Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

paclobutrazol
Showing posts with label paclobutrazol. Show all posts
Showing posts with label paclobutrazol. Show all posts

22 April 2013

REVOLUSI BUDIDAYA SINGKONG - CASSAVA - Manihot esculenta

@Cahangon75 - Monday, April 22, 2013

Oleh
Edhi Sandra
Pemilik Esha Flora
Kepala Unit Kultur Jaringan Bagian Konservasi Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
Kepala Laboratorium Bioteknologi Lingkungan PPLH IPB Bogor

Pendahuluan


singkonggajah.worldpress.com

Kita kenal lirik lagu : ” Tongkat kayu jadi tanaman..” Hal in imenggambarkan betapa subur dan mendukungnya kondisi di Indonesia untuk berbudidaya. Tongkat kayu (setekan batang singkong) ditancapkan saja maka dapattumbuh dengan sendirinya. Teknik budidaya konvensional ini masih banyakdilakukan oleh para petani Indonesia.

            Kemajuan dalam teknikbudidaya singkong awalnya hanyalah dilakukannya pengolahan tanah danpemupukan.  Paling hanya itu yang telah dilakukanoleh pada umumnya para petani di Indonesia. Bahkan dalam budidayanya seringkali dicampur aduk antara memanen daun  sebagai lalab atau untuk dibuat sayur dengan memanen umbi kayunya.  Dalam kondisi seperti itu produktivitas  sangat tergantung pada kondisi dan kesuburan tanah serta kondisi iklim dan  lingkungan tempat budidaya.

            Pada awalnya pemecahan masalah dilandasi pada keterbatasan lingkungan, misalnya karenaketerbatasan kondisi air dan hara maka pertumbuhan batang dan daun yang tumbuh   dibatasi hanya satu dan dua batang, demikian pula dengan akar sebagai calon  umbi kayu dibatasi agar akar tidak terlalu banyak sehingga alokasi makanan dapat difokuskan pada beberapa umbi kayu yang ada.  Pada kondisi ini maka strateginya adalahberhasil berbudidaya dengan keterbatasan lingkungan yang ada.  Jadi kondisi lingkungan menjadi pembatasdalam produktivitas umbi kayu.

            Semakin hari maka pemahaman dan pengetahuan tentang fisiologi tumbuhan, proses biologi danlingkungan maka manusia sudah lebih pandai dalam memodifikasi kondisi lingkungan agar dapat menunjang pertumbuhan tanaman dengan lebih baik.  Hal inilah yang akan dibahas dalam makalah ini sehingga produktivitas singkong yang awalnya hanya dapat berkisar 20 -40ton / hektar, maka saat ini sudah mulai banyak yang dapat melakukan budidaya  singkong dengan produktivitas  60 -100ton.  Bahkan baru-baru ini ada yangmengklaim bahwa mereka mampu menghasilkan 600-800 ton per hektar.  Dalam makalah ini saya hanya ingin menguraikan bahwa bila semua faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sertaberbagai perlakuan yang dapat meningkatkan produktivitas dilakukan makahasilnya akan sangat menakjubkan.

            Saya akan berusahamenguraikan dari segi fisiologi tumbuhan dan perlakuan-perlakuan yang dapatmeningkatkan pertumbuhan dan produktivitas singkong yang dihasilkan.

Prinsip Dasar

Kembali kita harus ke teori dasar bahwa hasil akhir (Produktivitas) tergantung pada Genetika tanaman, kondisi lingkungan serta manajemen budidaya.

            Produktivitas  =   Genetik    +    Lingkungan   +    Manajemen



Genetika Singkong

Ada beberapa varitas singkong yang sudah dikenal banyak petani sebagai varitas singkong yang baik yaitu : singkong Darrul hidayah, singkong manggu super, singkong kasesat (varitas singkong dari Thailand) dll. Disamping itu   untuk meningkatkan produktivitas maka dapat juga dilakukan sambungan, yaitu menggabungkan sifat positif dari dua varitas yang berbeda: misalnya menggabungkan varitas singkong di atas sebagai batang bawah (karena umbinyayang akan dikonsumsi) dan ’entris’ bagian atas disambung dengan singkong karet .Penggabungan kedua varitas singkong ini akan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas dari singkong yang dihasilkannya. Disamping itu dapat pula dilakukan penyilangan varitas unggul melalui penyerbukan bunganya, dan ada juga yang melakukan pemuliaan yaitu dengan cara melakukan poliploid (melipat gandakan kromosomnya) sehingga menghasilkan varitas yang raksasa.

Lingkungan

Beberapa peubah lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitasadalah:
1.           Sinar matahari harus full dari pagi sampai sore jangan sampai ada yangmenghalanginya.
2.           Ketersediaan air yang mencukupi selama dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman, tapi dalam halini tidak kebanjiran atau terendam air.
3.           Kondisi tanah yangbaik dari segi fisik (pourositas, daya pegang air, lembut dan stabil)kondisi fisik yang baik akan menghasilkan : ketersediaan oksigen yang memadai,ketersediaan air yang mencukupi, kondisi fisik yang nyaman untuk pertumbuhan  tanaman, stabil untuk tempat berdirinya tanaman.
4.           Kondisi tanah yang baik dari segi kimia (ketersediaan unsur hara yang lengkap dan  mencukupi, ketersediaan bahan organik yang lengkap dan mencukupi.
5.           Kombinasi kelembaban dan angin yang pas sangat membantu proses transpirasi sehingga dapat menghasilkan proses fotosintesis dengan baik.

Manajemen

1. Pembuatan Bibit

perkebunansingkongmanggu.blogspot.com
Berasal dari Varitas yang Baik

Sebaiknya bahan setek singkong yang digunakan adalah setek batang singkongyang berasal dari varitas yang baik atau merupakan varitas yang sudahdimuliakan.

