru dalam pengelolaan Taman Bunga Nusantara terutama dalam menampilkan keanekaragaman tanaman berbunga. Salah satu hal yang dapat dilakukan, adalah dengan mendisain produk wisata aromaterapi dan potensi tanaman aromatik di Taman Bunga Nusantara.

Taman Bunga Nusantara terletak di ketinggian 750 mdpl, dengan suhu harian 20°C - 26°C dan curah hujan mencapai 2475,7 mm. Dengan jarak tempuh sekitar 9 km dan Jalan Raya Jakarta — Bandung taman mi dapat dicapai dan segala arah.Keseluruhan luas taman adalah 35 hektar, 23 hektar disi bunga dan berbagai pohon, 7 hektar untuk taman bermain anak, 2 hektar untuk lahan pembibitan, 3 hektar untuk vila Saung Nini dan Saung Aki, sebuah restoran serta ruang pertemuan.Akses transportasi umum menuju lokasi TBN tersedia dengan sangat baik, menuju lokasi Taman Bunga Nusantara bisa ditempuh melalui pasar Cipanas, kemudian dari pasar Cipanas sudah banyak terdapat angkutan urium dengan tujuan melewati lokasi Taman Bunga Nusantara.

Bedasarkan hasil di lapangan bahwa jumlah jenis tumbuhan aromaterapi yang ada di Taman Bunaa Nusantara,diketahui hanya sebanvak 20 jenis. Diantaranya adalah:



NO.

NAMA JENIS TUMBUHAN

BAGAN YANG
DIGUNAKAN

Lokal

llmiah

Famili

1.

Adas

Foeniculum vulgare

Apiaceae

Buah

2.

Kapasan

Abelmoschus moschatus

Apiaceae

(biji)

3.

Cendana

Santalum album L

Lauraceae

Bi

4.

Cengkeh

Syzygium aromaticum

ytaceae

Kayu Buah/daun

5.

Cemara

Abies a/ba

Cupressaceae


6

Daun poko

Mentha an’ensis

Labiatae

Jarum-jarum Seluruh tumbuhar

7

Ekaliptus

Eucalyptus globulus

Myrtaceae


8.
9.

Geranium Jahe

Pelargonium graveolens Zin giber officinale

Geranaceae Zingiberaceae

Daunlranting Daun,tangkai,bunga

10

Jeruk nipis

Citrus aurantifolia

Rutaceae

Rimpang Kulit buah

11.

Jeruk lemon

Citrus limon

Rutaceae

Kulit buah


Kamboja

Plumeria acuminata

Asteraceae


13.

Kayu putih

Melaleuca leucadendron

Myrtaceae

Bunga Daun

14.

Kenanga

Cananga odorata

Annonaceae

Bunga

15.
W
1•Y
18.

Pohon teh
Lavender
Melati

Melaleuca alternifolla Cheel.
Lavandula officina!is
Jasminum grandifolium

iyy!taceae Labiatae Oleaceae

Daun,ranting,bunga Bunga

Mawar

Rosa damascena

.
Rosaceae

Bunga

19.

Nilam

Pogostemon ca/bin

Labiatae

Bunga

20

Tagetes

Tagetes minuta

Asteraceae

Daun Sunga



Desain produk wisata aromaterapi yang dikembangkan adalah desain arah pengembangan, produk wisata aromaterapi secara insitu dan secara exsitu. Untuk desain arah pengembangan produk wisata secara insitu dibuat suatu konsep yaitu let see the plants aromatic konsep mi menekankan pada desain fisik taman dengan penataan tanaman aromaterapi secara murni dan secara kombinasi.

Desain fisik taman dengan penataan tanaman aromaterapi secara murni yaitu Iebih menampilkan tanaman aromaterapi dalam sebuah konsep taman aromatik seluas I ha, sedangkan untuk desain fisik taman dengan penataan tanaman aromaterapi. secara kombinasi menggunakan taman amerika sebagal studi kasus pengembangan taman aromaterapi.

Untuk desain arah pengembangan produk wisata aromaterapi secara exsitu dibuat dengan konsep one stop shopping untuk aromaterap dengan menekankan pada desain program kegiatan wisata. Program kegiatan wisata tersebut terdiri dan jasa wisata kesehatan dengan konsep one day treatment aromaterapi dan produk wisata aromaterapi yang terdiri dan Produk bibit-bibit tanaman aromaterapi

Produk jamu dan tanaman aromaterapi dan produk olahan tanaman aromaterapi, prothik minuman terapi, dan pameran tanaman aromaterapi.

Dan untuk mengembangkan produk wisata ini dilakukan kegiatan pemasaran melalui penyebaran brocure di lokasi taman bunga.

30 May 2010

Aplikasi Bakteri Methylobacterium sp. terhadap Pertumbuhan dan Perakaran Tunas Gaharu

Esha Garden - Sunday, May 30, 2010
RINGKASAN: INDRA SANTOSO E34 103043. Aplikasi Bakteri Methylobacterium sp. terhadap Pertumbuhan dan Perakaran Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) Hasil In-vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan ALl HUSNI.

Aquilaria malaccensis Lamk. merupakan tumbuhan hutan yang memiliki kandungan resin dan bemilai ekonomi. Oleh banyak kalangan masyarakat, resin ini biasanya disebut “gaharu”, yang digunakan untuk obat-obatan seperti sakit perut, sesak napas, penguat kandungan dan rematik; bahan baku industri parfum dan kosmetik juga sebagai pelengkap obat. Seiring dengan majunya teknologi dan eksploitasi membuat komoditas gaharu menurun. Maka, oleh CITES dimasukkan ke dalam salah satu jenis langka.

Berbagai metode perbanyakan telah dilakukan termasuk pembiakan vegetatif secara kultur jaringan (bioteknologi) dengan bermacam-macam modifikasi perlakuan zat tumbuh, kondisi dan faktor pertumbuhan dan juga lingkungan tetapi perakaran tanaman gaharu masih mengalami banyak kendala.

