Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

Hormon
Showing posts with label Hormon. Show all posts
Showing posts with label Hormon. Show all posts

26 September 2014

Pelatihan Privat Kultur Jaringan

@Cahangon75 - Friday, September 26, 2014
Notulen Pelatihan Bapak Ibrahim Thahir Pada tanggal 19 Desember 2013

Kolkisin adalah suatu zat yang dapatmelipatgandakan kromosom yang menyebabkan melipatgandakan ukuran dari suatutanaman.

Pertanyaan:
Bapak Ibrahim: Apakahbenar pasar menyukai jamur yang ukurannya kecil?

Jawaban      : Kurang tahu namun membudidayakan jamurtidak sekedar biomasanya saja tapi juga kualitas dengan cara memasukkan asamamino kedalam baglog.
Bapak Ibrahim: Apa bedanya kulturjaringan jamur dengan kultur jaringan tumbuhan?
Jawaban      : Jamur bukan tumbuhan karena menguraikan bahan-bahan organik untukmenjadi makanannya, dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim dandigunakan oleh manusia untuk menguraikan limbah-limbah organik. Bedanya kulturjaringan jamur dengan tumbuhan adalah pada kultur jaringan tumbuhan tidak bolehada jamur sedangkan pada kultur jaringan jamur justru jamur yang ditumbuhkan.

Prinsip kultur jaringanadalah totipotensi (total genetik potensi). Totipotensi adalah setiap selnyamengandung genetik yang lengkap, jadi dapat menumbuhkan satu sel  menjadi individu baru yang sifatnya samadengan induknya. Kultur jaringan adalah penamaan budidaya didalam botol.Terdapat beberapa jenis kultur jaringan yaitu: kultur jaringan meristem, kuturjaringan anther dan kultur jaringan organ. Kultur jaringan tujuannya tidakhanya perbanyakan, diantaranya pemuliaan (peningkatan kualitas dan kuantitas),pemurnian, konservasi, koleksi, penyelamatan (embrio resque), mutasi, merubahbentuk, variasi somaklonal, dll.
            Membangunkantanaman pada kultur jaringan dilakukan dengan cara memberikan rangsangan padatanaman agar variasi dapat muncul (variasi somaklonal). Sel yang berasal darisel vegetative adalah sel yang dapat merubah dirinya menjadi embrio, disebutembrio somaklonal.
            Persepsinegatif mengenai kultur jaringan adalah mahal (namun dapat dimodifikasi denganalat-alat yang serupa namun lebih murah), banyak pemutus kebijakan masih engganmemasukkan kultur jaringan kedalam program-programnya, dll.

Bapak Ibrahim : apakah prinsippengerjaan kultur jaringan sama? Dan sel apa yang dapat menyebabkan variasi?
Jawaban         :  iya sama. sel gamet, namun selsomatik juga dapat menghasilkan variasi namun harus dibangunkan.

Tanaman yang terserang virus dapat diobati dengancara kultur jaringan.
Kultur jaringan jamur dilakukan didalamenkas bukan didalam laminar, karena enkas lebih kedap udara untuk pengerjaandiluar dan kultur jaringan pada jamur lebih cocok dilakukan di enkas.
Lab mikrobiologi danlab kultur jaringan lebih baik terpisah karena mikroba lebih menyukai kondisiyang hangat sedangkan kultur jaringan lebih menyukai kondisi lingkungan yangsejuk atau dingin. Bisa saja kultur jaringan dilakukan ditempat yang hangatnamun tanaman yang dihasilkan akan cepat tua dan kurang bagus.

Bapak Ibrahim : Jamur menyukai tempat yang hangat, apakahada cara yang murah untuk membuat suhu lingkungan menjadi lebih hangat?
Jawaban        : Bisa dengan cara reflector, serat opticatau bisa juga dengan cara reflector   cermin.

Bedakan suhu dan cahaya karena bisa jadi terangbelum tentu panas.
Anggrek bulan putih besar permintaannyabanyak sekali namun produsen masih belum bisa memenuhi permintaan tersebut.

Ø  Strategi:membuat perencanaan yang fokus pada target untuk dikembangkan sesuai denganrencana.

Inisiasi tingkat kesulitannya sangattinggi maka dari itu diperlukan strategi sehingga peluang kita lebih besar daripada yang lain.
Untuk jamur, bapak bisa fokus pada produksi F0 danF1.
Sebelum dilakukan kultur jaringan sebaiknyadilakukan studi pasar terlebih dahulu.
Bisnis dengan kultur jaringan tidak bisamendadak karena dari inisiasi sampai jual kira-kira memerlukan waktu dua tahun.

Materi:Eksplan
Ø  Prinsipnyaadalah memakai eksplan yang muda dan kecil. Eksplan yang paling mudah untukdikulturkan adalah titik tumbuh.

Bedanya sel tumbuhandan sel hewan adalah dinding sel. Dinding sel akan menyebabkan tumbuhanmengeras dan menebal. Proses menebalnya dinding sel menyebabkan sel sulit untukmembelah. Sel dasar yang belum berdiferensiasi adalah sel parenkim danmeristem. Meristem adalah sel atau jaringan yang tidak pernah tua. Padatumbuhan pertumbuhannya tidak terbatas karena adanya meristem pada tubuhnya.Pada tumbuhan apabila umurnya sudah tua, titik tumbuhnya masih ada namun dormandan titik tumbuhan itu bisa dibangunkan lagi. Titik tumbuh belumberdiferensiasi. (Interkalari disetiap bukunya). Titik tumbuh merupakanprimordial (cikal bakal) suatu organ pada tumbuhan yang dapat berdiferensiasimenjadi bunga, akar, ataupun tunas
Untuk menggandakan anggrek bulandilakukan dengan cara men-subkultur anggrek yang sudah siap diaklimatisasikedalam media yang mengandung banyak sitokinin sehingga akan munculeksplan-eksplan baru yang dapat berdiferensiasi.
            Keperluanuntuk hidup tanaan adalah: sember energy, unsur hara, hormone, enzim, asamamino, asam lemak, vitamin, mineral, organic lain, dan hayati. Hormone didalamtubuh terdapat 1/10. Hormone adalah suatu zat yang konsentrasinya sangat kecil,mempengaruhi pertumbuhan dan tidak ikut kedalam proses. Setiap hormone selalumempunyai dua fungsi, yaitu mensuport dan menghambat (memiliki titik optimal),penggunaan hormone sebanyak-banyaknya dapat menghambat pertumbuhan, jadipengakaian hormone harus sesuai. Air kencing sapi dan air kencing ibu hamil 4bulan memiliki kandungan hormone yang tinggi. Hormone yang sama, konsentrasiyang sama tetapi diberikan kepada bagian tumbuhan yang berbeda akan menhasilkanhal yang berbeda sehingga pemberian hormone harus langsung pada targetnya. Padajamur dapat menggunakan giberelin, sitokinin dan vitamin.


Target
Kelompok hormon
Anggota
Sumber
Akar
Auksin
IAA, IBA, NAA, 2,4D
Ujung pucuk
Tunas
Sitokinin
BA, BAP, TDZ, Zip, Kinetin
Ujung akar
Bunga dan buah
Giberelin= GA, -GA120 (GA3) (mampu mempercepat pembelahan sel).

Daun, bunga, dan buah

                   Giberelin mampu mempercepat pertumbuhan di F1dan F2 yang biasa digunakan adalah 2mg/L dan vitamin neurobion(vitamin B1, B2, B6, B12,E) 1 pil untuk 5 liter. Auksin apabila diberikandengan hormone yang lain bersifat melemahkan sehingga dapat menumbuhkan kalus. Hormonegiberelin menguatkan hormone auksin dan sitokinin. Sesame anggota dari suatuhormone akan saling menguatkan contohnya IAA digabung dengan IBA akan salingmenguatkan dan menghasilkan hasil yang bagus. Virus tidak dapat menyerang pucukkarena konsentrasi asam pada pucuk sangat tinggi jadi steril. Untukmenghasilkan pertumbuhan diatas titik optimalisasi dari hormone adalahpenambahan sedikit giberelin, tambahkan hormone yang satu kelompok maka akanbersinergi saling menguatkan, vitamin, sumber energy, mineral.

Bapak Ibrahim : Apakah hormone ini bisa dipakaiuntuk tanaman organik?
Jawaban         : Biasanya hormone ini tidak digunakan pada tanaman organik. Sintetikberbahaya  namun organic dan anorganikjuga bisa berbahaya. Ciri tanah organic adalah banyaknya variasi tumbuhan yangtumbuh pada tanah tersebut.
                       
Hormon auksin 2,4Dmembentuk akar dan juga kalus. Yang paling murah adalah BA. BAP 2mg setaradengan 0,5 mg TDZ. Kinetin mensuport pertumbuhan kalus. Metode metabolitsekunder adalah menumbuhkan kalus dengan diberi perlakuan sehingga kalustersebut menghasilkan obat contohnya akar Rouvolviaseprentina yang dikulturkan menjadi kalus. Metabolit sekunder memerlukansinar.
            Pertumbuhanbersifat kuantitatif sedangkan perkembangan bersifat kualitatif. Memangkassemua pucuk berarti menghambat pertumbuhan. Konsentrasi 0-0,3 ppm mensuportpertumbuhan organ, 0,3-4ppm menstimulir organ, 4-20 ppm membentuk embriosomatik, 20-80 menghasilkan kalus, 80-200ppm pembentukan morfologi danfisiologi, 200-400 terjadi mutasi, >400 letal

PERBANYAKAN 10 JUTA BIBIT GAHARU Aquilaria malacensis

@Cahangon75 - Friday, September 26, 2014
Oleh Edhi Sandra (eshaflora)
Materi Pelatihan Bapak Irfan Sulistianto
Ruang lingkup Materi:

Aplikasi Hormon
           Interaksi hormone endogen dan eksogen
           komposisi gabungan hormone
           evaluasi dan analisa kondisi hormonal
           kondisi hormonal dan fisiologi : stek, bahan indukpangkas, biji
           Antisipasikondisi stress dan ramuan antistres

.Stek pucuk / stek mikro
           Beda antara stek pucuk dan stek batang, evaluasi stek
           Hambatan morfologi dan fisiologi stek
           Kondisi lingkungan yang membuat gagal stek
           Sinergisitas perlakuan untuk meningkatkan peluangkeberhasilan stek
           Kondisi situasi dan lingkungan mikro di sekitar ujungstek tempat tumbuhnya akar.
           Daun pada stek dan evaluasinya
           Tanah liat untuk meningkatkan keberhasilan menumbuhkanakar baru pada stek
           Variasi kondisi stek yang ada dan perlakuannnya
           rontokdaun dan penurunan kebugaran dan kesehatan
           teknikmemotong stek yang baik.