Diameter optimal Stek

Bibit yang baik adalah bibit yang berasal dari setek batang singkong yangukuran diameternya sudah mencapai ukuran optimal dari varitasnya, tapi usahakan umurnya muda atau dewasa. Setek batang singkong yang berasal daribatang singkong yang telah tua akan mempengaruhi pertumbuhan akar yangcenderung kerdil dan lambat pertumbuhannya

Panjang Stek Batang

Panjang setek batang akan mempengaruhi ketersediaan cadangan makanan yangtersedia di dalam setek batang tersebut. Cadangan makanan yang ada akan dipergunakan sebagai energi awal yang akan digunakan oleh setek batang tersebut untuk menumbuhkan akar dan daun sampai setek tersebut dapat mandiri, dapat melakukan penyerapan unsur hara sendiri dari tanah serta dapat melakukan fotosintesis dengan baik.
            Selain untuk kepentingan cadangan makanan yang baik maka panjang stek harus memadai untuk pertumbuhanakar dan daun, misalnya jumlah titik tumbuh (mata tunas) untuk perakarandicadangkan 5 – 10  mata tunas dan yanguntuk tumbuhnya tunas atau daun juga 5 mata tunas juga maka jumlah mata tunasyang diperlukan untuk satu stek adalah 10 mata tunas

Kondisi Potongan Stek

Sebaiknya stek dipotong dengan menggunakan pisau yang sangat tajamagar permukaan potongan tidak banyak mengalami kehancuran sel yang sangat berbahaya dalam mengundang inveksi penyakit, dan memperlambat penyembuhan luka. Sebaiknya posisi potongan sedemikian rupa sehingga luas permukaan yang luka sedikit mungkin.  Pemotongan dilakukan didaerah yang bersih, sirkulasi udara yang baik serta kondisi cuaca yang cerahsehingga luka cepat kering, hal ini sangat penting agar stek tidak terinfeksipenyakit.
            Bila dimungkinkan adabaiknya juga bila permukaan luka tersebut diolesi dengan fungisida serbuk(langsung dengan serbuknya) hal ini akan membantu mempercepat pengeringan lukasekaligus menutup luka dari peluang masuknya penyakit.

Penanganan Stek

Seringkali bila menangani bibit stekan dalam jumlah yang sangat besar maka seringkali penangannya menjadi ceroboh dan tidak hati-hati, baik padasaat mengumpukan atau mengikat sehingga banyak bagian stek batang yang lecetdan luka, hal ini juga dapat menyebabkan masuknya penyakit. Menumpuk stek dalamjumlah besar sehingga menyebabkan stek menjadi kurang mendapatkan oksigen dan kelembaban terlalu tinggi sehingga terjadi pertumbuhan jamur dan bakteri yang tidakdiinginkan



2. Perendaman Stek Batang

Stek batang mengandung cadangan makanan, stek batang juga memiliki titik tumbuh / mata tunas tapi masih bersifat dorman. Stek batang hanya memiliki sedikit hormon yang kebetulan terdapat pada  stek batang tersebut, sementara untuk tumbuh diperlukan hormon. Energinya  sudah ada dari cadangan makanan yang tersedia, tapi hormonnya tidak memadai oleh sebab itulah maka kita perlu memberikan dari luar asupan hormon yangdiperlukan untuk pertumbuhannya.

Dalam hal ini diperlukan hormon untuk menumbuhkan  akar, tunas dan daun dan diusahakan pertumbuhannya cepat.  Untuk itu secara teoritis kita harus  memberikan hormon akar (kelompok hormon auksin seperti hormon IAA, atau IBAatau NAA) dan untuk menumbuhkan tunas dan daun (perlu diberikan kelompok hormon   sitokinin seperti BAP, kinetin, TDZ). Dan untuk mempercepat pertumbuhan dapat diberikan hormon yang dapat meningkakan pembelahan sel yaitu hormon Giberelin.  Dalam penerapannya bisa di berikan secara  terpisah, misalnya bagian bawah direndam dengan hormon akar dan untuk  merangsang tumbuhnya tunas dengan hormon tunas. Dan semuanya disemprotkan  giberelin agar pertumbuhan akar dan tunas menjadi lebih cepat.

Dapat juga dilakukan dengan cara menggabungkan  ketiga hormon tersebut dengan komposisi misalnya: komposisi hormon akar dan  tunas seimbang dan ditambah dengan hormon giberelin (auksin 40 : sitokinin 40 :giberelin 20). Sebaiknya digunakan hormon yang pro analis sehingga kita dapat  membuat perbandingan dengan lebih akurat, dan konsentrasi yang dapat dibuat  adalah auksin 20 mg/l, sitokinin 20 mg/l dan giberelin 10 mg/l. Dan dalam halini setekan direndam seluruhnya sehingga larutan hormon dapat lebih meresapkedalam stek tersebut, hal ini akan membuat cadangan hormon di dalam stekmenjadi lebih banyak dan memadai untuk menunjang pertumbuhan akar dan tunas.  Setelah direndam dalam larutan hormon tersebut maka stek ditanam.

Persiapan Lahan

Prinsipnya adalah seberapa banyak panen yang kita inginkan, dan jumlahtersebut membutuhkan ruang di dalam tanah seberapa luas, maka seluas itulah kita perlu mengolah tanah agar pertumbuhan singkong dapat optimal.  Bila ternyata satu tanaman singkong  membutuhkan ruang media tanam seluas satu meter ke bawah dan satu meter  kesamping maka seluas itu pula kita harus mengolah media tanamnya, dibuat  agar gembur, aerasi bagus, daya pegang air tinggi, dan makanan organik danmineral terpenuhi dengan optimal.
Ketersediaan air di dalam media tanam yang memadaitapi juga tidak membuat media tanam tersebut menjadi becek atau  ”ngembeng/ tergenang” adalah sangat penting. Air merupakan faktor yang sangat  menentukan di dalam produktivitas. Keberadaan bahan organik sangat membantu dalam meningkatkan kemampuanmemegang air.  Bisa juga dengan cara   meramu dengan media yang mempunyai daya pegang air yang tinggi seperti cocopit,mos ataupun bahan sintetik seperti vermikulit dll.
Keberadaan air yang memadai secara kontinu sangat menentukan produktivitas,hal ini sesuai dengan proses fotosintesis:

           

                                                            Sinar matahari
6CO2  +  6H2O      -----------------------------à  C6H12O6  + 6O2
                                                            klorofil
         
dari gambaran di atas terlihat bahwa ketersediaan air sangat penting,demikian pula dengan CO2 dibantu sinar matahari dan klorofil.  Jadi faktor-faktor tersebut : air,karbondioksida, sinar matahari dan klorofil (butir hijau daun) harus kitaoptimalkan. Semakin optimal kita menyediakan faktor-faktor tersebut makaakan semakin optimal produktivitas yang dihasilkan.