Aplikasi bakteri Methylobacterium sp. yang dilaporkan menghasilkan fitohormon dan zat pengatur tnmbuh diharapkan mampu mengatasi kendala dalam perbanyakan ini. Tujuan dan penelitian mi adalah mempelajari penganuh, menentukan strain dan waktu perendaman efekti dan Methylobacterium sp. untuk pertumbuhan dan perakaran tunas Aquilaria malaccensis.

Metode pada tahap I, rendam tunas gaharu ke dalam empat suspensi strain bakteri Methylobacterium sp. (TD-U2, TD-TM3, PPU-PK2 dan TD-TB1) masing-masing 20 tunas selaina 4 jam. Lalu, dipindahkan ke dalam media tanam. Pada tahap II, perendaman menggunakan strain bakteri terbaik basil induksi tahap I, masing-masing 16 tunas dan ditambahkan Indole Butiric Acid (IBA) 20 ppm dengan waktu 0 jam (kontrol), 3 jam, 6 jam dan 9 jam, lain dipindahkan ke media tanam. Media tanam terdiri dan tanah, kompos, arang ekam dengan perbandingan 1:1/2:1 dan parameter pertumbuhan vegetatif yang diamati adalah daun, tunas, batang dan akar.

Pada penelitian tahap 1, bakteri strain TD-TB1 memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah daun, tapi berpengaruh tidak nyata pada batang sedangkan tunas tidak tumbuh sehingga tidak dilakukan uji satistik. Pada tahap II, rata-rata jumlah daun tertinggi. batang tertinggi, dan jumlah tunas berasal dan penlakuan perendaman bakteri strain TD-TB 1 selama 3 jam tapi nilai rata-rata terendah berasal dan perendaman selama 9 jam. Ini mengindikasikan bahwa perendaman 9 jam tidak memberikan pengaruh yang besar dan tidak berbeda nyata dengan kontrol.

Pada penelitian ini, bakteri ini membantu proses fisiolgis tanaman khususnya penyerapan dan transporatsi unsur hara dan media tanam, yang juga menghasilkan sitokinin zeatin, IAA, flksasi C02 dan menambat N2 sehingga tunas gaharu dapat hidup dengan kondisi baik. Pertuinbuhan tunas path tahap ini merupakan pertumbuhan tunas sainping (tunas lateral). Terlambatnya pertumbuhan tunas disebabkan karena asama absisik (ABA) yang muncul dan berkembang pada kondisi stres.

Penurunan jumlah daun pada penelitian ini terjadi karena absisi. Pertumbuhan akar hanya tcrjadi pada perlakuan perendaman bakteri strain TD-TB1 selam 3 jam dan hanya pada 1 tanaman saja (1,56 %). Pada akhir penelitian, tanaman yang tetap hidup adalah 16 individu. Penurunan ini disebabkan karena bakteri dan jamur patogen.

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah pemberian bakteri Methylobacterium sp. Memberikan hasil yang baik terhadap pertumbuhan tunas gaharu. Perlakuan perendaman dengan strain TD-TB 1 memberikan hasil yang terbaik dibadingkan 3 strain lainya. Waktu yang paling efektif dan yang dapat menghasilkan akar adalah perendaman dengan bakteri strain TD-TB1 selama 3 jam.


Kata kunci: Aquilaria malaccensis, Methylobacterium sp., Kultur in-vitro

Bookmark and Share

25 May 2010

Pengaruh Jenis Media Organik dan NAA terhadap Pertumbuhan Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata Lindl) di dalam Kultur In Vitro

Esha Garden - Tuesday, May 25, 2010
RINGKASAN: Rini Untari. E03498025. Pengaruh Jenis Media Organik dan NAA terhadap Pertumbuhan Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata Lindl.) di dalam Kultur In Vitro. Dibawah Bimbingan Ir. Edhi Sandra, M.Si. dan Ir. Dwi Murti Puspitaningtyas, M.Sc.

Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata Lindl) merupakan salah satu anggrek alam yang berasal dan Kalimantan, bunganya berbau harum lembut dan lama mekar bunga sekitar 5-6 hari (Sastrapradja et all., 1976). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 anggrek mi termasuk kedalam tumbuhan yang dilindungi.

Di alam keberadaan jenis anggrek ini terancam karena pengambilan yang berlebihan, terjadinya perubahan dan rusaknya habitat tumbuh anggrek tersebut merupakan faktor yang mengancam kelestarian anggrek ini. Kegiatan pengeksploitasian yang berlebihan dan apabila terjadi terus menerus, anggrek hitam akan mengalami kepunahan.

Untuk mencegah terjadinya kepunahan spesies ini, maka harus diupayakan teknik budidaya yang tepat untuk menyediakan tanaman-tanaman baru anggrek hitam secara cepat dengan kualitas dan kuantitas yang baik.

Tanaman anggrek dapat diperoleh melalui cara pembiakan secara vegetatif dan generatif. Secara alami pembiakan anggrek dengan cara generatif yang berasal dari biji hanya dapat tumbuh jika bersimbiosis dengan mikoriza. Biji anggrek hanya terdiri dad embrio dan testa (pelindung embrio) tanpa cadangan makanan atau endosperm (Thompson, 1980). Jika bersimbiosis dengan mikoriza anggrek dapat memperoleh nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh. Pada umumnya tingkat keberhasilan perkecambahan secara alami persentasenya sangat kecil.

