Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

ZPT
Showing posts with label ZPT. Show all posts
Showing posts with label ZPT. Show all posts

26 September 2014

Pelatihan Privat Kultur Jaringan

@Cahangon75 - Friday, September 26, 2014
Notulen Pelatihan Bapak Ibrahim Thahir Pada tanggal 19 Desember 2013

Kolkisin adalah suatu zat yang dapatmelipatgandakan kromosom yang menyebabkan melipatgandakan ukuran dari suatutanaman.

Pertanyaan:
Bapak Ibrahim: Apakahbenar pasar menyukai jamur yang ukurannya kecil?

Jawaban      : Kurang tahu namun membudidayakan jamurtidak sekedar biomasanya saja tapi juga kualitas dengan cara memasukkan asamamino kedalam baglog.
Bapak Ibrahim: Apa bedanya kulturjaringan jamur dengan kultur jaringan tumbuhan?
Jawaban      : Jamur bukan tumbuhan karena menguraikan bahan-bahan organik untukmenjadi makanannya, dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim dandigunakan oleh manusia untuk menguraikan limbah-limbah organik. Bedanya kulturjaringan jamur dengan tumbuhan adalah pada kultur jaringan tumbuhan tidak bolehada jamur sedangkan pada kultur jaringan jamur justru jamur yang ditumbuhkan.

Prinsip kultur jaringanadalah totipotensi (total genetik potensi). Totipotensi adalah setiap selnyamengandung genetik yang lengkap, jadi dapat menumbuhkan satu sel  menjadi individu baru yang sifatnya samadengan induknya. Kultur jaringan adalah penamaan budidaya didalam botol.Terdapat beberapa jenis kultur jaringan yaitu: kultur jaringan meristem, kuturjaringan anther dan kultur jaringan organ. Kultur jaringan tujuannya tidakhanya perbanyakan, diantaranya pemuliaan (peningkatan kualitas dan kuantitas),pemurnian, konservasi, koleksi, penyelamatan (embrio resque), mutasi, merubahbentuk, variasi somaklonal, dll.
            Membangunkantanaman pada kultur jaringan dilakukan dengan cara memberikan rangsangan padatanaman agar variasi dapat muncul (variasi somaklonal). Sel yang berasal darisel vegetative adalah sel yang dapat merubah dirinya menjadi embrio, disebutembrio somaklonal.
            Persepsinegatif mengenai kultur jaringan adalah mahal (namun dapat dimodifikasi denganalat-alat yang serupa namun lebih murah), banyak pemutus kebijakan masih engganmemasukkan kultur jaringan kedalam program-programnya, dll.

Bapak Ibrahim : apakah prinsippengerjaan kultur jaringan sama? Dan sel apa yang dapat menyebabkan variasi?
Jawaban         :  iya sama. sel gamet, namun selsomatik juga dapat menghasilkan variasi namun harus dibangunkan.

Tanaman yang terserang virus dapat diobati dengancara kultur jaringan.
Kultur jaringan jamur dilakukan didalamenkas bukan didalam laminar, karena enkas lebih kedap udara untuk pengerjaandiluar dan kultur jaringan pada jamur lebih cocok dilakukan di enkas.
Lab mikrobiologi danlab kultur jaringan lebih baik terpisah karena mikroba lebih menyukai kondisiyang hangat sedangkan kultur jaringan lebih menyukai kondisi lingkungan yangsejuk atau dingin. Bisa saja kultur jaringan dilakukan ditempat yang hangatnamun tanaman yang dihasilkan akan cepat tua dan kurang bagus.

Bapak Ibrahim : Jamur menyukai tempat yang hangat, apakahada cara yang murah untuk membuat suhu lingkungan menjadi lebih hangat?
Jawaban        : Bisa dengan cara reflector, serat opticatau bisa juga dengan cara reflector   cermin.

Bedakan suhu dan cahaya karena bisa jadi terangbelum tentu panas.
Anggrek bulan putih besar permintaannyabanyak sekali namun produsen masih belum bisa memenuhi permintaan tersebut.

Ø  Strategi:membuat perencanaan yang fokus pada target untuk dikembangkan sesuai denganrencana.

Inisiasi tingkat kesulitannya sangattinggi maka dari itu diperlukan strategi sehingga peluang kita lebih besar daripada yang lain.
Untuk jamur, bapak bisa fokus pada produksi F0 danF1.
Sebelum dilakukan kultur jaringan sebaiknyadilakukan studi pasar terlebih dahulu.
Bisnis dengan kultur jaringan tidak bisamendadak karena dari inisiasi sampai jual kira-kira memerlukan waktu dua tahun.

Materi:Eksplan
Ø  Prinsipnyaadalah memakai eksplan yang muda dan kecil. Eksplan yang paling mudah untukdikulturkan adalah titik tumbuh.

Bedanya sel tumbuhandan sel hewan adalah dinding sel. Dinding sel akan menyebabkan tumbuhanmengeras dan menebal. Proses menebalnya dinding sel menyebabkan sel sulit untukmembelah. Sel dasar yang belum berdiferensiasi adalah sel parenkim danmeristem. Meristem adalah sel atau jaringan yang tidak pernah tua. Padatumbuhan pertumbuhannya tidak terbatas karena adanya meristem pada tubuhnya.Pada tumbuhan apabila umurnya sudah tua, titik tumbuhnya masih ada namun dormandan titik tumbuhan itu bisa dibangunkan lagi. Titik tumbuh belumberdiferensiasi. (Interkalari disetiap bukunya). Titik tumbuh merupakanprimordial (cikal bakal) suatu organ pada tumbuhan yang dapat berdiferensiasimenjadi bunga, akar, ataupun tunas
Untuk menggandakan anggrek bulandilakukan dengan cara men-subkultur anggrek yang sudah siap diaklimatisasikedalam media yang mengandung banyak sitokinin sehingga akan munculeksplan-eksplan baru yang dapat berdiferensiasi.
            Keperluanuntuk hidup tanaan adalah: sember energy, unsur hara, hormone, enzim, asamamino, asam lemak, vitamin, mineral, organic lain, dan hayati. Hormone didalamtubuh terdapat 1/10. Hormone adalah suatu zat yang konsentrasinya sangat kecil,mempengaruhi pertumbuhan dan tidak ikut kedalam proses. Setiap hormone selalumempunyai dua fungsi, yaitu mensuport dan menghambat (memiliki titik optimal),penggunaan hormone sebanyak-banyaknya dapat menghambat pertumbuhan, jadipengakaian hormone harus sesuai. Air kencing sapi dan air kencing ibu hamil 4bulan memiliki kandungan hormone yang tinggi. Hormone yang sama, konsentrasiyang sama tetapi diberikan kepada bagian tumbuhan yang berbeda akan menhasilkanhal yang berbeda sehingga pemberian hormone harus langsung pada targetnya. Padajamur dapat menggunakan giberelin, sitokinin dan vitamin.


Target
Kelompok hormon
Anggota
Sumber
Akar
Auksin
IAA, IBA, NAA, 2,4D
Ujung pucuk
Tunas
Sitokinin
BA, BAP, TDZ, Zip, Kinetin
Ujung akar
Bunga dan buah
Giberelin= GA, -GA120 (GA3) (mampu mempercepat pembelahan sel).

Daun, bunga, dan buah

                   Giberelin mampu mempercepat pertumbuhan di F1dan F2 yang biasa digunakan adalah 2mg/L dan vitamin neurobion(vitamin B1, B2, B6, B12,E) 1 pil untuk 5 liter. Auksin apabila diberikandengan hormone yang lain bersifat melemahkan sehingga dapat menumbuhkan kalus. Hormonegiberelin menguatkan hormone auksin dan sitokinin. Sesame anggota dari suatuhormone akan saling menguatkan contohnya IAA digabung dengan IBA akan salingmenguatkan dan menghasilkan hasil yang bagus. Virus tidak dapat menyerang pucukkarena konsentrasi asam pada pucuk sangat tinggi jadi steril. Untukmenghasilkan pertumbuhan diatas titik optimalisasi dari hormone adalahpenambahan sedikit giberelin, tambahkan hormone yang satu kelompok maka akanbersinergi saling menguatkan, vitamin, sumber energy, mineral.

Bapak Ibrahim : Apakah hormone ini bisa dipakaiuntuk tanaman organik?
Jawaban         : Biasanya hormone ini tidak digunakan pada tanaman organik. Sintetikberbahaya  namun organic dan anorganikjuga bisa berbahaya. Ciri tanah organic adalah banyaknya variasi tumbuhan yangtumbuh pada tanah tersebut.
                       
Hormon auksin 2,4Dmembentuk akar dan juga kalus. Yang paling murah adalah BA. BAP 2mg setaradengan 0,5 mg TDZ. Kinetin mensuport pertumbuhan kalus. Metode metabolitsekunder adalah menumbuhkan kalus dengan diberi perlakuan sehingga kalustersebut menghasilkan obat contohnya akar Rouvolviaseprentina yang dikulturkan menjadi kalus. Metabolit sekunder memerlukansinar.
            Pertumbuhanbersifat kuantitatif sedangkan perkembangan bersifat kualitatif. Memangkassemua pucuk berarti menghambat pertumbuhan. Konsentrasi 0-0,3 ppm mensuportpertumbuhan organ, 0,3-4ppm menstimulir organ, 4-20 ppm membentuk embriosomatik, 20-80 menghasilkan kalus, 80-200ppm pembentukan morfologi danfisiologi, 200-400 terjadi mutasi, >400 letal

Pelatihan Privat membuat formula hormon

@Cahangon75 - Friday, September 26, 2014
Yth Para Pengusaha Hormon

Kami mempunyai program "Pelatihan Rahasia Pembuatan Formula Hormon untuk Berbagai Keperluan"
materi meliputi:

I. Diskusi & Wawasan
1. Pengenalan Mengenai Tumbuhan Secara Umum
2. Pertumbuhan & Perkembangan Tumbuhan
3. Pengertian Tentang Hormon
4. Ragam dan Karakter Hormon
5. Penyiapan, Pengadaan dan Pembuatan Ramuan Hormon
6. Konsentrasi & Dosis serta Teknik Pemberian pada Tumbuhan
7. Ramuan Hormon dan Efektivitas
8. Penentuan Produk dan Harga
9. Penggabungan Ramuan Hormon Dengan Komponen Lain.
10. Uji Efektivitas, Stabilitas, Kadaluarsa dan Evaluasinya
11. Pengemasan, Pengepakan dan Penyimpanan, Distribusi


II. Praktek:
1. Pengenalan ragam hormon
2. Pembuatan hormon organik / alami
3. Penentuan konsentrasi dan dosis
4. Pembuatan ramuan hormon
5. Teknik sterilisasi dan stabilitas hormon.
6. Rancangan percobaan sederhana uji efektivitas.

Pelatihan ini bersifat rahasia, sehingga diadakan secara privat selama 1 hari dengan biaya Rp. 5.000.000. (dapat langsung mengarah pada produk yang diinginkan).
Waktu berdasarkan perjanjian.
Terima kasih

edhi sandra & Hapsiati
www.EshaFlora.com

22 April 2013

REVOLUSI BUDIDAYA SINGKONG - CASSAVA - Manihot esculenta

@Cahangon75 - Monday, April 22, 2013

Oleh
Edhi Sandra
Pemilik Esha Flora
Kepala Unit Kultur Jaringan Bagian Konservasi Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
Kepala Laboratorium Bioteknologi Lingkungan PPLH IPB Bogor

Pendahuluan


singkonggajah.worldpress.com

Kita kenal lirik lagu : ” Tongkat kayu jadi tanaman..” Hal in imenggambarkan betapa subur dan mendukungnya kondisi di Indonesia untuk berbudidaya. Tongkat kayu (setekan batang singkong) ditancapkan saja maka dapattumbuh dengan sendirinya. Teknik budidaya konvensional ini masih banyakdilakukan oleh para petani Indonesia.

            Kemajuan dalam teknikbudidaya singkong awalnya hanyalah dilakukannya pengolahan tanah danpemupukan.  Paling hanya itu yang telah dilakukanoleh pada umumnya para petani di Indonesia. Bahkan dalam budidayanya seringkali dicampur aduk antara memanen daun  sebagai lalab atau untuk dibuat sayur dengan memanen umbi kayunya.  Dalam kondisi seperti itu produktivitas  sangat tergantung pada kondisi dan kesuburan tanah serta kondisi iklim dan  lingkungan tempat budidaya.