Hasil Fotosintesis untuk apa?

Dalam fotosintesis terlihat bahwa metabolisme tersebut menghasilkan  oksigen, gula (karbohidrat) dan energi.  Hasil inilah yang kemudian di pakai untukmembiayai semua proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman singkong.  Tanaman singkong akan mulai menabung hasilfotosintesisnya bila semua biaya operasional pertumbuhannya sudah terbiayai,  maka kalau ada sisa, maka sisa tersebut akan ditabung di akar yang berperansebagai penampungan cadangan makanan ”ubi” (singkong).  Tanaman singkong akan dapat menabung banyakbila faktor-faktor produksi optimal, biaya operasional metabolisme danpertumbuhan rendah, maka sisanya akan banyak dan ditabung.

Seringkali biaya operasional metabolisme dan pertumbuhan tidak efisien atau  salah arah (menurut sudut pandang manusia/penanam), misalnya energi dipakai  untuk membiayai organ atau sel atau jaringan yang tidak produktif tapi meminta   jatah energi untuk hidupnya sel-sel tersebut, contoh adalah daun yang terdapatdibagian bawah tajuk yang tidak mendapat sinar maka, ia tidak dapatberfotosintesis tapi tetap perlu energi untuk respirasi / hidup. Bagian  jaringan yang sakit akan membutuhkan energi untuk mempertahankan diri dariinfeksi penyakit, sehingga banyak energi terpakai sia-sia (dari sudut matamanusia).

Dalam kita memodifikasi atau menjawab permasalahan  maka diusahakan mencari alternatif yang tidak mengurangi produktivitas. Misalnya: agar energi tidak terpakaisia-sia maka daun di bagian bawah tajuk dibuang, hal ini disatu sisi adalah  benar tapi disisi lain mengurangi jumlah produksi karena sebenarnya daunmengandung klorofil yang sangat penting dalam proses fotosintesis. Jadi kalau”dapur” untuk memasak dikurangi maka jumlah masalkan juga akan berkurang. Oleh   sebab itu maka alternatif pemecahan masalah bukannya mengurangi jumlah daun,tapi bagaimana caranya agar sinar dapat mencapai daun di bagian bawah tajuk,apapun caranya misalnya memberikan reflektor agar sinar dapat memantul daribagian bawah sehingga sinar dapat mengenai daun bagian bawah. Hal ini akan   menambah jumlah daun yang dapat berfotosintesis. Atau yang mudah adalah merenggangkan  jarak tanam agar sinar dapat masuk ke daun bagian bawah.
Kondisi media tanam yang gembur, tidak keras dan padat akan membuatpertumbuhan lebih mudah, hal ini akan membuat efisien energi yang diperlukan  untuk menumbuhkan ubi tersebut, sehingga jumlah cadangan makanan yang akandisimpan dapat lebih banyak.

Demikian pula bila pertumbuhan yang lebih cepat (dengan memberi  hormon yang dapat mempercepat pembelahan dan pembesaran sel ) maka operasional akan hemat waktu dan pada akhirnya akan menghemat energi.  Pemberian hormon dengan pengaturanpertumbuhan sehingga akar lebih banyak dan besar daun lebih besar dan hijaumaka sudah pasti akan lebih mengefisienkan biaya operasional dan mengoptimalkan  jumlah energi dan cadangan makanan yang dapat ditabung.

Bahan organik Dan Makanan Siap pakai

Dalam proses fotosintesis terlihat bahwa yang  dibutuhkan hanya air dan karbondioksida untuk menghasilkan glukosa ataukarbohidrat (dan oksigen) dibantu oleh sinar matahari dan klorofil. Lalu pertanyaannya buat apa pupuk kandang, kompos dan media tanamlainnya?  Kesemuanya diperlukan untuktumbuh dan berkembangnya tanaman singkong tersebut.  Tumbuh berkembangnya tanaman singkongmembutuhkan berbagai macam bahan baku yang sangat beragam.


Pertumbuhan Tanaman Singkong

Pertumbuhan tanaman sebenarnya dapat  disederhanakan menjadi 3 kegiatan pada level sel, yaitu membelah, membesar dan  menebal (kuantitatif).  Bertambahnya jumlah sel berarti memerlukan  bahan-bahan untuk membentuk sel, termasuk organel-organel sel (wah ...maaf  tambah rumit ya bahasanya...) intinya pertumbuhan membutuhkan berbagai zatuntuk tumbuh mulai dari unsur hara sampai pada bahan organik dasar maupun organik  kompleks.  Proses pembuatan organik dasardari bahan baku anorganik yang ada ditanah saja sudah membutuhkan waktu danenergi, belum lagi kalau unsur hara tersebut tidak terdapat pada media. Dan  dari organik dasar ke organik kompleks juga diperlukan waktu, energi danzat-zat yang khusus juga.   Bila  kebutuhan untuk itu banyak yang tersendat dan tidak optimal maka pertumbuhan  tidak akan optimal.

Penyediaan bahan organik yang siap pakai (bahan organik yang sudah diuraikan  sampai pada level terendah) sehingga bisa digunakan oleh tanaman secaralangsung merupakan hal yang sangat membantu pertumbuhan tanaman singkong.  Oleh sebab itulah pembuatan bahan organikyang sudah di uraikan (banyak orang mengistilahkan sudah difermentasi, padahaltidak semuanya bersifat fermentasi).

Demikian pula bila kita mampu energi yang siap menyediakan sumber pakai,misalnya dalam hal ini glukosa atau gula sederhana maka tumbuhan dapat langsungmemakai atau bahkan dapat langsung di konversi dan di simpan bila berlebih.

Penyediaan semua kebutuhan zat yang diperlukan oleh tanaman adalah sangatperlu, seringkali media tanah tempat tanam tidak memiliki kelengkapan zat yang  diperlukan, jadi wajib kita menambahkan zat yang diperlukan yang sudah siappakai yaitu bahan organik terendah tersebut.

Menyediakan makanan yang memadai bukan karena piringnya yang besar tapi  lebih pada suplai bahan makanan yang lengkap dan bergizi yang lebih perlu  diperhatikan.  Suplai bahan makanan yangbergizi inilah yang harus kita sedikan di media tanam tempat kita menanamsingkong.