Dengan berkembangnya teknik kultur in-vitro, maka keberhasilan perkecambahan biji anggrek dapat ditingkatkan. Modifikasi media dapat meningkatkan produksi anggrek hitam mi secara kualitatif dan kuantitatif dibandingkan dengan produksi hasil dari alam. Salah satu modifikasi media yaitu penambahan persenyawaan organik kompleks sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhan anggrek hitam tersebut serta penggunaan NAA (Napthalene Acetic Acid), salah satu jenis auksin sintetis banyak digunakan untuk meningkatkan rasio pertumbuhan akar tanaman dalam kultur in-vitro, karena akan mendorong pembentukan akar-akar baru pada selang konsentrasi tertentu. Dengan pertumbuhan akar yang sehat dan kuat akan meningkatkan kemampuan tanaman untuk bertahan hidup pada tahap aklimatisasi ke lapangan.

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Kerja Laboratonium Kultur Jaringan Anggrek Kebun Raya Bogor. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dari bulan Juni sampai bulan Desernber 2002, 5 bulan pengamatan plantlet selama di botol dan 1 bulan untuk melihat keberhasilan hidup di lapangan.

Percobaan ini terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah 6 jenis media organik (tanpa bahan organik, air kelapa 250 mI/I, pisang ambon 150 g/l, kentang 200 g/l, ubi jalar 150 g/l, dan kedelai 150 g/l ) yang dikombinasikan dengan faktor kedua yaitu 5 taraf konsentrasi NAA (0 ppm, 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm). Media dasar yang digunakan adalah komposisi media VW (Vacin & Went) dengan penambahan gula pasir. arang aktif dan agar-agar. Bahan eksplan yang digunakan semai hasil perkecambahan dan biji yang berumur 20 bulan mempunyai tinggi masing-masing 3-6 cm dengan jumlah daun 6-7 helai.

Tanaman hasil kultur in-vitro setelah pengamatan selama 5 bulan selanjutnya diaklimatisasi ke media yang terdiri dari sphagnum moss, arang, dan pecahan genting dengan perbandingan 1:1:1, media tanam yang dipakai terlebih dahulu direndam dalam air panas selama 1 jam kemudian ditiriskan dengan tujuan untuk mensterilkan media tumbuh yang akan dipakai.

Parameter yang diamati pembentukan akar (panjang akar dan jumlah akar). Panjang akar diukur pada saat panen sedangkan jumlah akar diukur setelah 2 minggu penanaman. Pertumbuhatn eksplan (tinggi eksplan, jumlah daun, jumlah tunas barn). Pengamatan dilakukan setelah 2 minggu penanaman. Selain peubah diatas dilakukan, pengamatan terhadap kondisi eksplan seperti pembentukan akar adventif, warna daun, persentase hidup eksplan dan persentase plantlet yang hidup di lapang.

Pengamatan di botol dilakukan setiap 2 minggu selama 5 bulan dan untuk plantlet yang hidup di lapangan diamati selama 1 bulan setelah plantlet keluar dari botol kultur.

Penambahan media Vacin & Went dengan persenyawaan organik kompleks dan zat pengatur tumbuh NAA serta interaksi antara 2 faktor perlakuan tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap parameter-parameter pertumbuhan, parameter pertumbuhan tersebut meliputi pembentukan akar baik panjang akar dan jumlah akar serta pertumbuhan eksplan yaitu tinggi eksplan, jumlah daun dan jumlah tunas baru.

Perbedaan jenis media organik kompleks berpengaruh nyata terhadap semua parameter kecuali jumlah tunas. Jumlah akar dan panjang akar tertinggi diperoleh dan media VW dengan penambahan ubi jalar 150 g/l. Tinggi eksplan dan jumlah daun terbaik diperoleh dari media VW + kentang 200 g/l. Sedangkan untuk rata-rata terendah dad parameter tinggi eksplan, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar pada media VW + kedelai 150 g/l untuk 20 Minggu Setelah Tanam (MST).

Zat pengatur tumbuh NAA berpengaruh terhadap parameter tinggi eksplan, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar, tidak berpengaruh terhadap jumlah tunas. Faktor zat pengatur tumbuh NAA berpengaruh nyata pada tingkat kwartik untuk semua parameter. Parameter tinggi serta jumlah daun konsentrasi NAA maksimum 0 ppm, jumlali akar maksimum pada konsentrasi 2,1 ppm sedangkan parameter jumlah tunas peningkatan NAA lebih dari 20 ppm masih memungkinkan peningkatan jumlah tunas.

Peningkatan konsentrasi NAA mengakibatkan daya regenerasi tanaman menurun dan terhambat serta meningkatkan kematian untuk beberapa eksplan anggrek C. pandurata. Terdapatnya zat-zat endogen/auksin alami dalam eksplan yang mendorong eksplan untuk tetap mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Interaksi antara jenis persenyawaan organik kompleks berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan baik tinggi plantlet, jumlah daun, jumlah tunas, jumlah akar dan panjang akar. Pemberian NAA berpengaruh nyata pada tingkat kwartik untuk semua media organik kecuali pada media VW + kedelai 150 g/l berpengaruh nyata pada tingkat kuadratik. Pada parameter jumlah tunas peningkatan NAA pada semua perlakuan media organik, konsentrasi NAA lebih dari 20 ppm dapat meningkatkan jumlah tunas .

Peranan zat tumbuh selain sebagai perangsang dapat pula berlaku sebagai penghambat, semuanya itu tergantung dari konsentrasi zat tersebut. Dengan meningkatnya konsentrasi NAA dalam media menyebabkan persentase kematian eksplan yang tinggi. Pada minggu ke-20 eksplan yang hidup untuk perlakuan NAA 0 ppm 95,8 %, NAA 5 ppm 81,5 %, NAA 10 ppm 61,5 %, NAA 15 ppm 27,7 % dan N.AA 20 ppm sebesar 14,5 %.

NAA dengan konsentrasi rendah 0 ppm (kontrol) dan 5 ppm menghasilkan warna daun eksplan hijau tua. Meningkatnya konsentrasi NAA mengakibatkan warna daun kuning bahkan beberapa eksplan berwarna coklat dan mengalami kematian yang disebabkan oleh menurunnya jumlah klorofil dan rusaknya klorofil.

