Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

enkas
Showing posts with label enkas. Show all posts
Showing posts with label enkas. Show all posts

15 April 2012

Kunjungan Peserta Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian Bandung ke Esha Flora

Esha Garden - Sunday, April 15, 2012

Setelah peserta pelatihan mengikuti pelatihan di Balai Besar Pelatihan Pertanian Bandung, maka satu hari mereka mengadakan kunjungan untuk melihat secara langsung pelaksanaan kultur jaringan skala rumah tangga, Esha Flora Bogor.

Dengan total sekitar 37 orang mereka sampai di Esha Flora. Lokasi Esha Flora di Komplek Taman Cimanggu. Pengunjung dalam jumlah 37 tergolong banyak untuk rumah tipe 21, sehingga dalam pelaksanaannya peserta di bagi menjadi 4 kelompok.

Tim Esha Flora sudah menyiapkan runutam acaranya yang memungkinkan peserta dapat keliling laboratorium kultur jaringan skala rumah tangga, dan mencobakan setiap tahapan kultur jaringan dengan versi skala rumah tangga.

Acara yang telah disiapkan adalah:
1. sambutan dari kedua belah pihak
2. penjelasan Esha Flora oleh pemilik Esha Flora Ibu Ir. Hapsiati
3. menyaksikan vidio kultur jaringan skala rumah tangga Esha Flora
4. keliling laboratorium sambil dijelaskan modifikasi dan perubahan laboratorium di bandingkan dengan yang pada umumnya.
5. Istirahat, sholat dan makan
6. Pembagian dan rotasi kelompok yang meliputi:
  • Pembuatan media kultur dan autoklaf
  • Sterilisasi dan Inisiasi
  • Subkultur dan penyelamatan
  • Aklimatisasi
7. Pembahasan, evaluasi, tanya jawab dan doorprice
 8. Penutup.


Tanggapan dan kesan para peserta:
staf Esha Flora memberikan contoh subkultur di Enkas
1. Mereka baru memahami bahwa benar kultur jeringan tidak perlu fasilitas yang mal.
2. Ternyata dengan kondisi yang sederhana (skala rumah tangga) kultur jeringan dapat dilakukan dengan baik.
3. para peserta yang dari Dinas menyatakan bahwa mereka pasti bisa membuat laboratorium kultur jaringan seperti di esha Flora bahkan bisa lebih baik, karena untuk Dinas, dana pembuatan lab dengan kapasitas 1000 kultur hanya 7, 7 juta adalah hal yang kecil.
4. Esha Flora telahmemotivasi para peserta untuk dapat melaksanakan kultur jaringan secara real di tempatnya mereka masing-masing
5. Modifikasi alat dan bahan yang digunkan lebih memudahkan peserta untuk dapat melaksanakan kultur jaringan dengan baik.
6. Keberadaan Esha Flora yang siap membantu para peserta dalam mengembangkan laboratorium kultur jaringan, serta menyediakan semua keperluan alat dan bahan bahkan kultur sterilnya membuat mereka lebih bersemangat.

kenang-kenangan bersama di esha Flora
Semoga dengan adanya para peserta yang telah dilatih Balai Besar Pelatihan Pertanian bandung dengan salah satu kunjungannya acaranya adalah kunjungan ke Esha Flora, dapat lebih mengembangkan penerapan kultur jaringan di berbagai daerah.
Tim Esha Flora yang dibantu oleh mahasiswa kultur jaringan IPB

Banyak jenis tanaman yang dapat dikembangkan disesuaikan dengan daerahnya masing-masing. Dengan saling bantu dan kerjasama, maka beban dan hambatan yang dihadapi dalam pengembangan kultur jaringan dapat di atasi bersama. Mari kita saling share, saling bantu dan bekerjasama agar Indonesia dapat lebih mensejahterakan rakyatnya...