            Pada awalnya pemecahan masalah dilandasi pada keterbatasan lingkungan, misalnya karenaketerbatasan kondisi air dan hara maka pertumbuhan batang dan daun yang tumbuh   dibatasi hanya satu dan dua batang, demikian pula dengan akar sebagai calon  umbi kayu dibatasi agar akar tidak terlalu banyak sehingga alokasi makanan dapat difokuskan pada beberapa umbi kayu yang ada.  Pada kondisi ini maka strateginya adalahberhasil berbudidaya dengan keterbatasan lingkungan yang ada.  Jadi kondisi lingkungan menjadi pembatasdalam produktivitas umbi kayu.

            Semakin hari maka pemahaman dan pengetahuan tentang fisiologi tumbuhan, proses biologi danlingkungan maka manusia sudah lebih pandai dalam memodifikasi kondisi lingkungan agar dapat menunjang pertumbuhan tanaman dengan lebih baik.  Hal inilah yang akan dibahas dalam makalah ini sehingga produktivitas singkong yang awalnya hanya dapat berkisar 20 -40ton / hektar, maka saat ini sudah mulai banyak yang dapat melakukan budidaya  singkong dengan produktivitas  60 -100ton.  Bahkan baru-baru ini ada yangmengklaim bahwa mereka mampu menghasilkan 600-800 ton per hektar.  Dalam makalah ini saya hanya ingin menguraikan bahwa bila semua faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sertaberbagai perlakuan yang dapat meningkatkan produktivitas dilakukan makahasilnya akan sangat menakjubkan.

            Saya akan berusahamenguraikan dari segi fisiologi tumbuhan dan perlakuan-perlakuan yang dapatmeningkatkan pertumbuhan dan produktivitas singkong yang dihasilkan.

Prinsip Dasar

Kembali kita harus ke teori dasar bahwa hasil akhir (Produktivitas) tergantung pada Genetika tanaman, kondisi lingkungan serta manajemen budidaya.

            Produktivitas  =   Genetik    +    Lingkungan   +    Manajemen



Genetika Singkong

Ada beberapa varitas singkong yang sudah dikenal banyak petani sebagai varitas singkong yang baik yaitu : singkong Darrul hidayah, singkong manggu super, singkong kasesat (varitas singkong dari Thailand) dll. Disamping itu   untuk meningkatkan produktivitas maka dapat juga dilakukan sambungan, yaitu menggabungkan sifat positif dari dua varitas yang berbeda: misalnya menggabungkan varitas singkong di atas sebagai batang bawah (karena umbinyayang akan dikonsumsi) dan ’entris’ bagian atas disambung dengan singkong karet .Penggabungan kedua varitas singkong ini akan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas dari singkong yang dihasilkannya. Disamping itu dapat pula dilakukan penyilangan varitas unggul melalui penyerbukan bunganya, dan ada juga yang melakukan pemuliaan yaitu dengan cara melakukan poliploid (melipat gandakan kromosomnya) sehingga menghasilkan varitas yang raksasa.

Lingkungan

Beberapa peubah lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitasadalah:
1.           Sinar matahari harus full dari pagi sampai sore jangan sampai ada yangmenghalanginya.
2.           Ketersediaan air yang mencukupi selama dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman, tapi dalam halini tidak kebanjiran atau terendam air.
3.           Kondisi tanah yangbaik dari segi fisik (pourositas, daya pegang air, lembut dan stabil)kondisi fisik yang baik akan menghasilkan : ketersediaan oksigen yang memadai,ketersediaan air yang mencukupi, kondisi fisik yang nyaman untuk pertumbuhan  tanaman, stabil untuk tempat berdirinya tanaman.
4.           Kondisi tanah yang baik dari segi kimia (ketersediaan unsur hara yang lengkap dan  mencukupi, ketersediaan bahan organik yang lengkap dan mencukupi.
5.           Kombinasi kelembaban dan angin yang pas sangat membantu proses transpirasi sehingga dapat menghasilkan proses fotosintesis dengan baik.

Manajemen

1. Pembuatan Bibit

perkebunansingkongmanggu.blogspot.com
Berasal dari Varitas yang Baik

Sebaiknya bahan setek singkong yang digunakan adalah setek batang singkongyang berasal dari varitas yang baik atau merupakan varitas yang sudahdimuliakan.

Diameter optimal Stek

Bibit yang baik adalah bibit yang berasal dari setek batang singkong yangukuran diameternya sudah mencapai ukuran optimal dari varitasnya, tapi usahakan umurnya muda atau dewasa. Setek batang singkong yang berasal daribatang singkong yang telah tua akan mempengaruhi pertumbuhan akar yangcenderung kerdil dan lambat pertumbuhannya

Panjang Stek Batang

Panjang setek batang akan mempengaruhi ketersediaan cadangan makanan yangtersedia di dalam setek batang tersebut. Cadangan makanan yang ada akan dipergunakan sebagai energi awal yang akan digunakan oleh setek batang tersebut untuk menumbuhkan akar dan daun sampai setek tersebut dapat mandiri, dapat melakukan penyerapan unsur hara sendiri dari tanah serta dapat melakukan fotosintesis dengan baik.
            Selain untuk kepentingan cadangan makanan yang baik maka panjang stek harus memadai untuk pertumbuhanakar dan daun, misalnya jumlah titik tumbuh (mata tunas) untuk perakarandicadangkan 5 – 10  mata tunas dan yanguntuk tumbuhnya tunas atau daun juga 5 mata tunas juga maka jumlah mata tunasyang diperlukan untuk satu stek adalah 10 mata tunas

Kondisi Potongan Stek

Sebaiknya stek dipotong dengan menggunakan pisau yang sangat tajamagar permukaan potongan tidak banyak mengalami kehancuran sel yang sangat berbahaya dalam mengundang inveksi penyakit, dan memperlambat penyembuhan luka. Sebaiknya posisi potongan sedemikian rupa sehingga luas permukaan yang luka sedikit mungkin.  Pemotongan dilakukan didaerah yang bersih, sirkulasi udara yang baik serta kondisi cuaca yang cerahsehingga luka cepat kering, hal ini sangat penting agar stek tidak terinfeksipenyakit.
            Bila dimungkinkan adabaiknya juga bila permukaan luka tersebut diolesi dengan fungisida serbuk(langsung dengan serbuknya) hal ini akan membantu mempercepat pengeringan lukasekaligus menutup luka dari peluang masuknya penyakit.

Penanganan Stek

Seringkali bila menangani bibit stekan dalam jumlah yang sangat besar maka seringkali penangannya menjadi ceroboh dan tidak hati-hati, baik padasaat mengumpukan atau mengikat sehingga banyak bagian stek batang yang lecetdan luka, hal ini juga dapat menyebabkan masuknya penyakit. Menumpuk stek dalamjumlah besar sehingga menyebabkan stek menjadi kurang mendapatkan oksigen dan kelembaban terlalu tinggi sehingga terjadi pertumbuhan jamur dan bakteri yang tidakdiinginkan



2. Perendaman Stek Batang

Stek batang mengandung cadangan makanan, stek batang juga memiliki titik tumbuh / mata tunas tapi masih bersifat dorman. Stek batang hanya memiliki sedikit hormon yang kebetulan terdapat pada  stek batang tersebut, sementara untuk tumbuh diperlukan hormon. Energinya  sudah ada dari cadangan makanan yang tersedia, tapi hormonnya tidak memadai oleh sebab itulah maka kita perlu memberikan dari luar asupan hormon yangdiperlukan untuk pertumbuhannya.

Dalam hal ini diperlukan hormon untuk menumbuhkan  akar, tunas dan daun dan diusahakan pertumbuhannya cepat.  Untuk itu secara teoritis kita harus  memberikan hormon akar (kelompok hormon auksin seperti hormon IAA, atau IBAatau NAA) dan untuk menumbuhkan tunas dan daun (perlu diberikan kelompok hormon   sitokinin seperti BAP, kinetin, TDZ). Dan untuk mempercepat pertumbuhan dapat diberikan hormon yang dapat meningkakan pembelahan sel yaitu hormon Giberelin.  Dalam penerapannya bisa di berikan secara  terpisah, misalnya bagian bawah direndam dengan hormon akar dan untuk  merangsang tumbuhnya tunas dengan hormon tunas. Dan semuanya disemprotkan  giberelin agar pertumbuhan akar dan tunas menjadi lebih cepat.

Dapat juga dilakukan dengan cara menggabungkan  ketiga hormon tersebut dengan komposisi misalnya: komposisi hormon akar dan  tunas seimbang dan ditambah dengan hormon giberelin (auksin 40 : sitokinin 40 :giberelin 20). Sebaiknya digunakan hormon yang pro analis sehingga kita dapat  membuat perbandingan dengan lebih akurat, dan konsentrasi yang dapat dibuat  adalah auksin 20 mg/l, sitokinin 20 mg/l dan giberelin 10 mg/l. Dan dalam halini setekan direndam seluruhnya sehingga larutan hormon dapat lebih meresapkedalam stek tersebut, hal ini akan membuat cadangan hormon di dalam stekmenjadi lebih banyak dan memadai untuk menunjang pertumbuhan akar dan tunas.  Setelah direndam dalam larutan hormon tersebut maka stek ditanam.

Persiapan Lahan

Prinsipnya adalah seberapa banyak panen yang kita inginkan, dan jumlahtersebut membutuhkan ruang di dalam tanah seberapa luas, maka seluas itulah kita perlu mengolah tanah agar pertumbuhan singkong dapat optimal.  Bila ternyata satu tanaman singkong  membutuhkan ruang media tanam seluas satu meter ke bawah dan satu meter  kesamping maka seluas itu pula kita harus mengolah media tanamnya, dibuat  agar gembur, aerasi bagus, daya pegang air tinggi, dan makanan organik danmineral terpenuhi dengan optimal.
Ketersediaan air di dalam media tanam yang memadaitapi juga tidak membuat media tanam tersebut menjadi becek atau  ”ngembeng/ tergenang” adalah sangat penting. Air merupakan faktor yang sangat  menentukan di dalam produktivitas. Keberadaan bahan organik sangat membantu dalam meningkatkan kemampuanmemegang air.  Bisa juga dengan cara   meramu dengan media yang mempunyai daya pegang air yang tinggi seperti cocopit,mos ataupun bahan sintetik seperti vermikulit dll.
Keberadaan air yang memadai secara kontinu sangat menentukan produktivitas,hal ini sesuai dengan proses fotosintesis:

           

                                                            Sinar matahari
6CO2  +  6H2O      -----------------------------à  C6H12O6  + 6O2
                                                            klorofil
         
dari gambaran di atas terlihat bahwa ketersediaan air sangat penting,demikian pula dengan CO2 dibantu sinar matahari dan klorofil.  Jadi faktor-faktor tersebut : air,karbondioksida, sinar matahari dan klorofil (butir hijau daun) harus kitaoptimalkan. Semakin optimal kita menyediakan faktor-faktor tersebut makaakan semakin optimal produktivitas yang dihasilkan.

Hasil Fotosintesis untuk apa?

Dalam fotosintesis terlihat bahwa metabolisme tersebut menghasilkan  oksigen, gula (karbohidrat) dan energi.  Hasil inilah yang kemudian di pakai untukmembiayai semua proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman singkong.  Tanaman singkong akan mulai menabung hasilfotosintesisnya bila semua biaya operasional pertumbuhannya sudah terbiayai,  maka kalau ada sisa, maka sisa tersebut akan ditabung di akar yang berperansebagai penampungan cadangan makanan ”ubi” (singkong).  Tanaman singkong akan dapat menabung banyakbila faktor-faktor produksi optimal, biaya operasional metabolisme danpertumbuhan rendah, maka sisanya akan banyak dan ditabung.