Plantlet yang memiliki persentase hidup yang tinggi setelah 4 minggu aklimatisasi yaitu plantlet yang berasal dari eksplan yang diberi penambahan ekstrak ubi jalar 150 WI dengan konsentrasi NAA 0 ppm, 5 ppm dan 10 ppm sebesar 100 %.

Media Vacin & Went dengan penambahan ekstrak ubi jalar 150 g/l dengan NAA 0 ppm merupakan media yang terbaik untuk pertumbuhan optimal semai Coelogyne pandurata hasil kultur in-vitro.

Bookmark and Share

18 May 2010

Pemberian Ekstrak Bawang Merah, Liquinox Start, NAA, Rootone-F Untuk Aklimatisasi Stek Mini Pule Pandak

Esha Garden - Tuesday, May 18, 2010
Rauvolfia serpentinaImage by dinesh_valke via Flickr
RINGKASAN: NOFRIZAL M. Pemberian Ekstrak Bawang Merah, Liquinox Start, NAA, Rootone-F Untuk Aklimatisasi Stek Mini Pule Pandak (Rauvolfia serpentina Benth.) Hasil Kultur In Vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA. dan ERVIZAL A.M. ZUHUD.

Pule pandak (Rauvolfia serpentina Benth.) merupakan salah satu jenis tumbuhan langka dan famili Apocynaceae yang mengandung senyawa alkaloid dan banyak digunakan masyarakat sebagai bahan obat diantaranya obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi, disentri dan kurang nafsu makan. Salah satu usaha untuk menyelamatkan pule pandak dan kepunahan adalah dengan keg iatan konservasi ex-situ. Penelitian aklimatisasi stek mini pule pandak dilakukan untuk menjawab saiah satu permasalahan yang muncul seteiah perbanyakan dengan teknik kuitur janingan.

Penelitian dilakukan pada 26 Februari - 21 Mei 2007 di rumah kaca Pusat Konservasi Ex-Situ Tumbuhan Obat Hutan Tropika, Laboratorium Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. B

ahan tanaman yang digunakan adalah stek mini pule pandak hasil kultur in vitro. Bahan perlakuan berupa ekstrak bawang merah 200 mIll, liquinox start 2 mI/i, NAA 2 mg/i, rootone-F dan gabungan NAA 2 mg/I dengan rootone-F.

Semua perlakuan dicampur juga dengan larutan byponex hijau 2 g/l kecuali rootone-F, yang diberikan pada saat perendaman stek dan perawatan. Media tanam berupa campuran arang sekam, pasir dan kompos (1:1:1).

Pengamatan dilakukan terhadap seluruh unit contoh yang ditanam, meliputi: persentase peluang hidup, persentase stek berakar, panjang akar, pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun dan perubahan warna daun. Pengolahan dan analisis data dilakukan menggunakan Percobaan Satu Faktor (Single Factor Experiments) dengan metode Rancangan Acak Lengkap (Completely Randomize Design).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan memiliki pengaruh nyata terhadap persentase peluang hidup dan parameter pertumbuhan pule pandak terutama dalam hal perakaran dan pertambahan tinggi tanaman.

Secara umum bibit terbaik yang dihasilkan dan akiimatisasi stek mini pule pandak berasal dan perlakuan kontrol dan kemudian diikuti oleh rootone-F. Ukuran akar terpanjang dthasilkan dan perlakuan rootone-F. Sedangkan untuk pertambahan tinggi tanaman tertinggi dihasilkan oleh perlakuan ekstrak bawang merah dan rootone-F.

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan aklimatisasi stek mini pule pandak antara lain faktor hormon dan zat pengatur tumbuh, faktor lingkungan yang mencakup media perakaran, kelembaban, suhu, dan intensitas cahaya serta faktor bahan stek.

Kesimpulan yang dapat diambil dan penelitian mi adalah semua perlakuan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan akar dan pertambahan tinggi batang. Bibit terbaik dilihat dan rata-rata panjang akar dan pertambahan batang dihasilkan oleh rootone-F. Peluang hidup tertinggi dihasilkan oleh kontrol.


Kata kunci: pule pandak, ekstrak bawang merah, liquinox start, NAA, rootone-F, aklimatisasi, stek mini, kultur in vitro.

Bookmark and Share

Enhanced by Zemanta

13 May 2010

Multiplikasi Tunas Tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) secara in vitro

Esha Garden - Thursday, May 13, 2010
RINGKASAN: Andhi triharyanto. E34101025. 2005. MUTIPLIKASI TUNAS TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis Lamk.) SECARA IN VITRO. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Ir. Edhi Sandra, Msi. Pembimbing anggota : Dr. Endang Gati Lestari, Msi

Gaharu didefinisikan sebagai sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang terjadi baik secara alami maupun buatan pada pohon tcrsebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. Gaharu merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan non kayu karena bernilai ekonomi tinggi. Gaharu digunakan sebagai bahan parfum, kosmetik, obat-obatan, dupa dan sebagai obat pencegah dan penghilang stress.

Di Indonesia telah diketahui ada 16 jenis pohon penghasil gaharu yang berasal dari 3 famili yaitu Thymeleaceae, Leguminoceae dan Euphorbiaceae, dengan 8 genus yaitu Aquilaria sp., Girynops sp., Excocaria sp., Gonistylus sp., Aetoxylon sp., Enkleia sp., Wiekstromia sp. dan Dalbergia sp. I'ohon dari marga Aquilaria menghasilkan gaharu yang memiliki mutu sangat baik dan lebih tinggi nilai perdagangannya daripada gaharu yang dihasilkan oleh pohon dari marga lainnya.

Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar dan nilai jual berakibat pada meningkatnya upaya perburuan, sehingga populasi pohon penghasil gaharu termasuk jenis Aquilaria malaccensis Lamk semakin menurun. Oleh sebab itu organisasi dunia CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada APPENDIX II CITES memutuskan jenis Aquilaria malaccensis Lamk termasuk dalam daftar jenis tanaman yang terancam punah.

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pencegahan Untuk menghindari kepunahan di alam diantaranya. yaitu dengan melakukan teknik budidaya baik secara generalif maupun vegetatif sebagai salah satu upaya konservasi eksitu. Salah satu teknik budidaya vegetatif yaitu dengan menggunakan teknik kultur jaringan, sehingga dengan teknik ini dapat menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak dan waktu yang relatif singkat untuk mendukung kegiatan konservasi gaharu.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Departemen Konservasi Suberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor selama :I: 8 bulan mulai awal Oktober 2004 sampai akhir Mei 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Zat Pengatur Tumbuh BAP dan media dasar MS untuk multiplikasi tunas tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis) secara In Vitro.

Bahan tanaman yang digunakan berupa biji gaharu. Sterilisasi eksplan biji dilakukan secara bertingkat yaitu dengan menggunakan HgCl2 0.01%, clorox 20 %, 15 % dan 5 % secara berurutan dan dikocok selama 7 menil. Biji-biji tersebut kemudian dibilas sebanyak tiga kali menggunakan aquades steril. Media dasar yang digunakan adalah media dasar MS dengan penambahan Zat pengatur tumbuh BAP (0, 0.25, 0.5, 0.75, I, 1.25, dan 1.5 mg/l). Perbanyakan eksplan dilakukan dengan cara subkultur.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sterilisasi yang dilakukan belum tepat baik dosis maupun waktu yang digunakan karena terjadi kontaminasi yang cukup tinggi. Parameter lain yang diamati diantaranya yaitu jumlah tunas, tinggi tunas, jumlah daun, persentase hidup, persentase berkalus, serta pengamatan visual eksplan.

Hasil penelilian menunjukkan bahwa jumlah tunas,  tinggi tunas, jumlah daun, dan persentase hidup terbaik ditunjukkan pada perlakuan BAP 0.5 mg/l. Peningkatan konsentrasi BAP tidak memberikan berpengaruh yang nyata pada pertumbuhan eksplan.

Sedangkan persentase berkalus tertinggi ditunjukkkan pada perlakuan BAP 1.25 mg/l. Ada dugaan bahwa semakin sempurna pertumbuhan tanaman sangat mempengaruhi persentase hidup tanaman, hal ini dikarenakan tanaman'" dapat bertoleransi terhadap lingkungan tumbuhnya.

Penampakan visual ekplan yang terjadi diantaranya yaitu vitrifikasi, etiolasi, stagnasi serta kontaminasi yaitu dalam bentuk jamur, bakteri dan kapang. Vitifikasi dan etiolasi lebih disebabkan karena pengaruh lingkungan tumbuh yang tidak sesuai sedangkan stagnasi lebih disebabkan karena faktor eksplan yang tidak juvenil serta pangaruh sterilisasi yang tidak tepat. Setiap bagian eksplan memberikan pengaruh yang berbeda pada lingkungan tumbuh yang sama, hal ini karena dipengaruhi factor endogen eksplan yang berbeda.

Bookmark and Share

10 May 2010

Kajian Penggunaan Hormon IBA dan BAP terhadap Pertumbuhan Tanaman Penghasil Gaharu

Esha Garden - Monday, May 10, 2010
RINGKASAN: DHENNY LISDIANTINI. Kajian Penggunaan Hormon IBA dan BAP terhadap Pertumbuhan Tanaman Penghasil Gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) dengan Teknik Kultur In Vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan WA ODE HAMSINAH BOLU.

Hasil hutan non kayu terkadang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kayu, salah satu contohnya adalah gaharu. Permintaan gaharu terus meningkat, sedangkan semua produksinya masih menggantungkan pada produksi dari hutan-hutan alam.

Akibat merosotnya populasi pohon penghasil gaharu di hutan-hutan alam, maka Pemerintah melalui Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978 menetapkan peraturan bagi eksportir Gaharu yang mewajibkan mereka memiliki surat izin CITES. Perlindungan terhadap beberapa jenis tanaman penghasil gaharu semakin ditingkatkan, Aquilaria spp. dan Gyrinops spp. termasuk Appendix II CITES pada tanggal 2-14 Oktober 2004 di Bangkok.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi hormon auksin dan sitokinin (IBA dan BAP) yang terbaik pada media dasar Murashige dan Skoog terhadap pertumbuhan kultur in vitro eksplan tanaman penghasil gaharu Gyrinops versteegii.

Bahan tanaman yang digunakan adalah pucuk eksplan steril G. versteegii. Eksplan ditumbuhkan pada media MS dengan penambahan perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh IBA dengan konsentrasi 0,00; 0,05 dan 0,10 mg/l dan BAP 0,00; 0,05; 0,10 dan 0,20 mg/l.

Penelitian ini disusun menggunakan metode statistika RAL Faktorial dengan jumlah 12 perlakuan dan ulangan sebanyak 6 kali. Pengamatan dilakukan selama 8 MST (minggu setelah tanam) terhadap selumh eksplan yang ditanam meliputi parameter rata-rata pertambahan tinggi, jumlah mas, jumlah tunas, jumlah daun, persentase tingkat kematian, proses pengkalusan dan kontaminasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media perlakuan IBA 0,05 mg/l + BAP 0,20 mg/l memberikan respon terbaik pada parameter pertambahan tinggi dan pertumbuhan tunas, yaitu sebesar 1,8 em dan 3,17 tunas.

Sedangkan media perlakuan IBA 0,00 mg/l + BAP 0,20 mg/l memberikan respon terbaik pada parameter jumlah mas dan jumlah daun, yaitu sebesar 6,33 mas dan 5,67 helai.

