Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

Tukar Link



Sekolah Paket- A-B-C


Blog Tanaman Obat

tea-and-healthy
PT Kipti
Mocafi

Kultur-ITB


Kumpulan Bisnis Online

Qittun Blog

Ningtyas Indri
MyLearningdays
Emilia SP
Knowvie

AL-ZAHRA Indonesia
Pamulang.Net

caissonlabs.com


Direktori Website Indonesia



dir.web.id


blogguebo

Free Submit Directory

engineeredpoetry
Kolom-Tutorial - Kang Rohman
arlina100
maseko.com
Math and Me
Waroeng Betawi
Keluarga Olie Anwar
heniodori
AL-ZAHRA Indonesia
Susilo
Rudy H. SMK Kuningan
BASKORO ADI PRAYITNO
Almadury Ngeblog
dadaptree.com
hakimtea.com
Pamulang.net
viladago.blogsome.com
DEPDIKNAS
JARDIKNAS.ORG
::Blogger DIKNAS Banten::
::Blogger JARDIKNAS::
Blog-Indonesia
Khomsurizal - MEDIA BANTEN
SUNDAPOST
poetramahardika
Hera-ku
Bunda Cantik Azra
mybiz-mymoney
Herry-08
Fajar Kencana
Jendela Hati
pojokguru.com
Bawean Termenung
Kesehatan membawa Barokah-Buyay
nakatsu-senpai -What I Like? I like
Agungosx
Azies.Co.Cc
net'blog - IFAT
Aku dan Duniaku
Kris - TIPS dan TRICK
Islamic-Oase, Mursalin Maroko
Final Fantasy Planet
Jendelahati
Sehatbarokah
Marsudiyanto
Paddi99
bloggeraddicter
Blogger-Pesta
River Maya
Raja Pribumi
Infoku
Practical Blogging - Robyn Tippins
Gaming and Tech - Robyn Tippins
a Healthy Balance - Robyn Tippins
budhe Fakhrun
SmartAlzind - Al-Zahra
Firmansyah AL-Zahra
Bu Ety - Al-Zahra
Amalia Savira - Al-Zahra
Suci Hamidahsyari - Al-Zahra
Delina -Bakos Al-Zahra
Bunda Ririe
Muditayasa
CORETANKU - Hamidz
Informasi Computer & Internet - TITO
Pit and Put - Saefudin Amsa
Tamsil Islami - Orenk's Blog
Kula Gotra Pasek Trunyan, Desa Tamblang
adiWidget - Blog
herveendoank - Tips & Trik Komputer
defantri - Mathholic
Kumagcow
Khalid Mustafa.info
Gatot HP 2000
Karbazon
rachordbilly-raka
Palembang Daily Photo
selinatankersley
Wahyubmw
deafiyanti -Serua, Ciputat
Lawak Jenaka
Panduan Guru-Guru Malaysia
lawak-jenaka
Kumpulan Bisnis Online
cahaya-cahayaku
The Path of Successfull Life -irma14
Remixmax
Humorbendol
www.jakartateachers.com
dppfgii
SuccessFulteaching
Blog GenerateFreeTraffic OnlineMoney
Wong Deso Dan Bodoh Yang Lagi Belajar Mencari Ilmu
Gadget Information
Serpong.org
onestopadvertising-itsolution
awan-smith

maskwarta.blogspot

bas-rul

muhammad-rifqi

googleadsensemania

Komuntas Bogger Banten

Smart Money
Karbazon
lifestyleguide.us
zilafima
slam.co.nr
Tinung Indosat
Maskwarta
Gatot HP
Red Secret Diary
Mas Wigrantoro Roes Setiadi
Ignition Start
fatihsyuhud
nenen.bravejournal
riasmaja
rflowers.wordpress
thobingsunarya
Budiawan-Hutasoit
Masyarakat Telematika
World TV PC
best-voip-service.info
judotenslab
BLOGPOP Org
addwebsitefree
Evelin Avimar
Aliwarto Golekbolo
http://umbultech.com/
Amalkann Nasution
Putri Adrian
jeunellefoster
Telecommunication Stuff
sound-gear.info
quickblogdirectory
Fairu.com >> Website Directory
Are You INTO TECHnology?
Dmegs Web Directory
hampshire shop property
Blog Directory
lancashire business for sale
Free Blog Directory
MyBlog2u.com - Blog Directory

Blogoriffic.com
bloghop.com
Blog Search Engine
dir.web.id

felixsdp

Page Rank Checker
Computer, Software and Internet
tikabanget.com
Ndoro Kakung
estamosdeacuerdo.org
amsatprovider
Kamus Tradisional Gesit Cyberschool

Cordis.europa.eu

Veri Art Shools

Veri Art

Dunia Komputer

Langit-langit.com

Lagu Enak

trubus-online.co.id

Candi Orchid

Anggrek Org

* Desi Damayanti
* Tabita
* Desi Damayanti Skin Care
*
Tabita Skincare
* Info Tabita Skincare Asli
* Facebook Tabita Skincare Desidamayanti
Latest In

08 October 2019

DIVISI PERALATAN DAN BAHAN LABORATORIUM KULTUR JARINGAN ESHA FLORA

Azizah Zahra - Tuesday, October 08, 2019










Salah satu bentuk pelayanan Esha Flora adalah menyediakan keperluan, perlengkapan, fasilitas kultur jaringan baik peralatan dan bahan. Untuk perusahaan besar maupun masyarakat umum, termasuk mahasiswa dan pelajar. Dalam hal ini mereka boleh beli eceran sesuai kebutuhan.
Banyak mahasiswa, pelajar dan sekolah SMK Kultur jaringan yang membeli alat dan bahan untuk keperluan penelitian, pendidikan dan praktikum. Terkait denggan hal tersebut Esha Flora juga menyediakan beranekaragam kultur tanaman steril. Kultur Tanaman Steril dalam stadium multiplikasi, embrio somatik, kalus, tahap aklimatisasi.
Dalam kaitan pembelajaran Esha Flora juga melayani sewa peralatan, dan jual media steril siap pakai, dan juga kultur tanaman steril, sehingga siapa saja dapat melakukan praktek kultur jaringan di Esha Flora, dengan memmbayarr sewa alat, dan sewa inap kultur tanaman milikya di Esha Flora dengan biaya inap Rp. 1.000/botol kultur/bulan. Jadi sebenarnya siapa saja bisa melakukan kultur jaringan di Esha Flora.
Bogor, 3 Oktober 2019, jam 08.50, Esha Flora, Plant And Tissue Culture. Edhisandra.

TRANSFER TEKNOLOGI ESHA FLORA, PLANT AND TISSUE CULTURE

Azizah Zahra - Tuesday, October 08, 2019

Oleh
Ir. Edhi Sandra MSi
Ir Hapsiati
Azizah Zahra S Hut.