Seringkali biaya operasional metabolisme dan pertumbuhan tidak efisien atau  salah arah (menurut sudut pandang manusia/penanam), misalnya energi dipakai  untuk membiayai organ atau sel atau jaringan yang tidak produktif tapi meminta   jatah energi untuk hidupnya sel-sel tersebut, contoh adalah daun yang terdapatdibagian bawah tajuk yang tidak mendapat sinar maka, ia tidak dapatberfotosintesis tapi tetap perlu energi untuk respirasi / hidup. Bagian  jaringan yang sakit akan membutuhkan energi untuk mempertahankan diri dariinfeksi penyakit, sehingga banyak energi terpakai sia-sia (dari sudut matamanusia).

Dalam kita memodifikasi atau menjawab permasalahan  maka diusahakan mencari alternatif yang tidak mengurangi produktivitas. Misalnya: agar energi tidak terpakaisia-sia maka daun di bagian bawah tajuk dibuang, hal ini disatu sisi adalah  benar tapi disisi lain mengurangi jumlah produksi karena sebenarnya daunmengandung klorofil yang sangat penting dalam proses fotosintesis. Jadi kalau”dapur” untuk memasak dikurangi maka jumlah masalkan juga akan berkurang. Oleh   sebab itu maka alternatif pemecahan masalah bukannya mengurangi jumlah daun,tapi bagaimana caranya agar sinar dapat mencapai daun di bagian bawah tajuk,apapun caranya misalnya memberikan reflektor agar sinar dapat memantul daribagian bawah sehingga sinar dapat mengenai daun bagian bawah. Hal ini akan   menambah jumlah daun yang dapat berfotosintesis. Atau yang mudah adalah merenggangkan  jarak tanam agar sinar dapat masuk ke daun bagian bawah.
Kondisi media tanam yang gembur, tidak keras dan padat akan membuatpertumbuhan lebih mudah, hal ini akan membuat efisien energi yang diperlukan  untuk menumbuhkan ubi tersebut, sehingga jumlah cadangan makanan yang akandisimpan dapat lebih banyak.

Demikian pula bila pertumbuhan yang lebih cepat (dengan memberi  hormon yang dapat mempercepat pembelahan dan pembesaran sel ) maka operasional akan hemat waktu dan pada akhirnya akan menghemat energi.  Pemberian hormon dengan pengaturanpertumbuhan sehingga akar lebih banyak dan besar daun lebih besar dan hijaumaka sudah pasti akan lebih mengefisienkan biaya operasional dan mengoptimalkan  jumlah energi dan cadangan makanan yang dapat ditabung.

Bahan organik Dan Makanan Siap pakai

Dalam proses fotosintesis terlihat bahwa yang  dibutuhkan hanya air dan karbondioksida untuk menghasilkan glukosa ataukarbohidrat (dan oksigen) dibantu oleh sinar matahari dan klorofil. Lalu pertanyaannya buat apa pupuk kandang, kompos dan media tanamlainnya?  Kesemuanya diperlukan untuktumbuh dan berkembangnya tanaman singkong tersebut.  Tumbuh berkembangnya tanaman singkongmembutuhkan berbagai macam bahan baku yang sangat beragam.


Pertumbuhan Tanaman Singkong

Pertumbuhan tanaman sebenarnya dapat  disederhanakan menjadi 3 kegiatan pada level sel, yaitu membelah, membesar dan  menebal (kuantitatif).  Bertambahnya jumlah sel berarti memerlukan  bahan-bahan untuk membentuk sel, termasuk organel-organel sel (wah ...maaf  tambah rumit ya bahasanya...) intinya pertumbuhan membutuhkan berbagai zatuntuk tumbuh mulai dari unsur hara sampai pada bahan organik dasar maupun organik  kompleks.  Proses pembuatan organik dasardari bahan baku anorganik yang ada ditanah saja sudah membutuhkan waktu danenergi, belum lagi kalau unsur hara tersebut tidak terdapat pada media. Dan  dari organik dasar ke organik kompleks juga diperlukan waktu, energi danzat-zat yang khusus juga.   Bila  kebutuhan untuk itu banyak yang tersendat dan tidak optimal maka pertumbuhan  tidak akan optimal.

Penyediaan bahan organik yang siap pakai (bahan organik yang sudah diuraikan  sampai pada level terendah) sehingga bisa digunakan oleh tanaman secaralangsung merupakan hal yang sangat membantu pertumbuhan tanaman singkong.  Oleh sebab itulah pembuatan bahan organikyang sudah di uraikan (banyak orang mengistilahkan sudah difermentasi, padahaltidak semuanya bersifat fermentasi).

Demikian pula bila kita mampu energi yang siap menyediakan sumber pakai,misalnya dalam hal ini glukosa atau gula sederhana maka tumbuhan dapat langsungmemakai atau bahkan dapat langsung di konversi dan di simpan bila berlebih.

Penyediaan semua kebutuhan zat yang diperlukan oleh tanaman adalah sangatperlu, seringkali media tanah tempat tanam tidak memiliki kelengkapan zat yang  diperlukan, jadi wajib kita menambahkan zat yang diperlukan yang sudah siappakai yaitu bahan organik terendah tersebut.

Menyediakan makanan yang memadai bukan karena piringnya yang besar tapi  lebih pada suplai bahan makanan yang lengkap dan bergizi yang lebih perlu  diperhatikan.  Suplai bahan makanan yangbergizi inilah yang harus kita sedikan di media tanam tempat kita menanamsingkong.

Peranan Teknologi Budidaya

Dalam hal ini teknologi budidaya diarahkan agar pertumbuhan mejadiefisien dan efektif serta produktivitas dapat optimal. Teknologi dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan modifikasi dan kreatifitas dalam mengarahkansemua faktor pertumbuhan ke arah yang optimal. Untuk itu dalam pelaksanaannya  diperlukan pengaturan kondisi dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, semua  dibuat dan diarahkan pada pertumbuhan yang optimal.

Dalam pengendalian pertumbuhan tanaman agar tidak mengarah ke pertumbuhanyang tidak diinginkan, dan kita dapat lebih mengoptimalkan pada pertumbuhanyang kita inginkan dalam rangka menghasilkan produktivitas yang tinggi, hal inidapat dilakukan pada saat:
Mempercepat pertumbuhan akar dan daun agar bibit tanaman singkong lebih cepat eksis dan mandiri pada saat bibit. (hormon auksin dan sitokinin)

Mempercepat pertumbuhan tanaman singkong agar jumlah daun tinggi ”dapur” untuk menghasilkan makanan besar. Dalam hal ini dapat di beri makanan yang sesuai untuk pertumbuhan vegetatif (dalam bentuk unsur hara adalah unsur N (nitrogen).  Unsur hara ini diperlukan untuk membentuk organel sel seperti inti sel, asam amino dll. (pemberian hormon sitokinin dan bahan organik & NPK)

Merubah alokasi aliran makanan dari vegetatif ke arah pengisian cadangan makanan ke dalam ubi. Untuk ini perlu kita bantu mengalihkan alokasi makanan dengan dominasi hormon tertentu agar pertumbuhan vegetatif dikurangi dan porsi pengisian cadangan makanan ke ubi ditinggikan. (zat penghambat dan hormon auksin)
membantu mempercepat dan memperbesar kapasitas daya tampung ubi sehingga ubi bisa tumbuh besar dan banyak. (hormon untuk pembesaran dan memperbanyak umbi)

Mengurangi Hambatan Fisiologis Bibit Stek

Tumbuhnya tunas dan akar dari titik tumbuh setek batang singkong menyebabkan aliran unsur hara dan makanan tidak selancar dan sebaik bila akardan batang berasal dari biji, tumbuh serasi dari akar, batang daun.  Hal ini penting dalam suplai bahan makanan  dari akar maupun sebaliknya menyimpan cadangan makanan dari daun ke ubi. Dan umursel  bahan stek yang digunakan akan  menjadi sangat tua (untuk umur sel dan jaringan) sehingga tidak optimal   dalam mendukung  pertumbuhan tunas dan akar yang baru.  Sebaik apapun pertumbuhan akar dan daun makapada saat melewati batang stek yang sudah tua maka akan terhambat, akan lebih  baik bila tunas batang yang baru memiliki akar langsung dari batang baru   tersebut, hal ini akan membuat aliran bahan makanan maupun cadangan   makanan akan lebih lancar. Dan jumlah akar yang dapat dijadikan ubi akan  semakin banyak.
Oleh sebab itulah pada saat stek sudah menumbuhkan beberapa batang baru dan  sudah tumbuh tinggi, maka batang yang sudah tumbuh tersebut, di urug lagidengan media tanam yang subur sampai beberapa mata tunas dari batang yangtumbuh tersebut terurug media tanam. Titik tumbuh dari batang yang terurug media tanam tersebut diberi hormon  akar sehingga menumbuhkan akar-akar baru yang panjang banyak, hal ini dapat  meningkatkan jumlah ubi yang dihasilkan.

Mengalokasikan Hasil Fotosintesis ke ArahPengisian Umbi Singkong

Pada saat tajuk atau jumlah daun sudah cukup  banyak dalam menghasilkan makanan, maka pertumbuhan vegetatif tajuksebaiknya dihentikan atau di hambat, dan alokasi makanan sebagian besar di arahkanpada pengisian dan pembesaran umbi singkong.  Untuk itu bisa dilakukan pemangkasan pucukdaun singkong dan diolesi dengan tepung atau gel yang sudah diberi zat   penghambat tumbuh (Packlobutrazol dosis 500 mg/l).  Dan untuk dapat mengarahkan makanan ke arahakar maka di semprot dengan hormon akar dan pengisian atau pembesaran organ.  Bisa digunakan gabungan hormon IBA 2 mg/l, NAA 2 mg/l dan 2,4 D 2 mg/l, GA32 mg/l.  Disamping hormon maka dapat ditambahkan KNO3 sebanyak 2 g/l.  Ramuan hormon ini diberikan atau disemprotkan ke akar, penyemprotan   dilakukan dengan interval sekitar seminggu 3 kali. Proses penghambatanvegetatif tajuk sebaiknya diakhir dari pertumbuhan tanaman singkong (sampaimasa panen), sebaiknya tidak lebih dari 3-4 bulan.

Demikian uraiantulisan ini   mohon   maaf bila kurang jelas.   Semoga bermanfaat.
Terima kasih

Bogor, 18 April2013
Edhi sandra
www.eshaflora.blogspot.com
fb : edhi sandra (edhisms@gmail.com)
email : edhisms@gmail.com
            edhi_sandra@yahoo.co.id

01 September 2011

SUMBANG PEMIKIRAN TEKNOLOGI TUNGGUL PADA POHON SENGON

Esha Garden - Thursday, September 01, 2011
Kepala Unit Kultur Jaringan Bagian Konservasi Tumbuhan, Departemen KSHE, Fahutan IPB Bogor
Kepala Laboratorium Bioteknologi Lingkungan PPLH IPB Bogor


I. Teknologi Tunggul

Diangkatnya artikel tentang teknologi Tunggul di dalam Trubus bulan ini, September 2011, edisi 502. membuat saya menjadi termotivasi agar teknologi tersebut dapat diterapkan di masyarakat, karena memang betul seperti yang diuraikan dalam artikel, bahwa teknologi ini dapat menghemat biaya cukup signifikan, dan teknologi ini sangat baik kalau di masyarakatkan.
Saya mau menambahkan dan melengkapi, berdasarkan sudut pandang saya dari segi fisiologi tumbuhan dan pengalaman yang saya dapatkan di dalam menggeluti kultur jaringan, dengan harapan teknologi tunggul ini dapat mendongkrak keuntungan bagi petani. Adapun pemikiran saya ini masih merupakan pemikiran yang masih memerlukan evaluasi untuk meyakinkan kebenarannya dan bersifat sangat relatif. Saya berharap pemikiran ini dapat menjadi bahan pemikiran kita semua di dalam menganalisa topik ini. Dan memotivasi agar kita meningkatkan kreativitas dan inovasi.

II. Pemikiran Dasar

Kelebihan tumbuhan dibanding manusia dan hewan adalah adanya titik meristem. Titik meristem ini merupakan sejumlah sel yang selalu muda dan tidak pernah tua. Di dalam tumbuhan ada sel-sel yang mempunyai karakter ini yaitu: meristem apikal, meristem lateral, meristem interkalari dan kambium. Dengan adanya titik meristem inilah yang menyebabkan tumbuhan dapat tumbuh terus tanpa batas.

