Show Mobile Navigation

Artikel Terkini

Berlangganan Artikel Kuljar Via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pendaftaran

Rafflesia
Showing posts with label Rafflesia. Show all posts
Showing posts with label Rafflesia. Show all posts

25 May 2024

Rafflesia zollingeriana Found at Krecek Block, Meru Betiri National Park, Jember, East Java, Indonesia

@Cahangon75 - Saturday, May 25, 2024

Rafflesia zollingeriana Found at Krecek Block, Meru Betiri National Park, Jember, East Java, Indonesia

The discovery of Rafflesia zollingerianaRafflesia zollingerianaRafflesia zollingeriana in the Krecek Block of Meru Betiri National Park, located in Jember, East Java, Indonesia, marks a significant event in the conservation and botanical study of one of the world's most extraordinary plants. This article explores the unique characteristics of Rafflesia zollingeriana, its ecological significance, and the importance of its habitat in Meru Betiri National Park.

The Enigmatic Rafflesia zollingeriana

Rafflesia zollingeriana, a member of the Rafflesiaceae family, is renowned for its striking appearance and unusual biological characteristics. Unlike most plants, it lacks stems, leaves, and roots, and is entirely parasitic, relying on a host vine from the Tetrastigma genus to survive. The flower, which can measure up to 70 cm in diameter, is notorious for its pungent odor, often compared to that of decaying flesh. This scent attracts carrion flies, which are the primary pollinators of the plant.


Ecological Significance

The presence of Rafflesia zollingeriana in Meru Betiri National Park highlights the park's rich biodiversity and its role as a critical habitat for rare and endangered species. This national park is a biodiversity hotspot, offering a sanctuary for various flora and fauna, some of which are endemic to the region. The discovery of this rare flower species emphasizes the importance of continued conservation efforts within the park to protect and preserve its unique ecosystems.

Meru Betiri National Park: A Biodiversity Hotspot

Meru Betiri National Park, covering an area of approximately 580 square kilometers, encompasses a diverse range of habitats, from lowland tropical rainforests to coastal mangroves. This diversity supports a wide array of wildlife, including the critically endangered Javan leopard, banteng (wild cattle), and numerous bird species. The park is also home to several other species of Rafflesia, making it a key area for studying the genus's diversity and distribution.


Conservation Efforts

The discovery of Rafflesia zollingeriana at Krecek Block underscores the importance of conservation and research in Meru Betiri National Park. Efforts to protect this rare species include monitoring its population, safeguarding its habitat from deforestation and human encroachment, and educating the public about its ecological significance. Collaborative efforts between the National Park Management Section Region II Ambulu and local communities are crucial in ensuring the long-term survival of Rafflesia zollingeriana and other endangered species within the park.

 Challenges and Future Directions

Despite the park's protected status, Meru Betiri faces several conservation challenges, including illegal logging, poaching, and habitat fragmentation. Addressing these issues requires robust enforcement of environmental regulations, increased funding for conservation programs, and active participation from local communities. Research initiatives focusing on the ecological role and reproductive biology of Rafflesia zollingeriana are also essential to develop effective conservation strategies.

The presence of Rafflesia zollingeriana in the Krecek Block of Meru Betiri National Park is a testament to the park's rich biodiversity and ecological importance. Protecting this unique flower, along with the park's other flora and fauna, is crucial for maintaining the ecological balance and preserving the natural heritage of East Java. Through concerted conservation efforts and continued research, the majestic Rafflesia zollingeriana can continue to thrive in its natural habitat, serving as a symbol of Indonesia's extraordinary botanical diversity.

Have you ever seen the blooming of the Rafflesia flower?