Bogor, April 2012

17 August 2010

Kontaminasi dalam Pengembangan Kultur jaringan Skala Rumah tangga

Esha Garden - Tuesday, August 17, 2010
Oleh: Edhi sandra
Latar belakang
Kultur jaringan merupakan teknologi yang mau tidak mau harus kita kuasai, karena sudah tidak terbendung lagi kebutuhan yang sangat besar akan bibit-bibit berkualitas dalam bidang kehutanan, perkebunan, pertanian dll. adalah tidak mungkin lagi kita menggunakan teknik-teknik konvensional dalam perbanyakan tanaman untuk memenuhi semua kebutuhan yang sangat besar. Maka kultur jaringan menjadi teknologi yang sangat menentukan keberhasilan dalam pemenuhan bibit.
Permasalahan
1. Sebagian besar orang beranggapan bahwa kultur jaringan adalah teknologi yang sangat mahal.
2. Kultur jaringan sangat sulit dan hanya dapat dilakukan oleh sarjana kultur jaringan saja.
3. Perkembangan kultur jaringan di Indonesia belum tersebar luas di masyarakat.
4. Teknologi kultur jaringan masih merupakan sesuatu yang asing.
5. Banyak kasus kegagalan para pengkultur terutama dalam hal inisiasi selalu kontaminasi.
Tujuan
1. Berkembang dengan pesatnya kultur jaringan di Indonesia
2. Berperannya kultur jaringan dalam menangani permasalahan agribisnis di Indonesia
3. Teratasinya permasalahan teknis dalam pelaksanaan kultur jaringan.
4. terbentuknya infrastruktur dan kemitraan yang semakin kompleks dan semakin terkait dan saling membantu.
Antisipasi Permasalahan dan Peran Esha Flora
Persepsi bahwa kultur jaringan sangat mahal harus di dobrak, memang betul disatu sisi kalau kita mau membuat yang sempurna akan menghabiskan biaya yang cukup mahal. Tapi bukan berarti tidak bisa kita membuat dengan skala kecil, skala rumah tangga.  Esha Flora sudah berusaha untuk memberikan gambaran pelaksanaan kultur jaringan skala rumah tangga, dengan adanya laboratorium kultur jaringan yang memang sangat sederhana, AC tidak wajib, lampu juga tidak wajib dan laboratorium tidak harus terisolasi/ tertutup rapat. 
  1. Persepsi salah lainnya adalah bahwa kultur jaringan hanya dapat dikerjakan oleh sarjana kultur jaringan. Hal ini tidak benar, karena kultur jaringan dapat dilatihkan ke pegawai dengan lulusan setara smp atau sma. Dan hal ini sudah di buktikan di Esha Flora bahwa tenaga kerja di Esha Flora dan yang kami didik adalah tenaga kerja setara smp dan sma, dengan membutuhkan waktu sekitar 3 bulan sampai 6 bulan, mereka sudah dapat melakukan kegiatan dasar kultur jaringan.
  2. Lambatnya perkembangan kultur jaringan di Indonesia, perlu di dorong agar dapat lebih cepat lagi, dengan meningkatkan promosi dan meningkatkan motivasi untuk terus maju, saling tolong dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Esha Flora dengan seluruh mitra dan alumni peserta pelatihan, baik alumni esha Flora maupun alumni peserta pelatihan Fahutan IPB yang saya latih telah mencapai lebih dari 1000 orang dan mereka tersebar di berbagai instansi dengan berbagai jabatan. Keberadaan mereka semua membantu membuat persepsi lebih objektif dan lebih proporsional. Dan mampu menjelaskan bahwa kultur jaringan dapat dilaksanakan secara skala rumah tangga. Saat ini Esha Flora dan juga berbagai pihak lain sudah mulai banyak yang mengadakan pelatihan kultur jaringan, hal ini mudah-mudahan akan menambah cepat pertumbuhan kultur jaringan di Indonesia. Esha Flora juga berusaha mengadakan dan menyediakan peralatan buatan dalam negeri yang setara dengan kualitas luar negeri (Laminar Air Flow Cabinet dengan HEPA 99,999%), dan akan terus mengembangkan alat-alat serta metode baru yang dapat dikembangkan untuk kemudahan dan peningkatan keberhasilan dalam kultur jaringan.