Adanya sistem hormonal di dalam tumbuhan yaitu sitokinin (hormon tunas) dihasilkan di ujung akar sedangkan target kerjanya adalah pucuk/tunas, sedangkan auksin (hormon akar) dihasilkan diujung tunas padahal target kerjanya adalah akar. Hal ini menyebabkan interaksi saling silang yang sangat menakjubkan. Sistem inilah yang mneyebabkan keseimbangan antara tajuk dengan akar, seperti lambang ”Kalpataru”. Sistem ini juga yang menyebabkan terjadinya fenomena ”Dominasi Apikal”.

Perlu di pahami bahwa ada perbedaan umur individu dengan umur sel atau jaringan dalam satu tanaman yang sama. Misalnya: Manusia umurnya bisa sampai puluhan tahun tapi umur kulit mukanya kemungkinan berganti beberapa waktu tertentu (dalam hitungan hari atau bulan), tidak sampai puluhan tahun. Hal ini harus kita sadari di dalam memahami masalah Penuaan (aging) atau bahkan sebaliknya mengenai Peremajaan (jouvenilisasi).

Penuaan dan Peremajaan dapat berlangsung secara alami, tapi bisa juga dengan cara dibuat atau dipercepat atau bahkan sebaliknya. Dalam hal ini perlu dikuasai pemahaman tentang dominasi sistem hormonal di dalam tumbuhan tersebut. Pemahaman ini sangat penting di dalam kita meremajakan tunggul sengon tersebut dan dapat menghasilkan trubusan baru yang bersifat remaja (sifat remaja berarti memiliki pertumbuhan yang cepat dan baik dan juga umur yang panjang, tidak cepat mati)

Setiap mahluk hidup termasuk tumbuhan memilki prinsip efisiensi dan efektifitas. Hal ini merupakan dasar di dalam kemampuannya melakukan survival. Setiap bagian tumbuhan yang tidak diperlukan maka akan dieliminir atau menjadi redumenter. Demikian sebaliknya bagian yang diperlukan akan dikembangkan dan ditingkatkan. Hal ini perlu dipahami di dalam menjaga fungsi akar dari tunggul pohon sengon sebelumnya agar tetap hidup.

Suatu konsekuensi logis bahwa bila tumbuhan cepat tumbuh, dan produktivitasnya tinggi maka sudah dipastikan akan membutuhkan bahan baku dan kebutuhan dasar yang besar pula. Kesesuaian input dan output inilah yang harus disadari dan dipahami. Bila kita ingin cepat tumbuh dan cepat besar berarti kita juga harus mau menyediakan bahan bakunya dalam jumlah yang memadai.


III. Pembahasan Teknologi Tunggul Sengon

Pemanenan Sengon dengan ketinggian 10 cm menurut saya sudah baik. Tapi disamping itu, hal lain yang perlu dilakukan adalah menggali atau membersihkan tanah di sekitar tunggul sampai ke dalaman sekitar 0, 5 sampai 1 meter. Pembersihan bagian tunggul ini sebenarnya untuk menyediakan permukaan batang pohon untuk tumbuhnya tunas baru tanpa tersentuh dengan tanah yang dapat menyebabkan kebusukan. Tunggul yang sudah bersih tersebut baru pohonnya ditebang. Bila pohon ditebang maka yang tersisa adalah bagian akarnya. Bila kita ingat keseimbangan tajuk dan akar dan juga pohon kalpataru, maka sebenarnya di dalam tanah masih sangat banyak jaringan atau sel-sel akar yang masih hidup, berarti diperkirakan sebesar tajuk pohon tersebut. Berati cadangan makanan yang ada di dalam jaringan akar tersebut masih dalam jumlah besar. Cadangan makanan tersebut dipakai untuk keperluan operasional hidup semua sel dan juga untuk pertumbuhan baru. Ke arah mana pertumbuhan akan terjadi?

Diketahui bahwa hormon sitokinin (hormon tunas) dihasilkan diujung akar dan ditransfer ke atas dengan target pucuk/tunas. Akan tetapi setelah pohon di tebang, maka terjadilah akumulasi hormon di bagian pangkal tunggul. Apabila akumulasi hormon sitokinin yang berasal dari ujung akar tersebut mencapai konsentrasi yang tepat untuk memicu tumbuhnya tunas maka akan tumbuhlah tunas-tunas baru di sekitar tunggul tersebut. Tumbuhnya tunas baru ini sangat cepat karena jumlah cadangan makanan yang masih memadai, dan juga konsentrasi hormon sitokinin yang tinggi. Disamping itu tidak ada penghambatan pertumbuhan tunas yang biasanya disebabkan oleh auksin. Tidak adanya auksin disebabkan sumber auksin ada diujung tunas dan itu sudah ditebang. Hal inilah yang membuat trubusan tumbuh dengan sangat cepat.

Pertumbuhan trubusan yang cepat sebenarnya bukan disebabkan fungsi akarnya tapi lebih kepada ketersediaan cadangan makanan di dalam akar, koensentrasi sitokinin yang tinggi dan tidak adanya penghambatan auksin. Akar akan mulai berfungsi pada saat proses transpirasi dan proses fotosintesis terjadi. Bila proses transpirasi dan fotosintesis yang terjadi pada trubusan tersebut belum banyak karena jumlah daunnya yang masih sedikit, padahal jumlah akar yang ada sebenarnya adalah sebesar tajuk pohon awalnya. Bila dalam waktu yang cukup lama tidak berfungsi bahkan cadangan makanannya dikuras terus untuk pertumbuhan trubusan, maka tumbuhan tersebut akan melakukan efisiensi dengan mengurangi sebagian besar sel dalam akar untuk membiayai pertumbuhan trubusan tersebut. Padahal kalau saja proses transpirasi dan fotosintesisnya sudah berlangsung dengan cukup besar maka fungsi akar untuk menyerap makanan dan mengangkut air dapat berfungsi dengan baik dan sel-sel akar tidak akan terkurangi atau tidak teredumenter. Hal ini cukup penting karena ukuran akar yang besar yang dapat berfungsi dengan baik akan berpengaruh di dalam meningkatkan produktivitas.

Trubusan tunas baru yang tumbuh sebaiknya jangan dikurangi terlalu terburu-buru. Kita memerlukan jumlah daun / tajuk yang besar yang berfungsi agar trubusan dapat cepat mandiri. Mandiri dalam hal ini maksudnya trubusan tersebut sudah mampu menghasilkan makanannya sendiri dengan adanya proses transpirasi dan fotosintesis tersebut. Semakin banyak pucuk, tunas, tajuk, maka akan semakin banyak hasil fotosintesis yang dihasilkan, berarti semakin banyak energi yang dihasilkan. Semakin banyak tunas yang dihasilkan berarti akan semakin banyak hormon auksin yang diproduksi. Hormon auksin ini diperlukan untuk menjaga pertumbuhan akar yang tidak mendapatkan auksin lagi akrena pohonya ditebang. Dengan dihasilkannya auksin kembali oleh trubusan yang baru, maka auksin akan tersuplai kembali ke bagian akar dan akar dari tunggul tersebut dapat tumbuh kembali. Dengan demikian maka akar tunggul dapat berfungsi optimal. Seleksi trubusan yang dibiarkan tumbuh sebaiknya tidak harus satu, tapi bisa dibuat 3 – 4 trubusan.

Terkadang kita takut karena keterbatasan tertentu, padahal kalau kita cermati keterbatasan tersebut maka kita dapat mengantisipasinya, dan kita tidak perlu takut untuk berinovasi dan berkreasi. Membiarkan trubusan tumbuh sampai 3 – 4 trubusan membuat kita takut kekurangan makanan sehingga batang akan kecil-kecil dan tidak baik. Padahal secara logika kalau memang makanannya kurang maka kita dapat memberikannya dalam jumlah yang memadai. Maka jangan segan-segan memupuk satu pohon yang memang terdiri dari 3 – 4 trubusan dalam jumlah yang memadai. Sebagai perumpamaan untuk memberikan makanan yang bergizi dalam jumlah memadai bukan tergantung pada besarnya piring, tapi lebih kepada komposisi dan ragam makanan bergizi yang ada dalam piring tersebut. Berarti bila kita takut tempat tumbuhnya tidak mampu menyuplai makanan karena terdiri 3-4 trubusan, maka tidak perlu khawatir karena yang penting kita harus mensuplai makanan dalam jumlah yang besar dan siap pakai, agar pertumbuhan dapat optimal. Dalam hal ini manajemen pemupukan baik dengan pupuk organik maupun dengan pupuk hayati harus direncanakan agar memadai untuk pertumbuhan 4 trubusan tersebut. Secara logika kita untung, kalau bisa tumbuh 4 trubusan kenapa hanya satu yang kita tumbuhkan.

Kekhawatiran sebagian orang adalah adanya proses penuaan pada sistem perakaran tunggul karena umunya memang sudah lama. Dengan demikian ada ketidak serasian atau keseimbangan dari pertumbuhan trubusan yang tinggi yang menuntut suplai makanan dan air dalam jumlah besar sementara sistem perakaran tidak mampu menanganinya karena sudah semakin tua. Untuk mengatasi hal ini kita dapat melakukan sistem bypass, maksudnya kita menumbuhkan akar baru pada batang trubusan baru tersebut. Hal ini akan lebih serasi dan sesuai karena semuanya masih dalam pertumbuhan yang tinggi. Untuk dapat membuat hal ini maka pada bagian pangkal dapat kita semprot dengan auksin dalam jumlah yang memadai kemudian tunggul dan bagian pangkal trubusan diurug dengan tanah sampai tertutupi semua, dengan harapan akan tumbuh akar baru dari batang trubusan tersebut. Tumbuh nya akar baru dari batang trubusan ini akan sangat membantu membuka saluran baru di dalam penyerapan makanan dari dalam tanah, sehingga suplai bahan baku dapat lebih optimal

Untuk mempercepat pertumbuhan akar baru disetiap batang trubusan maka kita dapat memberikan hormon akar pada bagian pangkal trubusan tersebut. Dengan perlakuan hormon ini akan mempercepat dan memperbanyak jumlah akar dengan demikian pertumbuhan dapat di optimalkan kembali. Kombinasi hormon akar yang digunakan adalah NAA dan IBA agar pertumbuhan lebih optimal, cepat besar dan banyak.


IV. Penuaan (Aging) dan Peremajaan (Jouvenilisasi)

Pertumbuhan suatu tanaman digambarkan sebagai kurva sigmoid, yaitu suatu kurva yang pada tahap awal pertumbuhan sangat lambat, berangsur meningkat, bertambah cepat, kemudian terakumulasi sangat cepat kemudian berkurang, melambat dan akhirnya ada suatu titik yang merupakan titik optimal dari suatu tumbuhan. Setelah itu pertumbuhan akan berkurang terus.
Sebelum sampai titik optimal, pertumbuhan meningkat terus sampai sangat cepat, dalam hal ini sebenarnya dapat didefinisikan jumlah sel yang tumbuh jauh lebih besar dari pada sel yang mati. Sedangkan pada titik optimal, jumlah sel yang tumbuh setara dengan sel yang mati, jadi seimbang, maka diidentikkan dengan tidak ada pertumbuhan lagi. Dan setelah titik optimal, jumlah sel yang mati berangsur menjadi jauh lebih banyak di bandingkan sel yang hidup. Tahapan inilah yang disebut penuaan.
Berarti kita dapat mengatakan bahwa bila jumlah sel yang mendominasi suatu tumbuhan adalah sel muda, maka tumbuhan tersebut bersifat muda (jouvenil). Bila suatu tumbuhan yang mendominasinya sel dewasa, maka tumbuhan tersebut bersifat dewasa. Bila suatu tumbuhan yang mendominasinya sel tua, maka tumbuhan tersebut bersifat tua.