Semua media perlakuan menumbuhkan kalus keeuali, pada media kontrol. Presentase jumlah eksplan yang terkontaminasi sebesar 6,94% (5 dari 72 eksplan). Kontaminasi disebabkan oleh adanya eendawan pada tabung.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh IBA (0,00; 0,05 dan 0,10 mg/I) dan BAP (0,00; 0,05; 0,10 dan 0,20 mg/I) memberikan respon yang sangat nyata terhadap parameter jumlah tunas. Sedangkan pada parameter tinggi planlet, jumlah ruas, dan jumlah daun memberikan respon tidak berbeda nyata.

Kata kunci : Gyrinops versteegii, in vitro, auksin, sitokinin.

Bookmark and Share

09 May 2010

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Alkaloid Pule pandak

Esha Garden - Sunday, May 09, 2010
RINGKASAN: Muhammad Alam Firmansyah. E03497037. Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Alkaloid Pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth.) Hasil KuItur In vitro. Dibawah bimbingan Ir. Edhi Sandra, M.Si.

Pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth.) merupakan salah satu spesies tumbuhan hutan tropika yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat dan tergolong langka di dunia. Menurut WHO (1994) dalam Siswoyo dan Zuhud (1995), spesies ini merupakan salah satu spesies yang termasuk dalam Hand book of Herbal Medicine Traditional Medicine Division. WHO-Genewa.

Sampai saat ini, kebutuhan bahan baku simplisia Pule pandak masih dipenuhi dari hasil pemanenan langsung di alam. Di sisi lain, kebutuhan akan bahan baku simplisia Pule pandak, baik dalam negeri maupun dan negara-negara industri farmasi, terus meningkat dan belum terpenuhi. Pada tahun 2000, permintaan akan bahan haku tersebut meneapai 6.898 kg dengan trend pertambahan sebesar 25,89 % per tahun (Data Olahan Balitro, 1990 dalam Sandra dan Kemala, 1994).

Untuk dapat mengimbangi tingkat permintaan bahan baku simplisia Pule pandak dan menyelamatkannya dari.
kepunahan, perlu dilakukan kegiatan konservasi maupun budidaya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memudahkan kegiatan tersebut. Salah satunya adalah dengan kultur in vitro sebagai alterrnatif penerapan teknologi yang dapat ditujukan untuk kepentingan budidaya ekonomis maupun konservasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) terhadap pertumbuhan Pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth.) hasil kultur in vitro. Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang terbaik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas Pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth.).

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Kultur Jaringan Laboratonum Konservasi Tumbuhan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan lnstitut Pertanian Bogor. Pengambilan data primer dilakukan selama tiga bulan dari tanggal 5 September 2001 sampai tanggal 5 Desember 2001.

Media dasar yang digunakan pada pereobaan ini adalah media MS penuh dengan penambahan Zat Pengatur Tumbuh yaitu IBA 2 (2 mg/I), NAA 2 (2 mg/l), IBA 1 (1 mg/l) + NAA 1 (1 mg/l), BAP 1 (1 mg/I), BAP 1 (1 mg/I) + IBA 2 (2 mg/I), BAP 1 (1mg/I) + NAA 2 (2 mg/I), BAP 1 (1 mg/I) + IBA 1 (1mg/I) + NAA 1 (1 mg/l), BAP 2 (2 mg/I), BAP 2 (2 mg/I)+ lBA 2 (2 mg/I), BAP 2 (2 mg/I) + NAA 2 (2 mg/I), BAP 2 (2 mg/I) + IBA 1 (1mg/I) + NAA 1 (1 mg/I). Kultur diinkubasikan pada suhu 25"C - 28"C selama 3 bulan dengan intensitas cahaya normal.

Parameter-parameter pertumbuhan eksplan Rauwolfia serpentine Benth. berupa tinggi total, jumlah tunas, jumlah daun, kalus, dan pucuk memberikan respon positif terhadap perlakuan yang diberikan. Tinggi percabangan dan perakaran tidak memberikan respon terhadap perlakuan.

Penggunaan zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,05),>

Rata-rata tertinggi untuk parameter tinggi total diperoteh pada penggunaan IBA 2 ml/l, sedangkan rata-rata terendah diperoleh pada penggunaan BAP 2 mg/I + NAA 2 mg/I.

Rata-rata tertinggi untuk jumlah tunas adalah pada perlakuan dengan menggunakan BAP I, sedangkan rata-rata terendah adalah pada perlakuan BAP 2 + NAA 2.

Rata-rata tertinggi dari percabangan adalah pada perlakuan dengan menggunakan BAP 1, sedangkan rata-rata terendah pada perlakuan BAP 2 + NAA 2, yaitu O. Rata-rata tertinggi dari jumlah daun diperoleh dan perlakuan dengan menggunakan BAP1, sedangkan rata-rata terendah pada perlakuan dengan menggunakan BAP 2 + IBA 1 + NAA I.

Rata-rata tertinggi dari berat basah kalus diperoleh dari perlakuan dengan menggunakan BAP 2 + NAA 2, sedangkan terendah yaitu dengan menggunakan perlakuan kontrol, BAP 1, dan BAP 2, yaitu O. Rata-rata tertinggi dari berat kering kalus diperoleh dari perlakuan dengan menggunakan BAP.


2 + IBA 1 + NAA 1, sedangkan terendah yaitu dengan menggunakan perlakuan kontrol, BAP 1, dan BAP 2, yaitu O. Rata-rata tertinggi dari % kadar air kalus diperoleh dari perlakuan dengan menggunakan BAP 2 + NAA 2, sedangkan terendah yaitu dengan menggunakan perlakuan kontrol, BAP 1, dan BAP 2, yaitu O.