Larutan untuk cabutan
           Kondisi semai saat dicabut dan perlakuan selanjutnya.
           Faktor fisiologis dan lingkungan yang mempengaruhikesehatan dan kebugaran bibit cabutan.
           Antisipasi faktor dan kondisi yang tidak baik:dehidrasi, kiris energi, krisis faktor fisiologis
           kondisi darurat dan kondisi mandiri bibit cabutan.
           Permasalahan yang seringkali muncul dan menggagalkankeberhasilan pembuatan bibit cabutan.

Semai benih dan hormon
           Analisa fisiologi dan hormonal benih
           Perkecambahan dan mempercepat proses perkecambahan danpertumbuhannya.
           Dormansi dan antisipasinya
           permasalahan perkecambahan benih.
           media semai yang baik

Perlakuan : biji, cabutan, dan stek/pangkas
           Persiapanmedia, alat dan bahan
           Penanganandan perlakuan hormon dan makanan yang diberikan
           Kondisilingkungan mikro yang baik

Perencanaan Pengadaan bibit manajemen (POAC)
           POAC terkait dengan what, who, when, where, how, howmuch,
           Pembuatan SOP masing-masing kegiatan : pencarian bibitcabutan, proses membawa bibit cabutan, penanaman bibit cabutan, perlakuanperawatan bibit cabutan, perlakuan pembuatan stek, perlakuan penanaman stek,perlakuan bibit pasca pengambilan stek,
           Perencanaan pengadaan bahan stek seoptimal mungkin dariberbagai bahan yang ada: bibit cabutan, benih, nursery, pohon yang ada.
           Kreativitas dan inovasi penanganan jumlah besar : misalpersiapan pencampuran media tanam dengan menggunakan molen pengaduk semen.
           Pengadaan fasilitas yang diperlukan dalam prosespembibitan: ruang missroom (ruang tertutup rapat dengan smoker secara intervalangin, dan kelembaban terjaga
           Kesesuaianantara kinerja dan beban pekerjaan, kesesuaian antara target, waktu dankecepatan multiplikasi, bahan baku media dan sarana-prasarana yang memadai

Pembungaan Pohon Hutan
           analisakondisi pohon
           evaluasidan perlakuan pohon
           sinergisitasperlakuan untuk pembungaan.
           prinsippembungaan pohon
           Mempercepatpembungaan dan pembuahan
           Meningkatkankualitas bunga dan buah

Perencanaan biaya pengadaan bibit.
           Breakdownanggaran dari semua komponen yang terkait dengan proses: tenaga kerja, bahandan alat, media tanam, hormon dan obat, sarana-prasarana, perawatan,
           

02 November 2012

Teori relativitas Sel dalam Merespon Hormon Dalam Kultur Jaringan

Esha Garden - Friday, November 02, 2012
Oleh :Edhi Sandra

kultur tanaman yang berasal dari kultur tanaman (subkultur )
kultur tanaman yang berasal dari kultur tanaman (subkultur )

Pendahuluan

Kualitas bibit hasil kultur jaringan seringkali dipertanyakan. Hal tersebut didasarkan fakta yang ada, bahwa bibit hasil kultur jaringan, rentan, tidak kokoh dan pertumbuhan sangat lambat. Munculnya sifat negatif bibit hasil kultur jaringan sebenarnya belum tentu bibit tersebut berubah genetikanya, tapi bisa pula disebabkan reaksi fisiologi yang berbeda yang dimunculkan bila dibanding bibit dari biji, yang keduanya diletakkan pada kondisi lingkungan yang sama, padahal berasal dari pohon atau tanaman yang sama.

Demikian pula sering kita dengar bahwa kultur tanaman dari laboratorium ”A” pertumbuhannya jelek dibandingkan kultur tanaman dari laboratorium ”B”, padahal kedua kultur tanaman tersebut awalnya berasal dari satu sumber.  Kita juga pernah mendengar bahwa: ” setelah saya mengikuti semua prosedur kultur jaringan yang telah dipublikasikan ternyata hasilnya berbeda dengan yang ditulis di dalam journal tersebut”.

Bagaimana sebenarnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut? Tulisan ini akan berusaha menjelaskannya.

Keseimbangan
Tuhan menciptakan mahluknya disertai dengan kemampuan untuk mempertahankan diri dari berbagai kondisi yang menerpanya. Kemampuan untuk kembali pada kondisi yang normal ini disebut ” Keseimbangan”

Ada beberapa fenomena di alam ini yang menarik kita cermati:

  1. Dalam proses metabolisme dikenal dengan istilah anabolisme dan katabolisme.  Anabolisme adalah proses pembentukan sesuatu, di dalam proses ini memerlukan energi. Sebaliknya proses katabolisme adalah proses penguraian di dalam prosesnya akan menghasilkan energi. Energi yang di perlukan dalam proses anabolisme dan energi yang dihasilkan hanya terjadi pada saat proses tersebut berlangsung, bigitu selesai proses tersebut maka hilanglah energi tersebut.

  1. Kita tahu dalam ilmu fisika, bahwa elektron beredar pada garis edarnya. Pada saat elektron melompat/ berpindah dari lintasan bagian luar ke lintasan bagian dalam maka elektron tersebut akan menyerap energi, dan sebaliknya elektron yang berpindah dari lintasan bagian dalam ke bagian luar akan menghasilkan energi. Energi yang diperlukan atau energi yang dihasilkan pada saat perpindahan elektron tersebut hanya akan terjadi pada saat elektron tersebut berpindah, begitu eleltron tersebut beredar pada lintasan yang baru maka akan kembali normal seperti awal mulanya.

  1. Di alam, ekosistem mempunyai keseimbangan alam. Hutan yang di tebang, maka ia akan berusaha kembali pada kondisi awal mulanya. Hutan setelah ditebang akan ditumbuhan oleh tumbuhan perintis, kemudian berubah lagi, didominasi oleh tumbuhan yang tahan sinar matahari kemudian berubah lagi didominasi pada tumbuhan yang tahan terhadap naungan. Pada akhirnya dominasi akan semakin mengecil dan sampai pada suatu klimaks yang disebut keseimbangan Homeostasis.  Pada kondisi tersbut semua komponen berperan dan saling berinteraksi dengan sangat baik.

  1. Bila kita datang ke daerah penampungan sampah, maka pertama kali datang maka hidung kita akan mencium bau yang tidak enak dari sampah tersebut, dan itu sangat mengganggu.  Tapi anehnya setelah agak lama kita berada di daerah tersebut, koq, baunya berkurang bahkan hilang, tidak seperti diawal kita datang.  Apakah hidung kita yang rusak sistem syarafnya, atau sampahnya yang lama-kelamaan menjadi tidak bau? Lalau kenapa hal tersebut bisa terjadi? 

  1. Demikian pula bila kita makan enak  di restoran, pada saat pertama kali mencicipi dan makan makanan yang disajikan rasanya nikmat sekali, maka kita makan ini-itu semua kita cicipi. Tapi anehnya lama-lama, hidangan yang ada tersebut koq menjadi tidak nikmat lagi? Tidak senikmat pada saat awal kita mencicipi hidangan tersebut. Apakah indera perasa mulut kita yang rusak atau makanan yang dihidangkan sudah menjadi tidak enak, lalau kenapa dapat terjadi seperti itu?

  1. Dalam kehidupan di dunia ini, pada saat kita ditimpa musibah atau cobaan, maka kejadian tersebut akan membuat kita menjadi sangat sedih, tapi berlahan sejalan dengan waktu maka rasa sedih tersebut berangsur hilang,  demikian pula sebaliknya bila kita mendapatkan kejadian yang menyenangkan, misalnya mendapatkan jabatan dan pangkat baru sehingga mendapatkan gaji dan fasilitas mewah, awal mulanya sangat menyenangkan, tapi lambat laun, rasa senang dan bahagia tersebut akan surut dan berkurang.  Apa yang terjadi?

Kesemua gambaran di atas memberikan pembelajaran pada kita bahwa mahluk hidup ciptaan Tuhan ini mempunyai suatu kemampuan untuk ”men-Tera”, kemampuan untuk ”mengnolkan kembali ” timbangannya sehingga bila ada rangsangan baru yang datang maka timbangan tersebut dapat bekerja dengan baik menimbang kejadian yang datang kembali. Bila timbangan ini rusak, dan tidak mampu ”mengnolkan” kembali maka mahluk tersebut akan tidak dapat menimbang kejadian dan rangsangan yang dihadapinya.

Maksudnya pada kondisi yang baru, mahluk hidup tersebut berusaha mengnolkan kembali, padahal kondisinya sudah berbeda dengan kondisi sebelumnya.  Pada saat pertama kali kita datang ke daerah sampah maka bau yang tidak sedap akan tercium. Bau yang tidak sedap itu akan mengganggu kita terus menerus karena ada terus di lokasi tersebut. Oleh sebab itulah maka rangsangan bau yang tercium hidung, dan oleh syaraf di bawa ke otak untuk di deskripsikan kemudian disimpulkan bau, maka agar kita tidak terganggu terus menerus, maka secara otomatis, maka otak mensetting ulang deskripsinya, bahwa kondisi bau yang ada dibuat ”nol”  yang berarti tidak bau, padahal bau dari sampah tersebut masih ada karena kita masih berada pada daerah sampah tersebut.

Kemampuan mensetting ulang rangsangan yang ada menjadi nol merupakan langkah pertahanan agar dapat bertahan hidup dengan baik. Kemampuan mensetting ulang atau men-tera suatu mahluk hidup juga terdapat pada sel atau jaringan.

Kemampuan Sel Mensetting Ulang / Men-tera suatu Rangsangan

Di dalam kultur jaringan, sel / jaringan akan memberikan respon bila diberikan hormon. Pemberian hormon yang terus menerus, akan menyebabkan sel atau jaringan tersebut akan mensetting ulang atau men-tera kembali.  Maksudnya adalah pada pertama kali kita berikan hormon, maka sel atau jaringan akan merespon dan tumbuh dengan baik, tapi, lama kelamaan sel atau jaringan tersebut seperti tidak diberi hormon, pertumbuhannya menjadi normal kembali dan tidak merespon hormon yang ada, padahal hormon tetap diberikan dengan konsentrasi yang sama.

Kejadian Di Dalam Kultur Jaringan

  1. Nilai nominal suatu konsentrasi hormon di dalam kultur jaringan akan memberikan pengaruh yang berbeda untuk setiap eksplan atau kultur, karena selain beda asal usul bagian tanamannya juga beda asal usul perlakuan yang pernah diberikan pada kultur tanaman tersebut, sehingga agak sulit untuk memastikan bahwa nilai nominal hormon tertentu pasti akan memberikan hasil yang sama.  Oleh sebab itulah bagi para pengkultur akan lebih baik bila memahami karakter dan kecenderungan sel di dalam merespon konsentrasi hormon tertentu dengan latar belakang yang berbeda.