V. Membuat Trubusan Sengon Menjadi Jouvenil

Bila trubusan sengon dibiarkan tumbuh apa adanya, maka cadangan makanan yang ada di dalam akar akan banyak terkuras, hal ini akan menyebabkan redumenternya akar. Banyak sel akar yang akan mati dan menyebabkan terjadinya pengeroposan jaringan di mana-mana, hanya sel yang masih diperlukan saja yang akan tetap hidup. Tapi karena sel yang ada tersebut sudah berumur tua, maka viabilitasnya juga sangat berkurang dan sel-sel tersebut akan menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat negatif terhadap pertumbuhan tanaman, seperti zat etilen, dan zat penghambat lainnya.
Oleh sebab itulah maka kita harus membuat suatu kondisi yang pada akhirnya jumlah sel muda harus lebih banyak dan lebih dominan dari pada sel tua dari akar tersebut, berarti kita perlu memacu pertumbuhan trubusan dengan secepat mungkin.
Kita perlu membuat akar baru dari batang trubusan agar terjadi struktur maorfologi baru yang tidak menggunakan lagi sel tua dari akar yang lama, dengan demikian struktur morfologi baru akar yang tumbuh tersebut akan tumbuh dengan baik mengikuti pertumbuhan trubusan tersebut.
Membantu dominasi jouvenil tersebut dengan memberikan dominasi hormon auksin & sitokinin. Pemberian hormon diberikan pada tahap-atap awal pertumbuhan trubusan sampai terlihat trubusan sudah mulai rindang.


VI. Mempercepat Pertambahan Diameter Batang Trubusan

Tanaman sengon yang tajuknya rindang dan lebat sebenarnya sangat baik karena dapat menghasilkan produk fotosintesis yang banyak, tapi kalau pertumbuhan tajuk terus menguras energi maka pertumbuhan diameter batang akan menjadi lambat pertumbuhannya. Untuk itu kita bisa mengarahkan agar pertumbuhan batang trubusan sengon dapat lebih cepat besar, yaitu::
  • Media tanam berupa tanah urugan yang dicampur dengan pupuk kandang dan kompos.
  • Memberikan pupuk organik cair terfermentasi dan pupuk hayati.
  • Memberikan komposisi hormon 2,4 D dan kinetin secara seimbang ditambah dengan giberelin.
  • Memberikan zat penghambat packlobutrazol.


VII. Panen Berulang Trubusan Sengon

Secara teoritis, sepanjang kita dapat menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya suatu tanaman, maka tanaman tersebut akan dapat tumbuh seterusnya. Demikian pula dengan Trubusan sengon akan dapat terus dipanen berulang dengan syarat :
  • Mengantisipasi terjadinya proses penuaan pada tunggul dan dapat membuat agar trubusan tumbuh dengan cepat sehingga dominasi adalah sel muda, sehingga trubusan akan bersifat jouvenil kembali.
  • Membuat trobosan akar baru yang tumbuh dari batang trubusan untuk mengurangi pengrauh penuaan dari tunggul akar yang menua.
  • Menyediakan urugan dan media tanamnya yang subur dan memadai, serta pemupukan yang melebihi dari biasanya, disesuaikan dengan jumlah trubusan yang ada.
  • Mengatur arah pertumbuhan tanaman kearah membesarnya diameter batang, agar batang menjadi cepat besar.
  • Pada saat pemanenan yang berikutnya tanah urugan yang tadinya ditambahkan dengan sistem tanggul (dalam ukuran yang besar) yang dapat dibuka pasang, maka tanggulnya dibuka dulu sehingga bagian pangkal batang trubusan akan dapat dibuka sekitar 0, 5 sampai 1 meter. Kemudian setelah dipanen/ ditebang, semprotkan hormon sitokinin di pangkal tunggul tersebut dalam jumlah yang memadai. Trubusan akan muncul di sekitar pangkal tunggul tersebut, biarkan membesar semuanya. Setelah tinggi sekitar 2 meter dikurangi secara bertahap sampai jumlah tunggul yang kita inginkan. Bila ingin lebih banyak konsekuensinya kita harus memberinya makan jauh lebih banyak lagi.



Penutup
Demikian pemikiran dari saya, semoga bermanfaat. Terima kasih


Bogor, 30 Agustus 2011

06 August 2011

Pelatihan Pemanfaatan Hormon Untuk Berbagai Tujuan (Privat)

@Cahangon75 - Saturday, August 06, 2011
Latar Belakang
Penerapan teknik budidaya di masyarakat sudah mulai meningkat baik. Berbagai perlakuan mulai dilakukan masyarkat untuk dapat mengkatkan kualitas hasil budidaya. Berbagai macam dan ragam produk yang beredar dipasaran membuat masyarakat menjadi bingung, karena menurut penjualnya produk tersebut bagus, semuanya bagus…lalu bagaimana menerapkan semua produk tersebut? Lalu apa bedanya antara pupuk, obat, hormone, organik, mikroba, enzim dan sebagainya menambah pusing para pembudidaya.

Seringkali memakai berbagai macam produk bukan membuat produktivitas dan kualitas menjadi lebih baik tapi malah membuat tanaman menjadi mati. Tapi keinginan masyarakat untuk dapat membuat tanamannya dapat tumbuh dengan baik membuat mereka tidak mau jera untuk terus mencoba. Tapi dengan persepsi dan wawasan yang simpang siur dan serba terbatas membuat merek tidak mampu membuat program budidaya yang baik kea rah yang diinginkan.
Demikian pula dengan para produsen yang ingin membuat produk pupuk, obat, dll hanya mengira-ngira berdasarkan landasan ilmiah yang serba terpotong-potong sehingga menghasilkan ramuan pupuk yang kurang optimal.

Seharusnya kita dapat mengetahui perbedaan dan manfaat dari pupuk anorganik, pupuk organic, pupuk mikroba, hormone, enzim kompos dll sehingga kita dapat meramunya sesuai dengan perannya masing-masing dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan.

Pertumbuhan tanaman ditentukan oleh pupuknya, sementara arah dan kualitas dari pertumbuhan dan perkembangan sangat ditentukan oleh hormone. Dengan pemberian hormone yang tepat, baik komposisi dan konsentrasinya, maka kita dapat mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman apapun. Karena pada prinsipnya semua tumbuhan mempunyai persamaan sifat dan karakter.

Pengetahuan, wawasan dan pemahaman kita tentang horomon menjadi sangat penting. Untuk itulah maka Esha Flora membuka Pelatihan khusus tentang Hormon. Dalam pelatihan ini diajarkan semua hal mengenai hormone dan penerapannya yang tepat guna sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Nama Pelatihan : Pelatihan Pemanfaatan Hormon Untuk Berbagai Tujuan. (Privat)
  2. Biaya : Rp 1.500.000
  3. Waktu : Satu hari (Waktu berdasarkan perjanjian)
  4. Jam : 09.00 – 16.00
  5. Tempat : Esha Flora Plant and Tissue Culture - Jln. Kemuning Blok M 6 no 9 Taman Cimanggu Bogor
  6. Fasilitas : Pelatihan kit, makan siang dan snack, souvenir, sertifikat


Adapun materi pelatihan seperti di bawah ini

PEMANFAATAN HORMON UNTUK BERBAGAI TUJUAN DAN PEMBUATAN PRODUK HORMON KOMERSIAL
I. Materi :
Pendahuluan
1. Budidaya tanaman yang sangat sederhana
2. Pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
3. Bagaimana kita dapat mengendalikan pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang kita inginkan.
4. Kebutuhan tanaman untuk dapat tumbuh dan kembang.


Tujuan
1. Mampu memahami kondisi tanaman
2. Mampu mengevaluasi kondisi tanaman
3. Mampu mengarahkan pertumbuhan tanaman
4. Mampu melakukan riset ramuan hormon
5. Mampu membuat ramuan hormon untuk tujuan tertentu
6. Mampu membuat produk komersial tanaman

Pengenalan macam hormon / zpt
4. Zat Penghambat (bukan hormon)


Karakteristik & Sifat Hormon / zpt:
a. Tidak ikut dalam proses metabolisme, b. Satu hormon dua fungsi, c. Hormon dalam satu kelompok saling sinergis, d.Hormon auksin dan sitokinin saling kontra, e.Giberelin bersifat penguatan dan percepatan

Prinsip Penggunaan Hormon / zpt
1. Hormon bersifat profokator
2. Hormon mempunyai konsentrasi optimal untuk fungsi tertentu
3. Hormon mempunyai beberapa fungsi dengan konsentrasi yang berbeda
4. Meningkatkan dan menguatkan fungsi tertentu.
5. Percepatan dan penghambatan pertumbuhan
6. Dominasi hormon dan fisiologi tanaman
7. Relativitas kepekaan tanaman terhadap hormon
8. Ciri tanaman dan kandungan hormon endogennya

Meramu hormon/ zpt untuk tujuan tertentu
1. Tentukan tujuan yang ingin kita capai.
2. Inventarisasi semua faktor yang terkaoit kea rah tujuan tersebut.
3. Tentukan konsentrasi dan dosis setiap faktor mengacu pada komposisi MS
4. Uji coba dan evaluasi 1
5. Perbaikan komposisi dan konsentrasi 1
6. Uji coba dan evaluasi 2
7. Perbaikan komposisi dan konsentrasi 2
8. Uji coba yang lebih luas dan evaluasi
9. Penyempurnaan.
10. Pelepasan produk ke pasar

Cara Kerja zpt (Zat Pengatur Tumbuh) Pemberian Perlakuan ke Tanaman
1. Membuat Produk Zpt
2. Produk Zpt murni
3. Produk Zpt dengan unsure hara
4. Produk Zpt, Unsur hara, organic
5. Produk Zpt, unsure hara, organic dan mikroba

Zpt Organik dan Pemanfaatannya
1. Auksin : kecambah, air kelapa, ubi, pisang ambon, kentang
2. Sitokinin: antanan, buncis, sirih, brotowali,
3. Giberelin: eceng gondok, buah, kacang hijau

Biaya Pembuatan dan Harga Produk
1. Penentuan biaya dasar bahan dan operasional
2. Penentuan harga dasar pokok
3. Penentuan harga distributor
4. Penentuan harga konsumen

Mikroba dan Hormon
1. Eksplorasi dan isolasi
2. Multiplikasi dan pembuatan biang
3. Membuat tidur atau dorman
4. Penyimpanan dan pengepakan yang baik

Ramuan Hormon untuk tujuan tertentu:
1. Membuat buah partekarp (buah tanpa biji)
2. Membuat herbisida yang aman dan ramah lingkungan
3. Membuat buah dan bunga yang besar / raksasa.
4. Membuat tangkai bunga yang pendek dan kokoh
5. Membuat tanaman hias yang kompak, tebal dan kokoh
6. Membuat tanaman berbunga dan berbuah di luar musim
7. Membuat mutasi dan variegata


II. Praktek:
1. Melarutkan hormon.
2. Membuat larutan stok hormon / zpt
3. Membuat ramuan hormon / zpt
4. Membuat perbanyakan mikroba
5. Menidurkan atau membuat dorman mikroba
6. Eksplorasi dan isolasi mikroba
7. Pembuatan produk kompos kering yang mengandung hormon
8. Pembuatan pupuk organik cair yang mengandung hormon

Semoga Indonesia dapat lebih majulagi dengan penerapan budidaya yang lebih baik lagi.
Edhi Sandra hp. 08128213720, Hapsiati hp. 0817154375, www.eshaflora.com, edhisms@gmail.com, edhi_sandra@yahoo.co.id

Gambar 1. Hormon dapat mengarahkan bentuk organ tanaman lebih kokoh , tebal dan kompak (gambar: anthrurium)


Gambar 2. Komposisi Giberelin, sumber energi dan vitamin dapat membuat bunga menjadi lebih besar dan tahan lama


Gambar 3. Dengan meramu hormon tunas, dicampur dengan hormon yang dapat mempercepat pertumbuhan, ditambah dengan sumber energi yang memadai serta ditambah dengan vitamin maka pertumbuhan dapat tumbuh dengan cepat. (gambar: bibit gaharu)

Gambar 4. Komposisi yang tepat antara hormon daun dan hormon bunga serta ditambah dengan percepatan pertumbuhan, ditunjang dengan sumber energi yang memadai maka anthurium dapat tumbuh daun dan bunga berbaregan dengan baik.


