Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

gaharu
Showing posts with label gaharu. Show all posts
Showing posts with label gaharu. Show all posts

26 September 2014

PERBANYAKAN 10 JUTA BIBIT GAHARU Aquilaria malacensis

@Cahangon75 - Friday, September 26, 2014
Oleh Edhi Sandra (eshaflora)
Materi Pelatihan Bapak Irfan Sulistianto
Ruang lingkup Materi:

Aplikasi Hormon
           Interaksi hormone endogen dan eksogen
           komposisi gabungan hormone
           evaluasi dan analisa kondisi hormonal
           kondisi hormonal dan fisiologi : stek, bahan indukpangkas, biji
           Antisipasikondisi stress dan ramuan antistres

.Stek pucuk / stek mikro
           Beda antara stek pucuk dan stek batang, evaluasi stek
           Hambatan morfologi dan fisiologi stek
           Kondisi lingkungan yang membuat gagal stek
           Sinergisitas perlakuan untuk meningkatkan peluangkeberhasilan stek
           Kondisi situasi dan lingkungan mikro di sekitar ujungstek tempat tumbuhnya akar.
           Daun pada stek dan evaluasinya
           Tanah liat untuk meningkatkan keberhasilan menumbuhkanakar baru pada stek
           Variasi kondisi stek yang ada dan perlakuannnya
           rontokdaun dan penurunan kebugaran dan kesehatan
           teknikmemotong stek yang baik.

Larutan untuk cabutan
           Kondisi semai saat dicabut dan perlakuan selanjutnya.
           Faktor fisiologis dan lingkungan yang mempengaruhikesehatan dan kebugaran bibit cabutan.
           Antisipasi faktor dan kondisi yang tidak baik:dehidrasi, kiris energi, krisis faktor fisiologis
           kondisi darurat dan kondisi mandiri bibit cabutan.
           Permasalahan yang seringkali muncul dan menggagalkankeberhasilan pembuatan bibit cabutan.

Semai benih dan hormon
           Analisa fisiologi dan hormonal benih
           Perkecambahan dan mempercepat proses perkecambahan danpertumbuhannya.
           Dormansi dan antisipasinya
           permasalahan perkecambahan benih.
           media semai yang baik

Perlakuan : biji, cabutan, dan stek/pangkas
           Persiapanmedia, alat dan bahan
           Penanganandan perlakuan hormon dan makanan yang diberikan
           Kondisilingkungan mikro yang baik

Perencanaan Pengadaan bibit manajemen (POAC)
           POAC terkait dengan what, who, when, where, how, howmuch,
           Pembuatan SOP masing-masing kegiatan : pencarian bibitcabutan, proses membawa bibit cabutan, penanaman bibit cabutan, perlakuanperawatan bibit cabutan, perlakuan pembuatan stek, perlakuan penanaman stek,perlakuan bibit pasca pengambilan stek,
           Perencanaan pengadaan bahan stek seoptimal mungkin dariberbagai bahan yang ada: bibit cabutan, benih, nursery, pohon yang ada.
           Kreativitas dan inovasi penanganan jumlah besar : misalpersiapan pencampuran media tanam dengan menggunakan molen pengaduk semen.
           Pengadaan fasilitas yang diperlukan dalam prosespembibitan: ruang missroom (ruang tertutup rapat dengan smoker secara intervalangin, dan kelembaban terjaga
           Kesesuaianantara kinerja dan beban pekerjaan, kesesuaian antara target, waktu dankecepatan multiplikasi, bahan baku media dan sarana-prasarana yang memadai

Pembungaan Pohon Hutan
           analisakondisi pohon
           evaluasidan perlakuan pohon
           sinergisitasperlakuan untuk pembungaan.
           prinsippembungaan pohon
           Mempercepatpembungaan dan pembuahan
           Meningkatkankualitas bunga dan buah

Perencanaan biaya pengadaan bibit.
           Breakdownanggaran dari semua komponen yang terkait dengan proses: tenaga kerja, bahandan alat, media tanam, hormon dan obat, sarana-prasarana, perawatan,
           

21 June 2010

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic acid) dan IBA (Indole Butryric acid) terhadap Perakaran Eksplan Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) dalam Kultur In Vitro serta Aklimatisasinya

Esha Garden - Monday, June 21, 2010
RINGKASAN: Ariani Dwi Astuti. E 34101020. 2005. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh NAA (Naphthalene Acetic acid) dan IBA (Indole Butryric acid) terhadap Perakaran Eksplan Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) dalam Kultur In Vitro serta Aklimatisasinya.

Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Ir. Edhi Sandra, M.Si, Pembimbing Anggota Ir. Ervizal A. M. Zuhud, MS.

Tumbuhan Gaharu (A. mulaccensis Lamk.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan tropis yang menghasilkan resin atau produk damar yang bernilai ekonomi tinggi. Eksplorasi atau pemungutan hasil Gaharu hingga saat ini masih dilakukan hanya berorientasi pada hasilnya saja tanpa memperhatikan kelestariannya yaitu dengan cara menebang pohon Gaharu yang tumbuh secara alami di hutan. Cara pemungutan seperti mi dapat mengancam kelestarian dan jenis tanaman gaharu tersebut sehingga diperlukan upaya pelestarian.

Dalam penelitian ini dicoba pendekatan lain sebagai upaya pelestarian dengan konservasi in -vitro. Produksi tanaman Gaharu dengan teknik kultur jaringan dalam pembudidayaan, diharapkan memiliki keberhasilan aklimatisasi yang tinggi. Salah satu keberhasilan aklimatisasi antara lain dipengaruhi oleh kondisi eksplan, salah satunya keberhasilan perakaran, sehingga diperlukan suatu penelitian mengenai perakaran Gaharu secara in vitro dengan menggunakan zat pengatur tumbuh antara lain NAA dan IBA dengan berbagai macam konsentrasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh NAA dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan Gaharu secara in vitro khususnya pembentukan perakaran dengan berbagai macam konsentrasi serta mengetahui persentase hidup eksplan Gaharu pada saat aklimatisasi, sehingga hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah diperoleh metode perakaran Gaharu secara in vitro dalam upaya pengembangan pengadaan bibit untuk budidaya serta pelestarian Gaharu.

Penelitian dilakukan di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Pengambilan data primer dilakukan selama 5 bulan dan bulan Februari 2005 sampai bulan Juni 2005.
Percobaan ini terdiri dari 2 faktor yaitu dengan penambahan NAA dan IBA pada media tanam MS 0. Bahan tanaman yang digunakan adalah Gaharu hasil sub kultur.

Peubah pertumbuhan yang diamati terbatas hanya pada pertumbuhan vegetatif yang meliputi pertumbuhan akar dengan melihat jumlah akar dan panjang akar yang tumbuh pada setiap eksplan, tinggi eksplan, jumlah tunas daun yang baru tumbuh dan jumlah daun yang tumbuh pada eksplan dengan kondisi yang sehat (tidak terinfeksi atau terserang penyakit). Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali sampai akhir pengamatan yaitu minggu ke-12 kecuali untuk panjang akar, jumlah akar dan tingi eksplan dilakukan pada saat penanaman dan akhir pengamatan.

Selama proses pertumbuhan secara in vitro, faktor zat pengatur turnbuh berperan penting dalam menunjang eksplan membentuk perakaran. Hasil dan semua faktor yang diuji menunjukkan bahwa pengaruh terhadap eksplaii Gaharu berbeda-beda.

Dan hasil percobaan di dapatkan hasil yang cukup baik dari dua perlakuan diantara perlakuan yang lainnya yaitu bahwa penambahan IBA I mg/i menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan panj ang akar tertinggi, pertambahan tunas tertinggi dan penambahan IBA 1,5 mg/I menunjukkan persentase berakar yang tertinggi, pertambahan daun yang tertinggi dibandingkan perlakuan yang lainnya.

Apabila eksplan mempunyai persentase berakar dan panjang akar yang tinggi maka eksplan dapat meyerap unsur hara mineral yang cukup, dan adanya tunas dan daun yang cukup banyak maka akan menghasil zat hijau daun yang tinggi sehingga akan menghasilkan karbohidrat yang cukup untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu dengan keseimbangan panj ang akar dan banyaknya tunas serta daun yang dihasilkan akan semakin meningkatkan keberhasilan aklimatisasi eksplan Gaharu.