Peranan Teknologi Budidaya

Dalam hal ini teknologi budidaya diarahkan agar pertumbuhan mejadiefisien dan efektif serta produktivitas dapat optimal. Teknologi dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan modifikasi dan kreatifitas dalam mengarahkansemua faktor pertumbuhan ke arah yang optimal. Untuk itu dalam pelaksanaannya  diperlukan pengaturan kondisi dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, semua  dibuat dan diarahkan pada pertumbuhan yang optimal.

Dalam pengendalian pertumbuhan tanaman agar tidak mengarah ke pertumbuhanyang tidak diinginkan, dan kita dapat lebih mengoptimalkan pada pertumbuhanyang kita inginkan dalam rangka menghasilkan produktivitas yang tinggi, hal inidapat dilakukan pada saat:
Mempercepat pertumbuhan akar dan daun agar bibit tanaman singkong lebih cepat eksis dan mandiri pada saat bibit. (hormon auksin dan sitokinin)

Mempercepat pertumbuhan tanaman singkong agar jumlah daun tinggi ”dapur” untuk menghasilkan makanan besar. Dalam hal ini dapat di beri makanan yang sesuai untuk pertumbuhan vegetatif (dalam bentuk unsur hara adalah unsur N (nitrogen).  Unsur hara ini diperlukan untuk membentuk organel sel seperti inti sel, asam amino dll. (pemberian hormon sitokinin dan bahan organik & NPK)

Merubah alokasi aliran makanan dari vegetatif ke arah pengisian cadangan makanan ke dalam ubi. Untuk ini perlu kita bantu mengalihkan alokasi makanan dengan dominasi hormon tertentu agar pertumbuhan vegetatif dikurangi dan porsi pengisian cadangan makanan ke ubi ditinggikan. (zat penghambat dan hormon auksin)
membantu mempercepat dan memperbesar kapasitas daya tampung ubi sehingga ubi bisa tumbuh besar dan banyak. (hormon untuk pembesaran dan memperbanyak umbi)

Mengurangi Hambatan Fisiologis Bibit Stek

Tumbuhnya tunas dan akar dari titik tumbuh setek batang singkong menyebabkan aliran unsur hara dan makanan tidak selancar dan sebaik bila akardan batang berasal dari biji, tumbuh serasi dari akar, batang daun.  Hal ini penting dalam suplai bahan makanan  dari akar maupun sebaliknya menyimpan cadangan makanan dari daun ke ubi. Dan umursel  bahan stek yang digunakan akan  menjadi sangat tua (untuk umur sel dan jaringan) sehingga tidak optimal   dalam mendukung  pertumbuhan tunas dan akar yang baru.  Sebaik apapun pertumbuhan akar dan daun makapada saat melewati batang stek yang sudah tua maka akan terhambat, akan lebih  baik bila tunas batang yang baru memiliki akar langsung dari batang baru   tersebut, hal ini akan membuat aliran bahan makanan maupun cadangan   makanan akan lebih lancar. Dan jumlah akar yang dapat dijadikan ubi akan  semakin banyak.
Oleh sebab itulah pada saat stek sudah menumbuhkan beberapa batang baru dan  sudah tumbuh tinggi, maka batang yang sudah tumbuh tersebut, di urug lagidengan media tanam yang subur sampai beberapa mata tunas dari batang yangtumbuh tersebut terurug media tanam. Titik tumbuh dari batang yang terurug media tanam tersebut diberi hormon  akar sehingga menumbuhkan akar-akar baru yang panjang banyak, hal ini dapat  meningkatkan jumlah ubi yang dihasilkan.

Mengalokasikan Hasil Fotosintesis ke ArahPengisian Umbi Singkong

Pada saat tajuk atau jumlah daun sudah cukup  banyak dalam menghasilkan makanan, maka pertumbuhan vegetatif tajuksebaiknya dihentikan atau di hambat, dan alokasi makanan sebagian besar di arahkanpada pengisian dan pembesaran umbi singkong.  Untuk itu bisa dilakukan pemangkasan pucukdaun singkong dan diolesi dengan tepung atau gel yang sudah diberi zat   penghambat tumbuh (Packlobutrazol dosis 500 mg/l).  Dan untuk dapat mengarahkan makanan ke arahakar maka di semprot dengan hormon akar dan pengisian atau pembesaran organ.  Bisa digunakan gabungan hormon IBA 2 mg/l, NAA 2 mg/l dan 2,4 D 2 mg/l, GA32 mg/l.  Disamping hormon maka dapat ditambahkan KNO3 sebanyak 2 g/l.  Ramuan hormon ini diberikan atau disemprotkan ke akar, penyemprotan   dilakukan dengan interval sekitar seminggu 3 kali. Proses penghambatanvegetatif tajuk sebaiknya diakhir dari pertumbuhan tanaman singkong (sampaimasa panen), sebaiknya tidak lebih dari 3-4 bulan.

Demikian uraiantulisan ini   mohon   maaf bila kurang jelas.   Semoga bermanfaat.
Terima kasih

Bogor, 18 April2013
Edhi sandra
www.eshaflora.blogspot.com
fb : edhi sandra (edhisms@gmail.com)
email : edhisms@gmail.com
            edhi_sandra@yahoo.co.id

19 January 2012

Penyebab Mudah Robohnya Pohon-pohon Besar di Perkotaan

Esha Garden - Thursday, January 19, 2012

I.Pendahuluan
Dengan semakin meningkatnya kondisi cuaca ekstrim belakangan ini banyak pohon-pohon besar yang tumbang. Pohon-pohon yang tumbang tidak hanya pohon-pohon yang masuk kategori sakit, tapi juga pohon-pohon besar yang “kelihatannya sehat”.

Kenapa banyak sekali terjadi pohon-pohon besar yang tumbang belakangan ini, terutama di daerah perkotaan. Perlakuan perawatan apa yang harus dilakukan dan monitoring seperti apa yang dapat dilakukan agar tumbangnya pohon tersebut dapat diperkecil dampak negatifnya.