Gambar 5. Pemberian hormon dan mikroba serta sumber energi yang tepat maka dapat mengurangi penggunaan pupuk dan tanaman dapat tumbuh dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik

Gambar 6. Komposisi hormon giberelin dan auksin yang pas, ditambah dengan bahan organik yang lengkap serta vitamin yang lengkap membuat buah lebih besar, manis, tidak pahit dan renyah.


Gambar 7. Penguasaan hormon dan media tumbuh kita dapat mengarahkan pertumbuhan tanaman (gambar: kultur Tiara)

26 June 2010

Pengaruh Konsentrasi BAP (Benzylaminopurin) Terhadap pertumbuhan Mimba (Azadirachta indica A. Juss) Secara Kultur In Vitro

Esha Garden - Saturday, June 26, 2010
Azadirachta indica A.JussImage by lalithamba via Flickr
RINGKASAN: Eka Ariana. E. 03400015. Pengaruh Konsentrasi BAP (Benzylaminopurin) Terhadap pertumbuhan Mimba (Azadirachta indica A. Juss) Secara Kultur In Vitro, di Bawah Bimbingan Bapak Ir. Edhi Sandra, M.Si dan Bapak Ir. Agus Kardinan, M.Sc. APU.

Mimba (Azadirachta indica A. Juss) merupakan jenis pohon yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Mimba dapat dimanfaatkan sebagai obat anti hama atau bahan dasar pestisida nabati, menghasilkan minyak mimba, bahan pembuatan sabun, pasta gigi, tusuk gigi dan kosmetika, lilin, pupuk, dan bahan obat. Mimba banyak digunakan untuk kegiatan penghijauan terutama pada lahan yang kurang subur atau gersang.

Perbanyakan mimba saat mi dilakukan secara generatif dengan biji dan secara vegetatif dengan stek ranting. Pada perbanyakan generatif permasalahan yang dihadapi adalah dihasilkan sifat tanarnan yang tidak sania dengan pohon induk, masa produksi Iebih lama dan permasalahan ketersediaan biji yang terbatas. Perbanyakan secara vegetatif secara alami tidak dapat menghasilkan akar yang baik sehingga sifat tanaman mudah roboh karena tidak memiliki akar tunggang dan umur tanaman biasanya lebih pendek.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan perbanyakan mimba secara kultur jaringan dan sumber eksplan biji dan tunas pucuk serta mengetahui pengaruh konsentrasi BAP terhadap pertumbuhan plantlet dan biji dan tunas pucuk. Hasil yang dtharapkan adalah dapat memberikan informasi mengenai konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan mimba.

Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian inti. Penelitian pendahuluan dilakukan penanaman eksplan dan biji dan tunas pucuk. Parameter yang diamati adalah keberhasilan hidup masing-masing sumber eksplan, pengaruh waktu pada sumber eksplan biji dan keefektifan teknik Sterilisasi pada sumber eksplan dan pucuk. Penelitian pendahuluan tidak menggunakan rancangan percobaan. Penelitian inti dibagi menjadi dua tahap yaitu pra perlakuan dan perlakuan. Pada pra perlakuan eksplan dipindahkan ke media baru yang memiliki komposisi dasar yang sama dengan media saat penelitian pendahuluan kemudian dilihat persentase hidup masing-masing sumber eksplan. Pada perlakuan parameter yang diukur secara kuantitatif adalah jumlah tunas, jumlah daun, tinggi dan pertumbuhan akar, sedangkan parameter kualitatif yang diamati adalah perubahan warna daun dan pertumbuhan kalus.

Pada penelitian inti digunakan rancangan acak Iengkap satu faktor dengan ulangan tidak sama. Perlakuan yang diberikan adalah konsentrasi BAP baik untuk plantlet dan biji maupun pucuk. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dilakukan uji Duncan. Analisis data dilakuakan dengan menggunakan perangkat  lunak Statistical Analysis System (SAS).

Pada penelitian pendahuluan, penanaman bahan ekspian dan biji dilakukan dalam tiga tahap dengan waktu yang berbeda tetapi dengan teknik sterilisasi yang sama. Pada penanaman pertama saat biji berumur satu bulan, daya tumbuh biji mencapai 48.33% atau sebanyak 29 biji, sedangkan pada penanaman kedua saat biji berumur tiga bulan, persen tumbuhnya hanya 1,67% atau satu biji dan pada penanaman  ketiga persen tumbuhnya 0% karena tidak ada satu bijipun yang mengalami pertumbuhan. Berdasarkan persamaan  linier  y = -24.165x + 64.997 daya tumbuh biji mimba diduga dapat bertahan sekitar dua bulan, oleh karena itu biji mimba harus segera ditanam setelah panen.

Penanaman bahan eksplan dan pucuk dilakukan tiga kali dengan teknik sterilisasi yang berbeda. Pada penanaman dengan sterilisasi menggunakan baycline, permasalahan yang terjadi adalah terjadinya kontaminasi yang relatif cepat yaitu tiga hari setelah tanam dan setelah satu minggu semua eksplan mati.

Pada penanaman dengan sterilisasi kedua menggunakan alkohol, HgC12 dan baycline, permasalahan yang terjadi adalah pencoklatan atau browning pada eksplan yang terjadi hanya satu hari setelah penanaman. Pada penanaman ketiga dengan sterilisasi menggunakan Hg Cl2, baycline dan betadine, didapatkan pertumbuhan eksplan yang cukup baik. Penggunaan HgC12 dan baycline secara berurutan menghasilkan kondisi yang lebih menguntungkan karena kombinasi keduanya merupakan usaha sterilisasi berlapis baik dari bakteri, jamur maupun kotoran-kotoran lain yang menempel pada permukaan eksplan. Penggunaan HgCI2 dan baycline terbukti lebih efektif dalam sterilisasi eksplan mimba dibandingkan dengan baycline saja atau dengan alkohol, ini terbukti dengan tetap bertahan hidupnya eksplan.

Pada penelitian inti kegiatan pra perlakuan, eksplan yang berasal dari biji dan pucuk dipotong-potong dan ditanam kedalam media pra perlakuan baru yang memiliki komposisi dasar yang sama dengan media pada penelitian pendahuluan. Setelah satu bulan pengamatan ternyata persentase hidup eksplan yang berasal dari biji (89.65%) lebih tinggi jika dibandingkan eksplan yang berasal dan pucuk. Hal  ini diduga karena kondisi eksplan dan biji lebih steril sehingga tidak banyak mendapat gangguan jamur, bakteri dan kotoran.

Penambahan media Murashige dan Skoog dengan zat pengatur tumbuh BAP memberi pengaruh yang berbeda-beda terhadap parameter pertumbuhan plantlet yaitu jumlah tunas, jumlah daun, tinggi pada plantlet dan biji. Pengaruh konsentarasi BAP terhadap jumlah tunas berbeda pada tiap minggu pengamatan. Pada minggu pengamatan pertama, ketiga, keempat, kelima, kesembilan sampai dengan minggu ke-12 pengamatan didapatkan pengaruh konsentarasi BAP terhadap jumlah tunas yang tidak berbeda. Namun pada minggu kedua, keenam, ketujuh dan kedelapan didapatkan hasil yang berbeda. Perbedaan respon plantlet ini  dipengaruhi oleh faktor ketersediaan unsur hara dalam media, dan berhubungan erat dengan kemampuan multiplikasi tanaman yang berbeda-beda.

Pada parameter pertambahan jumlah daun, pada minggu kelima pengamatan perlakuan BAP terhadap jumlah daun memiliki pengaruh yang berbeda, sedangkan pada minggu lainnya konsentrasi BAP memberikan pengaruh yang sama Perlakuan BAP 2%  memiliki  tingkat pertumbuhan tunas yang lebih  baik dibandingkan perlakuan lainnya Hal ini  diduga karena BAP diserap oleh tanaman dengan baik sehingga pembelahan sel yang terjadi  lebih baik.

Pada parameter tinggi, pada minggu keempat sampai dengan minggu kedelapan memperlihatkan pengaruh yang berbeda, sedangkan pada minggu yang lain pengaruh konsentrasi terhadap tinggi terlihat sama. Perlakuan BAP 2% memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap tinggi plantlet. Perbedaan respon plantlet mi diduga karena adanya mekanisme penonaktifan zat pengatur tumbuh yang diberikan sehingga menghambat pertumbuhan plantlet.

Bookmark and Share
Enhanced by Zemanta

21 June 2010

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic acid) dan IBA (Indole Butryric acid) terhadap Perakaran Eksplan Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) dalam Kultur In Vitro serta Aklimatisasinya

Esha Garden - Monday, June 21, 2010
RINGKASAN: Ariani Dwi Astuti. E 34101020. 2005. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic acid) dan IBA (Indole Butryric acid) terhadap Perakaran Eksplan Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) dalam Kultur In Vitro serta Aklimatisasinya.

Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Ir. Edhi Sandra, M.Si, Pembimbing Anggota Ir. Ervizal A. M. Zuhud, MS.

Tumbuhan Gaharu (A. mulaccensis Lamk.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan tropis yang menghasilkan resin atau produk damar yang bernilai ekonomi tinggi. Eksplorasi atau pemungutan hasil Gaharu hingga saat ini masih dilakukan hanya berorientasi pada hasilnya saja tanpa memperhatikan kelestariannya yaitu dengan cara menebang pohon Gaharu yang tumbuh secara alami di hutan. Cara pemungutan seperti mi dapat mengancam kelestarian dan jenis tanaman gaharu tersebut sehingga diperlukan upaya pelestarian.

Dalam penelitian ini dicoba pendekatan lain sebagai upaya pelestarian dengan konservasi in -vitro. Produksi tanaman Gaharu dengan teknik kultur jaringan dalam pembudidayaan, diharapkan memiliki keberhasilan aklimatisasi yang tinggi. Salah satu keberhasilan aklimatisasi antara lain dipengaruhi oleh kondisi eksplan, salah satunya keberhasilan perakaran, sehingga diperlukan suatu penelitian mengenai perakaran Gaharu secara in vitro dengan menggunakan zat pengatur tumbuh antara lain NAA dan IBA dengan berbagai macam konsentrasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh NAA dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan Gaharu secara in vitro khususnya pembentukan perakaran dengan berbagai macam konsentrasi serta mengetahui persentase hidup eksplan Gaharu pada saat aklimatisasi, sehingga hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah diperoleh metode perakaran Gaharu secara in vitro dalam upaya pengembangan pengadaan bibit untuk budidaya serta pelestarian Gaharu.

Penelitian dilakukan di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Pengambilan data primer dilakukan selama 5 bulan dan bulan Februari 2005 sampai bulan Juni 2005.
Percobaan ini terdiri dari 2 faktor yaitu dengan penambahan NAA dan IBA pada media tanam MS 0. Bahan tanaman yang digunakan adalah Gaharu hasil sub kultur.

Peubah pertumbuhan yang diamati terbatas hanya pada pertumbuhan vegetatif yang meliputi pertumbuhan akar dengan melihat jumlah akar dan panjang akar yang tumbuh pada setiap eksplan, tinggi eksplan, jumlah tunas daun yang baru tumbuh dan jumlah daun yang tumbuh pada eksplan dengan kondisi yang sehat (tidak terinfeksi atau terserang penyakit). Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali sampai akhir pengamatan yaitu minggu ke-12 kecuali untuk panjang akar, jumlah akar dan tingi eksplan dilakukan pada saat penanaman dan akhir pengamatan.

Selama proses pertumbuhan secara in vitro, faktor zat pengatur turnbuh berperan penting dalam menunjang eksplan membentuk perakaran. Hasil dan semua faktor yang diuji menunjukkan bahwa pengaruh terhadap eksplaii Gaharu berbeda-beda.

Dan hasil percobaan di dapatkan hasil yang cukup baik dari dua perlakuan diantara perlakuan yang lainnya yaitu bahwa penambahan IBA I mg/i menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan panj ang akar tertinggi, pertambahan tunas tertinggi dan penambahan IBA 1,5 mg/I menunjukkan persentase berakar yang tertinggi, pertambahan daun yang tertinggi dibandingkan perlakuan yang lainnya.