 

 Check it out in the video created by @tnmerubetiri @eshaflora #Repost @tnmerubetiri • • • • • • Jember Proses mekar Rafflesia zollingeriana di TN Meru Betiri, Resort Bandealit, blok Krecek. Proses mekar membutuhkan waktu 20 jam, sedangkan proses pembusukan butuh waktu 8 hari. 🎥 Tim Videografer Afiyan Eko F, Andriyanto, Puji F, Safrudin P, Basuki, Putu D, Hafid, Aswi, Ari H W @siti.nurbayabakar @inungwiratno @merbeti9800 #kementerianlhk #ksdae #ksdae_klhk #ayoketamannasional #merubetirinationalpark #rafflesia #wildlifephotography #jemberphotography #jember #banyuwangi #timelapsevideo #timelapsephotography #naturephotography #naturetimelapse

26 September 2014

2015, Bengkulu Tuan Rumah Simposium Internasional Rafflesia & Amorphophallus

@Cahangon75 - Friday, September 26, 2014
Dalam dunia botani, sejarah Provinsi Bengkulu tercatat sejak Sir Thomas Stamford Raffles menginjakan kakinya di Provinsi ini pada tahun 1818. Namanya terabadikan dalam bunga yang kini menjadi maskot Provinsi Bengkulu "Rafflesia arnoldii". Keberadaan R. arnoldii di kawasan hutan hujan tropis Bengkulu telah sejak lama melambungkan nama Bengkulu sebagai Bumi Rafflesia yang kemudian dikenal pula menyimpan kekayaan flora dan fauna yang sangat bernilai dan berpotensi besar dipandang dari sisi keilmuan maupun sisi pariwisata. Berbagai specimen botani yang berasal dari Bengkulu kala itu menjadi specimen yang baru pertama kali dideskripsi secara ilmiah untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
 

Mengingat beberapa kawasan di Bengkulu merupakan kawasan yang sangat potensi akan keragaman hayatinya, diperlukan kebijakan yang menunjang kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan sekaligus melindungi aset-aset keragaman flora-faunanya. Untuk itu diperlukan terobosan untuk mempromosikan Provinsi Bengkulu agar lebih dikenal pada masa kini dengan memanfaatkan potensi keragaman hayatinya.

Keunikan bunga Rafflesia dan Amorphophallus titanum hingga kini masih dapat diandalkan sebagai objek berdaya tarik  luar biasa bagi dunia ilmu pengetahuan maupun pariwisata. Upaya memecah teka-teki pembungaan Rafflesia masih menjadi tantangan bagi para botanis diseluruh dunia. Begitu pula dengan Amorphophallus titanium yang meskipun sudah bisa dibudidayakan namun populasi alaminya sudah menyusut dan masih memerlukan kajian lebih intensif untuk memperkaya keragaman genetiknya serta strategi konservasinya di alam. Maka dari itu, inilah yang melatarbelakangi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menggelar even berskala internasional "Syimposium International Rafflesia & Amorphophallus" pada tahun 2015 mendatang di Bengkulu bekerja sama dengan semua SKPD yang ada di Provinsi Bengkulu.

Kegiatan utama program ini adalah melakukan kajian terhadap berbagai kegiatan penelitian maupun kegiatan konservasi Rafflesia dan Amorphophallus dalam berbagai bentuk yang telah dilakukan oleh peneliti ataupun praktisi di seluruh dunia. Kegiatan pengkajian ini dilakukan dalam bentuk diskusi dengan nara sumber para pakar yang berasal dari berbagai institusi di seluruh dunia yang diperkirakan berasal dari 10 negara di Asia, Eropa dan Amerika. Ditargetkan jumlah peserta 150-200 orang dan seluruh kegiatan dilaksanakan dengan bahasa Inggris sebagai pengantar.

Adapun maksud kegiatan adalah untuk mengekspose dan mempromosikan Rafflesia dan Amorphophallus titanum flora langka Bengkulu di tingkat nasional dan internasional melalui kegiatan simposium internasional juga membangun jejaring dan bantuan internasional bagi kelestarian Rafflesia dan Amorphophallus titanum khususnya dan flora Bengkulu pada umumnya. Sedangkan tujuan kegiatan ini adalah mengembangkan strategi konservasi Rafflesia dan Amorphophallus titanum melalui sebuah Pusat Infromasi Puspa Langka Nasional yang berisi berbagai informasi dan flora Bengkulu sehingga diharapkan dapat menjadi informasi bagi siapa pun yang membutuhkannya.