Keberhasilan aklimatisasi eksplan Gaharu pada percobaan sebesar 26,92%. Hal ini selain dipengaruhi oleh kondisi eksplan hasil kultur jaringan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu kelembaban, suhu dan intensitas cahaya.

Bookmark and Share

30 May 2010

Aplikasi Bakteri Methylobacterium sp. terhadap Pertumbuhan dan Perakaran Tunas Gaharu

Esha Garden - Sunday, May 30, 2010
RINGKASAN: INDRA SANTOSO E34 103043. Aplikasi Bakteri Methylobacterium sp. terhadap Pertumbuhan dan Perakaran Tunas Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) Hasil In-vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan ALl HUSNI.

Aquilaria malaccensis Lamk. merupakan tumbuhan hutan yang memiliki kandungan resin dan bemilai ekonomi. Oleh banyak kalangan masyarakat, resin ini biasanya disebut “gaharu”, yang digunakan untuk obat-obatan seperti sakit perut, sesak napas, penguat kandungan dan rematik; bahan baku industri parfum dan kosmetik juga sebagai pelengkap obat. Seiring dengan majunya teknologi dan eksploitasi membuat komoditas gaharu menurun. Maka, oleh CITES dimasukkan ke dalam salah satu jenis langka.

Berbagai metode perbanyakan telah dilakukan termasuk pembiakan vegetatif secara kultur jaringan (bioteknologi) dengan bermacam-macam modifikasi perlakuan zat tumbuh, kondisi dan faktor pertumbuhan dan juga lingkungan tetapi perakaran tanaman gaharu masih mengalami banyak kendala.

Aplikasi bakteri Methylobacterium sp. yang dilaporkan menghasilkan fitohormon dan zat pengatur tnmbuh diharapkan mampu mengatasi kendala dalam perbanyakan ini. Tujuan dan penelitian mi adalah mempelajari penganuh, menentukan strain dan waktu perendaman efekti dan Methylobacterium sp. untuk pertumbuhan dan perakaran tunas Aquilaria malaccensis.

Metode pada tahap I, rendam tunas gaharu ke dalam empat suspensi strain bakteri Methylobacterium sp. (TD-U2, TD-TM3, PPU-PK2 dan TD-TB1) masing-masing 20 tunas selaina 4 jam. Lalu, dipindahkan ke dalam media tanam. Pada tahap II, perendaman menggunakan strain bakteri terbaik basil induksi tahap I, masing-masing 16 tunas dan ditambahkan Indole Butiric Acid (IBA) 20 ppm dengan waktu 0 jam (kontrol), 3 jam, 6 jam dan 9 jam, lain dipindahkan ke media tanam. Media tanam terdiri dan tanah, kompos, arang ekam dengan perbandingan 1:1/2:1 dan parameter pertumbuhan vegetatif yang diamati adalah daun, tunas, batang dan akar.

Pada penelitian tahap 1, bakteri strain TD-TB1 memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah daun, tapi berpengaruh tidak nyata pada batang sedangkan tunas tidak tumbuh sehingga tidak dilakukan uji satistik. Pada tahap II, rata-rata jumlah daun tertinggi. batang tertinggi, dan jumlah tunas berasal dan penlakuan perendaman bakteri strain TD-TB 1 selama 3 jam tapi nilai rata-rata terendah berasal dan perendaman selama 9 jam. Ini mengindikasikan bahwa perendaman 9 jam tidak memberikan pengaruh yang besar dan tidak berbeda nyata dengan kontrol.

Pada penelitian ini, bakteri ini membantu proses fisiolgis tanaman khususnya penyerapan dan transporatsi unsur hara dan media tanam, yang juga menghasilkan sitokinin zeatin, IAA, flksasi C02 dan menambat N2 sehingga tunas gaharu dapat hidup dengan kondisi baik. Pertuinbuhan tunas path tahap ini merupakan pertumbuhan tunas sainping (tunas lateral). Terlambatnya pertumbuhan tunas disebabkan karena asama absisik (ABA) yang muncul dan berkembang pada kondisi stres.