I.Pendahuluan
Penguatan usaha, pengembangan usaha, diversifikasi dan efisiensi serta efektifitas usaha dengan pengembangan laboratorium kultur jaringan mempunyai fungsi yang sangat penting seperti: produksi bibit unggul berkualitas dalam jumlah besar seragam unggul, kontinu, berkelanjutan, mampu menghasilkan varietas unggul baru, meningkatkan nilai tambah dan nilai manfaat bibit yang dihasilkan, mampu mempercepat pertumbuhan, meningkatkan produktivitas, koleksi bibit unggul yang dapat dimanfaatkan suatu saat diperlukan, merupakan alternative yang sangat logis dan ekonomis.
Kesemuanya dimungkinkan dengan dimilikinya laboratorium kultur jaringan yang dikelola oleh tim yang solid. Masalahnya untuk dapat mewujudkan hal tersebut dibutuhkan kompetensi dan kemampuan yang mumpuni dan berpengalaman, karena banyak hal dan banyak faktor yang dapat menyebabkan kegagalan. Dalam realisasinya mencari tenaga kerja yang kompeten dan terampil tidak mudah, kalau pun sudah di dapat maka kepastian bahwa tenaga kerja tersebut loyal dan mau membantu perusahaan tidak dapat dipastikan. Bila ada tawaran lebih baik dari pihak lain maka ia akan langsung pindah kerja.
Untuk itulah maka perusahaan yang mengembangkan kultur jaringan jangan bergantung pada person, jangan bergantung pada orang, tapi bergantung pada sistem dan manajemen perusahaan yang baik, dengan demikian kita tidak akan terlalu terpengaruh, apalagi sampai menghambat perusahaan bila tenaga kerja keluar.
Sistem dan manajemen yang baik haruslah direncanakan dan dibuat berdasarkan kondisi real pelaksanaan kegiatan di lapang secara real. Oleh sebab itulah maka perlu adanya riset dan penyusunan SOP, tata terttib, aturan dan berbagai dokumen terkait kegiatan produksi yang sedang dilakukan. Dan harus ada SOP antisipasi permasalahan yang mungkin muncul sehingga perusahaan dapat terhindar dari permasalahan tersebut.
Untuk menjamin perusahaan agar dapat memiliki dan menguasai teknologi kultur jaringan, agar perusahaan tidak terjerumus pada kegagalan dan kesalahan, maka Esha Flora sebagai lembaga yang berpengalaman selama 29 tahun dapat membantu melalui Program Transfer Teknologi yaitu suatu program pengadaan dan alih teknologi yang dilakukan dengan dukungan pengalaman teknologi, manajemen, dan sistem, serta dalam pelaksanaannya dilaksanakan dengan sangat sistematis. Mengantarkan perusahaan dalam pengembangan dan pengelolaan laboratorium kultur jaringan, dan memperkuat kompetensi sumber daya manusia dan mendokumentasikan semua hal penting dalam perkembangannya sehingga perusahaan tidak perlu bergantung pada seseorang, karena sistem sudah berjalan dengan baik.
II. Proyek Transfer Teknologi (Waktu Satu sampai Dua Tahun)
Adalah suatu program menginisiasi teknologi kultur jaringan dalam suatu perusahaan, yang di “Bidani”, dipimpin, oleh Esha Flora, Plant And Tissue Culture, dimulai dari awal perencanaan sampai tahapan akhir suatu siklus produksi, dalam rangka menyusun, dokumentasi, sistem, tata tertib, aturan, SOP, Metode dll, sehingga Tim Pelaksana sudah memahami dengan baik tata kelola dalam mengelola laboratorium kultur jaringan yang baik.
Keterampilan, kecekatan dalam mengelola laboratorium sangat diperlukan untuk mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang muncul. Antisipasi harus dapat dilaksanakan dengan cepat dan efisien sehingga tidak mengganggu jalannya produksi.
III.Tahapan Program Transfer Teknologi
1.Program Perencanaan Kultur Jaringan Sesuai Tujuan Perusahaan.
Perencanaan produksi dan target laboratorium kultur jaringan berdasarkan tujuan dan target produksi perusahaan, yang kemudian dijabarkan dalam bentuk uraian kegiatan di dalam laboratorium kultur jaringan dengan memperhatikan hambatan-hambatan yang biasanya muncul. Strategi dan antisipasi kegagalan dan perencanaan yang kuat dalam pencapaian target sementara disisi lain banyak faktor yang berpeluang menghambat produksi
Penyusunan perencanaan yang baik, terutama terkait dengan tata tertib, aturan, SOP dan metode sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan, kinerja dan produktivitas. Pemilihan dan penentuan tenaga kerja yang kompeten dan dapat memahami perintah yang diberikan merupakan persyaratan dalam tim pelaksana yang solid. Jadi dalam hal ini tidak hanya sekedar mampu melaksanakan kultur jaringan secara teknis, tapi juga kemampuan manajemen, kemampuan analisa, kemampuan merencanakan target produksi, kemampuan mengantisipasi masalah merupakan penentu faktor kesuksesan.
Kemampuan manajerial mencakup : Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Pengontrolan. Kemampuan analisa menuntut pemahaman dan penguasan teoritis dan pengalaman mengenai karakteristik dan sifat bahan-bahan yang digunakan. Kemampuan merencanakan target produksi terkait dengan pengalaman memahami karakteristik pertumbuhan dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Kemampuan mengatasi masalah menuntut pengalaman dalam memahami permasalahan yang akan muncul.
Keluaran Program ini adalah:
1. Dokumen Perencanaan Pengelolaan Kultur jaringan dengan pencapaian tujuan perusahaan dengan indikator-indikator target yang harus dicapai setiap jangka waktu tertentu.
2. Dokumen Anggaran yang dibutuhkan dalam satu periode produksi (sampai menghasilkan bibit kultur jaringan.)
2.Program Pengadaan Paket Alat dan Bahan Laboratorium Kultur Jaringan
(Paket kapasitas 10.000 kultur).
Adalah suatu program pengadaan semua bahan dan alat kultur jaringan, dengan kelengkapan minimal yang sudah dapat menjalankan kegiatan laboratorium kultur jaringan. Sedemikian banyaknya komponen bahan dan alat dalam kegiatan kultur jaringan merupakan hal yang tidak mudah, apalagi bila belum pernah mengenalnya atau mengetahuinya. Demikian pula dengan bahan bahan kimia pro analis yang seringkali jarang atau bahkan tidak ada di toko kimia pertanian, melainkan di toko kimia laboratorium.
Dalam perkembangannya maka kebutuhan dan kelengkapan alat dan bahan bisa di cicil secara bertahap sesuai dengan kapasitas produksi yang sedang berlangsung. Demikian pula dengan laboratorium dapat di disain secara fleksibel untuk dapat berkembang dan dapat diperluas sesuai dengan perkembangannya. Tata letak dan desain ruang sedemikian membuat efktif dan efisiennya alur kerja di dalam kultur jaringan.
Penyimpanan dan penggunaan alat dan bahan harus diatur dan dibuat alat tertibnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pengoperasionalan laboratorium kultur jaringan pertama kali merupakan hal yang sangat penting, yang pada saat itu diberi perlakuan sterilisasi besar pada semua ruang laboratorium yang ada, setelah itu maka berlakulah aturan dan tata tertib yang harus dipatuhi oleh semua orang dalam rangka menjaga standard sterilisasi laboratorium kultur jaringan.
Keluaran program ini adalah:
1. Tersedianya semua alat dan bahan kultur jaringan yang diperlukan.
2. Tersusunnya aturan dan tatatertib serta SOP penggunaan alat dan bahan.
3. Perlakuan sterilisasi besar ( H O ) sebelum pengoperasionalan laboratorium kultur jaringan
3.Program Pelatihan Kultur Jaringan
Adalah suatu program pelatihan kultur jaringan yang disesuaikan dengan jabatan dan fungsi orang tersebut di dalam perusahaan tersebut:
1. Pelatihan Kuljar Lengkap dengan Prioritas Kearah Manajemen,perencanaan, perkembangan dan strategi bisnis. Peserta pelatihan ini adalah:
1. Owner/Investor
2. Pemutus kebijakan (Komisaris)
3. Pelaksana Tertinggi ( Direktur Utama)
2. Pelatihan Kuktur jaringan Lengkap dengan Prioritas Kearah Teknis detail. Pelatihan ini diperuntukkan bagi:
1. Manajer laboratorium kultur jaringan
2. Asisten laboratorium kultur jaringan
3. Laboran laboratorium kultur jaringan
4. Tenaga Penunjang Laboratorium kultur jaringan
Keluaran program ini adalah
1. SDM yang memiliki pengetahuan kultur jaringan yang sama dengan persepsi yang sama, sesuai dengan jabatan dan fungsinya masing-masing
2. Dokumentasi pelatihan yang merupakan dokumen penting bagi para pelaku bila ada hal yang lupa dan perlu dilihat lagi terkait dengan operasional laboratorium kultur jaringan.
4.Program Inhouse Training
Adalah suatu program memperkenalkan kegiatan laboratorium kultur jaringan yang kedepannya merupakan suatu kegiatan yang ada di sekitar mereka, orang-orang perusahaan sehingga tidak terjadi persepsi dan sikap tingkah laku yang salah terkait kegiatan laboratorium kultur jaringan tersebut. Hal ini sangat penting agar semua orang diperusahaan tersebut bisa mengetahui dan memaklumi pengelolaan laboratorium kultur jaringan tersebut.
Dan bagi para pelaksana akan mendapatkan gambaran dan wawasan yang lebih lengkap mengenai pengelolaan kultur jaringan yang akan mereka lakukan kedepannya secara global dan utuh. Hal ini penting agar motivasi dan semangat para pekerja dapat terbentuk dengan memahmai semua tahapan dan pencapaian tujuan dan hasil dari kegiatan yang mereka lakukan.
Keluaran program ini adalah
1. Persepsi yang sama dari semua orang yang mengikuti kegiatan In house Trining terhadap pengelolaan laboratorium kultur jaringan.
2. Pengetahuan dan wawasan yang lebih komprehensif bagi para pelaku kegiatan kultur jaringan.
3. Dokumentasi kegiatan In House Training dan Poin-point penting terkait kegiatan tersebut.
5.Program Riset Inisiasi 3 Jenis Tanaman Prioritas di Esha Flora
Adalah suatu proram dukungan terhadap tahapan kegiatan yang mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi yaitu kegiatan inisiasi tanaman. Hal ini akan dilalukan di Laboratorium kultur jaringan Esha Flora, dan hasilnya langsung akan di pindahkan ke laboratorium perusahaan untuk dilanjutkan prosesnya.
Dalam pelaksanaannya sudah melibatkan tenaga kerja perusahaan agar mereka dapat pula mengetahui dan menguasainya, sehingga bila mereka harus melakukannya sendiri mereka dapat mencoba melakukan sesuatu dengan tahapan yang pernah mereka kerjakan dengan Tim Esha Flora.
Keluaran program ini adalah
1. Kultur Steril 3 jeni Tanaman prioritas yang akan dikembangkan atau yang diminta oleh perusahaan.
2. Dokumen protocol inisiasi 3 jenis tanaman prioritas.
3. Tenaga kerja perusahaan juga memahami dan menguasai Insiasi 3 tanaman prioritas tersebut.
6.Program Pendampingan
Adalah suatu program pendampingan tenaga kerja perusahaan oleh tenaga kerja Esha Flora untuk mendampingi di awal setiap tahapan teknis pengelolaan kultur jaringan. Dalam hal ini terdapat Empat tahapan yang perlu didampingi. Teknis Pelaksanaan Kultur Jaringan (1 tahun 4 kali, @ 5 hari) : 1). Saat H-0 dan inisiasi. 2). Subkultur kedua, sekitar 4 bulan kemudian .3). Aklimatisasi 4 bulan berikutnya. 4). Pembesaran & Percepatan perbanyakan bibit di nursery.
Dalam teknis pelaksanaannya, kegiatan pendampingan ini dilakukan setelah para pekerja perusahaan sudah berusaha dan berfikir secara mandiri untuk tahapan yang akan dan sedang dilakukan. Hal ini akan sangat membantu dalam mengingat bahwa evaluasi, analisa dan penyusunan SOP setiap tahapan yang mereka buat ternyata masih ada yang harus dibenarkan dan disempurnakan pada saat pendampingan. Metode ini akan membuat para tenaga kerja mengingatnya terus, mengenai kesalahan yang pernah mereka lakukan.
Keluaran program ini adalah
1. Dokumentasi Kegiatan Pendampingan dan point penting dalam setiap tahapan yang dilalui.
2. Perbedaan antara pemikiran tenaga kerja perusahaan dan pada sat pendampingan. Ini merupakan laporan dan pembelajaran yang sangat bagus bagi tenaga kerja yang baru.
7.Program Budidaya Tanaman Hasil Kuljar, Organik dan Hayati
Adalah suatu program budidaya tanaman hasil kultur di lapang dengan pengaplikasian pupuk organic dan hayati dan hormone. Dalam pelaksanannya kegiatan budidaya tersebut bisa diarahkan pada berbagai tujuan:
1. Percepatan perbanyakan bibit dengan pengaplikasian ormon sitokinin tinggi
2. Perlakuan pemuliaan Poliploid agar bibit tanaman tersebut menjadi giant/raksasa
3. Perawatan bibit agar kekar, sehat dan siap tanam, dengan perakaran yang kuat batang yang kekar dan tajuk yang rimbun.
4. Perlakuan percepatan pertumbuhan setelah ditanam dilapang.
5. Perlakuan yang mengarah pada produktivitas yang tinggi.
Tujuan dari program ini adalah agar tidak terjadi persentase kematian yang tinggi pada sat bibit hasil kultur jaringan di tanam dilapang, dan jeuga membantu tujuan perusahaan dalam pengadaan jumlah bibit serta peningkatan kualitas bibit tanaman hasil kultur jaringan.
Keluaran program ini adalah
1. Dokumentasi kegiatan Budidaya Bibit Tanaman hasil kultur jaringan serta point-point penting terkait bibit dan tujuan budidaya.
2. SOP Budidaya bibit hasil kultur jaringan dengan tujuan tertentu.
8. Program Supervisi
Adalah suatu program untuk melihat arah tujuan dan tahapan pelaksanaan pengelolaan lab sudah berjalan dengan benar atau tidak. Mengevaluasi dan menganalisa serta memberikan masukan dan motivasi dan semangat bagi setiap pihak terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi. Demikian pula dengan perkembangan dunia luar, terkait agribisnis global maupun kondisi pemasaran terkait produk yang dikembangkan perusahaan.
Kegiatan supervisi dilakukan setiap 6 bulan sekali, dengan dimulai dengan pemaparan supervisor mengenai perkembangan yang ada, dilanjutkan dengan diskusi dan Tanya jawab sesuai dengan perkembangan persepsi para pelaku pengelola laboratorium kultur jaringan.
Keluaran program ini adalah
1. Dokumentasi perkembangan pengelolaan kultur jaringan dan hasil diskusi yang berupa point penting yang dihasilkan saat diskusi.
IV.Permasalahan Yang Sering Muncul
1. Permasalahan teknis, seperti: kontaminasi, browning, viabilitas dan aklimatisasi.
2. Permasalahan non teknis terkait :SDM, pengadaan bahan dan alat, kinerja rendah, tidak efisien dan tidak efektif.
3. Penyimpangan dari target produksi yang tidak disadari, yang pada akhirnya berdampak pada tidak tercapainya target produksi sesuai dengan yang sudah dicanangkan.
4. Penurunan kualitas kultur yang tidak disadari karena tidak adanya Quality control serta Quality assurance
5. Tidak terpenuhinya saranaprasarana karena modal atau kebijakan yang tidak mendukung, diakibatkan kurang memahaminya kultur jaringan.
6. Adanya inisiatif dari pegawai yang berfikir lebih efisien atau lebih mudah, padahal berdampak pada persentase keberhasilan dan kualitas produk bibit tanaman kultur.
7. Kehilangan semangat dan motivasi karena banyaknya permasalahan yang dihadapi, seakan-akan usaha sudah tidak layak untuk dilanjutkan, padahal hal itu disebabkan oleh dampak kelelahan mental. Hal ini sangat berbahaya bila terjadi pada level pimpinan, pemutus kebijakan.
8. Seringkali berfikiran dan bersikap irit, dan selalu berusaha mengurangi anggaran yang