Pada Pelaksanaannya nanti simposium akan dibagi menjadi 3 program utama yaitu :
Plenary speech dengan pembicara utama keynote speaker yang diundang untuk memaparkan kegiatan konservasi Rafflesia secara umum di seluruh dunia.
Diskusi parallel dengan pembicara para pakar dan praktisi yang diundang untuk memaparkan kegiatan berupa : penelitian-penelitian dasar (biologi, genetic, phylogeny dst.), kegiatan konservasi dalam berbagai bentuk di institusi masing-masing (pendidikan lingkungan, strategi pemeliharaan habitat/kawasan, pameran/expo dst.)

Field Trip ke lapangan melihat langsung ke habitat Rafflesia dan Amorphophallus titanum di alam yang akan dipandu oleh pemandu lokal yang ditunjuk.

Semoga saja even yang akan berlangsung ini berjalan sukses sebagai pestanya para peneliti dan Provinsi Bengkulu menjadi rekomendasi dunia sebagai pusat penelitian puspa langka.

Mari kita sukseskan Simposium Internasional Rafflesia dan Amorphophallus tahun 2015 di Bengkulu. Bengkulu The Land Of Rafflesia, Salam Lestari !!!

Sofian Rafflesia
Koordinator KPPL

Sumber : 
- T.O.R LIP
- www.rafflesia.or.id/

03 April 2014

Misteri Rafflesia arnoldi yang Sampai Saat ini belum Terpecahkan

Esha Garden - Thursday, April 03, 2014

 RafflesRafflesia Arnoldii Diameter 80 Cm Location, Bukit Daun Protected Forest, Bengkulu Province, Indonesiaia  (foto: PT Alesha Wisata)

Arnoldi adalah jenis tumbuhan langka yang ada di Sumatera. Dan diantara semua jenis Rafflesia sp, maka rafflesia arnoldi adalah jenis rafflesia yang bunganya paling besar.

Rafflesia arnoldi adalah jenis tumbuhan holoparasit (yaitu tumbuhan yang tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri) dia hidup dari tumbuhan inangnya yang bernama Tetrastigma sp. Punahnya Tetrastigma sp akan berdampak punahnya Rafflesia arnoldi. Jadi kelestarian tetrastigma sp sangat penting. Padahal tetrastigma sp adalah sejenis tumbuhan liana (tumbuhan rambat) dia membutuhkan pohon untuk rambatan dirinya dalam mencapai dan mendapatkan sinar matahari. Berarti Tetrastigma sangat membutuhkan pohon. Tapi kembali, penebangan ilegal marak dilakukan oleh masyarakat dan mereka tidak mengenal Tetrastigma sp Mereka dengan ringannya menebang pohon yang ada di hutan.

Alhamdulillah ada pihak-pihak ilmuwan dan relawan yang dengan sukarela mau menjaga kelestarian Rafflesia arnoldi, memberikan penyuluhan pada masyarakat dalam menghargai warisan kekayaan alam yang sangat unik dan langka ini.Salah satunya adalah Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menjaga kelestariannya dan memanfaatkannya secara optimal bagi kesejahteraan manusia. Padahal teknik budidayanya saja sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar?

Adalah suatu kewajiban bagi kita bangsa dan masyarakat Indonesia untuk dapat menjaga dan melestarikan Rafflesia arnoldi dan menelitinya terus menerus secara simultan agar terkuak misteri Tumbuhan berbunga yang tanpa batang, daun dan akar ini. Mungkin ini tantangan sang Pencipta, bagi manusia untuk dapat menguak misteri ini??

Ya Allah saya tahu bahwa saya ini sangat bodoh, misteri rafflesia sampai saat ini belum terpecahkan oleh sebab itu bukakanlah pintu hatiku dan bukakanlah fikiranku untuk dapat meneliti rafflesia arnoldi yang penuh misteri ini. Mudahkanlah dan lancarkanlah penelitianku mengenai Raflesia arnoldi ini....aamiin.