Apabila eksplan mempunyai persentase berakar dan panjang akar yang tinggi maka eksplan dapat meyerap unsur hara mineral yang cukup, dan adanya tunas dan daun yang cukup banyak maka akan menghasil zat hijau daun yang tinggi sehingga akan menghasilkan karbohidrat yang cukup untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu dengan keseimbangan panj ang akar dan banyaknya tunas serta daun yang dihasilkan akan semakin meningkatkan keberhasilan aklimatisasi eksplan Gaharu.

Keberhasilan aklimatisasi eksplan Gaharu pada percobaan sebesar 26,92%. Hal ini selain dipengaruhi oleh kondisi eksplan hasil kultur jaringan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu kelembaban, suhu dan intensitas cahaya.

Bookmark and Share

25 April 2010

Teknik Perbanyakan Anggrek Raksasa Irian Jaya (Grammatophyllum papuanum J.J. smith) dengan Kultur Jaringan

Esha Garden - Sunday, April 25, 2010
Ringkasan : A. Kurnia E 08300012. Teknik Perbanyakan Anggrek Raksasa Irian Jaya (Grammatophyllum papuanum J.J. smith) dengan Kultur Jaringan, dibawah bimbingan Ir. Edhi Sandra, MSi.

Anggrek merupakan salah satu suku “Orchidaceae” yang cukup banyak jenis nya, sebagian besar keragamannya terpusat di kawasan tropis dan subtropis. Kekayaan alam Indonesia terhadap keanekaragaman jenis anggrek memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tanaman hias, karena mempunyai nilai estetika tinggi dengan keindahan komposisi bentuk dan warna bunganya.

Di alam keberadaan jenis anggrek ini terancam punah karena pengambilan yang berlebihan menyebabkan terjadinya perubahan dan rusaknya habitat tumbuh anggrek yang dapat mengancam kelestarian anggrek. Di samping itu kegiatan pengeksploitasian yang berlebihan secara terus menerus turut menyebabkan terjadinya kepunahan terhadap keanekaragaman jenis anggrek yang ada di alam.

Tugas akhir ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor – LIPI. Kegiatan tugas akhir ini dilaksanakan selama dua bulan, mulai bulan Mei – Juli 2003.

Tugas akhir ini bertujuan untuk memperbanyak tanaman anggrek raksasa Irian Jaya (Grammatophyllum papuanum J.J. Smith) dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Sehingga hasil perbanyakan dapat memberikan informasi untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam melestarikan jenis anggrek sebagai bagian dari kegiatan konservasi.

Untuk mencegah terjadinya kepunahan species anggrek raksasa Irian Jaya (Grammatophyllum papuanum J.J. Smith) dilakukan upaya perbanyakan yang tepat untuk menyediakan tanaman-tanaman baru dengan kualitas dan kuatitas yang baik. Salah satu cara perbanyakan yang dilakukan yaitu dengan perbanyakan secara vegetatif (menggunakan bagian organ pertumbuhan tanaman). Sistem perbanyakan tanaman secara vegetatif yang lebih cepat dan dapat menghasilkan jumlah tanaman yang lebih banyak dalam waktu relative singkat dikenal dengan teknik kultur jaringan.

Kultur jaringan sebagai salah satu alternative hasil penerapan teknologi dapat digunakan untuk kepentingan budidaya/ ekonomis maupun konservasi. Metode kultur jaringan dapat menghasilkan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman anggrek.

Teknik kultur jaringan terdiri dari beberapa tahapan yang setiap tahapannya harus dilakukan secara aseptic, terutama pada saat penanaman eksplan kedalam botol kultur untuk menghindari kegagalan pertumbuhan akibat masuk dan berkembangnya organisme lain dalam usaha perbanyakan tanaman anggrek.

Perbanyakan tanaman anggrek raksasa Irian Jaya (Grammatopyllum papuanum J.J. Smith) dengan kultur jaringan memberikan respon yang baik untuk diperbanyak dalam media kultur. Hasil perbanyakan dengan menggunakan bagian tanaman sebagai bahan eksplan yaitu protocorm like bodies, pucuk, dan bagian batang menunjukan tingkat keberhasilan dalam perbanyakan tanaman anggrek dari seluruh perlakuan yang dibuat masing-masing sebanyak 16 botol kultur, protocorm likes bodies utuh menunjukan persentase kultur hidup sebesar 68,75%, Plbs bagian ujung persentase kultur hidup sebesar 56,25%, Plbs pangkal sebesar 43,75%, bagian pucuk persentase kultur hidup sebesar 62,50%, dan pada bagian batang sebesar 37,50%.

Media dasar yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS) dengan penambahan zat pengatur tumbuh berupa Indole Butyric Acid (IBA) dan Benzim Adenin (BA). Pada tahapan pembuatan media kultur, alat dan bahan harus dalam keadaan steril.

Sterilisasi terhadap bahan tanaman mutlak dilakukan untuk menghindari terjadinya kegagalan dalam perbanyakan tanaman anggrek. Keberhasilan perbanyakan tanaman anggrek dalam media kultur ditentukan oleh komposisi media yang cocok. Penambahan zat pengatur tumbuh, lingkungan fisik kultur, intensitas cahaya, dan gejala kontaminasi turut mempengaruhi dalam kegiatan perbanyakan tanaman anggrek jenis ini yang merupakan parameter dilakukan pada saat pengamatan kegiatan tugas akhir.

Salah satu factor yang mempengaruhi dalam usaha perbanyakan tanaman anggrek adalah gejala kontaminasi. Kontaminasi pada media ditandai dengan tertutupnya media kultur oleh mikroorganisma seperti jamur dan bakteri, sehingga dapat menyebabkan kegagalan dalam usaha perbanyakan tanaman karena terganggunya pertumbuhan eksplan anggrek. Tanda-tanda kontaminasi yang disebabkan oleh jamur adanya benang-benang hifa dan umum nya berwarna putih, sedangkan kontaminasi yang disebabkan oleh bakteri berupa cairan berlendir dengan berbagai macam warna.

Komposisi penggunaan zat pengatur tumbuh yang ditambahkan dalam media kultur mempengaruhi percepatan dalam perbanyakan tanaman anggrek, dimana bagian tanaman yang dijadikan bahan eksplan dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Penggunaan zat pengatur tumbuh dengan menggunakan beberapa perlakuan ternyata berhasil memperbanyak tanaman anggrek raksasa Irian Jaya. Selain itu zat pengatur tumbuh yang digunakan berupa Sitokinin Indole Butyric Acid (IBA) dan Auksin Benzine Adenin (BA) memberikan respon yang jelas terhadap perbanyakan anggrek raksasa Irian Jaya.

Disamping itu pengaruh intensitas cahaya memberikan pengaruh yang sangat jelas terhadap perbanyakan tanaman anggrek raksasa Irian Jaya. Dimana pertumbuhan eksplan anggrek ini tumbuh dan mengatur serta mengintegrasikan kegiatan seluruh bagian tanaman dengan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungannya. Pemberian cahaya dengan menggunakan lampu neon keseluruh bagian eksplan memberikan perkembangan yang nyata terhadap perbanyakan anggrek berupa protocorm likes bodies utuh, protocorm like bodies bagian ujung, protocorm like bodies bagian bangkal, pucuk dan pada bagian batang.

Perbanyakan tanaman anggrek raksasa Irian Jaya dengan menggunakan bagian-bagian tanaman yang digunakan menghasilkan perkembangan yang baik dengan menjadi tanaman baru (panlet). Namun karena selang pengamatan yang pendek sehingga hasil terhadap perbanyakan lebih lanjut tidak didapatkan. Di Laboratorium kultur jaringan perbanyakan tanaman anggrek memang membutuhkan waktu untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangannya, oleh sebab itulah maka dibutuhkan jangka pengamatan yang tidak pendek sebab kemampuan regenerasi tanaman pada media kultur juga ditentukan oleh kemampuan regenerasinya dilapangan.


Bookmark and Share

23 April 2010

Pertumbuhan, Biomassa dan Kandungan Alkaloid Akar Pule pandak (Rauvolfia serpentine Benth.) Hasil Kultur In Vitro.

Esha Garden - Friday, April 23, 2010
Ringkasan: A. Fadly Yahya. E03496021. Pertumbuhan, Biomassa dan Kandungan Alkaloid Akar Pule pandak (Rauvolfia serpentine Benth.) Hasil Kultur In Vitro. Dibawah bimbingan Ir. Ervizal A.M. Zuhud, MS dan Ir. Edhi Sandra, M. Si.

Pule pandak (Rauvolfia serpentine Benth.) merupakan salah satu spesies tumbuhan hutan tropika yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat dan tergolong langka didunia. Menurut WHO (1994) dalam Siswoyo dan Zuhud (1995), spesies ini merupakan salah satu spesies yang termasuk dalam Hand book of Herbal Medicine, Traditional Medicine Division, WHO-Genewa.

Sampai saat ini, kebutuhan bahan baku simplisia Pule pandak masih dipenuhi dari hasil pemanenan langsung dari alam. Di sisi lain, kebutuhan akan bahan baku simplisia Pule pandak, baik dalam negeri maupun dari Negara-negara industri farmasi, terus meningkat dan belum terpenuhi. Pada tahun 2001, diperkirakan permintaan akan bahan baku tersebut mencapai 6.898 kg dengan trend pertambahan sebesar 25,89% per tahun (Data Olahan Balittro, 1990 dalam Sandra dan Kemala, 1994). Untuk dapat mengimbangi tingkat permintaan bahan baku simplisia Pule pandak dan meyelamatkannya dari kepunahan, perlu dilakukan kegiatan konservasi maupun budidaya.

Kultur jaringan sebagai salah satu alternatif penerapan teknologi dapat ditujukan untuk kepentingan budidaya/ekonomis maupun konservasi. Metode ini diharapkan dapat menghasilkan dan meningkatkan kuantitas dan kualitas bahan baku simplisia Pule pandak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT), intensitas cahaya dan umur panen yang berbeda terhadap pertumbuhan, biomassa dan kandungan alkaloid akar Pule pandak (Rauvolfia serpentine Benth.) hasil kultur in vitro. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat meberi masukan informasi mengenai konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT), intensitas cahaya dan umur panen yang terbaik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas akar Pule pandak (Rauvolfia serpentine Benth.).

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumbuhan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Pengambilan data primer dilakukan selama sepuluh bulan dari bulan Agustus 2000 sampai bulan Mei 2001.

Media dasar yang digunakan pada percobaan ini adalah media MS penuh dengan penambahan IBA 2.0 mg/l, NAA 2.0 mg/l dan kombinasi keduanya IBA 1.0 mg/l + NAA 1.0 mg/l sesuai dengan perlakuan. Kultur diinkubasikan pada suhu 25 - 28 derajat C selama 3 bulan dan 6 bulan denganintensitas cahaya normal ruang kultur yang diterima eksplan sebesar 100% (seluruh bagian eksplan menerima/terkena cahaya), 50% (penambahan arang aktif 0.5 g/l diasumsikan dapat mereduksi cahaya yang sampai ke bagian eksplan yang terdapat dalam media sehingga hanya bagian eksplan di atas media yang terkena cahaya) dan 0% (pemberian perlakuan fisik dengan menutup seluruh bagian eksplan sehingga eksplan tidak menerima/terkena cahaya).

Parameter-parameter pertumbuhan eksplan (Rauvolfia serpentine Benth.) berupa jumlah tunas, tinggi, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, berat basah akar, berat basah pucuk, berat kering akar, berat kering pucuk, persentase kadar air akar dan persentase kadar air pucuk memberikan respon positif terhadap perlakuan yang diberikan.