  1. Proses perubahan perlakuan konsentrasi hormon yang diberikan, akan memberikan reaksi yang berbeda.  Perubahan konsentrasi hormon dari tinggi ke rendah akan menyebabkan perlambatan pertumbuhan atau dormansi walaupun nilai nominal konsentrasi hormonnya masih tinggi dan sebaliknya perubahan kenaikan konsentrasi hormon juga akan berpengaruh positif walaupun nilai nominalnya masih rendah.

  1. Bibit aklimatisasi hasil kultur jaringan tanaman seringkali mengalami dormansi, hal ini disebabkan proses keluarnya kultur dari dalam botol ke dunia luar tidak dilakukan dengan prosedur yang baik sehingga kultur kaget, yang tadinya ditunjang dengan hormon-hormon yang memadai kemudian saat dipindahkan keluar, tidak ada hormon. Perubahan dari keberadaan hormon yang memadai ke kondisi tidak ada hormon akan menyebabkan kultur tanaman mengalami dormansi sampai bibit tersebut mampu mengkordinasikan dirinya untuk dapat mengaktifkan sistem hormonal indogen dari dalam dirinya.


Kiat Menentukan Konsentrasi dan Komposisi Hormon

  1. Sebagai seorang pelaku kultur jaringan harus mampu memahami sifat dan karakter hormon secara umum dan khusus.
  2. Bila membaca literatur maka tidak cukup hanya melihat kesimpulannya saja dan melihat nilai nominal konsentrasi hormon yang terbaik dari penelitian tersebut. Tapi harus dilihat lebih dalam mengenai asal usul bahan kultur, perlakuan dan metode yang digunakan, berapa lama umur kultur digunakan dll.
  3. Semua faktor yang berkaitan dengan hormon dan  pertumbuhan harus kita evaluasi
  4. Perlu lebih hati-hati dan kritis di dalam meganalisa, hal ini diperlukan di dalam kita memodivikasi, membuat perbandingan dan membuat ramuan. Bila dari hasil penelitian disebut yang terbaik adalah 2 mg/l, maka sebenarnya yang mempengaruhi pertumbuhan kultur jaringan tanaman bukanlah 2 mg/l tersebut, karena 2 mg/l adalah untuk satu liter sedang di dalam botol hanya ada sekitar 10 ml, sedangkan kultur di dalam botol tersebut enyerap hormon berapa persennya daroi hormon yang ada di dalam botol tersebut.  Berarti yang mempengaruhi pertumbuhan kultur tanaman di dalam suatu botol bukanlah 2 mg/l.
  5. Sifat dan karakter relatif dari suatu kultur tanaman perlu mendapatkan perhatian agar kita mampu menentukan konsentrasi yang tepat agar kultur dapat menunjukkan respon yang kita inginkan.


Penutup

Demikian sedikit informasi yang cukup penting di dalam menentukan formulasi konsentrasi dan komposisi hormon di dalam kultur jaringan. Selamat mencoba.  Terima kasih.

Bogor, 26 Oktober 2012
Edhi sandra





kultur tanaman yang berasal dari hasil subkultur tanaman yang dipacu konsentrasi tinggi.


Bibit hasil kultur jaringan seringkali dorman bila proses aklimatisasinya tidak baik. Tapi bila perlakuan hardening dan aklimatisasinya dilakukan dengan baik maka pertumbuhan bibit hasil kultur jaringan dapat lebih baik dibandingkan yang dari biji. man-bio.blogspot.com
Bibit hasil kultur jaringan yang sudah beradaptasi dengan baik diluar maka pertumbuhannya akan lebih baik dibanding dari biji atau vegetatif biasa. pasaragro.com

19 January 2012

Penyebab Mudah Robohnya Pohon-pohon Besar di Perkotaan

Esha Garden - Thursday, January 19, 2012

I.Pendahuluan
Dengan semakin meningkatnya kondisi cuaca ekstrim belakangan ini banyak pohon-pohon besar yang tumbang. Pohon-pohon yang tumbang tidak hanya pohon-pohon yang masuk kategori sakit, tapi juga pohon-pohon besar yang “kelihatannya sehat”.

Kenapa banyak sekali terjadi pohon-pohon besar yang tumbang belakangan ini, terutama di daerah perkotaan. Perlakuan perawatan apa yang harus dilakukan dan monitoring seperti apa yang dapat dilakukan agar tumbangnya pohon tersebut dapat diperkecil dampak negatifnya.

Sebagian orang yang melihat dampak negative tumbangnya pohon besar, tanpa berfikir panjang dengan sangat mudah memberikan solusi agar semua pohon besar di pangkas sampai batas aman, tidak menimpa rumah, mobil, bangunan dll, apa betul demikian? Mungkin kalau harus seperti akan tinggal sebagian kecil saja pohon besar yang ada di bogor, karena memang di daerah perkotaan tidak ada daerah yang leluasa untuk tumbuhnya pohon besar.

Ada pula yang berpendapat bahwa bila sudah banyak daun yang gugur maka berarti pohon tersebut sudah tua dan harus segera ditebang atau dipangkas, apakah betul demikian? Coba kita melihatnya dengan lebih dalam dan lebih komprehensif agar permasalahan tersebut betul-betul dapat ditanggulangi dengan baik.

II. Ketahanan Pohon di Dalam Menghadapi Terpaan Angin/ Badai
Secara alami pohon memiliki kemampuan dan ketahanan di dalam meghadapi terpaan badai. Hal ini merupakan proses evolusi dan adaptasi yang panjang. Kemampuan dan daya tahan tersebut diwujudkan dalam bentuk morfologi perakaran yang sangat spesifik dikaitkan dengan morfologi batang dan tajuk pohon tersebut.

Untuk jenis kelapa yang mempunyai morfologi tinggi dengan batang yang relatif kecil, elastis dengan tajuk diujung batang dengan bentuk daun yang panjang dan sempit sehingga tidak banyak menahan angin, maka karena sistem perakarannya monokotil (serabut) dan biasanya tumbuh di atas daerah bercadas sehingga akar-akar kelapa tadi benar-benar mencengkram dengan sangat kuat, disamping cadasnya sendiri merupakan bebatuan yang sangat keras dan kuat sehingga pohon kelapa walaupun diterpa badai atau angin yang keras, maka batangnya saja yang meliuk-liuk tapi tidak menyebabkan pohon tersebut patah atau rubuh.

Demikian pula dengan jenis pohon dikotil yang memiliki bentuk percabangan yang banyak dan lebat menghasilkan pohon yang besar menjulang dengan tajuk berbentuk melebar seperti payung (tidak semua pohon) Untuk menjaga agar pohon tersebut tidak tumbang maka secara genetik menumbuhkan akar tunjang yang tumbuh terus menghujam ke dalam bumi layaknya paku bumi dengan akar-akar sekunder dan tersier yang bercabang-cabang sebanyak dan selebar tajuk pohon tersebut. Dengan demikian ada keseimbangan bobot dan juga metabolisme. Hal inilah yan membuat pohon tidak mudah tumbang diterpa badai karena kedalaman akar tunjangnya dan cengkaraman akar sekunder dan tersiernya yang seluas tajuk membuat pohon tersbut cukup kuat menghadapi badai.

III. Faktor Yang Membuat Pohon di Perkotaan Mudah Tumbang
1. Pembangunan kota yang sangat cepat menuntut terbentuknya daerah hunian dan perkotaan yang relatif cepat. Hal ini berdampak pada pengerjaan komponen fisik kota yang juga harus serba instan dan cepat. Termasuk juga bagaimana dengan cepat membuat kondisi perkotaan cepat hijau dan indah. Hal ini membuat para pekerja / pembuat taman berusaha mewujudkan daerah yang hijau dengan menanam pohon yang sudah besar dengan sistem putar (cabutan) atau membeli bibit pohon tapi dengan ukuran yang sudah besar berupa stek batang setinggi 3-4 meter. Dengan keahliannya maka pohon tersebut dapat ditanam dan dapat tumbuh dengan baik, tapi apakah mereka memikirkan bagaimana pertumbuhan akarnya selanjutnya, apakah dapat tumbuh dan menancap dengan kuat ke dalam tanah. Ukuran batang yang besar tidak sesuai dengan luasan tajuk dan akar yang ada, misalnya dengan luasan tajuk pohon dengan diameter 3 m, tapi batang pohon agar kelihatan ekslusif berukuran diameter sekitar 30-40 cm. Hal ini tidak serasi meurut ukuran alamiah. Biasanya untuk diameter tajuk 3 m cukup batang dengan diameter batang hanya 10-15 cm.

2. Tata letak jalur hijau dan posisi pohon sering sekali bertumpang tindih dengan kabel PLN dan sering melampaui batas halaman rumah. Hal ini menyebabkan pohon seringkali dipangkas cabang dan rantingnya agar tidak mengganggu kabel PLN dan menutupi halaman rumah bahkan serasahnya mengotori halaman rumah. Pemotongan cabang dan ranting yang berlebihan akan menyebabkan ketidak seimbangan antara tajuk dan akar. Bila Banyak cabang dan ranting yang ditebang akan menyebabkan akar tidak berfungsi dengan baik, dan hal ini dapat menyebabkan pembusukan bertahap pada akar sehingga lambat laun akan mengurangi jumlah dan luasan akar. Pada akhirnya akar akan menyusut menyesuaikan diri dengan jumlah tajuk yang ada, ini merupakan keseimbangan tajuk dan akar. Berkurangnya jumlah akar menyebabkan berkurangnya daya cengkram dan cakupan akar. Jumlah akar yang sedikit sementara ukuran batang yang besar menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan akar dalam menjaga tetap kokohnya batang pohon tersebut. Bila terjadi angin badai, maka ukuran batang yang besar dan tiupan angin yang keras tidak mampu ditahan oleh akar yang tinggal sedikit tersebut.