Rata-rata tertinggi untuk berat basah pucuk yaitu pada perlakuan NAA 2, sedangkan rata-rata terendah dari berat basah pucuk adalah BAP 2 + NAA 2. Rata-rata tertinggi untuk berat kering pucuk yaitu pada perlakuan BAP 2, Sedangkan rata-rata terendah dari berat kering pucuk adalah BAP 2 + IBA 1 + NAA 1. Rata-rata tertinggi untuk % kadar air pucuk yaitu pada perlakuan BAP 2 + IBA 1 + NAA I, sedangkan rata-rata terendah dari % kadar air pucuk adalah BAP I.

Berdasarkan hasil HPLC maka diketahui bahwa kadar Alkaloid tertinggi ditunjukkan pada perlakuan BAP 2 + IBA 1 + NAA 1. Sedangkan yang terendah adalah Kontrol, BAP 1, dan BAP 2 yaitu 0 karena memang tidak ada kalus dan akar. Alkaloid yang diuji di atas adalah dari golongan reserpine karena golongan yang lain tidak bisa diuji statistik karena umumnya O.

Hal baru yang ditemukan adalah tingginya kandungan alkaloid pada batang dan lebih tinggi dari alkaloid pada kalus.

Kandungan alkaloid yang cukup tinggi pada batang ini membutuhkan penelitian lebih lanjut. Apabila dikemudian hari memang teruji bahwa batang memiliki kandungan alkaloid yang tinggi pada berbagai perlakuan, maka penelitian ini menjadi terfokus pada batang dan akar. Karena batang tumbuh lebih cepat dibandingkan akar, maka industri yang memproduksi metabolit sekunder memiliki masa depan yang cerah. Satu hal yang tak kalah penting dengan hasil penemuan ini maka tidak ada satu bagian pun dari Pule pandak yang dibuang atau menjadi limbah karena semuanya bermanfaat.

07 May 2010

Kajian Pertumbuhan Eksplan Pucuk Gaharu Melalui Teknik Ex Vitro

Esha Garden - Friday, May 07, 2010
RINGKASAN: CITRA BETRIANINGRUM. E34104031. Kajian Pertumbuhan Eksplan Pucuk Gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) Melalui Teknik Ex Vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan WAODE HAMSINAH BOLU.

Pada tahun 1985, jumlah ekspor gaharu Indonesia mencapai sekitar 1487 ton, namun eksploitasi hutan alam tropis dan perburuan gaharu yang tidak terkendali telah mengakibatkan species-species gaharu menjadi langka. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan dan untuk mendapatkan konsentrasi hormon tumbuh IBA (Indole Butyric Acid) yang optimal bagi pertumbuhan perakaran eksplan pucuk G.versteegii melalui teknik ex vitro. Berbagai macam media tumbuh dan berbagai konsentrasi hormon IBA dapat menghasilkan pertumbuhan yang berbeda-beda, sehingga dapat diketahui komposisi media dan konsentrasi hormon yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan pucuk gaharu secara ex vitro.

Diharapkan dari hasil penelitian ini diperoleh informasi tentang media tumbuh yang sesuai dan konsentrasi hormon yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan pucuk G. versteegii (Gilg) Domke, sehingga dapat diterapkan guna mendukung pelestarian plasma nutfah.

Dalam pelaksanaan penelitian, alat yang digunakan box mika, aqua gelas 240 ml, cutter, gunting tanaman, sungkup, paranet, papan iris, steples, speryer, dan kertas label. Bahan yang digunakan antara lain eksplan pucuk G. versteegii, hormon IBA (400, 450, 500, 550, 600 ppm), Vitamin B1, bakterisida, fungisida, media (tanah, pasir, dan kompos), Antracol, zat perekat, CaC03. Semua eksplan yang sudah direndam pada larutan (vitamin B1, sterilisasi, dan hormon dengan berbagai konsentrasi), serta dioles dengan pasta pada bagian pangkal eksplan, langsung ditanam pada masing-masing media (tanah tunggal, pasir tunggal, dan campuran tanah-pasir-kompos) yang sudah dimasukkan pada box mika. Selanjutnya box ditutup rapat dan disteples, kemudian simpan dalam sungkup.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah presentase hidup pada perlakuan sebesar 66,67%, sedangkan pada kontrol sebesar 83,33%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan hormon berpengaruh pada presentase hidup eksplan. Pertumbuhan tinggi pada eksplan sangat dipengaruhi oleh jenis media. Sedangkan hormon sangat berpengaruh terhadap perakaran. Persentase berakar pada perlakuan hormon sebesar 61,78% dan pada kontrol sebsesar 53,33%. Dilihat dari persentase berakar berdasarkan konsentrasi hormon, yang paling tinggi pada konsentrasi 550 ppm yaitu 14,22%. Namun, tidak jauh berbeda dengan konsentrasi 450 ppm dengan persentase berakarnya sebesar 13,11%.

Dari hasil sebelumnya dapat disimpulkan bahwa komposisi media yang baik untuk pertumbuhan eksplan gaharu adalah media tanah dengan persentase hidup 89,33%. Sedangkan hormon yang optimal untuk perakaran eksplan pucuk gaharu adalah dengan konsentrasi 550 ppm. Namun konsentrasi 450 ppm juga baik untuk perakaran, walaupun tidak seoptimal konsentrasi 550 ppm. Tetapi konsentarsi hormon 450 ppm ini dapat mengefisienkan biaya.

Key words: Gyrinops versteegii (Gilg) Domke, Material, Hormone

Bookmark and Share

06 May 2010

Pengaruh Eksplan dan Konsentrasi Arang Aktif Terhadap Pertumbuhan Akar, Biomassa dan Kandungan Alkaloid Pule pandak

Esha Garden - Thursday, May 06, 2010
RINGKASAN: Indarto. Pengaruh Eksplan dan Konsentrasi Arang Aktif Terhadap Pertumbuhan Akar, Biomassa dan Kandungan Alkaloid Pule pandak (Rauwolfia serpelltlna Bentb.) Hasil Kultur in Vitro (Dibawab bimbingan Ir. Edhi Saudra, MSi dan Ir. Diny Dinal'ti, MS).