  3. Pengenalan teknologi kultur jaringan keseluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan agar persepsi menjadi lebih solit sehingga pengembangan kultur jaringan di Indonesia akan lebih cepat. Untuk itu Esha Flora mempelopori dan mempromosikan kultur jaringan ke sekolah-sekolah. Dengan kultur jaringan yang telah dimodifikasi maka kultur jaringan sangat dimungkinkan untuk dikembangkan di sekolah. Antusias guru dan murid serta mahasiswa sangat besar, hal ini merupakan hal yang sangat mengembirakan karena sebenarnya kalau hal ini di danai saja oleh pemerintah maka keterampilan dan keahlian kultur jaringan dapat menjadi profesi anak-anak SMK dan selevelnya....dan tentunya hal ini sangat membantu pertumbuhan agrobisnis di Indonesia
  4. Banyaknya kasus kegagalan teknis dalam pelaksanaan kultur jaringan disebabkan, masih tingginya ego dari masing-masing para pengkultur sehingga setiap langkah keberhasilan akan menjadi rahasia bagi dirinya, dan tidak akan diberitahukan kepada yang lain. Andai saja kita bisa saling berbagai pengetahuan dan pengalaman maka akan lebih cepat meningkat keahlian dan keterampilan dari seluruh pengkultur di Indonesia. Esha Flora berusaha untuk mempelopori dan menghimbau kepada semua para pelaku kultur jarngan untuk dapat saling berbagai dan saling membantu. Dalam hal ini esha Flora juga membantu lab lain dengan cara menjual kultur steril yang sudah jadi sehingga lab kultur jaringan lain dapat dengan mudah memperbanyaknya juga, tanpa harus menginisiasi terlebih dahulu. Esha Flora juga membuat paket alat dan bahan yang bersifat eceran dengan kapasitas tertentu, yaiytu paket alat bahan dengan kapasitas 1000 kultur, paket alat bahan dengan kapasitas 10.000 kultur, paket 100.000 kultur dan paket 1 juta kultur.
Evaluasi Pelaksanaan Antisipasi Permasalahan
Mulai dari berdirinya tahun 1994 dan mulai mengadakan pelatihan di IPB tahun 1996 dan di Esha Flora tahun 2004. dari peserta yang mencapai lebih dari 1000 orang tersebut, ternyata hanya sekitar 20 % yang masih eksis di bidangnya, selebihnya berhenti dengan berbagai alasan:
1. tidak mampu mengatasi permasalahan teknis (terutama kontaminasi)
2. tidak ada waktu untuk mengerjakan sendiri
3. kesulitan dalam mendapatkan tenaga pelaksana kultur jaringan
4. kesulitan pemasaran
5. tidak menguntungkan dari segi bisnis
6. terlalu sulit untuk direalisasikan
7. hanya sekedar ingin tahu dan menjajagi dengan produk yang diproduksinya
8. krisis ekonomi.
Dari sekian banyak faktor penyebab tersebut, saya akan menyoroti pada faktor yang pertama, yaitu kegagalan karena faktor kontaminasi.
Kontaminasi Dan Sterilisasi
Besarnya kontaminasi dan kegagalan perlakuan sterilisasi disebabkan karena berbagai hal yaitu:
  1. Banyaknya faktor yang dapat menyebabkan kontaminasi. satu saja dari faktor tersebut menyebabkan kontaminasi maka akan gagal seluruh proses pembuatan kultur jaringan. Dimulai dari persiapan ruangan, pesiapan alat dan bahan, persiapan bahan eksplan sampai dengan pelaksanaan, inkubasi sampai aklimatisasi semuanya sangat berpotensi mengalami kontaminasi.