Sebagian orang yang melihat dampak negative tumbangnya pohon besar, tanpa berfikir panjang dengan sangat mudah memberikan solusi agar semua pohon besar di pangkas sampai batas aman, tidak menimpa rumah, mobil, bangunan dll, apa betul demikian? Mungkin kalau harus seperti akan tinggal sebagian kecil saja pohon besar yang ada di bogor, karena memang di daerah perkotaan tidak ada daerah yang leluasa untuk tumbuhnya pohon besar.

Ada pula yang berpendapat bahwa bila sudah banyak daun yang gugur maka berarti pohon tersebut sudah tua dan harus segera ditebang atau dipangkas, apakah betul demikian? Coba kita melihatnya dengan lebih dalam dan lebih komprehensif agar permasalahan tersebut betul-betul dapat ditanggulangi dengan baik.

II. Ketahanan Pohon di Dalam Menghadapi Terpaan Angin/ Badai
Secara alami pohon memiliki kemampuan dan ketahanan di dalam meghadapi terpaan badai. Hal ini merupakan proses evolusi dan adaptasi yang panjang. Kemampuan dan daya tahan tersebut diwujudkan dalam bentuk morfologi perakaran yang sangat spesifik dikaitkan dengan morfologi batang dan tajuk pohon tersebut.

Untuk jenis kelapa yang mempunyai morfologi tinggi dengan batang yang relatif kecil, elastis dengan tajuk diujung batang dengan bentuk daun yang panjang dan sempit sehingga tidak banyak menahan angin, maka karena sistem perakarannya monokotil (serabut) dan biasanya tumbuh di atas daerah bercadas sehingga akar-akar kelapa tadi benar-benar mencengkram dengan sangat kuat, disamping cadasnya sendiri merupakan bebatuan yang sangat keras dan kuat sehingga pohon kelapa walaupun diterpa badai atau angin yang keras, maka batangnya saja yang meliuk-liuk tapi tidak menyebabkan pohon tersebut patah atau rubuh.

Demikian pula dengan jenis pohon dikotil yang memiliki bentuk percabangan yang banyak dan lebat menghasilkan pohon yang besar menjulang dengan tajuk berbentuk melebar seperti payung (tidak semua pohon) Untuk menjaga agar pohon tersebut tidak tumbang maka secara genetik menumbuhkan akar tunjang yang tumbuh terus menghujam ke dalam bumi layaknya paku bumi dengan akar-akar sekunder dan tersier yang bercabang-cabang sebanyak dan selebar tajuk pohon tersebut. Dengan demikian ada keseimbangan bobot dan juga metabolisme. Hal inilah yan membuat pohon tidak mudah tumbang diterpa badai karena kedalaman akar tunjangnya dan cengkaraman akar sekunder dan tersiernya yang seluas tajuk membuat pohon tersbut cukup kuat menghadapi badai.

III. Faktor Yang Membuat Pohon di Perkotaan Mudah Tumbang
1. Pembangunan kota yang sangat cepat menuntut terbentuknya daerah hunian dan perkotaan yang relatif cepat. Hal ini berdampak pada pengerjaan komponen fisik kota yang juga harus serba instan dan cepat. Termasuk juga bagaimana dengan cepat membuat kondisi perkotaan cepat hijau dan indah. Hal ini membuat para pekerja / pembuat taman berusaha mewujudkan daerah yang hijau dengan menanam pohon yang sudah besar dengan sistem putar (cabutan) atau membeli bibit pohon tapi dengan ukuran yang sudah besar berupa stek batang setinggi 3-4 meter. Dengan keahliannya maka pohon tersebut dapat ditanam dan dapat tumbuh dengan baik, tapi apakah mereka memikirkan bagaimana pertumbuhan akarnya selanjutnya, apakah dapat tumbuh dan menancap dengan kuat ke dalam tanah. Ukuran batang yang besar tidak sesuai dengan luasan tajuk dan akar yang ada, misalnya dengan luasan tajuk pohon dengan diameter 3 m, tapi batang pohon agar kelihatan ekslusif berukuran diameter sekitar 30-40 cm. Hal ini tidak serasi meurut ukuran alamiah. Biasanya untuk diameter tajuk 3 m cukup batang dengan diameter batang hanya 10-15 cm.

2. Tata letak jalur hijau dan posisi pohon sering sekali bertumpang tindih dengan kabel PLN dan sering melampaui batas halaman rumah. Hal ini menyebabkan pohon seringkali dipangkas cabang dan rantingnya agar tidak mengganggu kabel PLN dan menutupi halaman rumah bahkan serasahnya mengotori halaman rumah. Pemotongan cabang dan ranting yang berlebihan akan menyebabkan ketidak seimbangan antara tajuk dan akar. Bila Banyak cabang dan ranting yang ditebang akan menyebabkan akar tidak berfungsi dengan baik, dan hal ini dapat menyebabkan pembusukan bertahap pada akar sehingga lambat laun akan mengurangi jumlah dan luasan akar. Pada akhirnya akar akan menyusut menyesuaikan diri dengan jumlah tajuk yang ada, ini merupakan keseimbangan tajuk dan akar. Berkurangnya jumlah akar menyebabkan berkurangnya daya cengkram dan cakupan akar. Jumlah akar yang sedikit sementara ukuran batang yang besar menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan akar dalam menjaga tetap kokohnya batang pohon tersebut. Bila terjadi angin badai, maka ukuran batang yang besar dan tiupan angin yang keras tidak mampu ditahan oleh akar yang tinggal sedikit tersebut.

3. Adanya pembangunan fisik pada bagian dasar/ tanah, seperti pengaspalan, pembetonan, pondasi bangunan / gedung bertingkat. Kesemuanya membuat terbatasnya pertumbuhan akar pohon tersebut. Ditambah lagi dengan sering terjadinya penggalian untuk pekerjaan PAM, PLN, saluran selokan dll membuat terpotong dan terpangkasnya akar cukup banyak. Hal ini berdampak sangat serius pada pohon tersebut, walaupun tidak menyebabkan kematian. Hilangnya sejumlah akar menyebabkan ketidakseimbangan dalam proses transpirasi. Besarnya penguapan di level permukaan daun, tidak seimbang dengan suplai air dari dalam tanah melalui akar.ketidakseimbangan ini menyebabkan rusaknya sistem kapileritas dan dapat menyebabkan dehidrasi yang serius. Dehidrasi serius ini akan diantisipasi pohon dengan menggugurkan sejumlah daun, sehingga lambat laun tajuk juga akan menyesuaikan diri dengan jumlah akar yang ada. Penyusutan akar dan tajuk/daun ini akan berdampak pada tidak berfungsi optimalnya batang yang besar tersebut, hal ini akan menyebabkan sebagian sel-sel atau jaringan batang akan tidak berfungsi dan lambat laun akan mati. Matinya beberapa sel / jaringan batang akan menyebabkan pohon tersebut mudah terserang penyakit dan hama. Serangan hama dan penyakit ini akan berdampak pada fisik berupa cepat growongnya batang pohon tersebut. Growongnya batang pohon akan berdampak pada kekuatan pohon dalam menahan serangan badai.