Penurunan jumlah daun pada penelitian ini terjadi karena absisi. Pertumbuhan akar hanya tcrjadi pada perlakuan perendaman bakteri strain TD-TB1 selam 3 jam dan hanya pada 1 tanaman saja (1,56 %). Pada akhir penelitian, tanaman yang tetap hidup adalah 16 individu. Penurunan ini disebabkan karena bakteri dan jamur patogen.

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah pemberian bakteri Methylobacterium sp. Memberikan hasil yang baik terhadap pertumbuhan tunas gaharu. Perlakuan perendaman dengan strain TD-TB 1 memberikan hasil yang terbaik dibadingkan 3 strain lainya. Waktu yang paling efektif dan yang dapat menghasilkan akar adalah perendaman dengan bakteri strain TD-TB1 selama 3 jam.


Kata kunci: Aquilaria malaccensis, Methylobacterium sp., Kultur in-vitro

Bookmark and Share

13 May 2010

Multiplikasi Tunas Tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) secara in vitro

Esha Garden - Thursday, May 13, 2010
RINGKASAN: Andhi triharyanto. E34101025. 2005. MUTIPLIKASI TUNAS TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis Lamk.) SECARA IN VITRO. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Ir. Edhi Sandra, Msi. Pembimbing anggota : Dr. Endang Gati Lestari, Msi

Gaharu didefinisikan sebagai sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang terjadi baik secara alami maupun buatan pada pohon tcrsebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. Gaharu merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan non kayu karena bernilai ekonomi tinggi. Gaharu digunakan sebagai bahan parfum, kosmetik, obat-obatan, dupa dan sebagai obat pencegah dan penghilang stress.

Di Indonesia telah diketahui ada 16 jenis pohon penghasil gaharu yang berasal dari 3 famili yaitu Thymeleaceae, Leguminoceae dan Euphorbiaceae, dengan 8 genus yaitu Aquilaria sp., Girynops sp., Excocaria sp., Gonistylus sp., Aetoxylon sp., Enkleia sp., Wiekstromia sp. dan Dalbergia sp. I'ohon dari marga Aquilaria menghasilkan gaharu yang memiliki mutu sangat baik dan lebih tinggi nilai perdagangannya daripada gaharu yang dihasilkan oleh pohon dari marga lainnya.

Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar dan nilai jual berakibat pada meningkatnya upaya perburuan, sehingga populasi pohon penghasil gaharu termasuk jenis Aquilaria malaccensis Lamk semakin menurun. Oleh sebab itu organisasi dunia CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada APPENDIX II CITES memutuskan jenis Aquilaria malaccensis Lamk termasuk dalam daftar jenis tanaman yang terancam punah.

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pencegahan Untuk menghindari kepunahan di alam diantaranya. yaitu dengan melakukan teknik budidaya baik secara generalif maupun vegetatif sebagai salah satu upaya konservasi eksitu. Salah satu teknik budidaya vegetatif yaitu dengan menggunakan teknik kultur jaringan, sehingga dengan teknik ini dapat menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak dan waktu yang relatif singkat untuk mendukung kegiatan konservasi gaharu.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Departemen Konservasi Suberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor selama :I: 8 bulan mulai awal Oktober 2004 sampai akhir Mei 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Zat Pengatur Tumbuh BAP dan media dasar MS untuk multiplikasi tunas tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis) secara In Vitro.

Bahan tanaman yang digunakan berupa biji gaharu. Sterilisasi eksplan biji dilakukan secara bertingkat yaitu dengan menggunakan HgCl2 0.01%, clorox 20 %, 15 % dan 5 % secara berurutan dan dikocok selama 7 menil. Biji-biji tersebut kemudian dibilas sebanyak tiga kali menggunakan aquades steril. Media dasar yang digunakan adalah media dasar MS dengan penambahan Zat pengatur tumbuh BAP (0, 0.25, 0.5, 0.75, I, 1.25, dan 1.5 mg/l). Perbanyakan eksplan dilakukan dengan cara subkultur.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sterilisasi yang dilakukan belum tepat baik dosis maupun waktu yang digunakan karena terjadi kontaminasi yang cukup tinggi. Parameter lain yang diamati diantaranya yaitu jumlah tunas, tinggi tunas, jumlah daun, persentase hidup, persentase berkalus, serta pengamatan visual eksplan.