  2. Indonesia adalah negara tropis, berbeda dengan negara maju yang sudah lebih dulu mengembangkan kultur jaringan, sebagian besar di daerah temperate maupun di daerah dingin. Dari sini saja sudah sangat berbeda. ragam mikroba di daerah tropis jauh lebih besar di banding negara temperate dan dingin. Demikian pula di daerah tropis suhu dan kelembabannya sangat cocok untuk pertumbuhan mikroba. Sementara kita menjiplak teknologi kultur jaringan dari negara daerah dingin atau temperate untuk diterapkan di negara kita yang notabene adalah negara tropis. saya katakan menjiplak karena kita lupa untuk mengkonversi atau memodifikasi teknologi tersebut agar cocok di terapkan di negara tropis seperti Indonesia ini.
  3. Kesalahan persepsi dan kesalahan di dalam mengambil kesimpulan dapat menyebabkan kita salah di dalam membuat modifikasi metode kultur jaringan. hal ini dapat menjadi sangat fatal, karena di Indonesia, kita lebih suka meniru tanpa adanya cek and recek. Sehingga kesalahan persepsi atau kesalahan kesimpulan tersebut berulang bahkan tercetak/tertulis di literatur; literatur bahkan skripsi dan jurnal ilmiah. akhirnya menjadi sesuatu yang salah kaprah.
Antisipasi Kontaminasi dan Peningkatan Keberhasilan Sterilisasi
1. Karena banyaknya faktor yang menyebabkan kontaminasi, seringkali para pengkultur dibuat bingung dalam mengevaluasi penyebab kontaminasi. Untuk itu harus dibuat pemilahan faktor penyebab kontaminasi dan kemudian dibuatkan SOP perlakuan sterilisasinya. Setiap SOP harus dapat menjamin keberhasilan sterilisasinya. Seringkali kita terlewat dalam mengevaluasi faktor penyebab kontaminasi sehingga pada akhirnya salah di dalam membuat SOP nya. Beberapa hal yang seringkali terlewat dalam mengevaluasi faktor kontaminasi:
a. Pada kultur jaringan skala rumah tangga, tidak semua proses berada pada kondisi steril, oleh sebab itu kita harus dapat membuat SOP yang dapat meyakinkan kita bahwa dengan cara tersebut dan pada kondisi tersebut kultur tetap steril.
b. Tidak kuatnya tutup botol adalah faktor penyebab utama kegagalan dalam kultur jaringan skala rumah tangga. Pada saat proses autoclave memang tutup botol tidak boleh terlalu keras, tapi setelah itu, pada saat autoclave dibuka, maka kita harus ingat bahwa kondisi lingkungan tidak steril sehingga berpeluang masuknya kontaminasi ke dalam botol. Oleh sebab itu maka sebaiknya membuka autoclave seharusnya diruang steril, dan tutup botol harus segera dikuatkan kembali. Seringkali para pengkultur melupakan bahwa sterilnya ruangan berbeda dengan ruangan yang bersih. Bersihnya suatu ruangan belum menjamin ruangan tersebut steril.
c. Air steril seringkali menjadi penyebab kegagalan kultur, karena justru dari air steril tersebutlah berasal kontaminan. Di air steril kontaminan tidak tumbuh karena tidak mengandung bahan makanan bagi mikroba, jadi dia tetap dorman, tapi begitu digunakan untuk membilas eksplan dan menempel pada eksplan, kemudian eksplan tersebut di tanam di media kultur, maka dalam hitungan jam maka akan terkontaminasi.
d. Media steril yang sudah di autoclave yang di simpan beberapa hari dengan maksud untuk melihat kontaminasi atau tidak, seringkali juga menjadi penyebab kontaminasi, karena tempat penyimpanan yang tidak steril serta tutup botol yang tidak kuat.
e. Metode sterilisasi eksplan yang melupakan adanya kemungkinan terkontaminasinya eksplan secara sistemik seringkali membuat gagalnya inisiasi. karena dalam perlakuan sterilisasi eksplan tidak ada perlakuan yang dapat mengeliminir atau menghilangkan mikroba sistemik.