4. Tidak adanya perawatan untuk pohon-pohon yang telah di tanam. Pohon-pohon tersebut dibiarkan tumbuh sesuai dengan alamiahnya. Hal ini tidak akan menjadi masalah bila tidak ada gangguan-gangguan seperti yang telah diungkapkan. Belum lagi dengan adanya musim kemarau yang berkepanjangan, juga akan berdampak pada kesehatan pohon. Adanya gangguan dan hambatan pertumbuhan, karena pemangkasan, pembatasan pertumbuhan akar dan tajuk, pencemaran lingkungan, kesemuanya akan menyebabkan pohon akan mengalami percepatan penuaan pohon. Percepatan penuaan ini didefinisikan dengan semakin banyaknya sel-sel yang tua yang terdapat di dalam pohon tersebut yang pada akhirnya mendominasi dan melebihi jumlah sel-sel yang muda. Sel-sel yang tua akanmenghasilkan metabolit sekunder berupa hormon auksin, zat penghambat dan zat etilen. Kesemua metabolit tersebut berdampak pada kematian sel-sel tua tersebut. Semakin banyaknya sel-sel yang mati, maka akan mempermudah terinfensinya mikroba patogen yang akan menyebabkan busuk, atau terinfeksinya oleh hama yang menyebabkan growong dll. Pohon-pohon dengan kondisi demikian lambat laun akan berkurang kemampuan daya tahannya terhadap terpaan badai.

IV. Antisipasi Agar Pohon Tidak Mudah Tumbang
1. Penyiapan bibit yang memiliki akar tunjang yang baik, sebaiknya bibit berasal dari biji. Bila bibit berasal dari stek maka bibit stek tersebut juga perlu dibuat akar tunjang buatannya agar bibit stek tersebut memiliki akar tunjang yang nantinya akan dapat memperkuat berdirinya pohon tersebut

2. Dalam melakukan pemangkasan sebaiknya tidak bersifat drastis, atau dalam jumlah besar karena akan berpengaruh pada keseimbangan dalam proses transpirasi dan metabolisme dalam pohon tersebut. Bila pemangkasan besar tersebut memang terpaksa dilakukan, maka ketidakseimbangan besar batang dengan ukuran tajuk atau perakaran perlu mendapatkan perhatian, atau bila perlu diberi penguatan tambahan, misalnya pemberian pasak penguat, atau tali baja penguat berdirinya batang dll.

3. Pemangkasan akar pada saat dilakukan pekerjaan pembangunan sarana PAM, PLN, Selokan dll akan membuat ketidak seimbangan. Sebaiknya perlu dibantu dengan percepatan pemulihan pertumbuhan akar-akar baru dengan dibantu dengan memberikan hormon untuk percepatan pertumbuhan akar.

4. Sebaiknya semua pihak menyadari pentingnya perawatan pohon besar ini bila tidak ingin kasus robohnya pohon akan terus berulang. Terutama pihak-pihak Pemutus kebijakan sebaiknya sudah mulai mengalokasikan anggaran untuk perawatan pohon besar diperkotaan. Tujuan dari perawatan adalah untuk :
a. Memperpanjang umur pohon (awet muda)
b. Meningkatkan ketahanan terhadap terpaan bagai
c. Mengurangi persentase rapuhnya batang, cabang dan ranting yang patah atau roboh.
d. Menjaga dominasi sel-sel muda di bandingkan sel-sel tua pada pohon tersebut
e. Membantu mengurangi hambatan pertumbuhan (terutama pada akar) sehingga daya cengkram akar tetap kuat.

5. Penguatan pada akar, atau pertumbuhan tajuk, atau penguatan dan pertumbuhan diameter batang perlu kita lakukan, karena hambatan dan gangguan lingkungan terhadap pohon tersebut sudah diluar kemampuan pohon tersebut untuk dapat pulih kembali. Dengan membantu dan mempercepat penyerapan makanan. Dan menambahkan semua kebutuhan pohon tersebut untuk tumbuh, seperti hormon, vitamin dan pupuk organik dll.

Untuk masuknya bahan perlakuan dilakukan melalui akar dengan dibantu dengan membuat lubang-lubang kecil dan dalam sebanyak luasan tajuk (seperti biopori). Dan contoh ramuannya adalah:
a. Memperkuat akar:
- hormon NAA 0,25 mg/l, hormon IBA 0,25 mg/l , IAA 0,25 mg/l, 2,4D 0.25 mg/l
- vitamin B1 5 mg/l
- vitamin B2 2,5 mg/l
- Vitamin B6 2,5 mg/l
- Vitamin B 12 2,5 mg/l
- Myoinositol 100 mg/l

b. Memperbanyak tajuk
- hormon BAP 0,5 mg/l, hormon kinetin 0,5 mg/l
- vitamin B1 5 mg/l
- vitamin B2 2,5 mg/l
- vitamin B6 2,5 mg/l
- vitamin B12 2,5 mg/l
- Myoinositol 100 mg/l

c. Memperkuat batang, cabang dan ranting
- hormon giberelin 0,5 mg/l, 2,4 D 0,5 mg/l, kinetin 0,5 mg/l
- vitamin B1 5 mg/l
- vitamin B2 2,5 mg/l
- vitamin B6 2,5 mg/l
- vitamin B12 2,5 mg/l
- Myoinositol 100 mg/l
- KNO3 1 g /l
- Packlobutrazol 50 mg/l

Dosis yang diberikan untuk satu pohon besar bisa mencapai 20 sampai 40 liter di berikan pada lubang-lubang yang telah dibuat tersebut. Ramuan tersebut merupakan ramuan spesifik mengarah pada tujuan tersebut, disamping itu tetap perlu diberi makanan yang bergizi yaitu:

1. Pupuk organik cair lengkap 2 ml/l
2. Pupuk hayati lengkap 2 ml/l
3. NPK yang telah dicairkan 1000 mg/l
4. Sumber energi (tetes tebu / molase) 2 ml/l

Pohon adalah mahluk hidup, yang mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup, tapi bila tekanan lingkungannya melebihi kemampuan dalam bertahan maka pohon tersebut akan tumbang. Kita hanya perlu membantu agar pohon tersebut meningkat kemampuan daya tahannya terhadap terpaan angin. Oleh sebab itulah maka penanganan pohon bukan hanya sekedar fisik, tapi juga harus memperhatikan aspek fisiologi pohon tersebut. Pohon sehat, bahagia dan kita terhindar dari robohnya pohon.