3. Adanya pembangunan fisik pada bagian dasar/ tanah, seperti pengaspalan, pembetonan, pondasi bangunan / gedung bertingkat. Kesemuanya membuat terbatasnya pertumbuhan akar pohon tersebut. Ditambah lagi dengan sering terjadinya penggalian untuk pekerjaan PAM, PLN, saluran selokan dll membuat terpotong dan terpangkasnya akar cukup banyak. Hal ini berdampak sangat serius pada pohon tersebut, walaupun tidak menyebabkan kematian. Hilangnya sejumlah akar menyebabkan ketidakseimbangan dalam proses transpirasi. Besarnya penguapan di level permukaan daun, tidak seimbang dengan suplai air dari dalam tanah melalui akar.ketidakseimbangan ini menyebabkan rusaknya sistem kapileritas dan dapat menyebabkan dehidrasi yang serius. Dehidrasi serius ini akan diantisipasi pohon dengan menggugurkan sejumlah daun, sehingga lambat laun tajuk juga akan menyesuaikan diri dengan jumlah akar yang ada. Penyusutan akar dan tajuk/daun ini akan berdampak pada tidak berfungsi optimalnya batang yang besar tersebut, hal ini akan menyebabkan sebagian sel-sel atau jaringan batang akan tidak berfungsi dan lambat laun akan mati. Matinya beberapa sel / jaringan batang akan menyebabkan pohon tersebut mudah terserang penyakit dan hama. Serangan hama dan penyakit ini akan berdampak pada fisik berupa cepat growongnya batang pohon tersebut. Growongnya batang pohon akan berdampak pada kekuatan pohon dalam menahan serangan badai.

4. Tidak adanya perawatan untuk pohon-pohon yang telah di tanam. Pohon-pohon tersebut dibiarkan tumbuh sesuai dengan alamiahnya. Hal ini tidak akan menjadi masalah bila tidak ada gangguan-gangguan seperti yang telah diungkapkan. Belum lagi dengan adanya musim kemarau yang berkepanjangan, juga akan berdampak pada kesehatan pohon. Adanya gangguan dan hambatan pertumbuhan, karena pemangkasan, pembatasan pertumbuhan akar dan tajuk, pencemaran lingkungan, kesemuanya akan menyebabkan pohon akan mengalami percepatan penuaan pohon. Percepatan penuaan ini didefinisikan dengan semakin banyaknya sel-sel yang tua yang terdapat di dalam pohon tersebut yang pada akhirnya mendominasi dan melebihi jumlah sel-sel yang muda. Sel-sel yang tua akanmenghasilkan metabolit sekunder berupa hormon auksin, zat penghambat dan zat etilen. Kesemua metabolit tersebut berdampak pada kematian sel-sel tua tersebut. Semakin banyaknya sel-sel yang mati, maka akan mempermudah terinfensinya mikroba patogen yang akan menyebabkan busuk, atau terinfeksinya oleh hama yang menyebabkan growong dll. Pohon-pohon dengan kondisi demikian lambat laun akan berkurang kemampuan daya tahannya terhadap terpaan badai.

IV. Antisipasi Agar Pohon Tidak Mudah Tumbang
1. Penyiapan bibit yang memiliki akar tunjang yang baik, sebaiknya bibit berasal dari biji. Bila bibit berasal dari stek maka bibit stek tersebut juga perlu dibuat akar tunjang buatannya agar bibit stek tersebut memiliki akar tunjang yang nantinya akan dapat memperkuat berdirinya pohon tersebut

2. Dalam melakukan pemangkasan sebaiknya tidak bersifat drastis, atau dalam jumlah besar karena akan berpengaruh pada keseimbangan dalam proses transpirasi dan metabolisme dalam pohon tersebut. Bila pemangkasan besar tersebut memang terpaksa dilakukan, maka ketidakseimbangan besar batang dengan ukuran tajuk atau perakaran perlu mendapatkan perhatian, atau bila perlu diberi penguatan tambahan, misalnya pemberian pasak penguat, atau tali baja penguat berdirinya batang dll.

3. Pemangkasan akar pada saat dilakukan pekerjaan pembangunan sarana PAM, PLN, Selokan dll akan membuat ketidak seimbangan. Sebaiknya perlu dibantu dengan percepatan pemulihan pertumbuhan akar-akar baru dengan dibantu dengan memberikan hormon untuk percepatan pertumbuhan akar.

4. Sebaiknya semua pihak menyadari pentingnya perawatan pohon besar ini bila tidak ingin kasus robohnya pohon akan terus berulang. Terutama pihak-pihak Pemutus kebijakan sebaiknya sudah mulai mengalokasikan anggaran untuk perawatan pohon besar diperkotaan. Tujuan dari perawatan adalah untuk :
a. Memperpanjang umur pohon (awet muda)
b. Meningkatkan ketahanan terhadap terpaan bagai
c. Mengurangi persentase rapuhnya batang, cabang dan ranting yang patah atau roboh.
d. Menjaga dominasi sel-sel muda di bandingkan sel-sel tua pada pohon tersebut
e. Membantu mengurangi hambatan pertumbuhan (terutama pada akar) sehingga daya cengkram akar tetap kuat.

5. Penguatan pada akar, atau pertumbuhan tajuk, atau penguatan dan pertumbuhan diameter batang perlu kita lakukan, karena hambatan dan gangguan lingkungan terhadap pohon tersebut sudah diluar kemampuan pohon tersebut untuk dapat pulih kembali. Dengan membantu dan mempercepat penyerapan makanan. Dan menambahkan semua kebutuhan pohon tersebut untuk tumbuh, seperti hormon, vitamin dan pupuk organik dll.

Untuk masuknya bahan perlakuan dilakukan melalui akar dengan dibantu dengan membuat lubang-lubang kecil dan dalam sebanyak luasan tajuk (seperti biopori). Dan contoh ramuannya adalah:
a. Memperkuat akar:
- hormon NAA 0,25 mg/l, hormon IBA 0,25 mg/l , IAA 0,25 mg/l, 2,4D 0.25 mg/l
- vitamin B1 5 mg/l
- vitamin B2 2,5 mg/l
- Vitamin B6 2,5 mg/l
- Vitamin B 12 2,5 mg/l
- Myoinositol 100 mg/l

b. Memperbanyak tajuk
- hormon BAP 0,5 mg/l, hormon kinetin 0,5 mg/l
- vitamin B1 5 mg/l
- vitamin B2 2,5 mg/l
- vitamin B6 2,5 mg/l
- vitamin B12 2,5 mg/l
- Myoinositol 100 mg/l

c. Memperkuat batang, cabang dan ranting
- hormon giberelin 0,5 mg/l, 2,4 D 0,5 mg/l, kinetin 0,5 mg/l
- vitamin B1 5 mg/l
- vitamin B2 2,5 mg/l
- vitamin B6 2,5 mg/l
- vitamin B12 2,5 mg/l
- Myoinositol 100 mg/l
- KNO3 1 g /l
- Packlobutrazol 50 mg/l

Dosis yang diberikan untuk satu pohon besar bisa mencapai 20 sampai 40 liter di berikan pada lubang-lubang yang telah dibuat tersebut. Ramuan tersebut merupakan ramuan spesifik mengarah pada tujuan tersebut, disamping itu tetap perlu diberi makanan yang bergizi yaitu:

1. Pupuk organik cair lengkap 2 ml/l
2. Pupuk hayati lengkap 2 ml/l
3. NPK yang telah dicairkan 1000 mg/l
4. Sumber energi (tetes tebu / molase) 2 ml/l

Pohon adalah mahluk hidup, yang mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup, tapi bila tekanan lingkungannya melebihi kemampuan dalam bertahan maka pohon tersebut akan tumbang. Kita hanya perlu membantu agar pohon tersebut meningkat kemampuan daya tahannya terhadap terpaan angin. Oleh sebab itulah maka penanganan pohon bukan hanya sekedar fisik, tapi juga harus memperhatikan aspek fisiologi pohon tersebut. Pohon sehat, bahagia dan kita terhindar dari robohnya pohon.

Bogor 18 januari 2012

Tentang penulis :
Ir. Edhi Sandra MSi adalah:
  1. Kepala Lab Bioteknologi Lingkungan PPLH IPB Bogor
  2. Kepala Lab Kultur Jaringan Bagian Konservasi Tumbuhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB Bogor
  3. Pemilik Esha Flora Plant and Tissue Culture

06 August 2011

Pelatihan Pemanfaatan Hormon Untuk Berbagai Tujuan (Privat)

@Cahangon75 - Saturday, August 06, 2011
Latar Belakang
Penerapan teknik budidaya di masyarakat sudah mulai meningkat baik. Berbagai perlakuan mulai dilakukan masyarkat untuk dapat mengkatkan kualitas hasil budidaya. Berbagai macam dan ragam produk yang beredar dipasaran membuat masyarakat menjadi bingung, karena menurut penjualnya produk tersebut bagus, semuanya bagus…lalu bagaimana menerapkan semua produk tersebut? Lalu apa bedanya antara pupuk, obat, hormone, organik, mikroba, enzim dan sebagainya menambah pusing para pembudidaya.

Seringkali memakai berbagai macam produk bukan membuat produktivitas dan kualitas menjadi lebih baik tapi malah membuat tanaman menjadi mati. Tapi keinginan masyarakat untuk dapat membuat tanamannya dapat tumbuh dengan baik membuat mereka tidak mau jera untuk terus mencoba. Tapi dengan persepsi dan wawasan yang simpang siur dan serba terbatas membuat merek tidak mampu membuat program budidaya yang baik kea rah yang diinginkan.
Demikian pula dengan para produsen yang ingin membuat produk pupuk, obat, dll hanya mengira-ngira berdasarkan landasan ilmiah yang serba terpotong-potong sehingga menghasilkan ramuan pupuk yang kurang optimal.

Seharusnya kita dapat mengetahui perbedaan dan manfaat dari pupuk anorganik, pupuk organic, pupuk mikroba, hormone, enzim kompos dll sehingga kita dapat meramunya sesuai dengan perannya masing-masing dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan.

Pertumbuhan tanaman ditentukan oleh pupuknya, sementara arah dan kualitas dari pertumbuhan dan perkembangan sangat ditentukan oleh hormone. Dengan pemberian hormone yang tepat, baik komposisi dan konsentrasinya, maka kita dapat mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman apapun. Karena pada prinsipnya semua tumbuhan mempunyai persamaan sifat dan karakter.

Pengetahuan, wawasan dan pemahaman kita tentang horomon menjadi sangat penting. Untuk itulah maka Esha Flora membuka Pelatihan khusus tentang Hormon. Dalam pelatihan ini diajarkan semua hal mengenai hormone dan penerapannya yang tepat guna sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Nama Pelatihan : Pelatihan Pemanfaatan Hormon Untuk Berbagai Tujuan. (Privat)
  2. Biaya : Rp 1.500.000
  3. Waktu : Satu hari (Waktu berdasarkan perjanjian)
  4. Jam : 09.00 – 16.00
  5. Tempat : Esha Flora Plant and Tissue Culture - Jln. Kemuning Blok M 6 no 9 Taman Cimanggu Bogor
  6. Fasilitas : Pelatihan kit, makan siang dan snack, souvenir, sertifikat


Adapun materi pelatihan seperti di bawah ini

PEMANFAATAN HORMON UNTUK BERBAGAI TUJUAN DAN PEMBUATAN PRODUK HORMON KOMERSIAL
I. Materi :
Pendahuluan
1. Budidaya tanaman yang sangat sederhana
2. Pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
3. Bagaimana kita dapat mengendalikan pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang kita inginkan.
4. Kebutuhan tanaman untuk dapat tumbuh dan kembang.