Penghargaan saya bagi para relawan dan para pecinta Tumbuhan langka, semoga semua yang kita lakukan dapat menjadi amal ibadah untuk kita semua.

Edhi Sandra

Eshaflora

04 June 2013

Kultur Jaringan Bisa Skala Rumah Tangga Lho..

Esha Garden - Tuesday, June 04, 2013
Praktik pembuatan kultur jaringan KPF Rafflesia Himakova (foto HIMAKOVA)

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Jika mendengar 'Kultur Jaringan,' anda semua pasti membayangkan sebuah laboratorium dengan petugas-petugas yang mengenakan jas lab berwarna putih. Ruangannya juga besar, luas, dipenuhi dengan peralatan berteknologi tinggi, dan serba steril.

Itu adalah kultur jaringan dalam dunia bioteknologi yang terdapat di laboratorium instansi dan akedemisi di kampus.

Ternyata, kultur jaringan itu bisa diperkecil cakupannya ke skala rumah tangga lho. Kali ini, Kelompok Pemerhati Flora 'Rafflesia' yang tergabung di dalam Himakova IPB mencoba belajar dan praktik kultur jaringan bersama Ibu Ir Hapsiati. Beliau adalah pemilik Esha Flora, sebuah perusahaan skala rumah tangga yang bergerak di bidang kultur jaringan di Bogor.

Pada Sabtu dan Ahad pagi beberapa waktu lalu, Ibu Hapsiati mengajarkan beberapa prosedur untuk mengultur suatu tanaman. Seluruh anggota ‘Rafflesia’ dengan seksama memperhatikan Ibu Hapsiati di di Ruang Seminar ABT Fakultas Kehutanan IPB.

“Mengultur jaringan tanaman tidak lah sulit, sebab hanya membutuhkan lima tahap,” ujar Ibu Hapsiati kepada seluruh anggoota ‘Rafflesia.’ Pertama, pengambilan eksplan dari beberapa bagian tubuh tanaman yang masih muda. Kedua, inisiasi kultur, yaitu proses pensterilan eksplan agar terbebas dari kontaminan (kotoran).

Tahap berikutnya adalah inisiasi, kemudian multiplikasi atau perbanyakan bahan tanaman. Keempat, tahap pemanjangan tunas, induksi, dan perkembangan akar.  Setelah tunas tumbuh besar, maka tahap terakhir adalah aklimatisasi atau proses pemindahan tunas dari dalam botol ke luar.

Lalu, bagaimana sesungguhnya kultur jaringan skala rumah tangga itu? Rumah anda adalah laboratorium anda. Anda cukup menyediakan ruangan biasa untuk ruang inisiasi, ruang penyimpanan, dan ruang persiapan. Tingkat sterilisasi di sini tentu  tidak seketat sebuah laboratorium skala besar. Sebab, bagi Ibu Hapsiati, inti keberhasilan bercocok tanam dengan teknik kultur jaringan ini adalah menjaga tahapan inisiasi atau penanaman bagian tubuh tanaman ke dalam botol.

ROLers, ternyata jika kita berhasil menerapkan teknik kultur jaringan skala rumah tangga, itu bisa memberikan manfaat ekonomi lho. Buktinya, Ibu Hapsiati dan suaminya, Bapak Edhi Sandra yang juga dosen di Departemen Konservasi dan Sumberdaya Hutan IPB, bisa mengultur jaringan anggrek, tanaman hias, pisang, jati, gaharu, sengon, dan jabon.

Bayangkan, jika kita harus menyediakan sejumlah lahan untuk pertanian konvensional hanya untuk pembibitan. Anda harus berpeluh keringat di lapangan menyiapkan persemaian, pembibitan, dan areal tanam. Sedangkan jika anda ahli dalam hal kultur jaringan, anda cukup duduk manis di ruang berpendingin dan dengan telaten melakukan praktik kultur jaringan. Tenang, gagal awal itu biasa, sebab semuanya proses belajar. Yang penting, jangan takut untuk terus mencoba.