Bogor 18 januari 2012

Tentang penulis :
Ir. Edhi Sandra MSi adalah:
  1. Kepala Lab Bioteknologi Lingkungan PPLH IPB Bogor
  2. Kepala Lab Kultur Jaringan Bagian Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB Bogor
  3. Pemilik Esha Flora Plant and Tissue Culture

12 April 2010

Pengaruh Paclobutrazol dan Arang Aktif Pada Media Tanam Dalam Menghambat Pertumbuhan Tabat Barito (Ficus deltoidea Jack) Secara Kultur In Vitro

Esha Garden - Monday, April 12, 2010
Ringkasan: Yeni Oktiani. E03499027. Pengaruh Paclobutrazol dan Arang Aktif Pada Media Tanam Dalam Menghambat Pertumbuhan Tabat Barito (Ficus deltoidea Jack) Secara Kultur In Vitro. Dibawah bimbingan Ir. Edhi Sandra, Msi dan Ir. Diny Dinarti. MS.

Tabat Barito (Ficus deltoidea Jack) merupakan salah satu bahan baku jamu atau obat tradisional yang berkhasiat bagi kesehatan wanita, tergolong salah satu dari 41 tumbuhan yang sudah langka dan perlu dilestarikan (Supriadi, 2001). Mengingat permintaan pasar yang semakin bertambah, sementara pemungutannya masih dari alam dikhawatirkan akan terjadi kepunahan, karena itu pemanfaatan tumbuhan obat perlu di imbangi dengan upaya-upaya pelestarian.

Dalam penelitian ini dicoba pendekatan lain sebagai upaya pelestarian dengan konservasi n vitro yaitu memperlambat pertumbuhan plantet secara in vitro. Akan tetapi pelestarian jenis dengan tehnik kultur jaringan dihadapkan pada masalah kegiatan subkultur.

Sementara jumlah koleksi tanaman kultur jaringan sangat banyak sehingga akan disibukan dengan kegiatan subkultur saja. Untuk menanggulangi masalah tersebut maka dicoba dengan penggunaan zat penghambat pertumbuhan yaitu paclobutrazol yang dapat menekan pertumbuhan vegetatif tanaman dalam in vitro dapat berlangsung sehingga kultur dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa harus subkultur.. Dengan cara memodifikasi konsentrasi salah satu zat penghambat pertumbuhan yaitu paclobutrazol dan media tanam yang digunakan yaitu media Murashige & Skoog (MS) dan media MS yang telah ditambah 0,5 g/l arang aktif dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan dalam upaya pelestarian Tabat Barito.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian zat penghambat pertumbuhan (paclobutrazol) dengan beberapa konsentrasi untuk menentukan konsentrasi yang optimum dalam menghambat pertumbuhan Tabat Barito secara in vitro selama masa penyimpanan serta untuk menentukan media tanam yang baik untuk pertumbuhan minimum, sehingga hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah diperoleh metode penyimpanan tanaman secara in vitro yang tepat untuk menghambat pertumbuhan dalam upaya pelestarian Tabat Barito.

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumbuhan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Pengambilan data dilaksanakan selama lima bulan dari bulan Oktober 2002 sampai bulan Februari 2003.

Percobaan ini terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah 5 konsentrasi paclobutrazol (0 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm dan 80 ppm) dan diinteraksikan dengan faktor kedua yaitu 2 media tanam yang digunakan adalah media Murashige & Skoog (MS) dan media MS yang telah dimodifikasi dengan penambahan arang aktif 0,5 g/l. semua media dibiakkan pada suhu normal (25 Derajat C) selama 3 bulan dengan intensitas cahaya normal ruang kultur yang diterima eksplan sebesar 100% dimana seluruh bagian eksplan menerima/terkena cahaya. Media MS ini dibuat dalam bentuk padat dengan menambahkan agar-agar pada media.. Bahan tanaman yang digunakan adalah Tabat Barito (Ficus deltoidea Jack) hasil subkultur yang telah tersedia di laoratorium Konservasi Tumbuhan.

Parameter pertumbuhan yang diamati terbatas hanya pada pertumbuhan vegetatif yang meliputi pertumbuhan akar dengan melihat jumlah akar yang tumbuh pada setiap botol percobaan, tinggi eksplan, jumlah tunas daun yang baru tumbuh, jumlah daun yang tumbuh pada eksplan dengan kondisi yang sehat (tidak terinfeksi atau terserang penyakit) dan warna daun yang diamati secara visual. Pengamatan dilakukan pada seluruh eksplan didalam setiap satuan percobaan. Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali setelah aplikasi palcobutrazol sampai akhir pengamatan yaitu minggu ke-12 kecuali untuk tinggi eksplan hanya dilakukan pada saat penanaman dan akhir pengamatan.

Pertambahan jumlah akar yang paling dihambat oleh paclobutrazol dengan nilai rata-rata pertumbuhan terendah yaitu eksplan yang diaplikasi paclobutrazol dengan konsentrasi 0 ppm (kontrol) sebesar 0,8. Tinggi eksplan yang diaplikasi paclobutrazol pada berbagai konsentrasi nyata menghambat pertumbuhan dibandingkan dengan kontrol, akan tetapi konsentrasi paclobutrazol yang paling menghambat terdapat pada perlakuan yang diplikasi paclobutrazol dengan konsentrasi 40 ppm dan 60 ppm dengan nilai rata pertumbuhan terkecil yaitu 1,2 cm.