Tujuan
1. Mampu memahami kondisi tanaman
2. Mampu mengevaluasi kondisi tanaman
3. Mampu mengarahkan pertumbuhan tanaman
4. Mampu melakukan riset ramuan hormon
5. Mampu membuat ramuan hormon untuk tujuan tertentu
6. Mampu membuat produk komersial tanaman

Pengenalan macam hormon / zpt
4. Zat Penghambat (bukan hormon)


Karakteristik & Sifat Hormon / zpt:
a. Tidak ikut dalam proses metabolisme, b. Satu hormon dua fungsi, c. Hormon dalam satu kelompok saling sinergis, d.Hormon auksin dan sitokinin saling kontra, e.Giberelin bersifat penguatan dan percepatan

Prinsip Penggunaan Hormon / zpt
1. Hormon bersifat profokator
2. Hormon mempunyai konsentrasi optimal untuk fungsi tertentu
3. Hormon mempunyai beberapa fungsi dengan konsentrasi yang berbeda
4. Meningkatkan dan menguatkan fungsi tertentu.
5. Percepatan dan penghambatan pertumbuhan
6. Dominasi hormon dan fisiologi tanaman
7. Relativitas kepekaan tanaman terhadap hormon
8. Ciri tanaman dan kandungan hormon endogennya

Meramu hormon/ zpt untuk tujuan tertentu
1. Tentukan tujuan yang ingin kita capai.
2. Inventarisasi semua faktor yang terkaoit kea rah tujuan tersebut.
3. Tentukan konsentrasi dan dosis setiap faktor mengacu pada komposisi MS
4. Uji coba dan evaluasi 1
5. Perbaikan komposisi dan konsentrasi 1
6. Uji coba dan evaluasi 2
7. Perbaikan komposisi dan konsentrasi 2
8. Uji coba yang lebih luas dan evaluasi
9. Penyempurnaan.
10. Pelepasan produk ke pasar

Cara Kerja zpt (Zat Pengatur Tumbuh) Pemberian Perlakuan ke Tanaman
1. Membuat Produk Zpt
2. Produk Zpt murni
3. Produk Zpt dengan unsure hara
4. Produk Zpt, Unsur hara, organic
5. Produk Zpt, unsure hara, organic dan mikroba

Zpt Organik dan Pemanfaatannya
1. Auksin : kecambah, air kelapa, ubi, pisang ambon, kentang
2. Sitokinin: antanan, buncis, sirih, brotowali,
3. Giberelin: eceng gondok, buah, kacang hijau

Biaya Pembuatan dan Harga Produk
1. Penentuan biaya dasar bahan dan operasional
2. Penentuan harga dasar pokok
3. Penentuan harga distributor
4. Penentuan harga konsumen

Mikroba dan Hormon
1. Eksplorasi dan isolasi
2. Multiplikasi dan pembuatan biang
3. Membuat tidur atau dorman
4. Penyimpanan dan pengepakan yang baik

Ramuan Hormon untuk tujuan tertentu:
1. Membuat buah partekarp (buah tanpa biji)
2. Membuat herbisida yang aman dan ramah lingkungan
3. Membuat buah dan bunga yang besar / raksasa.
4. Membuat tangkai bunga yang pendek dan kokoh
5. Membuat tanaman hias yang kompak, tebal dan kokoh
6. Membuat tanaman berbunga dan berbuah di luar musim
7. Membuat mutasi dan variegata


II. Praktek:
1. Melarutkan hormon.
2. Membuat larutan stok hormon / zpt
3. Membuat ramuan hormon / zpt
4. Membuat perbanyakan mikroba
5. Menidurkan atau membuat dorman mikroba
6. Eksplorasi dan isolasi mikroba
7. Pembuatan produk kompos kering yang mengandung hormon
8. Pembuatan pupuk organik cair yang mengandung hormon

Semoga Indonesia dapat lebih majulagi dengan penerapan budidaya yang lebih baik lagi.
Edhi Sandra hp. 08128213720, Hapsiati hp. 0817154375, www.eshaflora.com, edhisms@gmail.com, edhi_sandra@yahoo.co.id

Gambar 1. Hormon dapat mengarahkan bentuk organ tanaman lebih kokoh , tebal dan kompak (gambar: anthrurium)


Gambar 2. Komposisi Giberelin, sumber energi dan vitamin dapat membuat bunga menjadi lebih besar dan tahan lama


Gambar 3. Dengan meramu hormon tunas, dicampur dengan hormon yang dapat mempercepat pertumbuhan, ditambah dengan sumber energi yang memadai serta ditambah dengan vitamin maka pertumbuhan dapat tumbuh dengan cepat. (gambar: bibit gaharu)

Gambar 4. Komposisi yang tepat antara hormon daun dan hormon bunga serta ditambah dengan percepatan pertumbuhan, ditunjang dengan sumber energi yang memadai maka anthurium dapat tumbuh daun dan bunga berbaregan dengan baik.


Gambar 5. Pemberian hormon dan mikroba serta sumber energi yang tepat maka dapat mengurangi penggunaan pupuk dan tanaman dapat tumbuh dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik

Gambar 6. Komposisi hormon giberelin dan auksin yang pas, ditambah dengan bahan organik yang lengkap serta vitamin yang lengkap membuat buah lebih besar, manis, tidak pahit dan renyah.


Gambar 7. Penguasaan hormon dan media tumbuh kita dapat mengarahkan pertumbuhan tanaman (gambar: kultur Tiara)

22 April 2011

HORMON DAN PERTUMBUHAN TANAMAN

Esha Garden - Friday, April 22, 2011

Oleh: Edhi Sandra


Pendahuluan

            Hormon sering juga disebut zat pengatur tumbuh. Saya tidak ingin memperdebatkan istilah. Tapi saya berusaha menguraikan penerapan hormone pada tanaman dan kesalahan yang ada di masyarakat yang perlu diluruskan pada proporsi yang benar.  Sehingga pemanfaatan hormon dalam budidaya tanaman akan memberikan dampak yang lebih optimal.

Hormon

            Adalah suatu zat yang dalam jumlah sangat kecil tapi mampu mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hormon tersebut tidak ikut di dalam proses metabolisme.  Berbeda dengan unsur hara atau zat makanan bagi tumbuhan adalah suatu zat yang mempengaruhi pertumbuhan dan ikut / menjadi bagian /komponen produk yang dihasilkan.  Oleh sebab itulah hormon dapat berpengaruh walaupun dalam jumlah yang sedikit
            Secara alamiah setiap tumbuhan mempunyai kandungan hormon dalam komposisi dan konsentrasi yang berbeda-beda sesuai dengan karakter gen dari masing-masing jenis. Setiap tumbuhan spesifika kandungan hormonnya.

Secara garis besar hormon dikelompokkan menjadi 3 kelompok hormon yaitu:
 Sitokinin, adalah kelompok hormon yang mempunyai fungsi utama mensupport pertumbuhan tunas. Sumber dihasilkan hormon sitokinin adalah diujung akar.
  1. Auksin, adalah kelompok hormon yang mempunyai fungsi utama mensupport pertumbuhan akar. Sumber dihasilkannya auksin adalah diujung tunas.
  2. Giberelin adalah kelompok hormon yang mempunyai fungsi pembungaan dan pembuahan. Sumber dihasilkannya adalah di daun dan buah.
 Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hormon:
 Satu hormone mempunyai dua fungsi yang berbeda (mensupport dan menghambat) pada konsentrasi yang berbeda.
  1. Satu hormon yang sama, dengan konsentrasi yang sama, akan mempunyai pengaruh yang berbeda pada bagian tanaman yang berbeda.
  2. Hormon auksin menunjang pertumbuhan akar tapi menghambat pertumbuhan tunas dan juga menghambat pembungaan dan pembuahan.
  3. Hormon sitokinin menunjang pertumbuhan tunas tapi menghambat pertumbuhan akar dan menghambat pembungaan dan pembuahan.
  4. Hormon giberelin menunjang pembungaan dan pembuahan dan menunjang pembelahan sel akar dan tunas.
  5. Hormon dalam kelompok hormon yang sama akan bersifat sinergis atau saling menguatkan.
  6. Hormon dalam kelompok hormon yang berbeda akan bersifat saling melemahkan atau saling meniadakan.

Hal-hal tersebut harus selalu diingat karena sangat penting di dalam penerapannya.  Berdasarkan hal-hal tersebut ada beberapa kasus yang cukup penting di bicarakan:

  1. Bahwa di dalam membuat ramuan hormon, maka acuannya adalah bukan sebanyak-banyaknya kandungan hormone. Tapi lebih kepada ketepatan komposisi dan konsentrasinya.  karena semakin tinggi konsentrasinya justru akan menghambat pertumbuhan tanaman.
  2. Di dalam memberikan dorongan yang kuat dalam pertumbuhan suatu organ perlu diingat bahwa hormon tersebut akan menghambat  organ yang lain. Contoh: Kita bisa memacu pertumbuhan tunas dengan optimal dengan memberikan hormone sitokinin, akan tetapi harus diingat bahwa sitokinin akan menghambat akar. 
  3. Demikian pula sebaliknya bila kita memberikan hormon akar di dalam merangsang pertumbuhan akar harus diingat bahwa hormon akar tersebut akan menghambat tunas.
  4. Di dalam mendorong pertumbuhan suatu organ terdapat konsentrasi optimal, yaitu konsentrasi yang optimal di dalam memberikan pengaruh yang terbesar  dan setelah itu bila konsentrasi ditambah justru akan menghambat pertumbuhan.
  5. Harus diingat bahwa bila kita ingin mendorong pertumbuhan akar dan tunas secara bersamaan maka, hal tersebut justru menyebabkan pengaruh yang saling melemahkan dan meniadakan.
  6. Bila suatu tanaman sedang berbunga atau berbuah, maka jangan sekali-kali memberikan hormon akar karena akan menyebabkan gugur bunga atau buah.
 Pemanfaatan Hormon Organik
             Di sekitar kita banyak sekali bahan-bahan organik yang mengandung hormon tertentu. Seperti:
  1. Air seni (kencing) kambing; kelinci dll secara umum mengandung hormon auksin.
  2. kecambah (toge) mengandung auksin
  3. bawang merah mengandung auksin
  4. antanan mengandung sitokinin
  5. buncis mengandung sitokinin
  6. air kelapa mengandung auksin, sitokinin, giberelin
  7. sirih mengandung sitokinin
  8. kacang hijau mengandung giberelin
  9. eceng gondok mengandung giberelin
  10. pisang mengandung auksin dll