f. Tempat inkubasi yang dianggap bersih, sebenarnya tidak steril. Ditambah dengan tidak kontinu nyalanya AC membuat pada kondisi tertentu suhu laboratorium menjadi naik sehingga pada saat itu masuklah mikroba ke dalam botol kultur, bila tutup botol tersebut tidak kuat.
g. Adanya kontaminan disekeliling botol, bahkan di sekitar leher botol, maka pada saat subkultur, bila kita tidak hati-hati maka masuklah kontaminan tersebut ke dalam botol dan menempel pada eksplan, dan terbawa ke media yang baru.
h. Proses penghilangan kontaminasi sistemik yang tidak tuntas membuat kultur yang tadinya kelihatan sudah steril, sebenarnya di dalamnya masih mengandung kontaminan, dan tidak sempat keluar pada inisiasi awal dan lukanya sudah lebih dahulu pulih. Pada saat disubkultur dan di belah-belah, maka terjadilah luka baru maka terbukalah peluang keluarnya mikroba dari dalam sel eksplan tersebut dan akhirnya mengontaminasi kultur tersebut.
2. Indonesia sebagai negara tropis dengan suhu dan kelembaban yang memadai untuk tumbuhnya mikroba maka sudah dapat dipastikan akan banyak mengandung mikroba di udara dan disekitar kita, baik jumlah maupun ragamnya. Sementara di negara yang iklimnya dingin mereka tidak akan mengalami hal seperti di negara tropis sehingga tingkat kontaminasi tidak setinggi di daerah tropis. Disamping mereka memang membangun laboratorium kultur jaringan dengan standar internasional (benar-benar steril). Dalam hal ini maka tutup botol menjadi tidak terlalu penting untuk ditutup kuat-kuat. Pada laboratorium kultur jaringan di Indonesia kelihatannya tertutup rapat padahal sebenarnya masih berhubungan dengan luar sehingga peluang kontaminasi sangat besar. Banyak yang berfikiran bahwa kalau sudah ber AC dan tertutup rapat maka sudah steril, hal ini adalah tidak benar, karena ada yang dilupakan yaitu pada saat pintu laboratorium di buka maka udara luar masuk ke dalam membawa kontaminan. orang yang masuk juga membawa ribuan bahkan jutaan debu/ mikroba dan bahkan terus terakumulasi di dalam laboratorium kultur jaringan bila tidak ada perlakuan perawatan laboratorium dari kontaminasi. Karena tidak sterilnya ruang laboratorium, dan kemudian bila AC mati, maka suhu meningkat dan tekanan di dalam botol berbeda dengan di dalam lab yang pada akhirnya dapat menyebabkan masuknya udara dengan membawa mikroba ke dalam botol, maka terjadilah kontaminasi.
3. Adanya ragam mikroba yang sangat tinggi dan jumlahnya yang juga sangat besar membuat proses sterilisasi menjadi sangat sulit. karena juga kandungan mikroba sistemik dalam tumbuhan menjadi sangat tinggi pula. Hal inilah yang membuat sangat sulit di atasi. Selain kurangnya metode penanganan kontaminasi secara sistemik, terdapat pula kendala yaitu bagaimana metode penanggulangannya. Pengembangan metode penanggulangan kontaminasi secara sistemik ini menjadi salah satu kunci keberhasilan inisiasi. Untuk itu Esha Flora sudah mencoba membuat metode yang lebih detail yaitu: 
1. proses karantina bahan indukan tanaman selama 3 bulan,
2. perendaman bahan eksplan dalam larutan antibiotik selama 2 hari. 
Ditambah dengan perlakuan kehati-hatian maka kita dapat meningkatkan peluang keberhasilan inisiasi. Demikian uriaian mengenai berbagai kemungkinan penyebab kontmainasi semoga bermanfaat. Mohon masukan dan tanggapan dan saran membangunnya. Terima kasih.
www.eshaflora.com
Bookmark and Share