9. dikeluarkan tanpa melihat dan mengevaluasi nilai penting dari nilai nominal tersebut bagi kelayakan kerja, efektivitas dan efisiensi kerja dan kualitas bibit yang dihasilkan.
10. Seringkali pandangan demikian pendek, kurang jauh ke depan sampai pada tujuan akhir, sehingga dalam mengevaluasi seringkali menghasilkan kebijakan yang salah, karena berkeinginan mengirit atau efisien, padahal secara jangka panjang justru merugikan.
11. Seringkali takut dengan nilai nominal besar, tanpa membandingkan dan mengkaitkan
12. dengan hasil yang akan di dapat nantinya, maka nilai yang terkesan besar tersebut menjadi sangat kecil dengan hasil yang akan didapat pada akhirnya.
13. Seringkali kita selalu menginginkan sesuatunya ”Murah” padahal kita tahu bahwa hal ini berkaitan dengan kualitas, mutu, dan keterampilan atau kompetensi (pada SDM)
14. Berfikir irit, ingin murah dan ingin efisien dan menganggap mudah dan gampang maka seringkali segala sesuatu sedapat mungkin dilakukan ”sendiri”, padahal seringkali mereka tidak memilki ilmunya sehingga tidak tahu kedalaman keilmuan, kedetilan teknis, ketelitian dan kehati-hatian yang harus dilakukan, sehingga mereka menganggap baik-baik saja, padahal sebenarnya sangat parah dari segi kualitas, mutu dan daya saing.
15. Tidak adanya wawasan yang luas sehingga begitu mengalami kegagalan yang cukup besar dianggap, perusahaan harus ditutup karena tidak layak lagi, atau tidak memadai untuk dilanjutkan. Padahal kalau dia tahu bahwa asset, fasilitas, termasuk, manajemen, sistem yang ada merupakan sesuatu yang sangat bernilai dan mempunyai potensi yang sangat hebat untuk dapat memproduksi objek atau jenis tanaman yang lain, yang bila hal tersebut dilakukan dari awal akan membutuhkna waktu, energi, biaya dan curahan fikiran yang tidak sedikit
V.Anggaran Program Transfer Teknologi.
Anggaran Transfer Teknologi Esha Flora, Plant And Tissue Culture, mencakup semua anggaran yang dibutuhkan dalam setiap tahapan program Tarnsfer teknologi, dan apabila pihak perusahaan ingin melakukan suatu tambahan program baru maka bisa di rencanakan dan disepakati bersama.
1.Perencanaan Kultur Jaringan Sesuai Tujuan Perusahaan Rp. 3.000.000
2.Pengadaan Alat & bahan Lab kuljarkapasitas 10.000 kultur Rp. 57.000.000
3.Pelatihan Kultur Jaringan minimal 3 Orang: 3 x 5Juta Rp. 15.000.000
4.Pelatihan Teknis Praktis `+ Magang 10 hari
untuk laboran: 3 orang x Rp. 5 juta Rp. 15.000.000
4.Inhouse Training seluruh Pelaksana Teknis (5 hari ) Rp. 10.000.000
( 2 orang Pelatih x 5 hari x 1.000.000)
5. Riset Inisiasi 3 jenis di Esha Flora x Rp. 3.000.000 Rp. 9.000.000
6.Pendampingan Setiap Peralihan
Teknis Pelaksanaan Kultur Jaringan (1 tahun 4 kali, @ 5 hari)
( 2 orang Instruktur x 5 hari x Rp. 500.000)/pendampingan.
1. Saat H-0 dan inisiasi Rp. 5.000.000
2. Subkultur kedua, sekitar 4 bulan kemudian Rp. 5.000.000
3. Aklimatisasi 4 bulan berikutnya Rp. 5.000.000
4. Pembesaran & Percepatan perbanyakan bibit di nursery Rp. 5.000.000
7.Pelatihan Budidaya Hasil Kuljar, Organik & Hayati Rp. 10.000.000
( 2 orang Pelatih x 5 hari x Rp. 1.000.000 )
8.Supervisi : 2 kali x 2 orang x @ Rp. 2.000.000 ( 2 hari ) Rp. 8.000.000
T o t a l Rp. 147.000.000
Jadi Total nilai Proyek : Rp. 147.000.000. (Seratus empatpuluh tujuh juta rupiah).
Catatan :
1. Semua transportasi dari dan ke lokasi ditanggung perusahaan
2. Semua akomodasi selama di lokasi di tanggung oleh perusahaan
3. Setiap kunjungan tambahan yang diminta oleh perusahaan yang diluar program, maka salary dan biaya transportasi, penginapan dan akomodasi ditanggung perusahaan.
VI.Manfaat Program Transfer Teknologi
Banyak keuntungan dan manfaat mengambil Program Transfer Teknologi Esha Flora ini.
1. Berarti inisiasi dan perkembangan laboratorium kultur jaringan anda didampingi, diawasi dan dikontrol secara langsung oleh Esha Flora.
2. Manfaat lainnya adalah konsultasi gratis selama program transfer teknologi terkait dengan program tersebut bila ada masalah, hambatan dan jejaring bisnis, kemitraan, trend pasar, membantu keputusan kebijakan perusahaan terkait perubahan kondisi pasar dan trend dan lain sebagainya.
3. Sejalan dengan program transfer teknologi yang sedang berjalan bisa dikembangkan objek/subjek yang topiknya sama. Misalnya mengkulturkan jenis-jenis tanaman yang lain, pembuatan formula percepatan pertumbuhan tanaman, formula untuk mempercepat pembungaan, formula untuk meningkatkan kandungan metabolit sekunder dll.
4. Selain perkembangan laboratorium yang terawasi dengan baik, setiap tahapan proses didampingi dan tim pelaksana perusahaan dapat bertanya berbgai hal terkait kegiatan di dalam laboratorium
5. Pada akhir kegiatan terbentuknya dokumen terkait dengan tata tertib, aturan, SOP dan metode yang dilakukan. Demikian pula dengan analisa permasalahan yang dihadapi dan solusinya.
6. Secara tidak langsung akan ditunjuki dan diberi tahu mengenai berbagai hal teknis detil yang biasa dilakukan dalam kegiatan laboratorium, sehingga para pelaksana laboratorium perusahan tidak perlu try and error dalam melaksanakan kegiatan teknis detail umum.
7. Demikian pula dengan antisipasi permasalahan teknis akan didampingi oleh Esha Flora sehingga daya analisa dan evaluasi lebi tepat dan lebih baik sehingga solusi lebih cepat dihasilkan dan rekomendasi yang dihasilkan juga lebih baik.
8. Tidak perlu korban waktu, biaya dan tenaga dengan terjadinya hal-hal yang tidak perlu seperti, banyak munculnya permasalahan teknis, penyimpangan metoda dan inisiatif yang salah tapi tidak dikatahui karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan, salah perencanaan sehingga tidak memenuhi target yang ditetapkan, kualitas bibit yang dihasilkan tidak baik sehingga harus di buang/ tidak terpakai.
9. Jumlah nominal Transfer teknologi kelihatannya besar, tapi sebenarnya masih jauh lebih kecil dibanding kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai kesalahan yang dilakukan oleh tim perusahaan yang memang belum pernah mengoperasionalkan laboratorium kutlur jaringan. Lagipula sebagian besar dikembalikan lagi dalam bentuk paket alat dan bahan kultur jaringan, pembentukan SDM yang berkualitas serta dokumen penting yang membuat perusahaan tidak perlu bergantung pada seseorang. Lagi pula biaya tersebut justru membuat perusahaan efisien dan efektif karena tidak harus mengeluarkan kerugian karena try and error, atau salah teknis, atau sala analisa, atau salah perencanaan, Kebiasan-kebiasan penting yang harus dilakukan dalam laboratorium (yang tidak ada di dalam buku) dapat langsung ditransfer ke tenaga pelaksana perusahaan sehingga mereka dapat melaksanakan setiap tahapan dengan baik.
VII.Penutup
Dalam pelaksanaannya untuk setiap perusahaan memilki situasi dan kondisi yang berbeda jadi Program transfer teknologi ini dapat disesuaikan dengan kondisi dari setiap perusahaan yang mengambil program ini. Jangan takut melihat nominal besar diawal dengan mengalokasikan ke Program Transfer Teknologi ini, bila program ini justru dapat menyelamatkan perusahaan anda dari kerugian yang jauh lebi besar akibat berbagai macam hal yang disebabkan karena tidak berpengalamannya tim pelaksana yang dibentuk dan masih sangat tergantung pada seseorang. Demikian salah satu service Esha Flora untuk perusahaan yang ingin mengembangkan kultur jaringan dan tidak ingin rugi atau gagal.
Bogor, 6 Oktober 2019. Jam 21.39.
Edhi sandra