Hormon pertumbuhan pada hewan atau manusiapun memberikan dampak percepatan pertumbuhan secara umum. Seperti pil KB yang diketahui mengandung hormon pertumbuhan, mampu mempercepat pertumbuhan tanaman. Demikian pula (mohon maaf) air seni ibu hamil 4 bulan, sedang mengandung hormon pertumbuhan yang tinggi,  mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.
            Pemanfaatan bahan-bahan alam / organik sangat penting karena dapat mengefisienkan biaya produksi dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.  Untuk mengetahui lebih lengkapnya mungkin bisa di lihat di buku-buku tentang buah-buahan dan sayuran ada kandungan hormon apa saja dan itu bisa dijadikan acuan di dalam membuat pupuk organik

Istilah Hormon

            Zat pengatur tumbuh adalah hormone tapi sebenarnya ada juga zat lain yang dapat mengatur pertumbuhan yaitu Zat Penghambat. Beda antara zat penghambat dan hormone adalah kalau hormone bisa bersifat memacu dan menghambat, sedangkan zat penghambat hanya menghambat saja. Contoh zat penghambat adalah Paklobutrazol.
            Ada hormon organik dan ada hormon sintetik. Hormon organik adalah hormon yang asli/ alamiah dihasilkan oleh tumbuhan atau mahluk hidup.  Hormon organi/alami tersebut bisa diproses secara modern (diisolasi) atau bisa juga dimanfaatkan secara langsung dalam bentuk pupuk organik.

Hormon ProAnalis dan Hormon Teknis

            Hormon Pro Analis adalah hormone yang dibuat manusia bisa alami mapun sintetik yang diolah sedemikian rupa sehingga tingkat kemurniannya sangat tinggi.  Hormon ProAnalis ini biasanya dipakai pada skala laboratorium atau untuk keperluan Kultur Jaringan. Dan harganya sangat mahal. Tapi juga pengaruhnya cukup efektif.
            Hormon teknis adalah hormone buatan manusia baik yang bersifat alami maupun sintetik yang tingkat kemurniannya tidak terlalu tinggi dan baisanya ada zat pembawanya berupa tepung atau lanolin dll.  Hormon ini biasa dipakai pada pertanian secara umum. Harganya jauh disbanding dengan hormone Proanalis.

Pengaruh Hormon Berdasarkan konsentrasinya

1,  Seluruh hormon dalam konsentrasi yang sangat rendah akan membantu pembelahan dan pembesaran sel / jaringan.
2.   Dalam konsentrasi tertentu, akan menstimulir tumbuhnya organ seperti organ tunas, organ akar organ bunga dll
3.   Kemudian bila ditingkatkan lagi, maka yang terjadi adalah menghambat pertumbuhan organ akan tetapi berdampak pada bertambahnya julah organ tapi ukurannya kecil-kecil.
4.  Bila konsentrasi ditingkatkan lagi maka yang terjadi terhambatnya tumbuhanya organ dan terbentuk seperti embrio organik atau tunas-tunas kecil
5. Bila ditingkatkan lagi maka akan menghambat tumbuhnya organ dan akan membentuk kalus (sekumpulan sel yang tidak terorganisasi)
6. Bila konsentrasi ditingkatkan lagi akan menyebabkan penyimpangan pertumbuhan morfologi secara tidak umum, yang biasanya satu batang bisa bercabang-cabang, berakar di batang dll. Seperti pembesaran buah tanpa melalui pembuahan
7. Bila konsentrasi ditingkatkan terus akan berdampak pada terjadinya mutasi, yaitu perubahan pada level gen.
8. Ditingkatkan lagi maka akan menyebabkan  “letal” (kematian). Seperti herbisida yang terbuat dari auksin.

Teknik Pemberian Hormon

            Hormon sebaiknya diberikan langsung pada target kerjanya misal : hormon akar langsung pada media tanam, hormon tunas disemprotkan pada tajuk.  Hal yang perlu diingat adalah bahwa konsentrasi optimal hormon adalah konsentrasi optimal yang terjadi pada daerah target. Daerah target yang dimaksud adalah daerah perakaran dan daerah pertunasan. Berarti yang harus kita coba bayangkan adalah bila kita memberikan hormon dengan dosis tertentu, kemudian kita semprotkan pada tajuk, kira-kira berapa persennya kah yang akan bisa masuk dan sampai pada sel target? Berapa persen yang terbuang? Dan dari jumlah yang sampai pada sel target apakah konsentrasinya sudah mencapai konsentrasi yang optimal untuk menstimulir organ? Oleh sebab itulah teknik memberikan hormon berbeda dengan pemupukan. Pemberian hormon diberikan sampai terstimulirnya organ.  Kecuali tujuannya hanya untuk percepatan tumbuh dan membelahnya sel.
            Tercapainya tujuan pemberian hormon tidak hanya tergantung  pada tercapainya konsentrasi optimal pada daerah target / sel target, tapi juga ditentukan oleh kandungan hormon endogen dari tumbuhan. Misal: bila kita ingin membungakan suatu tanaman, lalu kita memberikan hormon bunga dengan dosis tertentu, walaupun konsentrasi hormon giberelin sudah mencukupi tapi karena kandungan hormon endogen dari tanaman didominasi oleh hormon vetetatif yaitu hormon auksin dan sitokinin, maka konsentrasi hormon bunga tersebut akan menjadi lemah dan tidak mampu mendorong terbentuknya bunga atau buah.

Memperkirakan Dominasi Hormon Pada Tanaman

            Dengan mengacu bahwa hormon tunas diproduksi diujung akar dan hormon bunga diproduksi diujung tunas, maka kita dapat mengevaluasi kandungan dan dominasi hormon dalam suatu tanaman dengan melihat bentuk/ morfologi tanaman.  Tanaman Adenium dengan bonggol yang besar dan tunas yang sedikit dan kecil menggambarkan dominasi hormon auksin.  Jenis tanaman yang merambat dengan tunas yang tumbuh dengan baik dan cepat menandakan dominasi hormon sitokinin.  

Meramu Hormon

            Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa hormone bukanlah makanan, hormone bukanlah zat pembangun, tapi hormone itu hanyalah “profokator”. Jadi dampak dari hormone tidak akan nyata bila ternyata makanan atau energi untuk pertumbuhan tidak disediakan.  Energi untuk tumbuh bisa berupa bahan baku makanan, makanan setenangah jadi atau makanan siap pakai.  Makanan dalam hal ini adalah pupuk.  Sebaiknya pemberian pupuk dalam ramuan hormone harus mempertimbangkan duplikasi perlakuan pemupukan yang akan berdampak negative bagi tanaman. Agar tidak terjadi duplikasi pada perlakuan pemupukan maka pada ramuan hormone dapat diberikan makanan instant seperti: mioinositol, sorbitol, gula, madu, sari kurma dll,  Jadi sebaiknya untuk ramuan hormon dapat dicampurkan komponen lain yang diperlukan oleh tanaman.
            Komponen lain yang dapat dicampurkan dalam ramuan hormon adalah vitamin, mineral, asam amino, asam lemak, bahan organic lain, enzim.  Bila kita ingin menggabungkan produk ramuan hormone ini dengan mikroba maka kita harus hati-hati dengan karakter mikroba, yang disatu sisi dapat membantu tapi disisi lain dapat mengkonsumsi bahan organic yang ada dalam ramuan hormone tersebut.  Sebenarnya kita dapat memberikan enzimnya secara langsung.  Hal lain yang harus diperhatikan dalam meramu hormone adalah bahwa sebagian besar ramuan ini adalah bahan organic, sehingga harus difikirkan benar jangan sampai terjadinya proses degradasi bahan organic karena factor lingkungan ekstrim atau rusaknya ramuan karena kontaminasi mikroba yang tidak diharapkan.

Bogor,  10 April 2011

16 February 2010

Peranan Hormon atau ZPT dalam Kuljar

Esha Garden - Tuesday, February 16, 2010
Hormon atau Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman. Faktor yang mempengaruhi kearah mana tanaman tumbuh dan berkembang yaitu faktor luar (tanah,pupuk,pencahayaan atau irigasi) dan faktor dalam (terutama hormonal).

Didalam teknik kultur jaringan (kuljar) , tingkat keberhasilan kuljar sangat bergantung pada hormon atau ZPT yang diberikan

Arti hormon secara sederhana adalah pembawa pesan kimia, Arti hormon adalah senyawa organik bukan nutrisi tanaman yang disintetis disalah satu bagian tubuh tanaman dan dipindahkan ke bagian lan dalam konsentrasi rendah mampu menimbulkan tanggapan biokimia, fisiologis, dan morfologi.

Tanggap biokimia meliputi proses proses kimia dalam sistem biologi, Tanggap fisiologis diantaranya mengenai proses pertumbuhan, adaptasi, diferensissi dan perkembangan tanaman. Tanggap morfologi yaitu terbentuknya kekhususan bentuk daun akar, batang bunga dll bag tanaman dalam rangka mempertahankan hidup. Respon bisa + atau negatif.

ZPT adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (<1>
  • hormon harus ada dalam jumlah yang cukup dalam sel yang tepat.
  • hormon harus diikat dan dikenal oleh setiap kelompok sel yang tanggap terhadap hormon (sel sasaran yang peka). Perlu protein penerima yaitu protein yang memiliki struktur kompleks yang dapat mengenali dan memilih diantara molekul yang lebih kecil.
  • protein penerima tersebut (konfigurasinya diduga berubah saat menerima hormon) harus dapat menyebabkan perubahan metabolik lain yang mengarah ke penguatan isyarat atau kurir hormon.
  • Peran hormon atau ZPT adalah mengendalikan aktivitas gen
    Ekspresi gen replikasi (penggandaan DNA), transkripsi (biosintesis RNA) dan translasi (biosintesis protein)

    Penggandaan DNA merupakan proses yang paling penting dalam kelangsungan hidupnya dan penggandaan merupakan replikasi dari DNA induknya dan terjadi sebelum proses pembelahan sel.

    Proses transkripsi merupakan proses biosintesis RNA yang menggunakan molekul DNA sebgai bahan cetak atau template. Jenis-jenis rna mRNA, t Rna dan r RNA.