09 February 2010

Cara Sterilisasi Alat-alat dan Media Kultur Jaringan

Esha Garden - Tuesday, February 09, 2010
Alat-alat yang dipakai dalam penanaman dalam kultur jaringan harus dalam keadaan steril. Alat-alat logam dan gelas dapat disterilkan dalam autoklaf. Alat tanam seperti: pinset dan gunting dapat juga disterilkan dengan pembakaran atau dengan pemanasan dalam bacticinerator khusus untuk scapel, gagangnya dapat disterilkan dengan pemanasan namun pisaunya dapat menjadi tumpul bila dipanaskan dalam temperatur tinggi. Oleh karena itu untuk bladenya dianjurkan cara sterilisasi dengan pencelupan dalam alkohol atau larutan kaporit.

Alat-alat kultur jaringan yang perlu disterilisasi sebelum penanaman adalah; Pinset, Gunting, - Gagang scapel, Kertas saring, Petridish, Botol-botol kosong, Jarum, Pipet

Autoklaf yang dapat digunakan ada bermacam-macam mulai dari yang sederhana sampai yang Programable. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan kedalam autoklaf. Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api bunsen. Dengan autoklaf sederhana ini tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas selama masa sterilisasi dilakukan secara manual. Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan: sederhana, harga relatif murah, tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang, serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf.

Media dan Aquades
Media dan aquadest yang akan digunakan dalam kultur jaringan (kuljar)juga disterilisasikan dalam autoklaf. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya Erlenmeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml, agar sterilisasi lebih efektif. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat yaitu 1 jam pada tekanan 17,5 psi.

Untuk media kultur jaringan (kuljar) yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile, sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperatur 121C, tekanan antara 15-17.5 psi dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media. Untuk 15 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 75ml, sterilisasi dilakukan tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit. Volume yang lebih besar membutuhkan tekanan yang lebih tinggi dengan waktu yang lebih lama. Dalam sterilisasi aquadest dan media, setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai, autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak. Bila tekanan diturunkan mendadak, cairan didalamnya mendidih dan meluap (Bubbled up).

Untuk bahan-bahan kultur jaringan (kuljar) yang heat-labile, dalam bentuk larutan, sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0.20-0.22 dm. Diameter filter bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan. Untuk volume larutan 10 ml, dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik. Bahan yang heat labile seperti: GA3, Thiamin-HCI, Ca-panthothenate dan antibiotik: carbenocillin.

Botol-botol/tabung reaksi/erlenmeyer yang dipergunakan sebagai wadah kultur jaringan biasanya disterilisasi dalam oven. Botol-botol yang sudah dicuci bersih dimasukkan dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160C. Setelah disterilisasi dapat langsung digunakan. Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama maka sewaktu sterilisasi, mulut botol harus ditutup dengan aluminium foil.

Enkas
Sebelum digunakan enkas kultur jaringan harus disterilisasi dengan menggunakan hand sprayer berisi spirtus atau campuran formalin 10% dan alkohol 70% dengan perbandingan 1:1. Setelah enkas tersebut disemprot kemudian dibiarkan terlebih dahulu kurang lebih lebih 10 menit, baru kemudian boleh digunakan. Sebab, bila enkas yang baru disemprot tersebut langsung digunakan. Maka formalin yang belum kering bila terkena api spirtus dapat meledak sehingga memecahkan enkas.

Laminar
Penggunaaan formalin dalam laminar air flow dalam kultur jaringan,

"penggunaan formalin tidak dibenarkan sama sekali, karena uap formalin dapat terhembus kearah dada sipenabur sehingga berbahaya bagi kesehatannya. Strerilisasi pada laminar air flow yang dibenarkan adalah dengan spirtus atau alkohol 70%. "

Sebelum mulai bekerja, permukaan tempat kerja dari laminar air flow cabinet dilap dengan kapas yang telah dicelup dalam 70% alkohol atau dalam larutan kaporit. Ada juga tipe laminar air flow cabinet yang dilengkapi dengan lampu ultra violet. Sebelum kerja, lampu ultra violet dinyalakan selama beberapa waktu antara 1-2 jam untuk mematikan kontaminan dipermukaan tempat kerja. Laminar air flow cabinet harus dijaga sebersih mungkin. Setelah bekerja, permukaan tempat kerja dibersihkan dengan alkohol 70% atau dengan lampu ultra violet selama 1-2 jam.

Bookmark and Share

Previous
Editor's Choice