28 August 2019

Misi Pengembangan Kultur Jaringan di Esha Flora

Azizah Zahra - Wednesday, August 28, 2019





Alhamdulillah, mendapat apresiasi dari Pusat Profil dan Biografi Indonesia. Book Launch Certificate. Buku Mahakarya. Profil Inspiratif & Perubahan Indonesia. Pribadi Kreatif & Inovatif. 
This certificate is presented to: Ir. Edhi Sandra MSi. Menghasilkan SDM dan Produk Teknologi Berkualitas serta Meningkatkan Eksistensi Indonesia. 
Seri Kekayaan yang tersembunyi. Konsep & Pemikiran Pribadi Sukses.






















21 August 2019

Subkultur dalam Kultur Jaringan Tanaman

Azizah Zahra - Wednesday, August 21, 2019



SUBKULTUR DALAM KULTUR JARINGAN TANAMAN
Ir. Edhi Sandra MSi.      1)
Ir Hapsiati                       2)
Azizah Zahra S Hut      3)

1). Dosen Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan DKSHEFahutan IPBUniversity
Kepala unit Kultur Jraingan Divisi DKKKSHEFahutan IPBUniversity
Kepala BioteknologiLingkungan PPLHLPPMIPB University
Kepala SUA Konervasi IPB University
Pendiri Esha Flora, Plant And Tissue Culture
2). Pemilik dan Pendiri Esha Flora, Plant And Tissue Culture
3) Pemilik dan Manajer Humas dan Promosi







Pendahuluan
Pengertian subkultur dalam hal ini adalah pemindahan kultur dari botol kultur yang satu ke botol kultur lainnya, dengan berbagai tujuan. Oleh sebab itulah maka dalam mengerjakan subkultur kita harus mengetahui tujuannya terlebih dahulu dan menyiapkan semua kebutuhan untuk subkultur tersebut. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan persentase keberhasilan di dalam subkultur

Banyak hal-hal sederhana dalam subkultur jaringan tanaman yang perlu diperhatikan yang seringkali lepas dari evaluasi, atau lupa terfikirkan, sehingga pada akhirnya berdampak pada hasil yang kurang baik, hasil yang kurang optimal bahkan seringkali menyebabkan kerugian dan kegagalan.

Banyak persepsi dan pemahaman yang keliru terkait pertumbuhan eksplan dan subkultur sehingga laboran atau praktisi melakukan kegiatan kultur jaringan yang salah, sehingga lambat laun kultur berangsur mati. Membenarkan persepsi dan pemahaman yang salah ini sangat penting agar kita dapat memberikan perlakuan antisipasi yang benar dan dapat meningkatkan peluang tumbuhnya eksplan.

Persentase Keberhasilan
Di Esha Flora persentase keberhasilan subkultur secara umum adalah kisaran 80 % - 100 %. Sedangkan persentase keberhasilan inisiasi pada kisaran 0% - 10 % saja. Hal ini bisa dipahami bahwa untuk inisiasi, bahan eksplan belum steril, apalagi bahan eksplan yang berasal dari alam, dari hutan, maka bisa dipastikan di dalam eksplan tersebut terdapat mikroba indofet, mikroba yang ada di dalam eksplan tersebut, hal inilah yang menyebabkan eksplan seringkali kontaminasi setelah diinisiasi beberapa waktu.
Berbeda dengan inisiasi maka subkultur, pada umumnya kondisi sudah steril sehingga peluang keberhasilan sangat tinggi. Tapi banyak juga kemungkinan kultur tanaman yang sebenarnya masih mengandung mikroba di dalam jaringannya, mikroba tersebut belum sempat keluar saat inisiasi awal, dan sudah pulih atau sembuh lukanya sehingga mikroba tidak dapat keluar dan mengkontaminasi media. Tapi saat disubkultur, bahan subkultur dipotong-potong dan luka akhirnya mikroba yang masih ada di dalam kultur tanaman akan keluar dan mengkontaminasi media kultur.

Persiapan subkultur
Persiapan yang perlu dilakukan dalam merencanakan subkultur adalah mengindentifikasi keperluan apa saja yang diperlukan sesuai tujuan subkultur yang akan dilakukan dan menyiapkan semua perlengkapan yang diperlukan. Terutama sekali di dalam menyiapkan perlengkapan untuk subkultur adalah ketersedian media kultur steril yang sesuai dengan keperluannya, dan biasanya di dalam melakukan subkultur kita perlu menyedikan beberapa formula media kultur steril untuk mengantisipasi ragam bentuk sediaan kultur yang ada yang perlu di subkultur ke media yang sesuai.

Kapan Subkultur Harus Dilakukan
Pertanyaan ini seringkali muncul dan ditanyakan, hal ini berarti bahwa yang menanyakan tersebut belum memahami maksud dan tujuan subkultur serta karakteristik situasi kondisi kultur tanamannya. Tidak ada keharusan bahwa subkultur itu harus setelah sekian bulan dan sebagainya, tapi hal ini disesuaikan dengan tujuan dan kondisi kultur tanamannya.

Ragam Tujuan Subkultur
Subkultur tidak hanya sekedar untuk memperbanyak saja. Sama halnya dengan kultur jaringan bukan hanya sekedar teknologi untuk perbanyakan saja tapi masih banyak pula tujuan dari kultur jaringan. Saya membagi tujuan subkultur seperti dijelaskan dibawah ini.
1.       Penyelamatan
2.       Perbanyakan
3.       Peremajaan
4.       Penjarangan
5.       Perlakuan
6.       Pemilahan

1.Penyelamatan adalah subkultur yang dilakukan dengan tujuan untuk menyelamatkan eksplan yang terkontaminasi. Bila yang terkontaminasi adalah di media dan tidak menempel pada eksplan maka dalam subkulturnya bisa langsung di pindahkan ke media kultur steril yang baru, tanpa harus diproses sterilisasi lagi. Tapi bila kontaminasi menempel pada eksplan, maka eksplan diproses sterilisasi seperti awal inisisi lagi. Penyelamatan juga bisa dilakukan pada eksplan yang mengalami browning yang berat, sehingga media di sekitar eksplan sudah mencoklat pekat, dalam hal ini akan menghalangi penyerapan bahan makanan dari media ke eskplan. Penyelamatan juga bisa dilakukan bila :
a. Ekplan mengalami sebagian kematian, tinggal titik tumbuh yang sudah mulai menumbuhkan tunas baru tapi batang bawah yang ke media kultur mengalami kematian atau sakit, sehingga harus cepat diselamatkan untuk diambil mata tunasnya saja yang sudah menumbuhkan tunas untuk di tanam di media baru.
b. Eksplan/ kultur tanaman secara tidak sengaja lepas dari media karena botol di bolak-balik saat di lihat oleh orang.  Berarti bahwa eksplan/kultur tanaman yang lepas tersebut sudah tidak kontak dengn baik lagi dengan media hal ini akan kurang baik bagi pertumbuhan eksplan/kultur tanaman. Oleh sebab itulah perlu di subkultur untuk ditanam atau di benamkan sedikit ke media agar kontak dengan media bagus sehingga proses penyerapan makanan dapat terjadi dengan baik.