    Proses translasi merupakan proses biosintesis protein atau rantai polipeptida denga menggunakan instruksi genentik dalam mRNA untuk menentukan asam-asam amino apa yang dibentuk. Penguatan gen adalah proses penguatan yang tinggi terhadap aktifitas replikasi DNA dan transkripsi berulang dna menjadi mRNA yang diikuti translasi mRNA menjadi protein (enzim) yang memiliki aktifuitas katalis tinggi pada konsentrasi rendah dan menghasilkan salinan produk sel penting. Produk ini menentukan jenis organisme, serat penampilan fenotif.

    Peran hormon dikelompokkan atas :
    1. Hormon mempengaruhi permebilitas membram, bila naik maka akan memacu ion-ion diluar sel masuk dsbaliknya
    2. Hormon mampu menghambat atau mempercepat reksi enzimatik
    3. Hormon dapat mempercepat penyediaan ATP, koenzim, kofaktor dan vitamin pd reaksi enzimatik
    4. Hormon berfungsi seb pengaktif, jika pada enzim ada inhibitornya.
    5. Hormon dapat berperan sebagai pengaktif precusor enzim, sebagai second mesenger pada sintesis protein, sehingga mempercepat proses reaksi tsbt.
    6. Hormon sebagai pengatur efek allosterik (sebagai efektor), hormon akan menempatkan pada posisi yang aktif.
    7. Hormon dapat mempengaruhi langsung dalam aktifitassisntesis protein, baik pada intisel atau ribosom.

    Bookmark and Share

    12 February 2010

    Esha Flora mengeluarkan produk hormon (ZPT)

    Esha Garden - Friday, February 12, 2010
    HORMON PERANGSANG TUNAS, AKAR DAN BUNGA ESHA FLORA

    Esha Flora mengeluarkan produk-produk unggulan seperti hormon atau Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Produk ini dirasakan amat perlu untuk pengembangan atau budidaya tanaman hias atau tanaman lainnya. Sifatnya adalah mempercepat proses pertumnbuhan baik akar, tunas maupun bunga. Produk ini tidak mengandung unsur pupuk, sehingga bisa dalam konsentrasi tanpa dicairkanpun tidak membahayakan / tidak mematikan tanaman, bahkan dengan mudah kita mengatur pola pertumbuhan tanaman seseuai dengan jenis tanaman.

    Produk ini untuk solusi berbagai masalah seperti
    • Pertumbuhan yang lambat walaupun sudah diberikan pemupukan yang memadai dan kondisi lingkungan yang baik.
    • Pertumbuhan anakan yang relative sangat lambat dan lama serta menuggu tanaman berada pada kondisi besar dan rimbun baru mulai beranak, dan itupun paling hanya satu anakan.
    • Pada saat dilakukan perbanyakan dengan stek atau belah bonggol seringkali tumbuhnya akar pada bagian atas dan tumbuhnya tunas pada bonggol tanamansangat lambat, sehingga seringkali tanaman kehabisan energi dan pada akhirnyamati.
    • Pada saat pengepotan ulang karena baru beli jarak jauh, seringkali tanaman stres akibat belum siap dan belum dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru.
    • Pada saat pembelahan anakan dari induknya, seringkali tanaman akan menjadi stress dan mandek/berhenti pertumbuhannya, dan pulihnya kembali sangat lambat.
    • Tanaman mengalami kesulitan berbunga
    Manfaat Hormon Tumbuhan
    • Mempercepat pertumbuhan akar, tunas dan bunga.
    • Mempercepat dan memperbanyak daun dan anakan
    • Mempercepat tumbuhnya tunas pada bagian bonggol
    • Mempercepat pulih dari stress pada saat pengepotan ulang.
    • Mempercepat pulih dari keadaan dorman ( pertumbuhan terhenti) akibat pembelahan anak atau bonggol.
    • Mempercepat pembungaan tanaman
    Sifat Hormon.
    Berkaitan dengan pemanfaatannya maka hormon ini bersifat :
    • Pada dosis yang rendah (1- 5 ml/l) hormon akan mempercepat pertumbuhan akar, tunas dan bunga, membantu mengatasi stress dan menghilangkan dormansi.
    • Pada dosis yang tepat ( 10ml/L – tanpa dicairkan) mempercepat dan memperbanyak anakan tanaman dan menumbuhkan pucuk pada mata tunas yang tidur.
    Keunggulan Hormon
    Keunggulan hormon ini adalah :
    • Hormon ini relative aman dan pada umumnya tidak menyebabkan kematian pada tanaman, kecuali pada kondisi-kondisi tidak normal.
    • Hormon ini mampu mempercepat pertumbuhan jumlah daun 1 – 2 daun dalam dua bulan.
    • Hormon ini mampu mempercepat tumbuhnya anakan 1 – 3 bulan lebih cepat dibandingkan yang normal.
    • Hormon ini mampu menhasilkan anakan 1 – 10 anakan lebih banyak dari yang normal.
    • Hormon ini mampu mempercepat pulihnya tanaman 1 -2 bulan lebih cepat sehingga tanaman sehat kembali..
    • Hormon ini mampu menumbuhkan hampir semua mata tunas yang ada pada tanaman pada dosis yang tepat.
    Pemakaian Hormon
    Dalam pemakaian hormon ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
    • Walaupun di dalam komponen hormon ini sudah ada energi siap pakai tapi pemberian pupuk biasa yang tidak mengandung hormon perlu dilakukan secara normal.
    • Walaupun hormon ini mempunyai kemampuan yang besar akan tetapi keberhasilan perbanyakan tanaman aglaonema sangat ditentukan oleh kemampuan Si Pembudidaya di dalam menyediakan kondisi dan metode perbanyakan yang benar.
    Untuk pemesanan dan keterangan lebih lanjut hubungi:
    Ir. Hapsiati Edhi Sandra (08128213720)

    Bookmark and Share

    09 February 2010

    Zat Pengatur Tumbuh pada Tanaman (plant regulator)

    Esha Garden - Tuesday, February 09, 2010
    Zat pengatur tumbuh pada tanaman (plant regulator), adalah senyawa organik yang tidak termasuk hara (nutrient), yang mempunyai 2 fungsi yaitu menstimulir dan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

    Golongan ZPT :
    a. Auksin : NAA, IBA, IAA, 2,4D
    b. Sitokinin : BA, TDZ, Kinetin, Zeatin
    c. Gibereliin : GA3, GA4
    d. Zat Penghambat : etilen, ABA

    Peranan auksin:
    a. Pembentukkan akar
    b. Induksi dan morfogenesis kalus
    c. Peran fisiologis lain dominansi apical, pembungaan pada bromeliace, response tropisme serta menghambat pengguran daun, bunga dan buah.fototropisme, geotropisme, partenokarpi

    Peranan GA :
    a. Pembentukkan tunas dan akar bersama Auksin dan sitokinin
    b. Pemanjangan sel
    c. Peran fisiologis lain : pembentukkan bunga, pemecah dormansi biji.

    Peranan Sitokinin :
    a. Menstimulir terjadinya pembelahan sel
    b. Pembentukkan tunas
    c. proliferasi meristem ujung
    d. mendorong pembentukan kloropil pada kalus
    e. Peranan fisiologis lain Sitokinin menahan menguningnya daun dengan jalan membuat kandungan protein dan klorofil seimbang dalam daun ( daun menguning ketika protein pecah dan klorofil rusak)

    Perananan ABA :
    a. hormon tanaman yang secara alamiah disintesis dalam plastida atau kloroplas
    b. tergolong zat penghambat tanaman atau inhibitor tanaman
    c. diproduksi tanaman terutama bila tanaman berada dalam keadaan stress.

    Bookmark and Share

    08 February 2010

    Membuat Stok Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

    Esha Garden - Monday, February 08, 2010
    Membuat Stok ZPT untuk kebutuhan Kultur Jaringan
    Seperti halnya vitamin zat pengatur tumbuh juga dibutuhkan dalam jumlah yang relatif sedikit, umumnya macam dan jumlah penggunaannya tergantung pada kebutuhan dan orientasi kultur jaringan termasuk pertimbangan bahan apa yang hendak dikultur jaringan .

    Umumnya stok zat pengatur tumbuh untuk kultur jaringan dilakukan dengan dasar berat per volume (kepekatan). Biasanya larutan stok zat pengatur tumbuh dibuat dengan kepekatan antara 1-10 mg/ml. Sehingga pengambilannya tinggal memperhatikan berapa kebutuhan perliter yang diinginkan dan berapa kepekatan larutan stok yang telah dibuat.

    pH terakhir dari media kultur jaringan setelah penambahan hormon, sebenarnya tidak perlu mengukur dengan tepat jumlah asam atau basa yang ditambahkan dalam membuat larutan persediaan. Tapi jumlah penambahan asam atau basa tepat dapat diperkirakan dengan mudah. Cara praktis, dapat dikatakan bahwa 5 ml 0,1 N Natrium hidroksida (0,4%) tiap 100 mg auksin dan 5 ml 0,1 N asam khlorid (0,86 ml Asam khlorid pekat dalam 100 ml air) tiap 100 mg sitokinin, adalah cukup.

    Etil alkohol, dimetil sulfoksida dan pelarut organik yang lain kadang-kadang dipakai sebagai pembantu pelarut waktu membuat larutan persediaan hormon. Dalam memakai metode ini haruslah diingat bahwa kadar dari pembantu pelarut dalam media kultur Jaringan tidak boleh tinggi, karena toksik.

    Membuat larutan stok zat pengatur tumbuh untuk kultur jaringan sedikit berbeda dengan membuat larutan stok hara atau vitamin yang mudah larut hanya dengan aquadest. Untuk zat pengatur tumbuh diperlukan asam atau basa dan kadang pemanasan sebagai cara mempercepat larutnya bahan. Kalau zat pengatur tumbuhnya bersifat asam maka pelarutannya basa (NaOH 1 N) misalnya: IAA, NAA, IBA, 2,4-D. Sedangkan bila basa, maka pelarutannya adalah asam (HCI 1 N) misalnya dari golongan sitokinin.

    Untuk melarutkan zat pengatur tumbuh selain menggunakan asam dan basa dapat pula melarutkannya dalam alkohol 40%, atau melalui pemanasan saja. Berdasarkan pengalaman menggunakan tambahan asam atau basa lebih efektif dan tidak mudah mengalami pengendapan. Kerusakan larutan stok zat pengatur tumbuh umumnya ditandai dengan munculnya jamur, bakteri, larutan menjadi keruh. Jika demikian lebih baik tidak dipergunakan lagi

    Contoh pembuatan larutan stok zat pengatur tumbuh dengan kepekatan 1 mg/ml sebanyak 100 ml, dan prosedurnya adalah sebagai berikut:

    Untuk membuat larutan stok auksin (IAA, NAA, IBA, 2,4-D).