Hasil penelilian menunjukkan bahwa jumlah tunas,  tinggi tunas, jumlah daun, dan persentase hidup terbaik ditunjukkan pada perlakuan BAP 0.5 mg/l. Peningkatan konsentrasi BAP tidak memberikan berpengaruh yang nyata pada pertumbuhan eksplan.

Sedangkan persentase berkalus tertinggi ditunjukkkan pada perlakuan BAP 1.25 mg/l. Ada dugaan bahwa semakin sempurna pertumbuhan tanaman sangat mempengaruhi persentase hidup tanaman, hal ini dikarenakan tanaman'" dapat bertoleransi terhadap lingkungan tumbuhnya.

Penampakan visual ekplan yang terjadi diantaranya yaitu vitrifikasi, etiolasi, stagnasi serta kontaminasi yaitu dalam bentuk jamur, bakteri dan kapang. Vitifikasi dan etiolasi lebih disebabkan karena pengaruh lingkungan tumbuh yang tidak sesuai sedangkan stagnasi lebih disebabkan karena faktor eksplan yang tidak juvenil serta pangaruh sterilisasi yang tidak tepat. Setiap bagian eksplan memberikan pengaruh yang berbeda pada lingkungan tumbuh yang sama, hal ini karena dipengaruhi factor endogen eksplan yang berbeda.

Bookmark and Share

10 May 2010

Kajian Penggunaan Hormon IBA dan BAP terhadap Pertumbuhan Tanaman Penghasil Gaharu

Esha Garden - Monday, May 10, 2010
RINGKASAN: DHENNY LISDIANTINI. Kajian Penggunaan Hormon IBA dan BAP terhadap Pertumbuhan Tanaman Penghasil Gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) dengan Teknik Kultur In Vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan WA ODE HAMSINAH BOLU.

Hasil hutan non kayu terkadang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kayu, salah satu contohnya adalah gaharu. Permintaan gaharu terus meningkat, sedangkan semua produksinya masih menggantungkan pada produksi dari hutan-hutan alam.

Akibat merosotnya populasi pohon penghasil gaharu di hutan-hutan alam, maka Pemerintah melalui Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978 menetapkan peraturan bagi eksportir Gaharu yang mewajibkan mereka memiliki surat izin CITES. Perlindungan terhadap beberapa jenis tanaman penghasil gaharu semakin ditingkatkan, Aquilaria spp. dan Gyrinops spp. termasuk Appendix II CITES pada tanggal 2-14 Oktober 2004 di Bangkok.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi hormon auksin dan sitokinin (IBA dan BAP) yang terbaik pada media dasar Murashige dan Skoog terhadap pertumbuhan kultur in vitro eksplan tanaman penghasil gaharu Gyrinops versteegii.

Bahan tanaman yang digunakan adalah pucuk eksplan steril G. versteegii. Eksplan ditumbuhkan pada media MS dengan penambahan perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh IBA dengan konsentrasi 0,00; 0,05 dan 0,10 mg/l dan BAP 0,00; 0,05; 0,10 dan 0,20 mg/l.

Penelitian ini disusun menggunakan metode statistika RAL Faktorial dengan jumlah 12 perlakuan dan ulangan sebanyak 6 kali. Pengamatan dilakukan selama 8 MST (minggu setelah tanam) terhadap selumh eksplan yang ditanam meliputi parameter rata-rata pertambahan tinggi, jumlah mas, jumlah tunas, jumlah daun, persentase tingkat kematian, proses pengkalusan dan kontaminasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media perlakuan IBA 0,05 mg/l + BAP 0,20 mg/l memberikan respon terbaik pada parameter pertambahan tinggi dan pertumbuhan tunas, yaitu sebesar 1,8 em dan 3,17 tunas.

Sedangkan media perlakuan IBA 0,00 mg/l + BAP 0,20 mg/l memberikan respon terbaik pada parameter jumlah mas dan jumlah daun, yaitu sebesar 6,33 mas dan 5,67 helai.