2.Perbanyakan adalah subkultur dengan tujuan agar kultur dapat cepat bermultiplikasi. Semakin cepat waktu subkultur yang dilakukan akan semakin cepat hasil perbanyakan subkulturnya. Subkultur untuk tujuan perbanyakan bisa terdiri dari : perbanyakan stek mata tunas, perbanyakan embrio somatik, perbanyakan kalus, perbanyakan jaringan. Dalam hal ini masing-masing memerlukan formula media yang berbeda-beda.

3.Peremajaan adalah subkultur yang bertujuan untuk meremajakan sifat kultur tanaman yang akan dihasilkan. Dalam hal ini biasanya subkultur dilakukan pada kultur tanaman yang sudah tua yang sudah kehabisan bahan makanan dari media kulturnya, dan kultur tanaman sudah terlalu tua.

4.Penjarangan adalah subkultur yang bertujuan untuk mengurangi jumlah individu dalam suatu populasi kultur akibat dari pertumbuhan sehingga populasi terlihat berjejal padat, hal ini akan kurang baik bila di diamkan karena akan bersaing kebutuhan faktor pertumbuhan.  Hal ini biasanya dilakukan pada kultur biji anggrek. Kultur semai biji anggrek biasanya dijarangkan sampai 3-4 kali subkultur agar pertumbuhan individu dapat tumbuh dengan baik.

5.Perlakuan adalah subkultur ke media kultur steril baru yang sudah diberi perlakuan tertentu. Subkultur untuk keperluan perlakuan biasanya terkait dengan kesamaan bahan kultur awal sebagai bahan eksplan yang seragam untuk perlakuan penelitian sehingga dapat dianalisa perbedaan pertumbuhan dari perlakuan yang diberikan. Subkultur untuk keperluan perlakuan terdiri dari dua macam, yang pertama diberi perlakuan dan langsung dilihat bagaimana pertumbuhan kultur tersebut di media perlakuan tersebut. Kedua, adalah subkultur ke media perlakuan untuk waktu tertentu, setelah kultur terpapar/ terkena/ terpengaruh oleh perlakuan, maka kultur harus segera dipindahkan ke media pertumbuhan normal. Biasanya dalam hal ini disebabkan bahwa media perlakuan bersifat menghambat dan akan dapat mematikan ekplan atau kultur bila tidak dipindahkan ke media normal kembali. Contoh dalam hal ini adalah pemberian perlakuan kolkisin pada media kultur untuk tujuan poliploid. Eksplan di masukkan ke media perlakuan kolkisin sekitar 2 – 3 bulan untuk kemudian dipindahkan kembali ke media pertumbuhan normal.

6.Pemilahan adalah subkultur yang dilakukan dengan mengambil bagian kultur tanaman tertentu sesuai dengan karakter bagian kultur tanaman dan harus seragam pengambilan bagian kultur tersebut agar hasil subkultur dari bagian kultur tanaman tersebut bersifat seragam dengan karakter/sifat yang diinginkan. Misalnya untuk mendapatkan hasil bibit kultur jaringan yang memiliki kualitas pembungaan dan pembuahan yang baik, cepat berbunga dan berbuah, pertumbuhan baik, masih muda tapi sudah berbunga dan berbuah dan viabilitas bagus, maka dalam hal ini bagian kultur yang kita ambil adalah tunas mudanya saja atau pucuk-pucuknya saja yang diambil dari kultur yang sudah berumur di atas 6 bulan. Dan sebaliknya untuk menghasilkan kultur dengan metabolit sekunder yang tinggi maka yang diambila pada saat subkultur adalah, bagian pangkal dari kultur yang berasal dari botol kultur yang umurnya sudah diatas 6 bulan bahkan lebih dari satu tahun misalnya, maka kultur yang akan dihasilkan seragam dengan kemampuan menghasilkanmetabolit sekunder yang tinggi.


SubkulturYang Efisien Dan Efektif
Pada saat kita mensubkultur suatu kultur tanaman tertentu, maka sebenarnya dalam satu botol kultur akan terjadi beberapa bentuk morfologi pertumbuhan yang terjadi pada kultur tanaman yang ada dalam satu botol kultur tersebut. Misalnya kita mau mensubkultur tanaman untuk persiapan aklimatisasi, maka suda mulai kita seleksi dan siapkan kultur tanaman yang sudah tinggi/panjang untuk di bentuk kearah individu tunggal, atau masuk ke fase perakaran misalnya. Jadi bagian kultur tanaman yang batangnya sudah agak  tinggi di subkultur dan dimasukkan ke bagian perakaran dan pemanjangan individu. Tapi dalam botol kultur tersebut, tidak semua bentuk kultur tanaman berupa batang pucuk yang sudah mulai memanjang, tapi bisa pula dalam bentuk misalnya embrio somatik, atau mungkin ada kalus. Lalu apakah bentukan kultur ini dibuang atau dibiarkan, tentunya sekalian disubkultur tapi sesuai dengan bentukan morfologinya untuk yang embrio somatik di masukkan dalam media embrio somatik, dan yang kalus dimasukkan ke media kalus dst.
Dengan demikian semua bahan kultur tanaman steril tidak ada yang terbuang semua bisa disubkultur sesuai dengan kondisinya. Berarti bahwa di dalam kita mensubkultur maka kita harus menyiapkan berbagai formula media yang mungkin akan kita temui, walau misalnya tujuan subkultur adalah untuk perakaran, misalnya.

Variasi Somaklonal Hasil Subkultur
Bila kita tidak melakukan pemilahan di dalam melakukan subkultur berulang, atau kita mensubkultur semua bahan kultur yang ada maka sebenarnya bibit hasil subkultur berulang yang tanpa dilakukannya pemilahan akan mengalami variasi somaklonal yang disebabkan oleh adanya variasi umur  dan fisiologi. bila secara garis besar umur di bagi menjadi 2 kelompok besar yaitu muda dan tua. Dan untuk yang fisiologis juga dibagi 2 kelompok yaitu remaja (jouvenil) dan dewasa (mampu bereproduksi), maka hasil cloning yang di dapat ada variasi:

1.Muda – Remaja                 : adalah karakter seperti karakter biji, umur panjang, lama berbunga, pertumbuhan  tinggi. Karakter ini sangat bagus untuk jenis-jenis pohon yang dipanen batangnya.
Pemilahan                               : ambil pucuk-pucuknya saja dari kultur yang umurnya belum lebih dari 6 bulan.


2.Muda – Dewasa                 : masih muda, baru tumbuh tapi sudah bisa menghasilkan bunga dan buah hal ini sangat bagus untuk tanaman buah dan bunga
Pemilahan                               : ambil pucuk-pucuknya saja dari kultur yang umurnya lebih dari 6 bulan atau lebih.


3.Tua    -  Remaja                  :  umur tua lambat, kerdil, tidak berbunga dan berbuah, karakter ini sangat cocok untuk bonsai, atau tanaman yang ingin dikerdilkan tapi juga tidak memerlukan bunga dan buahnya
Pemilahan                               : ambil bagian pangkal dari kultur yang umurnya masih atau kurang dari 6 bulan.


4.Tua    -  Dewasa                     :  umur tua, kerdil, pertumnbuhan lambat tapi berbunga dan berbuah, sangat baik untuk tanaman buah hutan tropis yang umurnya panjang dan berbunga dan berbuahnya lama, seperti matoa, kecapi, duku dll, pemilahan ini juga bagus untuk mendapatkan kultur dengan tujuan metabolisme sekunder
Pemilahan                                  : ambil bagian pangkal kultur yang umur kulturnya sudah lebih dari 6 bulan atau lebih.