    - Menimbang bahan sebanyak 100 mg, kemudian dimasukkan kedalam gelas piala yang diberi aquadest sedikit. Teteskan sedikit demi sedikit NaOH 1 N kedalam gelas tadi sambil dikocok hingga zat pengatur tumbuh larut merata.
    - Tambahkan aquadest hingga volume mendekati 70 ml, dikocok kembali kemudian tuangkan kedalam labu ukur.
    - Bilas gelas piala dengan aquadest sedikit demi sedikit hingga bersih, selanjutnya tambahkan lagi aquadest kedalam labu ukur hingga volume tepat 100ml.
    - Pindahkan larutan tersebut kedalam Erlenmeyer 100ml, ditutup rapat dengan aluminium foil, diberi label dan kemudian disimpan dilemari es.
    - Penggunaanya, misalnya ke dalam 1 liter media akan ditambahkan zat pengatur tumbuh sejumlah 1 mg atau 1 ppm, maka hanya dibutuhkan 1 ml saja dari larutan stok zat pengatur tumbuh. Bila 5 ppm per liter media maka dibutuhkan 5 ml, demikian seterusnya.

    Untuk larutan Stok sitokinin (Zeitin, BA, 2-iP, PBA, Kinetin)

    - Menimbang bahan sebanyak 100 mg, kemudian memasukkan kedalam gelas piala yang diberi aquadest 50 ml. Teteskan sedikit demi sedikit HCI 1 N kedalam gelas tadi sambil dipanaskan dan dikocok (menggunakan hot plate stirrer) hingga zat pengatur tumbuh larut merata.
    - Tambahkan aquadest hingga volume mendekati 70 ml, dikocok kembali hingga merata kemudian tuangkan kedalam labu ukur.
    - Bilas gelas piala dengan aquadest sedikit demi sedikit hingga bersih, selanjutnya tambahkan aquadest kedalam labu ukur hingga volume tepat 100 ml.
    - Pindahkan larutan tersebut kedalam erlenmeyer 100 ml, tutup rapat dengan aluminium foil, beri label dan kemudian simpan di lemari es.
    - Penggunaanya, misalnya kedalam 1 liter media akan ditambahkan zat pengatur tumbuh sejumlah 2 mg atau 2 ppm, maka hanya dibutuhkan 2 ml saja dari larutan stok zat pengatur tumbuh. Bila diperlukan 8 ppm perliter media maka dibutuhkan 8 ml, demikian seterusnya.

    Bookmark and Share

    06 February 2010

    Hormon in-vitro

    Esha Garden - Saturday, February 06, 2010
    Ada dua jenis hormon tanaman (auksin dan sitokinin) yang sekarang banyak dipakai dalam propagasi secara in vitro. Hormon-hormon lain, misalnya gibberllin dan zat pengatur tumbuh sintetik juga sering dipakai, dan akan lebih sering lagi dipakai dalam bidang ini.

    Auksin, sitokinin dan gibberllin adalah hormon-hormon yang mempunyai peran ganda. Dalam propagasi secara in-vitro, hormon-hormon ini sering digunakan karena mempunyai kemampuan untuk merangsang pertumbuhan eksplan dan mempengaruhi pertumbuhan akar.

    Kemampuan untuk mensintesa atau merombak serta kepekaan terhadap zat-zat tersebut bila berada dalam media, untuk tiap species dan masing-masing bagian tanaman, sangat berbeda-beda.

    Juga tergantung dari tujuan masing-masing tahap dalam propagasi.
    Tahap 1, bertujuan utuk pembelahan sel dan pertumbuhan
    Tahap 2, bertujuan untuk perkembangan pucuk tanaman serta
    Tahap 3, tujuan yang terpenting adalah pembentukan akar dan
    penguatan tanaman.

    Karena itu, tidak ada formula satupun yang dikerjakan berdasarkan pengggunaan sebelumnya, harus dilakukan percobaan lagi dengan berbagai jenis dan kadar dari hormon-hormon tersebut.

    Bookmark and Share

    04 February 2010

    ABA (Abscisic Acid) hormon tanaman

    Esha Garden - Thursday, February 04, 2010
    ABA merupakan hormon tanaman yang secara alamiah disintesis dalam plastida atau kloroplas dan ditemukan pada berbagai jenis tanaman. ABA banyak diproduksi tanaman terutama bila tanaman berada dalam keadaan stress. ABA tergolong dalam zat penghambat tanaman atau inhibitor tanaman karena kerjanya pada umumnya berlawanan dengan hormon pendorong seperti auksin, sitokinin dan gibberillin.

    Peran fisiologis ABA terutama dalam pengaturan stomata, dormansi tunas, dormansi biji dan absisi organ tanaman (misalnya: daun, bunga, buah).

    Umumnya ABA dipakai di dalam kultur jaringan pada konsentrasi 5-50 mg/l. Pada beberapa jenis tanaman dilaporkan bahwa pemberian ABA dengan konsentrasi yang rendah mampu mendorong pembentukan kalus.

    ABA didalam proses pembentukan embrio somatik dan benis somatik telah banyak dicobakan. Penambahan ABA pada kegiatan ini telah terbukti mampu mendorong pematangan embrio somatik dan pada benih mampu menginduksi dormansi. ABA juga diakui mampu meningkatkan ketahanan jaringan pada upaya preservasi plasma nutfah.

    ABA juga berperan dalam proses morfogenesis sejumlah tanaman. Pertama dilaporkan oleh Heide (1968) yang melaporkan bahwa pemberian ABA berbagai variasi konsentrasi telah mampu mendorong pembentukan tunas pada kultur jaringan tanaman Begonia.

    Bookmark and Share

    02 February 2010

    Etilin

    Esha Garden - Tuesday, February 02, 2010
    Etilin Hormon Tumbuhan Mempercepat Proses Pematangan Buah

    Etilin jumlahnya sangat rendah (kurang lebih 0,1 ppm, yaitu seperjuta dari volume bahan) dalam setiap bahan. Etilin merupakan satu-satunya hormon tumbuh yang bersifat gas bergerak secara difusi dan terbentuk pada setiap jaringan yang mengalami penuaan atau stress. Keberadaanya berkaitan dengan jumlah auksin alami pada tanaman, ada fenomena keseimbangan antara level auksin dan etilin.

    Beberapa etilin sintetik telah mampu dibuat dan ditemukan, yang paling banyak digunakan dalam kegiatan kultur jaringan tanaman adalah ethephon (2-CEPA atau 2-choloroethylphosphonic acid).

    Sel, jaringan ataupun organ dalam kultur in vitro selalu memproduksi etilin. Etilin selanjutnya dapat berakumulasi didalam wadah kultur dan dapat pula berdifusi melalui penutup botol. Sehingga jumlahnya akan sangat bervariasi tergantung ukuran wadah dan macam penutup wadah (kapas, busa, kasa, aluminium foil, parafilm dan lain-lain), selain itu juga tergantung pada tipe jaringan yang ditumbuhkan, berat jaringan dan juga media.

    Pengaruh etilin terhadap sel, jaringan atau organ dalam kultur in vitro belum diketahui dengan jelas. Pengaruh etilin terhadap kalus, morfogenesis, pembentukan tunas adventif dan aksilar, pembentukan akar tidak begitu specifik. Artinya ada yang mendorong dan ada pula yang melaporkan sebaliknya, tentu ini tergantung terutama pada jenis tanaman dan konsentrasi dari etilinnya. Misalnya: etilin mampu mempengaruhi pertumbuhan kalus yang tidak terdiferensiasi dari eksplan batang (Wallace 1928; dan Evari, 1961).

    Pengaruh fisiologis etilen adalah mendorong perkecambahan biji dan tunas, pembungaan tanaman, senescence buga dan daun, pembentukkan bunga betina pada tanaman berumah satu.

    Pengaruh utamanya adalah mempercepat proses pematangan buah.

    Bookmark and Share

    01 February 2010

    Sitokinin

    Esha Garden - Monday, February 01, 2010
    Apakah Sitokinin itu ?
    Sitokinin merupakan nama kelompok hormon tumbuh yang sangat penting sebagai pemacu pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan. Seperti halnya pada auksin, selain sitokinin alami juga terdapat sintetisnya yang tergolong dalam zat pengatur tumbuh. Kinetin adalah merupakan sitokinin yang pertama kali ditemukan oleh mahasiswa Profesor Skoog’s bernama Carlos Miller (1954) pada laboratorium di Universitas Wisconsin, yaitu senyawa sangat aktif yang terbentuk dari hasil penguraian sebagai DNA tua sperma ikan hering atau DNA yang diautoklaf yang menyebabkan terus tumbuhnya kalus tembakau.

    Sitokinin alami ditemukan lebih dari 30 jenis yang terdapat dalam bentuk sitokinin bebas, sebagai glukosida atau ribosida. Berikut adalah 2 contoh sitokinin alami yang paling banyak digunakan dalam kulturjaringan, yaitu Zeatin (4-hydroksi-3-memethyl-trans-2-butenylaminopurine) dan 2-iP (N6-(2-isopentyl) adenin).

    Beberapa senyawa kimia yang analog dengan sitokinin alami bahkan beberapa mempunyai aktifitas sitokinin yang tinggi telah dapat dibuat sintetiknya. Sitokinin sintetik yang umum digunakan dalam kegiatan kultur jaringan adalah: kinetin (6-furfurylaminopurine), BAP atau BA (6-benzylaminopurine/6-benzyladenin), PBA (SD 8339) (6-benzylamino)-9-(2-tetrahydropyranyl)-9H-purine), 2C1-4PU (N-(2-cholo-4-pyridyl)-N’-penylurea), 2,6C1-4PU (N-(2,6-cholo-4-pyridyl)-N’-penylurea), thidiazuron (N-phenyl-N’-1,2,3-thiadiazol-5-penylurea).

    Dalam kegiatan kultur jaringan (kuljar) sitokinin telah terbukti dapat menstimulir terjadinya pembelahan sel, proliferasi meristem ujung, menghambat pembentukan akar, mendorong pembentukan kloropil pada kalus.

    Bersama auksin untuk meningkatkan pembelahan sel dan menahan ketuaan (senescence). Sitokinin menahan menguningnya daun dengan jalan membuat kandungan protein dan klorofil seimbang dalam daun ( daun menguning ketika protein pecah dan klorofil rusak)

    Zat pengatur tumbuh (hormon) selain sitokinin adalah auksin, giberelin, etilin dan asam absisak (ABA).

    Untuk kebutuhan kultur jaringan dan pembelian hormon ini anda dapat menghubungi Eshaflora Plants Tissue Culture ...


    Bookmark and Share
    Previous
    Editor's Choice