Pada akhir pengamatan diketahui bahwa semua perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol pada berbagai konsentrasi nyata menghambat pertumbuhan tunas. Konsentrasi paclobutrazol 60 ppm dan 80 ppm menghasilkan rataan jumlah daun terkecil yaitu 1,6. Secara visual terlihat jelas adanya perbedaan terhadap warna daun yang diaplikasi paclobutrazol dibandingkan dengan kontrol (tanpa penambahan paclobutrazol) dimana warna daunnya lebih hijau. Pada umumnya, warna daun meningkat seirig dengan semakin banyaknya konsentrasi paclobutrazol yang diberikan sehingga kandungan klorofilnya pun semakin meningkat.

Berdasarkan uji Duncan terhadap pertumbuhan jumlah akar yang dapat dihambat, dimana pengaruh nyata dapat dilihat pada media MS dengan rataan jumlah akar yang dapat ditekan sebesar 0,8. Pada perlakuan media tanam juga membrikan pengaruh yang nyata terhadap penghambatan tinggi eksplan, akan tetap dilihat dari angka-angka yang ditunjukan ternyata tinggi eksplan pada media MS ditambah 0,5 g/l arang aktif umumnya lebih pendek dibandingkan pada media MS, sehingga efek penghambatan tumbuh pada Tabat Barito lebih tampak pada media MS yang telah dimodifikasi dengan nilai rataan terkecil yaitu 1,8 cm.

Untuk pertumbuhan jumlah tunas yang dapat ditekan tidak terdapat pada kedua media baik itu media MS maupun media MS ditambah 0,5 g/l arang aktif. Sedangkan faktor media tanam yang dapat menghambat pembentukan daun terjadi pada media MS. Pengaruh media yang digunakan terhadap perubahan warna daun tidak terlihat jelas perbedaannya rata-rata dari semua eksplan berwarna hijau pada perlakuan kontrol dan hijau tua pada perlakuan yang diaplikasi pacbutrazol..

Pengaruh interaksi antara kedua faktor tersebut yang menghambat pertumbuhan vegetatif eksplan Tabat Barito ternyata perlakuan yang dapat menekan penambahan jumlah akar paling optimal dihasilkan oleh perlakuan media MS yang diaplikasi paclobutrazol konsentrasi 60 ppm (P3MI) dengan rataan jumlah akar terkecil sebesar 0,70. Untuk pertumbuhan tinggi eksplan yang paling dihambat terdapat pada perlakuan yang aplikasi paclobutrazol konsentrasi 40 ppm yang ditanam pada media MS yang telah di tambah 0,5 g/l arang aktif dengan nilai rataan terkecil yaitu 1,1 cm. Pengaruh yang diberikan oleh kedua faktor tersebut dalam menghambat pertumbuhan tunas terlihat pada semua perlakuan yang diaplikasi pactrobutrazol pada berbagai konsentrasi dan perlakuan kontrol yang ditanam pada media MS yang telah dimodifikasi (P0M2).

Pada perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol konsentrasi 40 ppm yang ditanam pada media MS yang telah ditambah 0,5 g/l arang aktif (p2M2) dengan perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol 60 ppm yang ditanam pada media MS (P3MI) memperlihatkan rataan pertumbuhan jumlah daun yang paling sedikit yaitu 1,54. Secara visual warna hijau daun yang terdapat pada semua perlakuan yang ditanam pada kedua media tanam memberikan perbedaan yang nyata antara perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol dibandingkan dengan perlakuan kontrol.

Konsentrasi paclobutrazol 60 ppm yang ditanam pada media MS sangat menghambat pertumbuhan vegetatif Tabat Barito, akan tetapi setelah dilihat pola pertumbuhan ternyata perlakuan ini memberikan waktu penyimpanan yang tidak lama, ada beberapa respon yang diamati menunjukan perlakuan lain lebih berpengaruh terhadap waktu penyimpanan. Pada jumlah akar, perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol konsentrasi 20 ppm yang ditanam pada media MS yang telah dimodifikasi dengan 0,5 g/l arang aktif (PIM2) berpengaruh terhadap waktu penyimpanan lebih lama sekitar 22 minggu, untuk jumlah tunas perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol konsentrasi 40 ppm yang ditanam pada media MS (P2MI) berpengaruh terhadap waktu penyimpanan lebuh lama sekitar 14 minggu, dan untuk jumlah daun perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol konsentrasi 20 ppm yang ditanam pada media MS (P1M1) berpengaruh terhadap waktu penyimpanan lebih lama sekitar 40 minggu. Dilihat dari semua perlakuan yang diujikan ternyata semakin rendah konsentrasi paclobutrazol yang diberikan waktu penyimpanan di dalam botol lebih lama.

Dari semua faktor yang diuji menunjukan bahwa pengaruh terhadap eksplan berbeda-beda. Pengaruh paclobutrazol pada berbagai konsentrasi yang paling menghambat untuk semua parameter pertumbuhan yang diamati dimana paclobutrazol dengan konsentrasi 60 ppm, sehingga dengan konsentrasi paclobutrazol 50 ppm pertumbuhan eksplan Tabat Barito dapat dihambat secara optimum selama masa penyimpanan dalam kultur invitro.

Media tanam yang baik untuk menghambat pertumbuhan eksplan adalah media MS sehingga interaksi antara kedua faktor tersebut diketahui perlakuan yang paling menghambat pertumbuhan yaitu terdapat pada perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol konsentrasi 60 ppm yang ditanam pada media MS (P3M1) akan tetapi waktu untuk penyimpanan dalam perlakuan ini tidak bertahan lama. Perlakuan yang memberikan waktu penyimpanan lebih lama terdapat pada perlakuan yang diaplikasi paclobutrazol konsentrasi 20 ppm yang ditanam pada media MS(P1M1). Maka dari semua faktor yang diberikan dalam menhambat pertumbuhan vegetatif Tabat Barito selama masa penyimpanan dalam kultur in vitro sebagai upaya dalam pelestarian Tabat Barito yang optimal dengan menggunakan konsentrasi paclobutrazol 60 ppm pada media MS (P3M1).

Bookmark and Share

Previous
Editor's Choice