Lalu, apa fungsinya kultur jaringan bagi mahasiswa kehutanan seperti Himakova? Nah, Ketua Pelaksana, Aldira Noval Nasution mencoba menjelaskan bahwa pelatihan ini akan membangkitkan jiwa menanam dan merubah pola pikir generasi muda bahwa menanam tidak selamanya kotor. “Kultur jaringan juga sebagai alternatif menanam untuk meningkatkan biodiversitas Indonesia di masa mendatang,” katanya.

Dilansir dari website resmi Esha Flora, bagi pemula yang sangat berminat untuk belajar kultur jaringan untuk skala rumah tangga, setidaknya anda hanya memerlukan modal Rp 890 ribu. Rinciannya seperti untuk membeli paket enkas kecil beserta alat tanamnya, media kultur steril, kultur steril dari jenis tanaman, dan bahan habis pakai lainnya.

Sedangkan keuntungan yang bisa anda raih dari keberhasilan modal awal itu bisa mencapai dua kali lipat lho. Satu botol kultur jaringan bisa diperbanyak menjadi 30 botol lebih. Cukup menjanjikan, bukan? Dengan demikian, ilmu kultur jaringan saat ini sudah lebih membumi, dan anda tak perlu takut untuk mencoba berbisnis kultur jaringan. Selamat mencoba! (Yusuf Muhammad)





Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/himakova/13/05/22/mn7cfs-kultur-jaringan-bisa-skala-rumah-tangga-lho

Foto : HIMAKOVA


07 June 2010

Mekarnya Bunga Rafflesia Patma di Kebun Raya Bogor

Esha Garden - Monday, June 07, 2010
Bunga Rafflesia patma yang mekar di Kebun Raya Bogor ini merupakan hasil pengembangan dan penelitian sejak tahun 2004 dengan mengambil inang berupa tumbuhan Tetrastigma (jenis anggur-angguran) dari kawasan Pangandaran, Jawa Barat. Rafflesia patma pertama kali ditemukan pada tahun 1825 di pulau Nusakambangan, Jawa Tengah ini seperti jenis-jenis Rafflesia lainnya tidak dapat tumbuh sendiri. Rafflesia patma tumbuh pada akar dan batang inang Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosum.

Rafflesia patma merupakan satu diantara 15 jenis (spesies) Rafflesia yang terdapat di Indonesia. Rafflesia patma mempunyai ukuran bunga berdiameter antara 25-30 cm. Bunganya mempunyai lima kelopak berwarna jingga muda agak pucat (salem). Yang membedakan dengan jenis Rafflesia lainnya, warna bunganya yang cenderung lebih pucat. Ciri khas lainnya adalah adanya duri-duri yang terdapat pada diktus.

Ada sekitar 30-an spesies Rafflesia. Dan Indonesia memiliki jumlah spesies terbanyak sejumlah 15 spesies disusul oleh Malaysia yang mempunyai 7 spesies. 15 Spesies Rafflesia yang terdapat di Indonesia antara lain: Rafflesia arnoldi (R. Brown), Rafflesia hasseltii (Suringar), Rafflesia Patma (Blumenon Meijer), Rafflesia rochussenii (Teijsm and Binn), Rafflesia zollingertana (Koorders), Rafflesia priceii, Rafflesia godulensis, Rafflesia atjehensis (Koorders), Rafflesia ciliate, Rafflesia borneersis, Rafflesia witkampi, Rafflesia micropylora (Meijer), Rafflesia bengkuluwensis, Rafflessia meijeri (Wiriadinata and Rismita Sari), Rafflesia Lawangensis.

Tahapan Mekarnya Bunga Rafflesia Patma di Kebun Raya Bogor

knop rafflesia patma


knop Raflesia patma mulai terbuka


Mahkota bunga Raflesia


Helai mahkota Rafflesia


Bunga Rafflesia patma akhir mekar penuh


Subhanallah.... Indah Sekali, Bunga Rafflesia patma yang sedang mekar di Kebun Raya Bogor ini......

Bookmark and Share



Enhanced by Zemanta
Previous
Editor's Choice