Penggunaan IBA dan NAA sebagai zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) pada hamper seluruh parameter pertumbuhan, kecuali panjang akar (P<0,05). Perlakuan intensitas cahaya memberikan pengaruh yang sangat nyata untuk seluruh parameter pertumbuhan yang diamati pada P <0.01. Nilai rata-rata tertinggi untuk jumlah tunas, jumlah daun, panjang akar, berat basah akar, berat basah pucuk, berat kering akar dan persentase kadar air akar diperoleh dari pemberian cahaya pada seluruh bagian eksplan (intensitas cahaya 100%). Nilai rata-rata tertinggi untuk tinggi dan berat kering pucuk diberikan oleh intensitas cahaya 50 %. Sedangkan kondisi gelap (intensitas cahaya 0%) memberikan nilai rata-rata tertinggi untuk jumlah akar dan persentase kadar air pucuk. Umur panen memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah tunas, jumlah akar dan berat basah pucuk, serta sangat nyata pada jumlah daun, panjang akar, berat kering pucuk dan persentase kadar air pucuk. Nilai rata-rata tertinggi untuk parameter pertumbuhan jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, berat basah pucuk dan berat kering pucuk diperoleh dari umur panen 6 bulan. Interaksi perlakuan zat pengatur tumbuh dan intensitas cahaya memberikan pengaruh terhadap seluruh parameter pertumbuhan yang diamati. Pengaruh yang sangat nyata diperoleh dari respon jumlah tunas, tinggi, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, berat basah akar,berat basah pucuk, berat kering akar, berat kering pucuk dan persentase kadar air akar. Sedangkan pengaruh nyata hanya diperoleh dari respon persentase kadar air pucuk. Interaksi antara pemberian zat pengatur tumbuh dengan umur panen tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan yang diamati. Hal ini diduga disebabkan oleh secarafisiologis zat pengatur tumbuh hanya berperan diawal perkembangan eksplan dan lebih spesifik pada induksi kalus dan akar. Interaksi antara perlakuan intensitas cahaya dan umur panen hanya memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah tunas dan jumlah daun, serta sangat nyata pada persentase kadar air pucuk. Interaksi ketiga perlakuan dalam penelitian ini (Zat pengatur tumbuh, intensitas cahaya dan umur panen) ternyata hanya memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertambahan jumlah daun. Berdasarkan hasil HPLC maka diketahui bahwa kadar Ajmaline tertinggi diperoleh dari perlakuan A2B1Cl (IBA 2 mg/l, 100%, 3 bulan), kadar Reserpine tertinggi diperoleh dari A3B3C2 (NAA 2 mg/l, 0%, 6 bulan) dan A4B3C2 (IBA dan NAA 1 mg/l, 0%, 6 bulan). Jika dibandingkan dengan kadar alkaloid akar pule pandak hasil budidaya lapang maka kadar Ajmaline dan Yohimbine tersebut masih rendah. Selain itu, kandungan alkaloid yang dihasilkan masih bertambah berdasarkan pertambahan umur panen. Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, beberapa hal yang perlu dikaji diantaranya penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan zat pengatur tumbuh IBA dan NAA pada kombinasi dan konsentrasi yang lebih tinggi, modifikasi media Murashige and skoog (MS) yang digunakan untuk melihat respon pertumbuhan dan kandungan alkaloid akar pule pandak, pendekatan pengaruh intensitas cahaya dengan mengubah intensitas cahaya lampu ruang kultur. Selain itu, perlu dicari alternative pengganti arang aktif untuk merduksi cahaya yang sampai ke akar tanpa mempengaruhi kerja media dan zat pengatur tumbuh, pengujian pengaruh factor lingkungan tumbuh, seperti suhu dan cahaya (panjang gelombang dan photoperiodisme) terhadap pertumbuhan eksplan (tunas dan akar), serta pengujian dan pembandingan kandungan alkaloid bagian pucuk dan akar Pule pandak hasil kultur in vitro. Bookmark and Share

Enhanced by Zemanta

22 April 2010

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic Acid) dan BAP (6-Benzylaminopurin) terhadap Pertumbuhan Pule Pandak (Rauvolfia serpentina Benth)

Esha Garden - Thursday, April 22, 2010
Ringkasan: Ambar Dwi Suseno. E34102022. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic Acid) dan BAP (6-Benzylaminopurin) terhadap Pertumbuhan Pule Pandak (Rauvolfia serpentina Benth) Melalui Kultur Meristem. Dibawah bimbingan Ir. Edhi Sandra, M.Si. dan Dr Ir. Agus Hikmat, MSc.F.

Pule Pandak (Rauvolfia serpentina Benth) merupakan salah satu spesies tumbuhan yang mempunyai khasiat obat dan termasuk ke dalam tumbuhan yang langka di dunia. Tumbuhan ini dapat digunakan untk mengobati berbagai penyakit, diantaranya adalah penurunan tekanan darah, mempermudah persalinan, obat cacing, penurunan panas dan pereda kejang (Hargono et al, 1985).

Permintaan simplisia (bahan kering) yang berasal dari tumbuhan ini digunakan sebagai bahan baku obat tradisional terus meningkat dengan kecenderungan pertambahan sebesar 25,89% per tahun (Sandra & Kemala, 1994).

Keberadaan pule pandak sekarang ini di alam telah mengalami penurunan yang sangat drastic. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kepunahan dari spesies ini, maka harus dicari teknik budidaya yang tepat untuk memproduksinya secara cepat dengan kualitas dan kuantitas yang baik.

Perbanyakan pule pandak dapat dilakukan melalui teknik kultur in-vitro. Salah satu tahapan dalam teknik kultur in-vitro adalah penggandaan tunas. Tunas yang digandakan dapat berasal dari tunas mikro hasil induksi meristem apikal sebagai sumber eksplan, sehingga disebut kultur meristem. Kelebihan kultur meristem adalah mampu menghasilkan bibit tanaman yang identik dengan induknya dan bebas virus. Rice et al., (1992) mengatakan bahwa kultur meristem mampu meningkatkan laju induksi dan penggandaan tunas, mampu memperbaiki mutu bibit yang dihasilkan serta mampu mempertahankan sifat-sifat morfologi yang positif.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi zat pengatur tumbuh (ZPT) BAP dan NAA serta menentukan konsentrasi baik tunggal maupun kombinasi yang tepat untuk penggandaan tunas pada kultur meristem pule pandak.

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Pengambilan data primer dilaksanakan selama dua setengah bulan dari bulan September sampai pertengahan bulan November 2006.

Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah MS (Murrashige & Skoog) yang telah dimodifikasi dengan penambahan Zat Pengatur tumbuh BAP dan NAA dengan konsentrasi 0 mg/l. 0.5 mg/l, 1 mg/l, 1,5 mg/l dengan pH 5.7. Media MS ini dibuat padat dengan menambahkan agar pada media.

Parameter-parameter dalam penelitian ini diarahkan pada pertumbuhan kalus, tunas dan daun. Pertumbuhan tunas meliputi jumlah dan tinggi tunas. Untuk pengamatan pertumbuhan eksplan, perlakuan dikombinasikan secara factorial dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 ulangan, setiap unit perlakuan menggunakan 4 botol kultur yang ditanaman 1 jaringan meristem untuk setiap botolnya. Sedangkan untuk pengamatan perbandingan hasil kultur meristem dengan tanaman induk menggunakan 3 ulangan, setiap unit perlakuan menggunakan 4 botol kultur, baik pada hasil kultur meristem maupun tanaman induk.

Pengamatan pertumbuhan eksplan dilakukan setelah seminggu penanaman terhadap parameter jumlah tunas, jumlah daun dan tinggi tunas, sedangkan pengamatan perbandingan antara hasil kultur meristem dengan tanaman induknya dilakukan pada akhir pengamatan. Untuk mengetahui pengaruh factor tunggal dan interaksi terhadap pertumbuhan eksplan maka dilakukan uji F, selanjutnya uji Duncan untuk mengetahui beda perlakuan dengan menggunan SAS ANOVA dan SPSS.

Pemberian zat pengatur tumbuh mendorong pertumbuhan kalus, tunas dan daun pada kultur meristem pule pandak, kecuali untuk perlakuan NAA secara tunggal hanya mampu menumbuhkan kalus saja, sampai akhir pengamatan dan control tidak mengalami pertumbuhan apapun. Sedangkan untuk pertumbuhan akar tidak dapat terjadi pada semua perlakuan, hal ini diduga pemberian BAP diserap sepenuhnya oleh eksplan sehingga menghambat pembentukan primordial akar.

Hasil uji Duncan menunjukan hasil rata-rata jumlah daun terbanyak yaitu pada perlakuan BAP 1mg/l NAA 0.5 mg/l yaitu 8.08 helai dan hasil terendah pada perlakuan BAP 0.5 mg/l NAA 1.5 mg/l yaitu sebanyak 2.58 helai. Kombinasi BAP 1 mg/l dan NAA 0.5 mg/l memiliki jumlah daun terbanyak yaitu sebesar 8.08 helai, hal ini diduga karena konsentrasi BAP dan NAA endogen dan eksogen berada pada kondisi supra optimal sehingga kombinasi ini efektif untuk menghasilkan daun. Hal ini sesuai dengan pendapat Minocha (1987) apabila kondisi auksin dan sitokinin endogen berada pada kondisi sub optimal maka diperlukan penambahan auksin dan sitokinin secara eksogen sehingga diperoleh perimbangan yang optimal.

Jumlah tunas terbanyak diperoleh pada kombinasi perlakuan BAP 1mg/l NAA 0.5 mg/l yaitu 3.21 buah. Dari hasil tersebut menggambarkan bahwa untuk membentuk tunas tidak hanya dibutuhkan BAP saja. Hal ini sesuai pendapat HU dan Hwang (1983) dalam Sukma (1994) bahwa untuk pertumbuhan dan pembentukan tunas dibutuhkan pula hormone auksin terutama untuk eksplan awal yang kecil, tapi bila tunas muda dapat memproduksi auksin secara aktif maka auksin eksogen tidak diperlukan lagi. Kemudian diperkuat lagi oleh Leopold (1949) dalam Gardener et al. (1991) yang menyatakan bahwa auksin mempunyai pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan pucuk.

Tinggi rata-rata tunas terpendek masing-masing pada perlakuan adalah 0.67 cm untuk perlakuan tunggal BAP 1.5 mg/l, 0.70 cm untuk perlakuan kombinasi BAP 0.5 mg/l NAA 1.5 mg/l pada dan 0.91 cm untuk perlakuan kombinasi BAP 1 NAA 0.5. Perbedaan tunas terpendek antara perlakuan kombinasi BAP 0.5 mg/l dan BAP 1 mg/l diduga oleh kemampuan tunas dalam mensintesis NAA endogen sehingga konsentrasi NAA endogen dan NAA eksogen berada pada kondisi sub optimal, dimana pada perlakuan BAP 0.5 NAA 1.5 penambahan NAA eksogen terlalu tinggi tanpa di ikuti pemberian BAP eksogen yang cukup tinggi, sehingga diduga respon BAP untuk menumbuhkan tunas harus menunggu dulu keseimbangan NAA endogen dan eksogen, akibatnya terbentuklah kalus yang cukup besar sebagai akibat dari pemberian BAP yang relative kecil, maka sampai akhir pengamatan tunas yang terbentuk pendek. Lebih lanjut Suyadi et al, (2003) menyebutkan bahwa hal ini diduga akibat adanya hambatan pertumbuhan tunas aksiler sebagai akibat pertumbuhan tunas apical yang merupakan dampak dari pemberian NAA yang cukup tinggi.

Berdasarkan hasil pengukuran perbandingan hasil kultur meristem dengan tanaman induk didapati bahwa pada setiap parameter terjadi peningkatan 2 kali lipat dari sebelumnya (induknya). Lebih lanjut Rice et al,. (1992) mengatakan bahwa kultur meristem mapu meningkatkan laju induksi dan penggandaan tunas, mampu memperbaiki mutu bibit yang dihasilkan serta mampu mempertahankan sifat-sifat morfologi yang positif.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan tunggal BAP dan NAA memberikan hasil pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan kombinasi BAP dan NAA, namun perlakuan kombinasi memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan perlakuan secara tunggal, terutama setelah minggu ke-3 penanaman. Jumlah daun dan tunas terbanyak diperoleh pada perlakuan BAP 1mg/l NAA 0.5 mg/l, sehingga hasil perlakuan inilah yang dapat dianjurkan untuk digunakan sebagai bibit tanaman dalam usaha pembudidayaan pule pandak, karena selain dapat menghasilkan jumlah tunas yang paling optimal kombinasi hasil kultur meristem ini telah mampu meningkatkan kualitas morfologi tanaman induk sebanyak 2 kali lipat.



Bookmark and Share
Previous
Editor's Choice