Semua media perlakuan menumbuhkan kalus keeuali, pada media kontrol. Presentase jumlah eksplan yang terkontaminasi sebesar 6,94% (5 dari 72 eksplan). Kontaminasi disebabkan oleh adanya eendawan pada tabung.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh IBA (0,00; 0,05 dan 0,10 mg/I) dan BAP (0,00; 0,05; 0,10 dan 0,20 mg/I) memberikan respon yang sangat nyata terhadap parameter jumlah tunas. Sedangkan pada parameter tinggi planlet, jumlah ruas, dan jumlah daun memberikan respon tidak berbeda nyata.

Kata kunci : Gyrinops versteegii, in vitro, auksin, sitokinin.

Bookmark and Share

07 May 2010

Kajian Pertumbuhan Eksplan Pucuk Gaharu Melalui Teknik Ex Vitro

Esha Garden - Friday, May 07, 2010
RINGKASAN: CITRA BETRIANINGRUM. E34104031. Kajian Pertumbuhan Eksplan Pucuk Gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) Melalui Teknik Ex Vitro. Dibimbing oleh EDHI SANDRA dan WAODE HAMSINAH BOLU.

Pada tahun 1985, jumlah ekspor gaharu Indonesia mencapai sekitar 1487 ton, namun eksploitasi hutan alam tropis dan perburuan gaharu yang tidak terkendali telah mengakibatkan species-species gaharu menjadi langka. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan dan untuk mendapatkan konsentrasi hormon tumbuh IBA (Indole Butyric Acid) yang optimal bagi pertumbuhan perakaran eksplan pucuk G.versteegii melalui teknik ex vitro. Berbagai macam media tumbuh dan berbagai konsentrasi hormon IBA dapat menghasilkan pertumbuhan yang berbeda-beda, sehingga dapat diketahui komposisi media dan konsentrasi hormon yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan pucuk gaharu secara ex vitro.

Diharapkan dari hasil penelitian ini diperoleh informasi tentang media tumbuh yang sesuai dan konsentrasi hormon yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan pucuk G. versteegii (Gilg) Domke, sehingga dapat diterapkan guna mendukung pelestarian plasma nutfah.

Dalam pelaksanaan penelitian, alat yang digunakan box mika, aqua gelas 240 ml, cutter, gunting tanaman, sungkup, paranet, papan iris, steples, speryer, dan kertas label. Bahan yang digunakan antara lain eksplan pucuk G. versteegii, hormon IBA (400, 450, 500, 550, 600 ppm), Vitamin B1, bakterisida, fungisida, media (tanah, pasir, dan kompos), Antracol, zat perekat, CaC03. Semua eksplan yang sudah direndam pada larutan (vitamin B1, sterilisasi, dan hormon dengan berbagai konsentrasi), serta dioles dengan pasta pada bagian pangkal eksplan, langsung ditanam pada masing-masing media (tanah tunggal, pasir tunggal, dan campuran tanah-pasir-kompos) yang sudah dimasukkan pada box mika. Selanjutnya box ditutup rapat dan disteples, kemudian simpan dalam sungkup.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah presentase hidup pada perlakuan sebesar 66,67%, sedangkan pada kontrol sebesar 83,33%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan hormon berpengaruh pada presentase hidup eksplan. Pertumbuhan tinggi pada eksplan sangat dipengaruhi oleh jenis media. Sedangkan hormon sangat berpengaruh terhadap perakaran. Persentase berakar pada perlakuan hormon sebesar 61,78% dan pada kontrol sebsesar 53,33%. Dilihat dari persentase berakar berdasarkan konsentrasi hormon, yang paling tinggi pada konsentrasi 550 ppm yaitu 14,22%. Namun, tidak jauh berbeda dengan konsentrasi 450 ppm dengan persentase berakarnya sebesar 13,11%.

Dari hasil sebelumnya dapat disimpulkan bahwa komposisi media yang baik untuk pertumbuhan eksplan gaharu adalah media tanah dengan persentase hidup 89,33%. Sedangkan hormon yang optimal untuk perakaran eksplan pucuk gaharu adalah dengan konsentrasi 550 ppm. Namun konsentrasi 450 ppm juga baik untuk perakaran, walaupun tidak seoptimal konsentrasi 550 ppm. Tetapi konsentarsi hormon 450 ppm ini dapat mengefisienkan biaya.

Key words: Gyrinops versteegii (Gilg) Domke, Material, Hormone

Bookmark and Share
Previous
Editor's Choice