Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

Gyrinops versteegii
Showing posts with label Gyrinops versteegii. Show all posts
Showing posts with label Gyrinops versteegii. Show all posts

10 May 2010

Kajian Penggunaan Hormon IBA dan BAP terhadap Pertumbuhan Tanaman Penghasil Gaharu

Esha Garden - Monday, May 10, 2010
RINGKASAN: DHENNY LISDIANTINI. Kajian Penggunaan Hormon IBA dan BAP terhadap Pertumbuhan Tanaman Penghasil Gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) dengan Teknik Kultur In Vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan WA ODE HAMSINAH BOLU.

Hasil hutan non kayu terkadang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kayu, salah satu contohnya adalah gaharu. Permintaan gaharu terus meningkat, sedangkan semua produksinya masih menggantungkan pada produksi dari hutan-hutan alam.

Akibat merosotnya populasi pohon penghasil gaharu di hutan-hutan alam, maka Pemerintah melalui Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978 menetapkan peraturan bagi eksportir Gaharu yang mewajibkan mereka memiliki surat izin CITES. Perlindungan terhadap beberapa jenis tanaman penghasil gaharu semakin ditingkatkan, Aquilaria spp. dan Gyrinops spp. termasuk Appendix II CITES pada tanggal 2-14 Oktober 2004 di Bangkok.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi hormon auksin dan sitokinin (IBA dan BAP) yang terbaik pada media dasar Murashige dan Skoog terhadap pertumbuhan kultur in vitro eksplan tanaman penghasil gaharu Gyrinops versteegii.

Bahan tanaman yang digunakan adalah pucuk eksplan steril G. versteegii. Eksplan ditumbuhkan pada media MS dengan penambahan perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh IBA dengan konsentrasi 0,00; 0,05 dan 0,10 mg/l dan BAP 0,00; 0,05; 0,10 dan 0,20 mg/l.

Penelitian ini disusun menggunakan metode statistika RAL Faktorial dengan jumlah 12 perlakuan dan ulangan sebanyak 6 kali. Pengamatan dilakukan selama 8 MST (minggu setelah tanam) terhadap selumh eksplan yang ditanam meliputi parameter rata-rata pertambahan tinggi, jumlah mas, jumlah tunas, jumlah daun, persentase tingkat kematian, proses pengkalusan dan kontaminasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media perlakuan IBA 0,05 mg/l + BAP 0,20 mg/l memberikan respon terbaik pada parameter pertambahan tinggi dan pertumbuhan tunas, yaitu sebesar 1,8 em dan 3,17 tunas.

Sedangkan media perlakuan IBA 0,00 mg/l + BAP 0,20 mg/l memberikan respon terbaik pada parameter jumlah mas dan jumlah daun, yaitu sebesar 6,33 mas dan 5,67 helai.

Semua media perlakuan menumbuhkan kalus keeuali, pada media kontrol. Presentase jumlah eksplan yang terkontaminasi sebesar 6,94% (5 dari 72 eksplan). Kontaminasi disebabkan oleh adanya eendawan pada tabung.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh IBA (0,00; 0,05 dan 0,10 mg/I) dan BAP (0,00; 0,05; 0,10 dan 0,20 mg/I) memberikan respon yang sangat nyata terhadap parameter jumlah tunas. Sedangkan pada parameter tinggi planlet, jumlah ruas, dan jumlah daun memberikan respon tidak berbeda nyata.

Kata kunci : Gyrinops versteegii, in vitro, auksin, sitokinin.

Bookmark and Share

07 May 2010

Kajian Pertumbuhan Eksplan Pucuk Gaharu Melalui Teknik Ex Vitro

Esha Garden - Friday, May 07, 2010
RINGKASAN: CITRA BETRIANINGRUM. E34104031. Kajian Pertumbuhan Eksplan Pucuk Gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) Melalui Teknik Ex Vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan WAODE HAMSINAH BOLU.

Pada tahun 1985, jumlah ekspor gaharu Indonesia mencapai sekitar 1487 ton, namun eksploitasi hutan alam tropis dan perburuan gaharu yang tidak terkendali telah mengakibatkan species-species gaharu menjadi langka. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan dan untuk mendapatkan konsentrasi hormon tumbuh IBA (Indole Butyric Acid) yang optimal bagi pertumbuhan perakaran eksplan pucuk G.versteegii melalui teknik ex vitro. Berbagai macam media tumbuh dan berbagai konsentrasi hormon IBA dapat menghasilkan pertumbuhan yang berbeda-beda, sehingga dapat diketahui komposisi media dan konsentrasi hormon yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan pucuk gaharu secara ex vitro.

Diharapkan dari hasil penelitian ini diperoleh informasi tentang media tumbuh yang sesuai dan konsentrasi hormon yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan pucuk G. versteegii (Gilg) Domke, sehingga dapat diterapkan guna mendukung pelestarian plasma nutfah.

Dalam pelaksanaan penelitian, alat yang digunakan box mika, aqua gelas 240 ml, cutter, gunting tanaman, sungkup, paranet, papan iris, steples, speryer, dan kertas label. Bahan yang digunakan antara lain eksplan pucuk G. versteegii, hormon IBA (400, 450, 500, 550, 600 ppm), Vitamin B1, bakterisida, fungisida, media (tanah, pasir, dan kompos), Antracol, zat perekat, CaC03. Semua eksplan yang sudah direndam pada larutan (vitamin B1, sterilisasi, dan hormon dengan berbagai konsentrasi), serta dioles dengan pasta pada bagian pangkal eksplan, langsung ditanam pada masing-masing media (tanah tunggal, pasir tunggal, dan campuran tanah-pasir-kompos) yang sudah dimasukkan pada box mika. Selanjutnya box ditutup rapat dan disteples, kemudian simpan dalam sungkup.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah presentase hidup pada perlakuan sebesar 66,67%, sedangkan pada kontrol sebesar 83,33%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan hormon berpengaruh pada presentase hidup eksplan. Pertumbuhan tinggi pada eksplan sangat dipengaruhi oleh jenis media. Sedangkan hormon sangat berpengaruh terhadap perakaran. Persentase berakar pada perlakuan hormon sebesar 61,78% dan pada kontrol sebsesar 53,33%. Dilihat dari persentase berakar berdasarkan konsentrasi hormon, yang paling tinggi pada konsentrasi 550 ppm yaitu 14,22%. Namun, tidak jauh berbeda dengan konsentrasi 450 ppm dengan persentase berakarnya sebesar 13,11%.

Dari hasil sebelumnya dapat disimpulkan bahwa komposisi media yang baik untuk pertumbuhan eksplan gaharu adalah media tanah dengan persentase hidup 89,33%. Sedangkan hormon yang optimal untuk perakaran eksplan pucuk gaharu adalah dengan konsentrasi 550 ppm. Namun konsentrasi 450 ppm juga baik untuk perakaran, walaupun tidak seoptimal konsentrasi 550 ppm. Tetapi konsentarsi hormon 450 ppm ini dapat mengefisienkan biaya.

Key words: Gyrinops versteegii (Gilg) Domke, Material, Hormone

Bookmark and Share
Previous
Editor's Choice