Subkultur Dan Kualitas Kultur
Faktor subkultur yang mempengaruhi kualitas kultur adalah :
1.       Pemilahan di dalam subkultur sangat menentukan keseragaman cloning bibit yang dihasilkan. Bila di dalam subkultur tidak dilakukan pemilahan bagian ekspan yang diambils esuai dengan tujuannya maka di dalam bibit yang dihasilkan terdapat 4 ragam variasi bibit kultur yang dihasilkan.
2.       Jumlah subkultur yang berulang kali menentukan kualitas bibit kultur yang dihasilkan. Tapi mengenai hal ini bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak dapat diatasi dan kita harus selalu mengambil bahan eksplan baru agar kualitas sama seperti awal, padahal tidak harus seperti itu, kita bisa tetap mengambil eksplan dari bahan kultur yang ada hanya perlu tau apa saja yang perlu diperhatikan.
3.       Waktu inkubasi menentukan jumlah perbanyakan bibit yang dihasilkan dalam satu kali subkultur. Semakin cepat subkultur dilakukan akan semakin banyak jumlah hasil perbanyakan subkulturnya
4.       Ukuran ekspan yang diambil dan disubkultur menentukan konsekuensi keberhasilan terkait dengan kontaminasi dan viabilitasnya.
5.       Subkultur kalus sebaiknya tidak lebih dari 3 bulan, bahkan sebaiknya di bawah 1 bulan dan yang diambil adalah bagian yang sel-selnya baru tumbuh, syukur-syukur bila ada embrio somatiknya maka ambil embrio somatik yang paling ujung/ tumbuh terakhir
6.       Subkultur untuk jenis pohon yang sangat lambat tumbuhnya juga jangan menunggu agar eksplan tum buh tinggi baru kemudian di subkultur tapi usahakan subkultur tidak lebih dari 1 bulan, maksudnya menjaga agar bahan eksplan selalu dalam kondisi jouvenil, baik sel atau jaringannya yang memang jouvenil, juga tidak terimbas metabolit sekunder kearah kematian (zat penghambat, dan etilen) fisiologi tua dari kultur yang umurnya sudah tua.
7.       Semakin kecil ukuran bahan eksplan yang digunakan saat subkultur akan semakin kecil dampak fisiologis dan morfologi tua (metabolit sekunder kearah kematian) dari bahan kultur indukannya. Sebagai gambaran bahan eksplan apikal yang diambil sekitar dibawah 0,5 cm


Bagaimana caranya agar jumlah banyaknya subkultur tidak mempengaruhi kualitas?
Banyak pihak yang menyampaikan bahwa subkultur tidak boleh lebih dari 6 kali, yang lain bilang tidak boleh lebih 4 kali. Setelah itu maka mereka akan melakukan inisiasi lagi dari awal. Apakah memang demikian? Apakah tidak bisa kita lakukan subkultur terus menerus dengan kualitas yang sama seperti awalnya?
Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut maka prinsipnya adalah sebagai berikut:
1.       Ingatlah selalu prinsip Totipotensi yaitu seiap sel tumbuhan mengandung rangkaian genetik yang lengkap, jadi satu sel tersebut cukup untuk dapat menjadi individu baru yang sama dengan induknya. Dan setiap sel tersebut mengandung rangkaian gen yang lengkap dan sama untuk semua sel vegetative dari individu tersebut.
2.       Kondisi fisiologi suatu mahluk hidup ditentukan oleh fisiologi dari sel-sel atau jaringan yang membentuk individu tersebut. Oleh sebab itulah bila individu tersebut didominasi sel-sel yang masih muda maka dominasi sel-sel muda tersebut akan mendominasi sifat fisiologi dari individu tersebut. Demikian pula sebaliknya bila suatu individu didominasi oleh sel-sel yang sudah dewasa maka individu akan didominasivoleh sifat-sifat dewasa.
3.       Disisi lain yang perlu juga diingat bawa, misalnya suatu individu di dominasi oleh sel-sel yang sudah dewasa, tapi bukan berarti bahwa di dalam individu tersebut tidak ada sel-sel yang muda, demikian pula dengan sel-sel yang tua. Jadi sebenarnya di dalam suatu individu terdapat ragam sel-sel yang berbeda sifat dan karakter fisiologinya tergantung pada umur dan morfologi sel.
4.       Dan walaupun di dalam individu terdapat variasi dan ragam fisiologi morfologi sel akan tetapi semua sel vegetative mempunyai gen yang sama dari individu tersebut. Gen tersebut tetap tapi ekspresi yang muncul dari suatu sel dipengaruhi oleh sifat dan karakter fisiologis dari sel tersebut. Oleh sebab itulah bahwa karakter suatu sel atau eksplan atau kultur belum tetntu disebabkan oleh perubahan genetic (mutasi), tapi juga dimungkinkan oleh sifat fisiologis morfologis dari sel tersebut.  Dan ekspresi yang muncul tersbut bisa di kembalikan ke sifat dan karakter gen awal bila sifat dan karakter sel tidak mempengaruhinya.
5.       Cara untuk mengembalikan sifat dan karakter murni gen suatu mahluk hidup bisa dilakukan dengan cara kita berusaha mengisolasi gen dalam suatu sel yang sifat dan karakter selnya belum terekspresikan dan akan berdampak mempengaruhi karakter gennya. Untuk itu bisa dilakukan dengan Metode Kultur Meristem. Dalam teknologi kultur meristem, bahan eksplan yang diambil tidak boleh lebih besar dari 0,5 mm, jadi benar-benar yang diambil dalam hal ini adalah sel meristem yang baru membelah dan belum terekspresikan, dan belum terkontaminasi penyakit maupun virus.

Berdasarkan pemahaman prinsip diatas maka kita dapat mensubkultur tanpa batas tanpa harus merubah karakter gennya. Oleh sebab itulah maka Program Esha Flora dalam merintis koleksi keanekargaman hayati plasma nutfah Indonesia secara ilmiah sangat di mungkinkan. Kita dapat mengkoleksi specimen hidup dengan cara di tidurkan (Metode Pertumbuhan Minimal), dan bila diperlukan akan dibangunkan dan diperbanyak dan dioptimalkan karakter gennya (Metode Kultur Meristem), bahkan dapat kita muliakan dengan berbagai metode (poliploid, kultur anther, kultur mutasi dll), bahkan dapat kita produksi bahan bioaktif langsung dari dalam botol seperti Metode metabolit sekunder.

Jadi agar subkultur tidak merubah sifat dan karakter eskpresi individu maka dalam melakukan subkultur seharusnya menggunakan metode meristem, tapi bila sulit dan tidak dimungkinkan maka yang dapat dilakukan adalah :
1.       Lakukan subkultur tidak lebih dari 1 bulan, maksudnya adalah agar umur sel di dalam kultur masih masuk dalam kategori muda, dan sampai 3 kali subkultur masih masuk dalam kategiri muda. Berdasar pengalaman, suatu sel akan mengalami sifat tua bila umur sudah lebih dari 4 -6 bulan, maka karakter sel berubah menjadi dewasa dan terus berlanjut ke tua sejalan dengan bertambahnya waktu.
2.       Dalam mengambil bahan eklsplan dari kultur yang umurnya tidak lebih dari satu bulan tersebut , maka eksplan yang diambil adalah tunas apikalnya saja atau boleh dengan satu tunas lateralnya, jadi dua titik tumbuh dari ujung. Maksudnya adalah bahwa umur eksplan yang diambil diharapkan tidak lebih dari 2 minggu.
3.       Bila terlihat terjadi penurunan sifat atau kualitas pertumbuhan maka untuk selanjutnya maka bahan eksplan yang diambil adalah tunas apikalnya saja dan yang diambil usahakan sekecil mungkin, seperti kita mengambil kultur meristem. Hal ini akan membuang berbagai sifat dan karakter sel yang lambat laun terimbas tua dengan dilakukannya subkultur berulang, setelah dilakukan pengambilan seperti ini maka diharapkan karakter kultur yang dihasilkan hampir sama dengan kultur meristem. Dan dapat terus dilakukan subkultur.