Pule pandak (Rauwolfia serpentlno Benth.) merupakan salah satu spesies tumbuhan hutan tropika yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat dan tergolong langka di dunia. Menurut WHO (1994) dalam Siswoyo dan Zuhud (1995), spesies ini merupakan salah satu spesies yang termasuk dalam Hand Book of Herbal Medicine, Traditional Medicine Division, WHO-Genewa. Kebutuhan Pule pandak saat ini masih dipenuhi dad hasil pemanenan langsung dari alam Sedangkan kebutuhan baban baku simplisia Pule pandak terus meningkat dan belum terpenuhi. Untuk itu perlu adanya usaha pelestarian dan budidaya. Salah satu altematif penerapan tehnologi yang dapat melestarikan dan menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak dan waktunya singkat adalah dengan kultur jaringan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eksplan dan konsentrasi arang aktif terhadap pertumbuhan akar, biomassa dan kandungan alkoloid Pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth.). Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Turnbuhan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, yang berlangsung dari bulan Maret sampai Oktober 2002.

Bahan tanaman yang digunakan berupa eksplan darl hasil subkultur sebelumnya yang berasal dari induk tanaman yang diberi perlakuan colchicine 0.25 % dan dari induk tanaman kontrol. Penelitian ini terdiri dari dua tahap percobaan. Tahap pertama adalah tahap pengaruh perlakuan eksplan terhadap pertumbuhan akar, biomassa dan kandungan alkaloid Pule pandak. Media yang digunakan dalam tahap pertama ini adalah media MS yang sudah dimodifikasi dengan penambahan vitamin, gula (30 g/l), arang aktif (2 g/I), lEA (2 mg/I) dan agar-agar (7 g/l). Tahapan ini terdiri dari dua perlakuan, yaitu perlakuan kontrol dan perlakuan yang eksplannya berasal dari Induk tanaman yang diberi perlakuan colchicine 0.25 %, masing-masing perlakuan terdiri dari 10 ulangan.

Pada tahap kedua, yaitu pengaruh perlakuan konsentrasi arang aktif terhadap pertumbuhan akar dan biomassa Pule pandak. Media yang digunakan adalah media MS yang sudah dimodifikasi dengan penambahan vitamin, agar-agar (7 g/I), lBA (2 mg/I), gula (30 g/I) dan arang aktif masing-¬masing dengan konsentrasi 0 gll, 0.1 g/l, 0.2 g/l, 0.5 g/l dan 1.0 g/l. Tahap Ini terdiri dari lima perlakuan dengan tujuh kali ulangan dengan sumber eksplan berasal dari perIakuan kontrol pada penelitian sebelunmya. Kultur diinkubasi pada suhu 25' C - 28' C selama enam bulan untuk tahap pertama dan dua bulan untuk tahap kedua dengan lama penyinaran 12 jam perhari.

Hasil penelitian pada tahap pertama, menunjukkan pengaruh yang tidak nyata pada semua parameter yang diukur. Meliputi parameter pertumbuhan akar jumlah akar, panjang akar, berat basah akar, berat kering akar, kadar air akar) dan pada parameter biomassa (tinggi tunas, berat basah tunas, jumlah tunas, berat basah batang, berat kering batang, kadar air batang). Hasil terbaik untuk semua parameter pertumbuhan akar pada tahap pertama adalah pada perIakuan kontrol, sedangkan pada parameter biomassa, hasil terbaik untuk tinggi tunas, jumlah daun dan berat kering batang adalah pada perlakuan kontrol. Untnk berat basah tunas, berat basah batang dan kadar air batang, hasil terbaik adalah pada perlakuan yang eksplan yang berasal dari induk tanaman yang diberi perlakuan colchicine
0.25 %.

Berdasarkan hasil HPLC (High Performance Liquid Chromatography), diketahui nilai tertinggi untuk senyawa yohimbine, reserpine dan serpentinine adalah pada akar perlakuan yang induk tanamannya diberi perlakuan colchicine 0.25 %. Sedangkan lmtuk senyawa ajmaline, kandungan tertinggi adalah pada batang perlakuan kontrol. Jika dibandingkan dengan kandungan alkaloid Pule pandak pada penelitian-penelitian sebelumnya, maka kandungan alkaloid Pule pandak pada penelitian ini jauh lebih tinggi untuk jenis senyawa dan ukuran sampel yang sama.

Hasil penelitian pada tahap kedua, nilai terbaik untuk parameter pertumbuhan akar (jumlah akar, panjang akar, berat basah akar, berat kering akar, kadar air akar) adalah pada perlakuan kontrol yang mengandung konsentrasi arang aktif 0 g/I. Sedangkan untuk parameter biomassa (tinggi tunas, berat basah tunas, berat kering tunas, kadar air tunas, jumlah daun), nilai terbaik juga pada perlakuan kontrol. Pada uji sidik ragam peugaruh konsentrasi arang aktif terhadap pertumbuhan akar dan biomassa pada tahap dua ini mcnunjukkan pengaruh yang nyata sampai sangat nyala pada semua parameter yang diukur.

Kesimpulan akhir dari penelitian ini menunjukkan pengaruh perlakuan eksplan tidak begitu nyata berpengaruh dalam pertumbuhan akar dan biomassa, sedangkan pengaruh arang aktif begitu nyata sampai sangat nyata pada pertumbuhan akar dan biomassa. Adanya perlakuan awal dengan colchicine pada tanaman induk sebelum eksplan diambil, terbukti mampu meningkatkan kandungan alkaloid dan berat tanaman.

Bookmark and Share

Enhanced by Zemanta
Previous
Editor's Choice