Subkultur Jenis Pohon
Subkultur pohon kita jangan sampai terjebak dengan pertumbuhan eksplan yang lambat sehingga seksplan terlihat masih kecil di dalam botol kultur. Tidak adanya pertumbuhan eksplan atau tumbuhnya yang sangat lambat membuat ekplan bertambah sekitar 1 daun satu bulan sehingga dalam waktu 4 bulan masih dalam bentuk kultur yang batang tunggal dengan sekitar 4 daun. Hal menyebabkan botol kultur terlihat masih leluasa. Dari sudut pandang media, memang media tersebut masih memungkinkan untuk di pakai tumbuh oleh kultur pohon tersebut, tapi kalau kultur tersebut dibiarkan dulu sampai terlihat agak panjang, maka dalam persepsi kita tidak akan terlalu rugi karena media masih bisa dipakai tapi hasil subkultur hanya dapat di potong-potong menjadi 4 eksplan saja.
Padahal yang harus diingat bahwa semakin lama kita menunda subkultur maka berarti di dalam botol kultur tersebut ada sel yang umurnya lebih dari 4 bulan, bila jumlah sel yang umurnya lebih dari 4 bulan mendominasi sel-sel dari kultur tersebut maka kultur tersebut akan mengeluarkan metabolit sekunder kearah kematian (zat etilen dan zat penghambat), sehingga sel-sel mudanya pun akan terimbas fisiologis tua atau sifat kearah kematian, maka lambat laun kutlur akan semakin lambat tumbuhnya dan lambat laun mati.
Untuk menjaga tingkat viablitas atau jouvenilitas sel eksplan pohon maka yang dijadikan acuan adalah waktu subkultur, usahakan tidak mensubkultur lebih dari 1-2 bulan agar umur sel sampai disubkultur kembali tidak lebih dari 2 bulan, hal ini akan menjaga agar umur sel tetap muda, dan sifat sel masih bersifat jouvenil. Dan usahakan ambil pucuk apikalnya saja, sedangkan bila kita mengambil mata tunas dibagian bawahnya maka umur sel atau jaringan tersebut tidak lebih dari 3 bulan. Bila kita melakukan ini (mejaga agar sifat dan karakter kultur tetap jouvenil, maka subkultur dapat terus dilakukan.


Subkultur kalus
Dalam mensubkultur kalus maka yang perlu diperhatikan saat kita mensubkultur usahakan yang kita ambil untuk disubkultur hanyalah sel-sel yang baru tumbuh saja, kalaupun kita mengambil bagian kalus yang sudah ada sebelumnya maka total umur sel kalus tersebut jangan lebih dari 4 bulan. Jangan terperangkap pada  “Media kultur masih leluasa untuk pertumbuhan kalus”, tapi kalau memang umurnya sudah lebih dari 1 – 2 bulan harus cepat di subkultur jangan menunggu sampai 4 bulan. Umur kalus adalah umur sel, bukan umur individunya sehingga secara fisiologi dia akan lebih cepat tua.
Disatu sisi untuk memperbanyak dan menjaga jouvenilitas maka diharapkan kalus dapat membelah lebih cepat dan lebih banyak. Padahal membelah lebih cepat dan lebih banyak maka halini masuk dalam kategori ”pertumbuhan vegetative” hal ini bertolak belakang dengan tujuan terbentuknya embrio somatik, yang secara fisiologis seharusnya pertumbuhan vegetatif melambat dan prioritas akan beralih ke pertumbuhan embrio somatik. Oleh sebab itulah maka biasanya diberi zat penghambat. Zat yang berfungsi sebagai zat penghambat dari hormon tunas adalah auksin, maka dapat digunakan hormon 2,4D, atau bisa juga digunakan pickloram. Kalus menghambat pertumbuhan organ. Pertumbuhan kalus akan sangat baik dalam pembentukan embrio somatik, tapi pertumbuhan kalus yang tinggi justru menghambat pertumbuhan embrio somatik. Oleh sebab itulah maka pertumbuhan yang tinggi yang awalnya dipakai untuk pembelahan kalus diganti kearah pertumbuhan embrio somatik, maka pertumbuhan yang tinggi, daya hambat kearah pembelahan kalus, dorongan yang kuat kearah tunas, kesemua hal tersebut akan menyebabkan pertumbuhan embrio somatik.


Subkultur Tanaman Variegata
Subkultur tanaman variegata akan menghasilkan kultur varigata yang permanen bila, tanaman induk yang diambil eksplannya memiliki variegata yang stabil. Variegata yang stabil adalah variegata yang terjadi di meristem apikal sehingga setiap sel, jaringan dan organ yang baru tumbuh mengalami variegata. Jadi bila tanaman induk memiliki variegata yang stabil dari meristem apikalnya, maka bila kita mengambil eksplan dari kultur meristem apikalnya maka semua kultur yang dihasilkan akan stabil.
Bila suatu tanaman variegatanya tidak stabil, kadang muncul variegata kadang tidak maka kita harus cari variegata yang berasal dari meristem dan bersifat stabil maka diharapkan semua kultur dari meristem yang variegata akan bersifat stabil.
Variegata yang tidak stabil bisa dibuat stabil dengan cara mengambil eksplan dari  bagian tanaman yang variegata, eksplan yang berasal dari sel atau jaringan yang variegata dikulturkan kemudian dengan metode embrio somatik ditumbuhkan tunas-tunasnya dan dibuat plantlet, sambil di seleksi planlet yang stabil variegatanya dengan melihat variegata di setiap daunnya berarti sel atau jaringan yang tumbuh dari meristem tersebut bersifat stabil.
Kultur eksplan variegata dengan menggunakan metode embrio somatik, maka sebenarnya setiap sel dari sel embrio somatik bersifat individual, dan tergantung pada setiap selnya kemungkinan mempunyai tingkat variegata yang berbeda. Jadi walaupun bagian eksplan yang diambil adalah variegate, tapi kemudian yang tumbuh saat proses embrio somatik dan menjadi tunas adalah sel yang tidak termutasi dan tidak variegata maka kultur yang tumbuh dari sel tersebut akan kembali normal.


Subkultur untuk memunculkan variasi mutasi dan variegata
Bahan eksplan tanaman steril yang berupa kalus atau embrio somatic, bila di beri perlakuan induksi mutasi dan variegate pada media kulturnya, kemudian di tambah dengan pemberian perlakuan sinar gamma, maka sebenarnya setiap sel atau embrio somatic berpeluang mengalami mutasi yang eragam, oleh sebab itulah untuk membangkitkan variasi ragam mutasi dan variegate yang ada maka subkultur yang dilakukan adalah dengan mensubkultur sebanyak mungkin eksplan dari sel-sel yang diberi perlakuan, sampai jumlah hasl subkultur bahan kultur yang telah diberi perlakuan menjadi sangat banyak hal ini berpeluang untuk memunculkan variasi mutasi dan variegate, karena setiap sel dari kultur yang diberi perlakuan akan mengalami mutasi atau vairgata, dan jumlah sel dari kultur kalus atau embrio somatic yang diberi perlakuan sebenarnya jumlahnya adalah ribuan, maka sebenarnya akan terdapat ribuan variasi miutasi dan variegate, bila sel tersebut bisa muncul dan terekspresikan setelah membentuk menbrio somatic dan menjadi tunas serta menjadi individu baru.
Oleh sebab itulah maka sebenranya perlakuan ini layak untuk diusahakan karena peluang untuk mendapatkan mutasi dan variegate sangat besar,s edangkan selama ini ,mendapatkan mutasi dan variegate secara alami sangat sulit, 1 berbanding 1 juta kalinya. Wajar bila kita harys bersabar untuk melakukan ini sekitar 2-3 tahun untuk sampai dapat melihat variegate yang stabil dan variegatanya spektakuler keren/cantik baru kemudian dapat diperbanyak jumlah besar, tapi dalam pemasaranya diatur agar tidak terjadi booming atau Over suplai.



Bogor, Senin 19 Agustus 2019, jam 20.28.







Previous
Editor's Choice